Sanak Sapalanta Tulisan ko selingan sajo di akhir pakanMat baca==============JP
“SENI BERMAIN BOLA DI PASAR BECEK” By : Jepe Jika anda ingin merasakan denyut perekonomian di pedesaan, kunjungilah pasar tradisional yang becek biasanya digelar 1 kali dalam seminggu. “Passion” hiruk-pikuk pasar rakyat ini tentunya sangat berbeda dengan pusat perbelanjaan moderen di kota-kota besar, tapi selalu ada sisi menariknya untuk dinikmati, seperti tawar menawar yang cukup alot antara pembeli dan penjual. Saya ibaratkan proses tawar menawar ini sebuah laga bola yang seru dengan tensi yang tinggi, seperi kisah berikut ketika saya membeli parang untuk perlengkapan survey. Kamis, 27 Maret, Jam 10.15 WIB, laga itu digelar disebuah pasar tradisional yang becek disaat musim hujan, pasar ini terletak dipinggir jalan utama Pekanbaru-Medan, tepatnya KM 8 Desa Balam, Kecamatan Bangko Pusako, Kabupaten Rokan Hilir-Riau (Sekitar 260 Km dari Pekanbaru) Pluit “Kick Off” telah ditiupkan, bola dilapangan tengah saya kuasai sepenuhnya “Brapa harga parang ini Pak Tua” Pak Tua mencoba menghadang laju saya ketika memasuki daerah pertahannya “ 30” (baca : Rp 30.000) Serangan saya alihkan kesayap kiri pertahanan Pak Tua… “ 15 bisa” Tackling yang cukup bersih Pak Tua mematahkan serangan saya dari sayap kiri ini “Nggak dapat” Bola dikuasai oleh Pak Tua, balik dia menyerang daerah pertahanan saya dengan staretegi “Kick and Rush” tendangan lansung menuju kotak penalty…..” Pasnya 25 “ Terlalu mudah mengantisipasi dan mematahkan serangan Pak Tua yang bergaya “Inggris Kuno” ini, kembali dari daerah pertahanan saya mencoba membangun serangan kali ini dari sayap kanan….”17,5 bagaimana” Pak Tua cukup tangguh, kembali dia mematahkan serangan saya dari sayap kanan ini …”Belum bisa” Saya coba lagi mencari celah, kali ini serangan dari lapangan tengah ..”20 bagaimana” Lagi-lagi dengan tackling yang cukup bersih Pak Tua mematahkan serangan saya ..”25 Pas nya” Nampaknya Pak Tua ini perlu saya beri kejutan, bak seorang “Maestro Bola” Argentina si Boncel Dieogo Maradonna di Piala Dunia ’86, kali ini saya melakukan solo run dari lapngan tengah…”22,5…!!!!” Pak Tua kewalahan dan kehabisan napas untuk menghentikan solo run maut saya ini, terpaksa dia melakukan tackling cukup keras sedikit diluar kotak penalty……Free Kick..!!! Sebuah tendangan bebas berjarak 22,5 meter dari tiang gawang Pak Tua saya lepaskan dengan teknik Ronaldo “ Drifting Shoot”, pagar hidup yang dibuat Pak Tua membuat tendangan bebas maut bergaya Ronaldo ini sedikit melebar dari tiang jauh sebelah kanan. Bola kembali dikuasai oleh Pak Tua, kali ini dia melakukan serangan secara Spartan dan sporadic kedaerah pertahanan saya “ 25 pas..tidak kurang lagi” Saya kewalahan menghadapi serangan Pak Tua yang membabi buta ini, ketika pertahanan saya hampir jebol, sebuah bisikan mampir ketelinga saya datang dari “Mbahnya Super defensive” Enzo Berzoat pelatih legendaries Itali di PD ’82, jepe bertahanlah dengan startegi catenaccioku, grendel dan kunci, Pak Tua itu, seperti anak emasku Claudio Gentille yang mematikan Maradonna, nah ketika dapat celah lakukan serangan balik secepat kilat bergaya si “oportunis” Paolo Rossi. Ketika Pak Tua kehilangan bola didaerah pertahanan saya, secepat kilat saya melakukan serangan balik, Pak Tua pontang panting menghambat laju lari saya didaerah pertahanannya ….”Mau ambil berapa parangnya”..saya terus melaju mendekati gawangnya…” Dua Pak Tua” Laga tersebut berakhir, pluit panjang berbunyi “ Rp 45.000 untuk dua buah parang ukuran sedang” Skor akhir seri, keduanya sama senang dan berjabat tangan, kami puas menikmati laga yang cukup alot ini, tentunya dengan harga sebuah parang Rp 22.500/buah Pak Tua masih tersenyum bahagia karena masih ada untung yang diraih cukup lumayan, sementara saya cukup puas membawa dua buah parang tersebut dengan harga yang wajar. Jika tolak ukur hasil seri dalam laga tersebut pada harga Rp 22.500 untuk sebuah parang ukuran sedang, laga selanjutnya dengan pemain lain bisa jadi Pak Tua dilapangan bola yang becek ini menang atau kalah. Menangnya Pak Tua ketika dia bisa menjual parang tersebut seharga Rp 25.000 atau Rp 30.000, Kalahnya jika Pak Tua menjual Parang pada harga Rp 20.000 misalnya, tapi Pak Tua masih meraih untung. Saya pikir Pak Tua “bermain” dikisaran keuntungan antara Rp 5.000 sampai dengan Rp 10.000 untuk sebuah parang yang terjual. ‘ Anda mau coba “Seni Bermain Bola di Pasar Becek”, silahkan kunjungi Pasar Tradisonal/Rakyat yang biasanya digelar 1 kali dalam 1 minggu. Anda berdualah yang akan merasakan diakhir pertandingan hasilnya Kalah, Seri atau Menang. Salam-Jepe /Tenda Biru ( N 01º 45’ 13” - E 100º 46’ 43”), 27 Maret 2008 Foto dengan Pak Tua bisa dilihat di :http://jupardi.multiply.com/photos/album/11/SENI_BERMAIN_BOLA_DI_PASAR_BECEK --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
