Waiyoooiiik Jooooooooooooo...... Sapuluah haghi jadi "CALON" politisi, alah sapuluah atau labiah pulo nan baghubah. Itu pun manughuik ambo masih kategori (maaf ko jo ah....) masih "CALON"....
Mungkin ajo Indra menikmati 10 nan berubah nantun. Tapi bagi kami nan di lua nampak e 10 perubahan nantun samo jo kungkungan terhadap kemerdekaan seorang politisi?? Sorry bagi pendukung AJO INDRA JP..... Kalau memang duduak di SENAYAN......., Alhamdulillah Kalau dak jadi duduak??? Dek Tagaiang sangenek suaro tu?? Apakah CAP sebagai ORANG GOLKAR yang notabene adalah DEDENGKOT nya ORDE BARU akan semena-mena hilang, yang kemudian Bung Indra akan menjadi pengamat politik lagi?? Atau bung INDRA akan membuat perubahan baru, dengan mengatakan "Sekarang Saya tidak jadi politisi lagi, saya keluar dari GOLKAR, karena SENAYAN ternyata banyak batu nya. Rasanya lebih enak jadi pengamat kembali....." Walaaaaahhhhh........., Apa kata dunia yaaaaaaa???? Ahhhhh,,,,,,,, 9 April 2009 tidak ada yang tahu yaaaaaaaaaaa..., apa hasilnya Meh lah...........Samo samo mandoa lah kito, agar BUNG IJP duduak di SENAYAN. Jan sampai sasek tibo di pasa SENEN ..... Wassalam Rangkayo Mulia Pada 15 Agustus 2008 14:07, Indra Jaya Piliang <[EMAIL PROTECTED]>menulis: > *Sepuluh Hari Jadi Politisi* > > > > Sudah sepuluh hari saya menyatakan diri sebagai politisi. Apakah ada yang > berubah? Banyak yang berubah, namun banyak juga yang tetap seperti semula. > Susunan buku-buku masih rapi, ada beberapa buku baru, baik hadiah atau saya > beli. Pulang ke rumah masih tetap larut malam, sekalipun juga sesekali > mengatur waktu untuk dinner bersama keluarga. Pergi ke kantor juga tetap > pagi, seusai mengajak kedua anak bermain dan berbicara. > > > > Yang berubah? > > > > Pertama, tentu saya tidak bisa lagi tampil di layar televisi sebagai > pengamat. Ada dua stasiun TV sebetulnya yang meminta atau mengijon saya > sebagai pengamat tetap. Beberapa pekerjaan sebagai public speaker untuk > kegiatan voters education, baik yang diadakan oleh pemerintah atau pihak > non-pemerintah, juga harus dibatalkan. Perubahan drastis terjadi pada saldo > pemasukan dalam rekening. Siapa bilang ini bukan pengorbanan yang berat? > > > > Kedua, semakin banyak telepon dari kampung halaman, daerah pemilihan saya. > Ada kegiatan lomba layang-layang, liga bola antar kampung, pengajian rutin, > pembangunan pesantren, dan lain-lain. Ibu sayapun terpaksa mengambil > tabungan hari tuanya, guna membantu biaya sosialisasi anaknya. Politik > memang membutuhkan dana. Aneh, kalau politik tanpa dana. Idealisme betapa > politik cukup dengan ide atau gagasan, tertanggalkan. > > > > Ketiga, ada banyak sms yang masuk, begitu juga email. Minggu lalu handphone > saya sampai hang. Terpaksa diservis dan 4000-an nomor telepon hilang. Tapi > karena punya *back up* di laptop, kembali hanya tersisa 3000-an nomor > telepon. Kemaren saya hapus lebih dari 300 nomor telepon. Sepuluh hari lalu > saya masih menganggap sebagai nomor-nomor penting, sekarang tidak perlu lagi > dijaga. Namun bukan berarti kalau ada teman yang sms atau menelepon, lalu > saya bertanya :"Maaf, ini siapa? Handphone saya rusak dan semua nomor > hilang," barangkali masuk kategori nomor yang hilang, bukan sengaja saya > hilangkan. > > > > Keempat, undangan keluar kota terpaksa saya batalkan. Ke Aceh, Manado dan > Ambon yang sudah pasti tidak bisa. Biasanya, saya senang untuk pergi keluar > kota, membebaskan diri dari belenggu Jakarta. Menghirup udara segar dan > energi alam. Saya betul-betul berhitung atas waktu, kesempatan dan kegiatan. > Tapi saya tetap punya jadwal ke Mataram, Bali dan Yogya bulan depan. > Barangkali juga ke kota-kota lain. Sebagian adalah sisa dari persetujuan > yang sudah saya berikan sebelumnya. > > > > Kelima, saya makin paham dengan struktur, sistem dan jaringan internal > Partai Golkar. Ada beberapa kegiatan yang saya hadiri. Dalam tiga minggu, > saya bertemu Jusuf Kalla tiga kali. Bertemu dengan pimpinan yang lain juga > berkali-kali. Bahkan mulai dipanggungkan oleh Partai Golkar, sebagai > debater, dalam kegiatan kepartaian. Saya sudah memiliki dua jaket, satu > dibeli sendiri oleh sekretaris saya di Slipi, satu lagi diberikan oleh > pimpinan MKGR. > > > > Keenam, saya mulai mengumpulkan orang di lingkaran terdekat, termasuk di > kawasan tempat saya tinggal. Istri saya mengatakan, muncul isu bahwa satu > mobil yang kami punya adalah pemberian Partai Golkar. Juga permintaan, "Apa > yang Golkar bisa berikan?" Satu partai politik mengirimkan ambulans buat > kebutuhan warga. Kalau sepuluh hari lalu orang tidak peduli dengan warna dan > pilihan baju yang saya pakai, maka sekarang apapun baju yang saya gunakan, > pastilah itu baju Partai Golkar. Baju merah sekalipun pasti dianggap kuning. > > > > > Ketujuh, saya merasa "merdeka" dari status pengamat. Tiga telepon dari luar > negeri: Singapura, Jerman dan Australia, yang meminta komentar saya > soal-soal politik, dengan sigap saya katakan: "Saya bulan lagi analis > politik." Ya, ada keterkejutan, tetapi juga ada "Congratulation!" Sampai > kinipun saya tidak begitu paham kenapa orang terkejut dengan perubahan > status itu. Selama ini saya melayani wartawan dengan baik, semampu saya. > Sekarang, saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan dan katakan. Apakah > mereka juga mencibirkan, lantas mengatakan dalam wajah sumringah: "Nah, > Indra sekarang sudah berperut buncit!" Saya juga tahu dan sadari, beberapa > wartawan, sebagian dari lapisan muda usia, dengan wajah tirus dan terenyuh > menyatakan dalam hatinya: "Bang, kami membantumu. Tapi tolong pahami posisi > kami." > > > > Kedelapan, saya sudah pasti kehilangan banyak teman, tetapi belum tentu > dapat teman baru. Politik lebih banyak menyiptakan kesendirian, daripada > kehangatan persahabatan. Tentu saya juga menguji sejumlah nilai > "pertemanan", "persahabatan", serta kata-kata apapun yang selama ini ada dan > terpelihara. Apakah itu benar-benar ada? Ketika seorang politikus meminta > bantuan kepada teman dan sahabatnya, apakah itu benar-benar dimaknai sebagai > permintaan yang tulus atau imbal jual-beli? Selama ini, saya tidak banyak > "menghitung" soal-soal seperti ini, tetapi sekarang saya pantas mengujinya. > > > > Kesembilan, ada semangat baru di kalangan orang yang mengenal saya, > terutama dari pihak keluarga dekat. Datuk saya menangis ketika saya telepon, > lalu setelah itu mengatakan dengan bersemangat bahwa dia sudah membuat > sejumlah posko untuk pemenangan saya. "Apa saya harus melepas jabatan datuk > ini dan memberikan kepadamu?" Saya menolaknya. Sejak dulu saya menolak > jabatan datuk. Beberapa paman saya dari luar Sumbar pulang ke kampung > halaman, mengikuti jejak saya pulang, lantas berkeliling. Guru-guru sekolah > dasar dan menengah saya juga ikut berbisik ke orang-orang. Sejumlah teman, > yang benar-benar teman, terutama teman SD, SMP dan SMA saya, dengan nada > kecut mengatakan keterkejutan, tetapi ada juga yang dengan sepenuh hati > mengirimkan semangat yang paling murni dari perkawanan paling abadi: > persahabatan masa kanak-kanak, ketika kami dulu bahkan sering berkelahi. > > > > Kesepuluh, ada beberapa nomor telepon yang selama ini rajin berteleponan > tidak lagi bisa ditelepon. Politikus mungkin sejenis anjing kurap, siapapun > yang mengenalinya akan terkena virus menular. Mungkin saya terlalu > sentimentil, tetapi memang itu yang saya rasakan. Berbahagialah politikus > yang merasa dirinya dewa, pengatur kehidupan manusia, namun tidak diketahui > rakyat tentang apa yang dia kerjakan atau pikirkan. > > > > Ya, cukup sepuluh itu saja dulu. Sebagai catatan selama sepuluh hari ini. > Saya tidak tahu, apakah catatan ini pantas dikirimkan ke koran-koran. > Catatan seorang politikus pemula, di tengah kerumunan pikiran dan > permasalahan orang banyak. Dari 20.000 lebih calon anggota DPR-RI, saya > hanya satu di antaranya. Bayangkan kalau catatan 20.000 politisi itu hadir > di koran-koran, masihkah kita membutuhkan kalangan penulis lain. Biar blog > ini memberikan pelepasan, dari beban pikiran seorang politikus. Jalan masih > panjang, hadangan terus membayang. > > > > Jakarta, 16 Agustus 2008. > > * * > > *Indra Jaya Piliang, Msi* > > * * > > *Pergi ke Rantau untuk Belajar, Kembali ke Ranah Menuju Akar. * > > > > > > http://indrapiliang.com/2008/08/15/sepuluh-hari-jadi-politisi/ > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
