Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Saya kirimkan berita mengenai kesenjangan anggaran antara bidang pendidikan dan 
kesehatan, sekedar bahan pemikiran.
Masalahnya: bagaimana keadaan di Sumatera Barat ? Apakah lebih baik atau lebih 
buruk? Apa akibatnya bagi generasi muda kita?

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]

Anggaran Pendidikan dan Kesehatan Tak Seimbang
Kompas, Selasa, 26 Agustus 2008 | 00:38 WIB 
Oleh Ki Supriyoko
Dalam pidato kenegaraan pada 15 Agustus 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
mengemukakan bahwa untuk tahun anggaran 2009, kita bakal bisa memenuhi anggaran 
pendidikan sebesar 20 persen APBN sebagaimana diamanatkan konstitusi.
Lalu, berapa nilai konkret anggaran pendidikan kita? Mudah dihitung! Untuk 
pertama kali sejak Indonesia merdeka, pendapatan negara serta belanja negara 
dalam RAPBN 2009 mencapai angka di atas Rp 1.000 triliun. Dengan demikian, 
besarnya anggaran pendidikan setidak-tidaknya mencapai Rp 200 triliun. Angka 
ini diperoleh dari 20 persen terhadap Rp 1.000 triliun.
Pada sisi yang lain, Presiden Yudhoyono juga menyatakan, anggaran fungsi 
kesehatan pun meningkat hampir tiga kali lipat, dari Rp 5,8 triliun pada tahun 
2005 menjadi sekitar Rp 16 triliun pada tahun 2008.
Kenaikan anggaran pendidikan dan anggaran kesehatan sudah barang tentu sangat 
konstruktif. Masalahnya, sebandingkah besarnya anggaran pendidikan di atas Rp 
200 triliun dengan besarnya anggaran kesehatan yang hanya sekitar 
sepersepuluhnya?
Sama-sama buruk
Kalau kita jujur, kinerja pendidikan dan kesehatan kita sama- sama buruk, 
setidak-tidaknya belum memberikan kebanggaan bagi kita semua. Relatif tingginya 
angka buta aksara (illiteracy rate) merupakan salah satu indikator rendahnya 
kinerja pendidikan Indonesia. Berdasarkan catatan The World Factbook, World 
Literacy Rate (2007), angka melek huruf Indonesia baru 90,4 persen. Artinya, 
masih ada sekitar 10 persen penduduk kita yang tidak bisa membaca karena buta 
aksara.
Apabila kita mengacu publikasi UNDP dalam Human Development Report 2007, angka 
kebutaaksaraan dewasa bahkan mencapai 12,1 persen. Artinya, satu dari setiap 
delapan penduduk Indonesia masih buta aksara. Kalau dibandingkan dengan 
Malaysia (7,7 persen), Brunei Darussalam (6,1 persen), Thailand (7,4 persen), 
dan Filipina (7,4 persen), angka kebutaaksaraan kita relatif tinggi, apalagi 
kalau dibandingkan Korea Selatan yang hanya 2,1 persen.
Di luar angka kebutaaksaraan tersebut, masih banyak indikator lainnya, antara 
lain kelayakan sekolah (school feasibility), tingkat partisipasi pendidikan 
(enrolment ratio), angka melek aksara (literacy rate), rata-rata lama 
bersekolah (mean years of schooling), angka melanjutkan belajar (continuing 
study rate), dan prestasi belajar (academical achievement). Kalau kita rinci, 
iramanya senada dengan kebutaaksaraan.
Kinerja pendidikan kita tidak membanggakan, kinerja kesehatan kita pun ternyata 
lebih tidak membanggakan lagi, bahkan cenderung memprihatinkan.
Ilustrasi konkretnya sebagai berikut: di negara tercinta ini masih terdapat 
sekitar 900 kasus malaria dari setiap 100.000 penduduk. Angka ini sangat 
memprihatinkan karena di Jepang dan Australia kasus tersebut boleh dikatakan 
sudah tidak ada. Di samping memprihatinkan, kasus malaria di Indonesia itu 
sekaligus memalukan karena angka di Thailand tinggal sekitar 130, Malaysia 
tinggal sekitar 50, Filipina sekitar 10, dan di Singapura hampir tidak ada lagi.
Di samping malaria, masih banyak indikator kesehatan yang lain. Angka kematian 
bayi, angka kematian anak balita, angka kematian ibu, kurangnya berat badan 
anak dari seharusnya, kurangnya tinggi badan anak dari yang seharusnya, kasus 
TBC, penduduk yang terinfeksi HIV, angka harapan hidup, dan sebagainya adalah 
indikator lain dari kesehatan masyarakat suatu negara.
Tentang angka kematian bayi, misalnya, di Indonesia angkanya masih tinggi, 
yaitu 33, artinya 33 dari setiap 1.000 kelahiran langsung meninggal. Angka 
serupa di Vietnam hanya 30, padahal peringkat HDI Vietnam lebih rendah daripada 
Indonesia. Angka- angka serupa di Filipina, Thai- land, Brunei Darussalam, dan 
Singapura masing-masing hanya 29, 24, 6, dan 3.
Tidak sebanding
Karena masih buruknya kinerja pendidikan dan kesehatan kita, sangatlah tepat 
kebijakan pemerintah untuk menaikkan anggaran pendidikan dan anggaran 
kesehatan. Namun, ketidakseimbangan nilai kedua jenis anggaran tersebut 
sebenarnya sangat menyesatkan kita.
Negara-negara maju umumnya menyeimbangkan anggaran pendidikan dengan anggaran 
kesehatan karena mereka percaya bahwa kemajuan negara sangatlah bergantung pada 
kemajuan pendidikan rakyatnya. Sementara itu, kemajuan pendidikan sangatlah 
bergantung pada kemajuan kesehatan rakyatnya. Logikanya sederhana, bagaimana 
mungkin pendidikan bisa maju kalau kesehatan rakyatnya terabaikan.
Australia, misalnya, negara ini mengalokasikan 5,2 persen produk domestik bruto 
(PDB) untuk pendidikan dan 6,2 persen untuk kesehatan. Negara ini sadar betul 
bahwa pendidikan memang penting, tetapi kesehatan jauh lebih penting. Amerika 
Serikat (AS) 3,6 persen PDB untuk pendidikan dan 6,2 persen untuk kesehatan; 
Belanda 5,0 persen PDB untuk pendidikan dan 5,7 persen untuk kesehatan; 
sedangkan Inggris 4,5 persen untuk pendidikan dan 6,3 persen untuk kesehatan.
Anggaran pendidikan kita yang mencapai sepuluh kali lipat anggaran kesehatan 
jelas tidak sebanding. Anggaran kesehatan kita terlalu kecil bila dibandingkan 
dengan anggaran pendidikan. Bahwa kita memprioritaskan pendidikan kiranya 
tepat, tetapi mengabaikan kesehatan jelas tidak tepat!
Ki Supriyoko Mantan Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN) dan 
Sekretaris Komisi Nasional Pendidikan Indonesia
 


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke