Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta, Ambo taruihkan tanggapan dari konco ambo, Mayjen Pol Pur Drs Jacky Mardono Tjokrodiredjo -- nan panah batugas di Sumbar -- taradok ota gadang bung Wilardjito. Ringkasnyo: jan dipicayo bana ruok bung Wilardjito tu. [Supayo langkok maikuti curitonyo, maaf indak ambo kuduang doh] Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta) Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]
--- On Sun, 8/17/08, Jacky Mardono Tjokrodiredjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Jacky Mardono Tjokrodiredjo <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Mereka Menodong Bung Karno To: [email protected], "Dr Saafroedin Bahar" <[EMAIL PROTECTED]>, "Asvi" <[EMAIL PROTECTED]>, "Rikard" <[EMAIL PROTECTED]>, "Hendardi" <[EMAIL PROTECTED]>, "VCM" <[EMAIL PROTECTED]>, "deBudiarto Shambazy" <[EMAIL PROTECTED]>, "Muradi" <[EMAIL PROTECTED]>, "De Britto" <[EMAIL PROTECTED]> Date: Sunday, August 17, 2008, 2:43 PM Pak Saaf yang budiman. Ambo alah baco juo buku itu. Entah IQ ambo nan jongkok, entah buku itu nan baduto. Buku itu akan berbobot, kok ado minimal 2 orang yang basaksi mengenai jati diri Wilardjito. Tantunyo ketika inyo betugeh sebagai "orang dalam" Pres. Sukarno. Yang memberikan kasaksian dapek manten atasan, sejawek atau mantan anak buah. Dalam bukunya yang berjudul "Kesaksian tentang Bung Karno 1945 - 1967", AKBP Mangil bercerita bahwa sementara Pres Sukarno bersama-sama Jenderal2 M Jusuf, Amir Machmud dan Basuki Rachmad, Brigjen Sabur membawa mesin tik, yang katanya untuk mengetik sesuatu yang penting. Mangil tidak menyebut bahwa dalam rombongan para Jenderal ada Jenderal Panggabean. Mangil adalah komandan DKP (Detasemen Kawal Pribadi). DKP adalah bagian dari resimen Cakrabirawa, yang karena faktor historis, maka DKP merupakan unit yang paling melekat kepada Pres/Wapres dan keluarganya. DKP akan melarang siapa saja menemui Pres Sukarno dengan membawa senjata api. Crita bahwa seorang Wilardjito bisa satu ruangan dengan Pres Sukarno dan bawa senjata, hanya bisa terjadi kalau dia itu anggota DKP, atau ADC Presiden, atau siluman. Untuk jadi anggota DKP. tidak bisa. Syaratnya harus dari Brimob Polri. Wilardjito adalah anggota TNI-AD. Untuk jadi ADC, juga tidak bisa. Syaratnya harus berpangkat Letkol/AKBP senior. Pangkat Wilardjito baru Letnan. Yang paling mungkin adalah bahwa Wilardjito dapat penugasan dari Ratu Kidul atau Penunggu Kebun Raya Bogor. Buktinya, walau dia cabut pistol belakangan, tapi tidak di-dor oleh para Jenderal yang senjatanya sudah siap tembak! Habis para Jenderal nggak bisa lihat kehadiran Wilardjito! Masalah orang mengaku-aku, sejak jaman Orla sudah ada. Pres Sukarno menerima seseorang yang mengaku Raja Idrus dari Kubu, yang ternyata adalah penyapu jalan dari Tegal. Jaman Orba, Ibu Tien Suharto terima tamu "bayi ajaib". yang ternyata tape recorder mini yang ditempelkan di paha sang ibu. Jaman reformasi, ada Menteri yang percaya ada harta karun di Bogor, yang nilainya bisa untuk melunasi hutang Indonesia. Juga geger-geger soal blue energy. Sekarang ada crita mengenai Wilardjito dan orang bernama Andaryoko yang mengaku dirinya adalah Supriyadi. Buat Wilardjito dan Andaryoko nothing to lose, kalau kelak terbukti bahwa mereka bohong. Yang penting bukunya laku keras. That"s all ! Tadinya saya berminat untuk beli bukunya Andaryoko. Tapi minat saya sekarang hilang. Tapi kalau ada yang sudah terlanjur jadi korban beli buku Andaryoko dan berminat untuk meminjamkan ke saya, ya welcome. Wass, Jacky M. --- On Sun, 8/17/08, Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Mereka Menodong Bung Karno To: [email protected] Cc: "Jacky Mardono Tjokrodiredjo" <[EMAIL PROTECTED]> Date: Sunday, August 17, 2008, 4:24 AM Inyiak Sunguik, baru kali iko ambo mandanga Jenderal Panggabean pai ka Istana Bogor basamo Jendral M.Jusuf, Amir Machmud, dan Basuki Rachmat. Juo baru kali ko ambo mandanga ado todongan pistol antaro para jenderal tu jo urang banamo Wilardjito ko. Susahnyo, baliau-baliau nan barampek ko alah wafat, indak bisa kito tanyoi lai.Namun kito bisa mambaco biografi baliau-baliau.untuak mauji kabanaran curito bung Wilardjito [nan mungkin sakali eks Cakrabirawa]. Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta) Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED] --- On Sun, 8/17/08, Hambo Ciek <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Hambo Ciek <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] Mereka Menodong Bung Karno To: [email protected] Date: Sunday, August 17, 2008, 5:01 AM Dari SUARA PEMBARUAN DAILY Minggu 17 Agustus 2008 kita baca tinjauan buku: Tragedi Bung Karno dan Wilardjito Judul Buku: Mereka Menodong Bung Karno; Kesaksian Seorang Pengawal Presiden Penulis: Soekardjo Wilardjito Penerbit: Galangpress, Yogyakarta Tahun: 2008 Tebal Buku: 354 halaman ukardjo Wilardjito menyodorkan refleksi sejarah yang pernah terjadi di negeri ini. Veteran TNI-AD ini menilai bahwa satu sekuel sejarah yang dibahasnya itu berdampak serius terhadap sejarah perjalanan Indonesia pada kemudian hari, Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966. Terlepas apakah pembaca akan percaya dengan penuturan dan argumentasi penulis atau tidak, Wilardjito adalah pelaku sejarah yang kebetulan menyaksikan runtutnya peristiwa yang sedang menjadi pembahasan buku ini. Pada 8 April 2008, Wilardjito mampu "bernapas lega". Sebab, sepuluh tahun sebelumnya, sosok yang lahir pada 28 Februari 1927 ini, sempat berurusan dengan sidang sebanyak 29 kali. Hal ini disebabkan tindakannya yang "membeberkan" sisi lain peristiwa Supersemar di Harian Umum Bernas, Yogyakarta, pada 22 Agustus 1998. Putra asal Gancahan Wetan (Gancahan 5 Sidomulyo), Godean Sleman, Yogyakarta ini mendapat tuduhan 'memberitakan kabar bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat'. Dalam pemberitaannya itu, Wilardjito tidak lepas dari masa lalunya. Dalam pengakuannya, pada 10 Maret 1966 malam hari, ketua piket malam, Kolonel Sumirat, melakukan tugas di lokasi Istana Bogor yang di dalamnya terdapat Presiden Soekarno. Setelah sang Presiden masuk kamar dan hendak tidur, Sumirat mengundurkan diri dan pulang. Selanjutnya, 11 Maret 1966 dini hari, Wilardjito melakukan kontrol terhadap anak buahnya di lokasi tersebut. Ketika melewati air mancur di halaman Istana Bogor, Wilardjito mendapat laporan dari salah satu anggota Cakrabirawa. Dalam informasinya itu, memberitahu bahwa ada empat Jenderal yang akan menghadap Presiden, yaitu Jenderal M Yusuf, Amir Machmud, Basoeki Rachmat, dan M Panggabean. Baru hendak menuju pos si pelapor, keempat Jenderal sudah menghampiri keduanya. Meski Wilardjito telah menampik keinginan keempat Jenderal itu dengan alasan bahwa Presiden sudah istirahat, mereka tetap bersikeras. Mereka mengatakan bahwa ada sesuatu yang sangat penting dan harus segera bertemu Presiden. Mendengar hal itu, Wilardjito meminta mereka menunggu di ruang kerja keprisedenan. Sedangkan, Wilardjito bergegas menuju kamar Presiden dan memberitahu maksudnya. Enam orang pun bertemu dalam satu ruangan di ruang kerja Presiden. Tanpa basa-basi, Jenderal M Yusuf menyodorkan sebuah surat dalam map warna merah jambu dan memohon agar Presiden menandatangani surat tersebut. Setelah membaca surat itu, reaksi Presiden Soekarno terlihat terkejut dan berkata "Lho, ini kok diktum militer, dan bukan diktum kepresidenan?" tanya Presiden sambil memandangi mereka (hlm 159). Menurut Wilardjito, ketika melihat surat dari jarak tiga meter dari belakang Presiden, surat itu memang tidak ada lambang Garuda Pancasila dan kop yang bertuliskan Presiden Republik Indonesia, melainkan terdapat kop Markas Besar Angkatan Darat (Mabad) yang berada di kiri atas surat. Mendengar pertanyaan itu, Basuki Rachmat mengatakan bahwa untuk mengubah hal itu waktunya sudah tidak memungkinkan. Bersamaan dengan jawaban Basuki, Panggabean mencabut pistol FN 46. Mengingat bahwa tugas menjaga keselamatan Presiden saat itu adalah dirinya, Wilardjito dengan cepat mencabut pistolnya dan mengarahkan kepada empat Jenderal. Tak lama pun Basuki segera mencabut pistolnya juga. Suasana ruangan menjadi tegang dan akhirnya Presiden melerai lima orang yang sama-sama siap melepaskan peluru. Presiden Soekarno menyetujui kehendak empat Jenderal dan menggoreskan tanda tangan di atas "surat paksaan". Selanjutnya, empat Jenderal pamitan. Ironisnya, pukul 16.30, M Yusuf bersama Amir Machmoed, Basuki Rachmat kembali mendatangi Presiden. Mereka meminta surat perintah yang berdiktum kepresidenan untuk keamanan dan ketertiban masyarakat bagi Jenderal Soeharto. Mereka berhasil. Surat perintah itu dibacakan pada pukul 20.00 di RRI pusat dan dilanjutkan dengan pembacaan naskah pembubaran PKI. Pada malam itu juga, para petugas istana Bogor di tangkapi, termasuk Wilardjito. Ia dituduh sebagai anggota PKI dan dibawa ke RTM (hlm 167). Semenjak itu, ia disidik, dipukuli, ditelanjangi, disetrum, dimaki-maki, diancam, dan siksaan lainnya. Selanjutnya, Wilardjito dipenjarakan di LP Wirogunan (Yogyakarta), LP Kalisosok (Surabaya) dan terakhir di LP Ambon. Bersama surat jalan tertanggal 9 Januari 1978, Wilardjito resmi bebas dari penjara. Wilardjito merasakan bahwa selama menjalani siksaan itu ada tangan kasih Tuhan yang melindunginya. Melalui kesaksian Wilardjito ini, pembaca akan mendapat wawasan mengenai sejarah negeri ini lebih banyak. Selain itu, buku ini juga menegaskan bahwa hingga saat ini peristiwa Supersemar masih menyimpan banyak misteri. Misteri itu membentang dari latar belakang munculnya surat tersebut hingga keberadaan naskah aslinya kini. [Sungatno, peneliti pada Lembah Kajian Peradaban Bangsa (LKPB) Yogyakarta] Last modified: 15/8/08 Sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2008/08/17/index.html --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
