Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
            Sekedar penyegar ingatan, izinkan saya menyampaikan kembali latar 
belakang kunjungan ke eks Benteng Paderi di Bukik Tajadi, Bonjol ini. Pencetus 
langsung dari gagasan ini adalah rangkaian kesimpulan Lokakarya Perang Paderi 
yang diselenggarakan Gebu Minang dan Arsip Nasional di Gedung Arsip Nasional 
tanggal 22 Januari 2008 yang lalu, dalam rangka menggali sumber otentik dari 
‘jati diri Minang’ Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK) 
yang diperkirakan lahir dalam zaman Paderi. Benteng Bukik Tajadi adalah benteng 
terkuat dari kaum Paderi, di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol yang menjadi 
kebanggaan orang Minangkabau dan telah dinyatakan sebagai salah seorang 
Pahlawan Nasional. 
            Sejak tahun 2004 saya mencoba sungguh-sungguh menggali, bukan hanya 
artian yang persis dari ABS SBK ini, tetapi juga bagaimana wujud pelaksanaannya 
dalam masyarakat, yang berpuncak pada Semiloka Masyarakat Hukum Adat Minang 
dari Perspektif Hak Asasi Manusia di Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang 
pada bulan Juni 2007, yang telah dibukukan oleh Mahkamah Konstitusi. Dalam 
tindak lanjutnya, secara berkebetulan, saya termasuk salah satu anggota tim 
perumus ABS SBK yang dibentuk oleh Gubernur Sumatera Barat, yang sudah 
menyelesaikan tugasnya pertengahan dalam tahun 2008. Kesan saya, masih banyak 
yang perlu dilakukan agar ABS SBK benar-benar menjadi ‘jati diri’ orang 
Minangkabau. Dalam tarafnya yang sekarang, ABS SBK tersebut mirip seperti 
Pancasila, yang sering disebut, tapi tak seorangpun yang tahu bagaimana cara 
melaksanakannya dalam kenyataan, dan cenderung untuk tak disebut-sebut lagi 
dalam masa datang. Kan sedih ?
Secara pribadi, yang menarik bagi saya adalah adanya tiga tahapan gerakan 
Paderi dalam memurnikan akidah islami orang Minangkabau dari sisa-sisa 
kejahiliyahan, bermula dengan himbauan yang moderat di bawah Tuanku Koto Tuo, 
disusul oleh aliran radikal di bawah Tuanku dan Renceh – diikuti oleh kerjasama 
kaum adat dengan pemerintah Belanda untuk melawan kaum Paderi – diakhiri dengan 
persatuan kaum adat dan gerakan Paderi melawan Belanda, di bawah pimpinan 
Tuanku Imam Bonjol. 
Juga amat menarik bagi saya kenyataan bahwa Tuanku Imam Bonjol kemudian sadar 
bahwa aksi ekstrem a la Tuanku Nan Renceh tidak sesuai dengan ajaran Islam, 
sehingga beliau mengutus dua orang ke Mekkah untuk mempelajari perkembangan 
terakhr, yang akhirnya memang mengubah strategi perang kaum Paderi. [Adanya 
‘petisi’ Ir Mudy Situmorang untuk mencabut gelar Pahlawan Nasional dari Tuanku 
Imam Bonjol dari segi 'HAM' – yang telah diselesaikan dalam Lokakarya Perang 
Paderi bulan Januari 2008 di gedung Arsip Nasional -- menambah keingintahuan 
saya lebih dalam].
            Adalah menarik, bahwa walaupun dibanggakan, namun tidak banyak yang 
kita ketahui mengenai Gerakan Paderi serta Tuanku Imam Bonjol, selain 
cerita-cerita ringkas yang diperoleh di sekolah dasar.. Bahkan apa yang disebut 
sebagai ‘Piagam Bukik Marapalam’ itu sendiri sampai sekarang belum pernah bisa 
ditemukan. Syukurnya sudah ada beberapa buku yang menampilkan kisah-kisah yang 
lebih dalam mengenai gerakan Paderi serta tokoh-tokohnya, antara lain yang 
dikarang oleh Mohammad Radjab (1954), Ir Mangaraja Onggang Parlindungan (1964), 
Sjafnir Abu Nain dan Rusli Amran, disusul oleh Christine Dobbins, serta oleh 
beberapa pengarang kontenporer seperti Basyrah Hamidy Harahap. 
Suatu catatan lagi, dalam masyarakat Minangkabau ada berbagai versi tentang  
silsilah keturunan Tuanku Imam Bonjol, yang juga perlu dijernihkan, khususnya 
dalam kaitan dengan adanya dua jenis cara menuliskan silsilah seseorang 
Minangkabau: 1)  sistem matrilineal dimana garis keturunan diurut menurut garis 
ibu dan 2)  ajaran nasab Islam yang mengajarkan keturunan diurut dari garis 
bapak. Tidak jarang, dua macam sistem pencatatan yang tidak kompatibel ini 
merupakan salah satu penyebab sengketa berkepanjangan dari warga Minangkabau. 
Hal yang terakhir ini secara khusus menjadi kerisauan dari Bung Hari Ichlas, 
keturunan Tuanku Imam Bonjol dari garis bapak, yang sudah tentu tidak akan 
tercatat dalam ranji yang ditulis dari garis ibu. Saya sangat berterima kasih, 
bahwa beliau menyambut baik dan mendukung keinginan saya untuk meninjau Benteng 
Paderi di Bukik Tajadi, Bonjol, sebagai bagian menyeluruh dari upaya 
menjerihkan pemahaman saya mengenai gerakan
 Paderi dan ABS SBK ini.
             Demikianlah, sesuai dengan rencana, hari Jumat pagi tanggal 22 
Agustus 2008, enam orang anggota rombongan berangkat dari Bandara Soekarno 
Hatta, terdiri dari sejarawan militer, Kol.Pur Dr Saleh Asad Djamhari dan Drs 
Amrin Imran; Wakil Sekjen Gebu Minang merangkap EO (=event organizer) Warni 
Darwis; tokoh adat dan pengamat sejarah Ir Dt Endang Pahlawan beserta keluarga 
dan Ir. Nina [ staf Ir Dt Endang Pahlawan orang Lubuk Sikaping yang juga ahli 
tata ruang Departemen PU] ; saya dan keluarga, dengan pesawat Airbus A320 
Mandala jam 07;40. Bung atau Ajo Indra Jaya Piliang – yang juga mempunyai minat 
yang sama --  naik pesawat Lion Air yang take off jam 07;35. Kami bergabung 
setibanya di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) jam 09:20. Secara 
berkebetulan di Bandara Soekarno Hatta kami satu pesawat dengan tokoh Gebu 
Minang Bp Azwan Hamir sekeluarga, yang juga ke Padang dengan pesawat Mandala 
yang sama. Entah kebetulan entah
 tidak, di pesawat sejarawan Saleh Djamhari berdekatan duduk dengan  tokoh adat 
Dt Endang Pahlawan, yang kelihatannya langsung asyik berbicara sepanjang 
penerbangan.
            Di BIM telah menunggu rombongan dari Padang, yaitu Ketua Ikatan 
Arsitek Indonesia (IAI) Sumatera Barat Ir. Doni Mudanton (putera Prof Dr 
Mudanton, mantan Sekretaris Rektor Unand, dan urang sumando dari Sunur, 
Pariaman) beserta dua orang pengurus IAI Sumbar lainnya; sejarawan Drs Sjafnir 
Abu Nain Dt Kando Maradjo, pakar biografi Tuanku Imam Bonjol dan Perang Paderi; 
Indri dan Eka dari TVRI Sumatera Barat. Seluruh rombongan -- bersama pengemudi 
-- berjumlah 20 (dua puluh) orang. Kami berangkat dari BIM dengan tiga 
kenderaan: satu Toyota Kijang Innova, satu Toyota Avanza, dan satu Daihatsu 
Feroza. 
            Sebelum meneruskan perjalanan langsung ke Lubuk Sikaping, yang akan 
memakan waktu sekitar lima jam, kami makan terlebih dahulu di Restoran ‘Lamunan 
Ombak’ di luar Kota Padang. Restorannya bersih, makanannya enak, ruangannya 
luas, dan pelayanannya ramah. Setelah selesai makan sekitar jam 11:00 , saya 
memanfaatkan waktu untuk menjelaskan latar belakang kunjungan ini dan untuk 
memperkenalkan rombongan dari Jakarta. Saya meminta Ir Doni Mudanton untuk 
memperkenalkan rombongan dari Padang. Kesan saya, setelah makan bersama dan 
setelah saling berkenalan itu, sudah mulai terasa akrab satu sama lain dan siap 
bekerjasama untuk menggali sejarah gerakan Paderi lebih lanjut, di lapangan. 
Dalam peralanan selanjutnya, saya naik mobil Daihatsu Feroza Ir Doni Mudanton, 
sehingga kami bisa berbicara sepanjang jalan mengenai macam-macam hal, baik 
tentang rencana design restorasi Benteng Bukik Tajadi, maupun tentang 
macam-macam masalah Sumatera Barat. Kebetulan saya kenal dengan Prof Dr. 
Mudanton, bapak Ir Doni Mudanton, sehingga kami langsung terasa akrab.Ternyata 
beliau bukan hanya berminat pada masalah arsitektur, tetapi juga pada masalah 
pembangunan daerah pada umumnya, antara lain tentang tidak adanya suatu 
skenario yang jelas mengenai kegiatan pariwisata di Sumatera Barat, tentang 
tidak adanya convention hall di Padang, serta tentang dampak buruk jangka 
panjang dari kebiasaan angkot Kota Padang untuk membunyikan musik 
sekeras-kerasnya. 
Kami menunaikan shalat Jumat di mesjid Kampung Jawa, Padang Panjang. Setelah 
liwat Bukit Tinggi, rombongan berhenti istirahat di Palupuh, kampung Ibu Warni 
Darwis, dimana kami ditemui oleh tante beliau beserta suami, serta Sri, adik Bu 
Warni, yang bermurah hati untuk menyajikan pisang kepada rombongan musafir ini. 
            Di Bonjol, saya minta agar rombongan berhenti terlebih dahulu di 
Museum Tuanku Imam Bonjol, yang dibangun pada tahun 1987. Saya ingin melihat 
apa saja isinya. Gedungnya cukup bagus. Di depannya ada patung Tuanku Imam 
Bonjol sedang berkuda dan menghunus pedang. Di lantai dasar ada Perpustakaan 
yang berisi beberapa buku lama yang tak sempat saya baca judul-judulnya, juga 
ada fotokopi dari literatur tentang Padri, antara lain fotokopi buku karangan 
Christine Dobbins edisi lama. Di lantai 2, ada benda-benda-benda bersejarah, 
baik senjata-senjata tajam maupun senjata api, khususnya senapan. Sayang tidak 
ada meriam Paderi, yang untuk saat itu berukuran cukup besar, yaitu 8 dan 12 
pounder. Bandingkan dengan meriam Belanda saat itu yang hanya berukuran 3 dan 6 
pounder. Juga ada replika pakaian Paderi serta pakaian penghulu.Sejarawan 
Sjafnir Abu Namin mengoreksi tahun yang tertera pada plakat yang ada di tugu 
Tuanku Imam Bonjol . Menurut
 beliau Bonjol dibangun pada tahun 1807, Tuanku Imam diangkat pada tahun 1808, 
sehingga tahun 2008 ini bisa diperingati sebagai 200 tahun Tuanku Imam Bonjol. 
Sayangnya tidak ada suvenir yang dapat dibeli di Museum tersebut. Beberapa 
penjual asongan hanya menyediakan T-shirts dengan gambar tugu Khatulistiwa yang 
berdekatan dengan Museum Tuanku Imam Bonjol ini.
            Di Lubuk Sikaping, kami langsung menemui Bung Hari Ichlas di 
kediamannya. Setelah berkenalan satu sama lain, dan setelah ibu-ibu sholat 
Ashar, rombongan diantar ke Hotel  Arumas, Jalan Adam Malik, Lubuk Sikaping. 
Hotelnya cukup baik, selain kamar biasa juga ada kamar VIP. Hotel ini 
dilengkapi dengan sebuah restoran, bernama Pondok ‘SariRasa’. Rombongan tidak 
sempat beristirahat, setelah mandi; kami langsung ke Kantor Bupati jam 17:30 
untuk berkenalan dan menyampaikan maksud rombongan. 
Di Kantor Bupati kami diterima oleh Wakil Bupati beserta beberapa kepala dinas, 
karena Bupati Pasaman sedang dinas ke Jakarta atas undangan Dewan Perwakilan 
Daerah. Kodim Pasaman mengutus seorang perwira staf, Kapten Bambang. Dalam 
pertemuan tersebut, saya kembali memperkenalkan  rombongan yang datang serta 
maksud kedatangan kami mengunjungi Benteng Paderi di Bukik Tajadi, Bonjol. 
Sedikit saya sampaikan latar belakang minat kami pada Benteng Paderi ini, 
khususnya sebagai lanjutan dari berbagai lokakarya dan seminar yang ikut saya 
prakarsai tentang Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK) yang 
ikut saya prakarsai sebagai komisioner Komnas HAM sejak tahun 2004. Walau 
dokumen Piagam Bukik Marapalam yang memuat diperkirakan memuat ABS SBK tersebut 
belum dapat ditemukan sampai saat ni, namun jelas terkait dengan Gerakan dan 
atau Perang Paderi. 
Saya memanfaatkan pertemuan  itu dengan menyampaikan bahan-bahan sejarah yang 
kami pakai sebagai rujukan, antara lain buku’Perang Paderi’ karangan M Radjab 
edisi pertama (1954) dan buku Christine Dobbins edisi terbaru (Mei 2008). Saya 
juga menjelaskan bahwa setelah menyaksikan kondisi terkini dari situs tersebut, 
kami berkhayal untuk merestorasinya dan melengkapinya dengan sebuah gelanggang 
silek, sesuai dengan rencana IPSI yang pernah disampaikan oleh Ir Aslim 
Nurhasan kepada saya. Dukungan anggarannya entah dari mana, nanti pula 
difikirkan. Pokoknya design dibuat dahulu, dibantu oleh IAI Sumbar.[Dalam 
kesempatan tersebut Bung Hari Ichlas menjelaskan adanya temuan baru tentang 
nenek moyang Tuanku Imam Bonjol, yang ternyata dari garis bapak ada hubungan 
darah dengan raja-raja Bone-Takalar di Sulawesi Selatan dan raja-raja 
Pagaruyung, yang akan dikaji lebih lanjut.].
Setelah saya selesai memperkenalkan anggota rombongan, Wakil Bupati 
menyampaikan kata sambutan. Beliau menyatakan sangat senang dengan kedatangan 
kami, yang merupakan suatu peristiwa langka di kabupaten ini. Ternyata beliau 
juga sedang membaca buku Dobbins, dan meminta agar buku karangan M. Radjab 
ditinggalkan sebagai kenang-kenangan, yang sudah tentu kami setujui.
            Wakil Bupati selanjutnya menjelaskan bahwa  yang menjadi maksud 
rombongan sudah lama menjadi keinginan pemerintah kabupaten, hanya belum dapat 
dilaksanakan oleh karena harus memprioritaskan program-program lain terlebih 
dahulu, khususnya pemberantasan kemiskinan dan mengatasi masalah pengangguran. 
Beliau menjelaskan bahwa luas daerah Pasaman adalah 4.000 kilometer persegi 
dengan penduduk hanya sebanyak 260.000 orang saja. Kabupaten ini kaya dengan 
sumber daya alam mineral yang diusahakan oleh masyarakat sendiri, yang 
data-datanya sudah beliau himpun dalam sebuah CD dan sebuah booklet yang 
langsung saya berikan kepada Ajo Indra Jaya Piliamg. Pemerintah kabupaten sudah 
menghubungi berbagai investor untuk mengembangkan sumber daya alam ini, yang 
dicatat dengan cermat oleh Ajo Indra Jaya Piliang, sebagai caleg Golkar untuk 
Dapil 2. Wakil Bupati menginginkan adanya lanjutan pertukarfikiran setelah 
sholat Magrib, namun karena beliau
 juga acara lain, saya menyarankan dilanjutkan dalam kesempatan lain, karena 
kami juga ingin ada pertemuan lanjutan setelah itu. Ajo Indra mengatakan bahwa 
sebagai caleg dari daerah ini, beliau akan berulang-ulang datang. Syukur 
Alhamdullah.
            Jam 19:30 rombongan makan malam di Pondok “Sari Rasa’, yang bisa 
dihadiri oleh Komandan KodimPasaman, yang baru saja datang dari Sasak di 
Pasaman Barat. Beliau baru saja satu bulan menjadi komandan kodim, mutasi dari 
jabatan sebagai staf Panglima Kodam I/Bukit Barisan di Medan, dan sudah tahu 
mengenai kedatangan kami, karena ditilpon langsung oleh Mp Mayjen TNI (Pur) 
Asril Tanjung,S.IP, Ketua Gebu Minang, mantan Kas Kostrad. Komandan Kodim 
Pasaman pernah menjadi bawahan beliau dahulu. Kepada beliau saya jelaskan 
kembali maksud kedatangan rombongan, sambil menjelaskan bahwa ‘Sendratari 
Tuanku Imam Bonjol’pernah dinyatakan sebagai bagian dari pembinaan tradisi 
corps (bintracor) Kodam III/17 Agustus oleh Pangdam III/17 Agustus, Mayjen TNI 
Widodo.Saya menyarankan agar Kodim Pasaman dapat melanjutkan kebijakan 
tersebut, khususnya dalam rangka pembinaan teritorial. Saya juga meminta agar 
–sekiranya rencana merestorasi Benteng
 Bukik Tajadi tersebut dapat dimulai nanti entah kapan – Kodim Pasaman dapat 
membentu mengerahkan anggota, jika perlu dengan meminta bantuan dari Korem, 
khususnya dari anggota Batalyon 131 dan 133, serta anggota dan perlengkapan 
zeni.. Saya mendapat kesan beliau cukup tergugah, dan secara lagsung beliau 
menyatakan akan ikut rombongan meninjau Benteng BukikTajadi. Alhamdulillah 
lagi. 
Jamuan makan malam itu diakhiri jam 22.30, untuk mempersiapkan diri mengunjungi 
Bukik Tajadi di Bonjol esok paginya.
            Sampai disini dahulu. Laporan lanjutan hari kedua dan hari ketiga 
akan saya susulkan segera.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]



      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke