Wa'alaikum Salam.

 

Buya, terima kasih. Semoga Buya tetap sehat dalam kejernihan hati dan
pikiran. Insya Allah, Buya, ini sebuah langkah kecil dan sederhana
sebetulnya. Tidak ada yang betul-betul drastis. Ananda mohon doa dan arahan
dari Buya.

 

Sembah sujud,

 

Indra Jaya Piliang

 

 

  _____  

From: Masoed Abidin [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: 18 Agustus 2008 13:36
To: Indra Jaya Piliang
Cc: [email protected]
Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Milis FPK dan 10 Catatan

 


Assalamu'alaikum Warahmatullahi wa Barakatuh,
Ananda Indra Piliang,
Pertama ucapan selamat, bahwa ananda telah menetapkan satu pilihan, dari
banyak pilihan tersedia.
Sudah masanya generasi muda jernih dalam memilih,
sudah masanya pula berkukuh dalam istiqamah,
maju terus, raih dan berikan rasa pada tempat di mana berada,
tak usah mencelupkan warna, karena tidak mesti menjadi kuning dek kunyit,
tapi mampu memberi rasa ke dalam di mana berada.
Kali ini, buya ikut nimbrung, tidak seperti biasanya,
karena senang yang muda tidak ragu tampil ke panggung,
Sekali lagi selamat,

Wassalam,
BuyaHMA
 



--- On Sun, 8/17/08, Indra Jaya Piliang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Indra Jaya Piliang <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Milis FPK dan 10 Catatan
To: "Indra Jaya Piliang" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sunday, August 17, 2008, 11:10 PM

Peserta milis Forum Pembaca Kompas Yth

 

Mohon maaf atas email yang saya kirimkan ini. Saya terpaksa mampir ke email
ini untuk mengklarifikasi sejumlah hal. 

 

Pertama, saya menyayangkan tanggapan Darmaningtyas soal CSIS. Di CSIS,
aspirasi politik perseorangan tidaklah sama. Rizal Sukma, Wakil Direktur
Eksekutif CSIS sekarang, dulu pernah menjadi fungsionaris DPP PAN. Begitu
pula saya. Pilihan politik seseorang adalah pilihan personal. Dalam pemilu
2004, ada beberapa orang di CSIS yang menjadi caleg, termasuk lewat partai
almarhum Syahrir. Saya sudah mengirimkan email kepada Darmaningtyas soal
ini, karena dia sudah beberapa kali mengungkapkan soal CSIS di beberapa
forum. Perlu diketahui juga bahwa saya masuk CSIS tanggal 1 Desember 2000.
sebuah lembaga, apapun namanya, Kompas sekalipun, hanya namanya yang sama,
tetapi apa yang dilakukan berbeda dari masa-ke-masa. Seorang Darmaningtyas
sekalipun juga menjalankan fase kehidupan yang tidak sama dan saya tidak
akan mengomentarinya. 

 

Kedua, sebagaimana disampaikan dalam berita JK hari ini
(http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/18/00090116/jalur.khusus.partai.go
lkar.10.persen), maka sebuah perubahan sudah dilakukan di internal Partai
Golkar. Saya memasuki partai ini demi ikhtiar dan itikad perubahan itu. Dan
itikad itu bukan hanya dilakukan oleh Partai Golkar, melainkan juga Partai
Bintang Reformasi (ada Dita Indah Sari), PDI Perjuangan (Budiman
Sudjatmiko), dllnya. Dita dan Budiman saya kenal sejak mahasiswa, tahun
1992-1993. Ada banyak kawan, para aktivis mahasiswa 1990-an yang kini masuk
ke hampir semua partai politik. Fadli Zon di Gerindra, misalnya. Nanti akan
terlihat siapa saja mereka. Saya tidak bisa mengesampingkan pilihan politik
generasi 1990-an ini, sekalipun tidak semua masuk ke dalam partai politik.

 

Ketiga, saya dilepas oleh 100-an lebih kawan-kawan di Universitas Paramadina
justru menunjukkan bahwa pilihan ini objektif dan rasional. Nanti saya taruh
di blog saya testimoni mereka: Chandra M Hamzah (saya kenal 17 tahun lalu),
Anies Baswedan (saya kenal 15 tahun lalu), dllnya. Generasi 1990-an adalah
generasi yang sudah terbiasa dengan perdebatan yang keras dan tajam. Bahwa
ada yang menentukan pilihan menjadi dosen di universitas, profesional di
perbankan, aktivis di lembaga swadaya masyarakat, penulis, atau bahkan yang
menikmati pekerjaan di luar negeri (brain drain), adalah bagian dari pilihan
itu. Bagi saya, ini adalah sebuah pertanggungjawaban generasi tentang
Indonesia yang didambakan dan dicita-citakan. Generasi 1990-an adalah
generasi yang mengalami gejolak antara kebebasan dan ketidak-bebasan, di
tengah rezim yang mulai berusia senja. 

 

Keempat, bahwa saya memilih Partai Golkar tentu disertai oleh sejumlah
pertimbangan. Dalam pidato saya sebutkan beberapa butir dari pertimbangan
itu. Ada pilihan untuk mengembangkan rezim Developmentalisme Demokratis yang
berbeda secara diametral dengan rezim Developmentalisme Represif. Bahwa saya
masuk Partai Golkar setelah Pak Wiranto dan Pak Prabowo Subianto keluar
adalah bagian dari pertimbangan yang menguatkan. Partai Golkar kini lebih
berwajah sipil. Kalaupun ada tuduhan bahwa Partai Golkar dihuni oleh
sejumlah pengusaha, saya kira literatur sejarah juga menunjukkan bahwa
demokrasi memang dibangun oleh kalangan borjuis yang menentang kaum feodal
(yang punya tanah) dan kaum agamawan (yang punya Tuhan dan Rumah Tuhan).
Betapa kaum borjuis kini menjadi bagian dari kelompok penguasa, bukan lagi
kelompok lobi yang aktif (baca disertasi Rizal Mallarangeng) terutama
menggantikan kaum intelektual yang pada awal kemerdekaan menjadi kelas
penguasa (baca Harry J Benda), adalah bagian dari fase sejarah. Dan sebagai
sebuah penyikapan, saya memajukan diri untuk memasuki celah sempit kehidupan
politik itu, apapun status yang diberikan kepada saya selama ini. 

 

Kelima, kepada kakak-kakak saya, seperti Bambang Sulistomo dan Manneke
Budiman, dllnya, saya mengerti kepedulian dan keprihatinan kalian. Yang
dikhawatirkan adalah Partai Golkar akan mengubah saya. Yang terpenting
adalah saya sudah menjatuhkan pilihan. Saya tidak ingin menilai
partai-partai politik lain, tetapi saya berasumsi bahwa apapun partai
politik pilihan saya, tetap saja akan memunculkan asumsi yang sama. PDIP,
PKS, PMB, PPI, dan lain-lainnya, adalah beragam warna politik dalam lanskap
Indonesia. Bahwa saya akan mengikuti aturan main partai, iya. Bahwa saya
akan mencoba melakukan lobi, berdebat, dllnya, guna mengubah aturan main
itu, juga iya. Saya percaya bahwa partai politik bukanlah Candi Borobudur
yang tidak bisa digeser kedudukan dan pilihan politiknya. Partai politik
bukanlah benda, karena di dalamnya berhimpun begitu banyak manusia. 

 

Keenam, saya maju sebagai caleg dari Daerah Pemilihan Sumatera Barat II yang
meliputi tiga kota (Bukittinggi, Payakumbuh dan Pariaman) dan lima kabupaten
(Padang Pariaman, 50 Kota, Agam, Pasaman dan Pasaman Barat). Di Sumbar II
ini pernah lahir Tuanku Imam Bonjol, HAMKA, Mohammad Hatta, H Agus Salim,
Tan Malaka, dllnya. Bahwa mereka dulu bergabung dengan partai politik yang
berbeda. Tetapi ada satu kenyataan yang penting, betapa di sebagian besar
Dapil Sumbar II ini, kualitas sumberdaya manusia masih lemah. Tidak ada
satupun universitas besar berdiri di Sumbar II ini. Apa yang saya maksud
dengan rezim Developmentalisme Demokratis lebih terkait dengan daerah
pemilihan saya ini. Harus ada pembangunan yang berdimensi kemanusiaan,
pembangunan yang humanistis, terutama untuk meningkatkan kualitas sumberdaya
manusianya. Bahwa banyak penduduk di dapil saya hanya berpendidikan SD,
sedikit sekali yang berpendidikan SMA (tidak semua kecamatan memiliki SMA),
serta jarang yang masuk pendidikan tinggi (apalagi di universitas bonafid di
tanah Jawa dan luar negeri), adalah tantangan yang ada di depan mata. 

 

Ketujuh, bahwa saya kembali ke kampung halaman saya dengam memakai baju
Partai Golkar hanya sebagai ikhtiar kecil untuk tidak membiarkan kampung
halaman saya dilindas oleh drakula siang yang bernama globalisasi. Dan saya
sudah terlalu lama bersinggungan dengan teman-teman yang pro-pasar bebas,
pro pasar-sosial, dllnya, tetapi semakin hari saya paham bahwa masyarakat di
dapil saya tidak sedang harus mengunyah-ngunyah gagasan-gagasan besar itu,
karena satu tindakan kecil saja belum dijalankan dengan baik. Saya tidak
sedang menunggu seorang Mao Tse Tung lahir di Indonesia, lalu menyuruh kaum
intelektual pergi ke desa-desa, meninggalkan perpustakaan dan
laboratoriumnya, untuk mencapai sebuah lompatan kebudayaan yang dahsyat yang
kita lihat dari pembukaan Olimpiade Beijing. Biarlah saya, sendirian,
kembali ke kampung saya, setelah 20 tahun sekolah, 17 tahun hidup di gang
sempit Jakarta, untuk melakukan sebuah revolusi mentalitas. Tentu saya akan
sangat senang apabila puluhan ribu politisi, puluhan ribu intelektual,
kembali ke kampung halaman masing-masing, lantas membangun masyarakat di
tingkat basis. (Lihat tagline yang lama saya pasang di www.indrapiliang.com
dan nada tunggu di handphone saya dari lagu Ahli Fiqir dengan judul sama:
"Kembalikan, Kampung Halamanku!"). 

 

Kedelapan, tentu saya senang dengan adanya diskusi tentang pilihan politik
yang saya ambil. Ada beberapa milis yang mendiskusikan itu. Bagi saya,
perdebatan adalah bagian otentik dari buah reformasi dan demokrasi. Tetapi
akan sangat tidak berguna apabila diskusi itu hanya bersifat insuniatif,
terutama dari orang-orang yang alergi hanya kepada sebuah simbol, sebuah
warna, namun kehilangan substansi pada isi. Sudah sepuluh tahun kita
melakukan hal ini, berpesta dengan kebebasan, sampai kita mabuk dengan
kebebasan itu, serta kehilangan kesadaran tentang apa yang lebih baik
dilakukan ketika seluruh anggur sudah tertelan ke perut dan toilet dipenuhi
oleh bau busuk, ditambah dengan sampah-sampah yang berserakan. 

 

Kesembilan, saya sudah menguji beberapa "textbook" ilmu politik dan
perubahan sosial, antara lain dengan membuka nomor rekening pribadi. Sampai
sekarang tidak ada yang bisa saya laporkan, karena memang tidak ada dana
yang masuk. Saya tidak kecewa, tetapi yang penting adalah satu eksperimen
individual untuk menguji sejauh mana kita memiliki solidaritas sosial sudah
saya lakukan. Jadi, sampai hari ini saya belum menggunakan dana publik untuk
kegiatan politik saya, serupiahpun. Sekalipun begitu saya tetap memiliki
kepercayaan bahwa publik bisa mengubah keadaan, terutama kelompok yang
meyakini dirinya sebagai entitas yang terhormat dalam sebutan creative
minority (perubahan digerakkan oleh kelompok ini sebagaimana ditulis oleh
Arnold Toynbee). 

 

Kesepuluh, terakhir, saya secara terbuka meminta bantuan teman-teman di
milis FPK ini untuk menyumbangkan pemikiran-pemikiran alternatif ataupun
pemikiran-pemikiran lama tentang apa yang harus saya lakukan, minimal di
daerah pemilihan saya. Saya sudah mengumpulkan sejumlah data, tetapi belum
bisa disampaikan secara terbuka. Dapil saya termasuk kategori pesisir dan
pegunungan. Ada tiga gunung yang terletak di dapil saya, ada lembah dalam
seperti Ngarai Sianok, juga Danau Maninjau yang didalamnya terdapat sembilan
ikan sebagai perubahan wujud Bujang Sembilan. Silakan dilacak di internet.
Saya menerima masukan-masukan tentang bagaimana membangun nagari demi nagari
di kampung kami. Terdapat 73 kecamatan dan 266 nagari di dapil saya.

 

Demikianlah sepuluh catatan untuk teman-teman di milis FPK ini. Semoga milis
ini tetap memberikan harapan akan kebaikan demi kebaikan yang hendak
ditempuh di Indonesia. 

 

Hormat Saya,

 

INDRA JAYA PILIANG MSi

 

Pergi ke Rantau untuk Belajar, Kembali ke Ranah Menuju Akar.

 

 

http://www.mail-archive.com/[EMAIL PROTECTED]/msg48639.ht
ml.

 

http://www.mail-archive.com/[EMAIL PROTECTED]/msg48668.ht
ml.

 

http://www.mail-archive.com/[EMAIL PROTECTED]/msg48657.ht
ml.



 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke