Assalamu'alaikum Warahmatullahi wa Barakatuh,
Ananda Indra Piliang,
Pertama ucapan selamat, bahwa ananda telah menetapkan satu pilihan, dari banyak 
pilihan tersedia.
Sudah masanya generasi muda jernih dalam memilih,
sudah masanya pula berkukuh dalam istiqamah,
maju terus, raih dan berikan rasa pada tempat di mana berada,
tak usah mencelupkan warna, karena tidak mesti menjadi kuning dek kunyit, tapi 
mampu memberi rasa ke dalam di mana berada.
Kali ini, buya ikut nimbrung, tidak seperti biasanya,
karena senang yang muda tidak ragu tampil ke panggung,
Sekali lagi selamat,

Wassalam,
BuyaHMA
 



--- On Sun, 8/17/08, Indra Jaya Piliang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Indra Jaya Piliang <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Milis FPK dan 10 Catatan
To: "Indra Jaya Piliang" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sunday, August 17, 2008, 11:10 PM




 
 

 

 







Peserta milis Forum Pembaca Kompas Yth 

  

Mohon maaf atas email yang saya kirimkan ini. Saya terpaksa
mampir ke email ini untuk mengklarifikasi sejumlah hal.  

   

Pertama, saya menyayangkan tanggapan Darmaningtyas soal
CSIS. Di CSIS, aspirasi politik perseorangan tidaklah sama. Rizal Sukma, Wakil
Direktur Eksekutif CSIS sekarang, dulu pernah menjadi fungsionaris DPP PAN.
Begitu pula saya. Pilihan politik seseorang adalah pilihan personal. Dalam
pemilu 2004, ada beberapa orang di CSIS yang menjadi caleg, termasuk lewat
partai almarhum Syahrir. Saya sudah mengirimkan email kepada Darmaningtyas soal
ini, karena dia sudah beberapa kali mengungkapkan soal CSIS di beberapa forum.
Perlu diketahui juga bahwa saya masuk CSIS tanggal 1 Desember 2000. sebuah
lembaga, apapun namanya, Kompas sekalipun, hanya namanya yang sama, tetapi apa
yang dilakukan berbeda dari masa-ke-masa. Seorang Darmaningtyas sekalipun juga
menjalankan fase kehidupan yang tidak sama dan saya tidak akan mengomentarinya.
 

   

Kedua, sebagaimana disampaikan dalam berita JK hari ini
(http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/18/00090116/jalur.khusus.partai.golkar.10.persen),
maka sebuah perubahan sudah dilakukan di internal Partai Golkar. Saya memasuki
partai ini demi ikhtiar dan itikad perubahan itu. Dan itikad itu bukan hanya
dilakukan oleh Partai Golkar, melainkan juga Partai Bintang Reformasi (ada Dita
Indah Sari), PDI Perjuangan (Budiman Sudjatmiko), dllnya. Dita dan Budiman saya
kenal sejak mahasiswa, tahun 1992-1993. Ada 
banyak kawan, para aktivis mahasiswa 1990-an yang kini masuk ke hampir semua
partai politik. Fadli Zon di Gerindra, misalnya.
Nanti akan terlihat siapa saja mereka. Saya tidak bisa mengesampingkan pilihan
politik generasi 1990-an ini, sekalipun tidak semua masuk ke dalam partai
politik. 

   

Ketiga, saya dilepas oleh 100-an lebih kawan-kawan di
Universitas Paramadina justru menunjukkan bahwa pilihan ini objektif dan
rasional. Nanti saya taruh di blog saya testimoni mereka: Chandra M Hamzah
(saya kenal 17 tahun lalu), Anies Baswedan (saya kenal 15 tahun lalu), dllnya. 
Generasi
1990-an adalah generasi yang sudah terbiasa dengan perdebatan yang keras dan
tajam. Bahwa ada yang menentukan pilihan menjadi dosen di universitas,
profesional di perbankan, aktivis di lembaga swadaya masyarakat, penulis, atau
bahkan yang menikmati pekerjaan di luar negeri (brain drain), adalah bagian
dari pilihan itu. Bagi saya, ini adalah sebuah pertanggungjawaban generasi 
tentang
Indonesia yang didambakan dan dicita-citakan. Generasi 1990-an adalah generasi
yang mengalami gejolak antara kebebasan dan ketidak-bebasan, di tengah rezim
yang mulai berusia senja.  

   

Keempat, bahwa saya memilih Partai Golkar tentu disertai
oleh sejumlah pertimbangan. Dalam pidato saya sebutkan beberapa butir dari
pertimbangan itu. Ada pilihan untuk mengembangkan rezim Developmentalisme
Demokratis yang berbeda secara diametral dengan rezim Developmentalisme
Represif. Bahwa saya masuk Partai Golkar setelah Pak Wiranto dan Pak Prabowo
Subianto keluar adalah bagian dari pertimbangan yang menguatkan. Partai Golkar
kini lebih berwajah sipil. Kalaupun ada tuduhan bahwa Partai Golkar dihuni oleh
sejumlah pengusaha, saya kira literatur sejarah juga menunjukkan bahwa
demokrasi memang dibangun oleh kalangan borjuis yang menentang kaum feodal
(yang punya tanah) dan kaum agamawan (yang punya Tuhan dan Rumah Tuhan). Betapa
kaum borjuis kini menjadi bagian dari kelompok penguasa, bukan lagi kelompok
lobi yang aktif (baca disertasi Rizal Mallarangeng) terutama menggantikan kaum
intelektual yang pada awal kemerdekaan menjadi kelas penguasa (baca Harry J
Benda), adalah bagian dari fase sejarah. Dan sebagai sebuah penyikapan, saya
memajukan diri untuk memasuki celah sempit kehidupan politik itu, apapun status
yang diberikan kepada saya selama ini.  

   

Kelima, kepada kakak-kakak saya, seperti Bambang Sulistomo
dan Manneke Budiman, dllnya, saya mengerti kepedulian dan keprihatinan kalian. 
Yang
dikhawatirkan adalah Partai Golkar akan mengubah saya. Yang terpenting adalah
saya sudah menjatuhkan pilihan. Saya tidak ingin menilai partai-partai politik
lain, tetapi saya berasumsi bahwa apapun partai politik pilihan saya, tetap
saja akan memunculkan asumsi yang sama. PDIP, PKS, PMB, PPI, dan lain-lainnya,
adalah beragam warna politik dalam lanskap Indonesia. Bahwa saya akan mengikuti
aturan main partai, iya. Bahwa saya akan mencoba melakukan lobi, berdebat,
dllnya, guna mengubah aturan main itu, juga iya. Saya percaya bahwa partai 
politik
bukanlah Candi Borobudur yang tidak bisa digeser kedudukan dan pilihan
politiknya. Partai politik bukanlah benda, karena di dalamnya berhimpun begitu
banyak manusia.  

   

Keenam, saya maju sebagai caleg dari Daerah Pemilihan
Sumatera Barat II yang meliputi tiga kota (Bukittinggi, Payakumbuh dan
Pariaman) dan lima kabupaten (Padang Pariaman, 50 Kota, Agam, Pasaman dan
Pasaman Barat). Di Sumbar II ini pernah lahir Tuanku Imam Bonjol, HAMKA,
Mohammad Hatta, H Agus Salim, Tan Malaka, dllnya. Bahwa mereka dulu bergabung
dengan partai politik yang berbeda. Tetapi ada satu kenyataan yang penting,
betapa di sebagian besar Dapil Sumbar II ini, kualitas sumberdaya manusia masih
lemah. Tidak ada satupun universitas besar berdiri di Sumbar II ini. Apa yang
saya maksud dengan rezim Developmentalisme Demokratis lebih terkait dengan
daerah pemilihan saya ini. Harus ada pembangunan yang berdimensi kemanusiaan,
pembangunan yang humanistis, terutama untuk meningkatkan kualitas sumberdaya
manusianya. Bahwa banyak penduduk di dapil saya hanya berpendidikan SD, sedikit
sekali yang berpendidikan SMA (tidak semua kecamatan memiliki SMA),  serta
jarang yang masuk pendidikan tinggi (apalagi di universitas bonafid di tanah
Jawa dan luar negeri), adalah tantangan yang ada di depan mata.  

   

Ketujuh, bahwa saya kembali ke kampung halaman saya dengam
memakai baju Partai Golkar hanya sebagai ikhtiar kecil untuk tidak membiarkan
kampung halaman saya dilindas oleh drakula siang yang bernama globalisasi. Dan
saya sudah terlalu lama bersinggungan dengan teman-teman yang pro-pasar bebas,
pro pasar-sosial, dllnya, tetapi semakin hari saya paham bahwa masyarakat di
dapil saya tidak sedang harus mengunyah-ngunyah gagasan-gagasan besar itu,
karena satu tindakan kecil saja belum dijalankan dengan baik. Saya tidak sedang
menunggu seorang Mao Tse Tung lahir di Indonesia, lalu menyuruh kaum
intelektual pergi ke desa-desa, meninggalkan perpustakaan dan laboratoriumnya,
untuk mencapai sebuah lompatan kebudayaan yang dahsyat yang kita lihat dari
pembukaan Olimpiade Beijing. Biarlah saya, sendirian, kembali ke kampung saya,
setelah 20 tahun sekolah, 17 tahun hidup di gang sempit Jakarta, untuk
melakukan sebuah revolusi mentalitas. Tentu saya akan sangat senang apabila
puluhan ribu politisi, puluhan ribu intelektual, kembali ke kampung halaman
masing-masing, lantas membangun masyarakat di tingkat basis. (Lihat tagline
yang lama saya pasang di www.indrapiliang.com dan nada tunggu di handphone saya
dari lagu Ahli Fiqir dengan judul sama: ”Kembalikan, Kampung Halamanku!”).
 

   

Kedelapan, tentu saya senang dengan adanya diskusi tentang
pilihan politik yang saya ambil. Ada beberapa milis yang mendiskusikan itu.
Bagi saya, perdebatan adalah bagian otentik dari buah reformasi dan demokrasi. 
Tetapi
akan sangat tidak berguna apabila diskusi itu hanya bersifat insuniatif,
terutama dari orang-orang yang alergi hanya kepada sebuah simbol, sebuah warna,
namun kehilangan substansi pada isi. Sudah sepuluh tahun kita melakukan hal
ini, berpesta dengan kebebasan, sampai kita mabuk dengan kebebasan itu, serta
kehilangan kesadaran tentang apa yang lebih baik dilakukan ketika seluruh
anggur sudah tertelan ke perut dan toilet dipenuhi oleh bau busuk, ditambah
dengan sampah-sampah yang berserakan.  

   

Kesembilan, saya sudah menguji beberapa
”textbook” ilmu politik dan perubahan sosial, antara lain dengan
membuka nomor rekening pribadi. Sampai sekarang tidak ada yang bisa saya
laporkan, karena memang tidak ada dana yang masuk. Saya tidak kecewa, tetapi 
yang
penting adalah satu eksperimen individual untuk menguji sejauh mana kita
memiliki solidaritas sosial sudah saya lakukan. Jadi, sampai hari ini saya
belum menggunakan dana publik untuk kegiatan politik saya, serupiahpun. 
Sekalipun
begitu saya tetap memiliki kepercayaan bahwa publik bisa mengubah keadaan,
terutama kelompok yang meyakini dirinya sebagai entitas yang terhormat dalam
sebutan creative minority (perubahan digerakkan oleh kelompok ini sebagaimana
ditulis oleh Arnold Toynbee).  

   

Kesepuluh, terakhir, saya secara terbuka meminta bantuan
teman-teman di milis FPK ini untuk menyumbangkan pemikiran-pemikiran alternatif
ataupun pemikiran-pemikiran lama tentang apa yang harus saya lakukan, minimal
di daerah pemilihan saya. Saya sudah mengumpulkan sejumlah data, tetapi belum
bisa disampaikan secara terbuka. Dapil saya termasuk kategori pesisir dan
pegunungan. Ada tiga gunung yang terletak di dapil saya, ada lembah dalam
seperti Ngarai Sianok, juga Danau Maninjau yang didalamnya terdapat sembilan
ikan sebagai perubahan wujud Bujang Sembilan. Silakan dilacak di internet. Saya
menerima masukan-masukan tentang bagaimana membangun nagari demi nagari di
kampung kami. Terdapat 73 kecamatan dan 266 nagari di dapil saya. 

   

Demikianlah sepuluh catatan untuk teman-teman di milis FPK
ini. Semoga milis ini tetap memberikan harapan akan kebaikan demi kebaikan yang
hendak ditempuh di Indonesia.  

   

Hormat Saya, 

   

INDRA JAYA PILIANG MSi 

   

Pergi ke Rantau untuk Belajar, Kembali ke Ranah Menuju Akar. 

   

   

http://www.mail-archive.com/[EMAIL PROTECTED]/msg48639.html. 

   

http://www.mail-archive.com/[EMAIL PROTECTED]/msg48668.html. 

   

http://www.mail-archive.com/[EMAIL PROTECTED]/msg48657.html. 






 






      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke