Ambo suko jo tulisan sanak Piliang nan ciek ko :)

** Yo ndak ado hub. Jo minang do, cuman nan manulis urang minang.

Salam
---------------------------------------------- 

Rabu, 27 Agustus 2008 DUA sosok judul tulisan ini, saya kenal. Namun
keduanya saya disandingkan, bukan untuk mensetara, menyamarata. Mereka beda.
Adhyaksa Dault, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menegpora). Sedangkan
Hamka Yandhu, anggota komisi XI DPR, kini tersangka kasus aliran dana Bank
Indonesia ke DPR, 2004 lalu. 

Jumat, 22 Agustus 2008 lalu Adhyaksa menilai Bupati Jember, Jawa Timur, MZA
Djalal, tidak sopan. Pasalnya, Bupati Jember itu mengundang kehadiran
Mennegpora, tapi yang bersangkutan malah tidak ada di tempat saat
kedatangannya.

Tuan rumah menghilang.

Kekesalan Adhyaksa mengemuka sebelum shalat jumat di Masjid Universitas
Muhammadyah, Jember. "Kalau seperti ini, Bupati Jember tidak sopan.
Mengundang saya untuk datang ke Jember guna melepas peserta gerak jalan
tradisional (Tajemtra), namun orangnya tidak ada di tempat tanpa alasan yang
jelas," tuturnya kepada beberapa wartawan.

Padahal jauh-jauh dari Jakarta, ia mesti numpak helikopter. Tidak semua
agenda akhirnya ia datangi. Adhyaksa kecewa. Jika dihitung waktu, termasuk
membatalkan agenda lain yang kiranya bejibun, plus biaya, perjalanan itu tak
terbantahkan sia-sia.

Jika saja Adhyaksa menempatkan diri sebagai sosok negarawan yang kian hari
belum jua muncul di ranah ini, kesempatan itu seharusnya dapat dia pakai
menemui masyarakat Jember, paling tidak menghadiri seminar yang sudah
diagendakan. Seterusnya dengan jenaka dapat berdialog dengan masyarakat
sambil “meledek” Pemda yang seakan menghilang.

Akan lain jadinya.

Pilihan sudah diambil Adhyaksa, sebagai pejabat publik. Adalah hak rakyat
menilai tabiat sang Menteri. Selasa, 26 Agustus 2008, Adhyaksa hadir pada
Acara Apresiasi Atlet Olimpiade
Indonesia yang diadakan Kompas Gramedia di Bentara Budaya. Acara mendadak
meriah ketika dirinya menyampaikan sambutan.

"Buat Eko sama Triyatno, selain bersyukur dapat medali, kalian harus
bersyukur juga masuk di rubrik Sosok Kompas, saya saja selama jadi menteri
belum pernah dijadiin sosok. Kompas itu berat, nggak sembarang orang bisa
dijadikan Sosok. Harus yang berprestasi, kamu harus berbahagia. Gitu
ngelihat kalian di Sosok, aku langsung bilang ke istriku, liat ni
atlet-atlet ini luar biasa, jadi Sosok, aku aja belum pernah," ujarnya.

Eko Yuli Irawan dan Triyatno, adalah dua atlet angkat besi yang
masing-masing mendapatkan medali perunggu di Olimpiade Beijing lalu.

"Besok, kalian laminating itu. Bilang orangtua, 'Mak, liat aku ada di Sosok,
Pak menteri aja belum pernah'." kata Adhyaksa.

Entah telah mengevaluasi peristiwa Jember, atau memang cuma spontan, tetapi
jika saja Adhyaksa punya kerendahan hati, plus juga semua pejabat publik
berkenan berkaca diri untuk mau berbagai jenaka, maka Anda nilailah dua
paparan di atas, mana yang lebih enak? Mana yang lebih membekas positif di
hati.


MASIH lekat dalam benak saya, bahwa sosok Adhyaksa ketika di Sekolah
Menengah Atas (SMA) Negeri 3, Setiabudi, Jakarta Selatan, rajin berolah raga
basket.
Karena keasikan slam dunk, di saat jam istirahat, waktu masuk kembali ke
ruang kelas bajunya berbalut peluh.

Era itu, 1981 -1983, di salah satu kelas kami pernah bersama. Di saat jam
olahraga, jika kerongkongan kering, kami melepas dahaga di kediamannya, yang
kala itu, sepelemparan batu saja jaraknya dari halaman sekolah. 

Di kemudian hari saya melihat dari jauh, Adhyaksa menjadi Menteri Negara
Pemuda dan Olahraga (Menegpora).

Jauh sebelumnya saya pernah bertemu dalam perjalanan menuju Makassar di
sekitar 1994. Kala itu saya tahu bahwa Adhyaksa menikahi puteri Artono
Arismunandar - - saat itu menjabat Dirjen Listrik dan Energi Baru. Artono
adalah kakak kandung tertua Wismoyo Arismundar, mantan Danjen Kopassus, yang
juga ipar almarhum mantan Presiden Soeharto. Dan kala itu, bersama kelompok
usahanya, Adhyaksa menjadi rekanan PT PLN.

Sejak Adhyaksa menjadi Menegpora, beberapa kawan seangkatan di SMA, pernah
mengajak untuk bermain tennis di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan,
bersamanya.
Juga menghadiri pengajian sesama kawan sealmamater. Entah mengapa, saya
belum penah gabung. Kawan yang pada mentas itu saya simak dari jauh.

Sesekali mereka saya temui di acara seremoni, secara kebetulan, macam
sekitar dua bulan lalu saya menjabat tangan Adhyaksa di saat ia hendak turun
eskalator dari Ballroom Hotel Sahid Jaya. Kami bersalaman sekadar basa-basi
menanyakan kesehatan, keluarga, masing-masing.

BEDA dengan Hamka Yandhu, yang kini sedang dalam penahanan KPK dan
dititipkan di tahanan Brimob, Kelapa Dua.

Di saat pernah meninggalkan dunia jurnalistik 1989, maka saya mencoba
peruntungan berusaha di jasa kreatif, termasuk membuat animasi seri. Pada
1991, mengantarkan saya dilantik menjadi salah satu anggota Himpunan
Penguasaha Muda Indonesia (HIPMI) DKI, Jakarta, di antaranya bersama Hamka
Yandhu.

Hariyadi Sukamdani, putera Chairman Kelompok Usaha Sahid, juga salah satu
yang dilantik seangkatan kami. Hariyadi di kemudian hari mentas menjadi
Ketua Umum BPP Hipmi

Kepengusahaan Hamka Yandhu kala itu, ikut bergabung bekerja di perusahaan
Kelompok Usaha Adi Tahir, putera Almarhum Achmad Tahir, yang pernah menjadi
Menteri Pariwisata dan Telekomunikasi di era Soeharto. Saat itu saya lihat
ia mengerjakan proyek-proyek jam kota di DKI - - kini jam bulat dengan
kaki-kaki dari bahan stainless steel itu sudah tak tampak lagi di seputar
Jakarta.

Di kemudian hari, saya tak mengamati kiprahnya lagi di dunia usaha.
Tahu-tahu dari jauh saya melihat Hamka sudah menjadi anggota DPR, dan duduk
di komisi yang membawahi perbankan dan anggaran, Komisi IX, kala itu, lalu
berlanjut ke komisi XI, bidang yang sama - - seakan membalik angka Romawi
saja. Saya pun sudah berjibaku kembali dengan dunia tulis-menulis.

Jujur saya katakan, di antara kawan-kawan anggota DPR yang masih berkenan
membalas sms, atau menelepon kembali, bila telepon genggamnya tak aktif,
adalah Hamka orangnya, kendati cuma sekadar basa-basi. Dan bagi saya yang
masih berada di lapisan bawah, sapaan dari seorang kawan anggota dewan, saya
rasakan sebuah “kehormatan”.

Dalam banyak dialog-dialog ringan, ia bertutur jujur dan terkadang membuat
saya nyengir.

Misalnya, “Pak Narlis, orang tuh nggak perlu pintar, ntar kalau banyak uang
dia pasti tampak pintar.”

Hamka tertawa.

Narlis yang dimaksudkan adalah Narliswandi Piliang, nama lengkap saya.

Di lain hari dia pernah juga berujar, “Semua orang bisnis cari fasilitas.
Dan mereka yang sudah besar tak akan berpikir menolong yang kecil-kecil.”

Nada-nada kalimat itu, seakan menyiratkan saya, bahwa sebagai orang biasa
yang mentas di DPR, ia masih bisa bicara seakan berpihak. Kehidupan
pribadinya sudah menempati jajaran puncak, penampilan dan ekonomi kalangan
atas dijamahnya. Dulu sebelum menjadi anggota DPR, ia masih mengendarai
Daihatsu Zebra.

Suatu hari, lima tahun lalu, saya pernah meminta waktunya untuk jumpa. Kami
berjanji ketemu di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta. Saya menunggu di lobby.
Namun rapat-rapat anggaran, termasuk rapat dengan Bank Indonesia, yang
pernah menyita waktu hingga menjelang pukul 24.00, membuat saya seakan
ter-seterap. Untuk mengorder secangkir kopi, di café hotel, saya kala itu
tak berani, kuatir bila Hamka tak datang takut uang tak cukup membayar. Dan
benar, karena kepadatan dan kelelahan Hamka tidak jadi muncul. Dan saya
pulang berjalan kaki.

PUKUL, 18.30, 17 April 2008, di Polres, Jakarta Barat. Setengah jam
sebelumnya saya menelepon keponakan Hamka, setelah membaca berita online dan
menonton di televisi, bahwa menyebutkan dia ditahan KPK, dan dititipkan ke
Polres.

Di saat keluarga Hamka muncul di sekitar pukul 19.00, saya pun numpang masuk
ruang tahanan menjenguk. Saya salami dia. Kami berangkulan. Jaket kulit
kuning sebagaimana yang dipakainya tampak di teve masih melekat.

Tak sampai dua menit saya lalu keluar. Saya memperhatikan siapa tamu yang
menjenguk. Hampir tak ada kawan Hamka sesama anggota dewan yang muncul malam
itu. Pukul 23.45, saya izin kembali masuk, dengan mengaku saudara. Hamka
tampak kaget. “Saya pikir sudah pulang,” ujarnya.

Ia merangkul saya.

Dia bisikkan kata, “Di saat begini, semua kawan hilang.”

Dua hari kemudian saya lihat di televisi, Akbar Tanjung, tak boleh jumpa
Hamka di saat besuk. Saya datang lagi, dengan mengaku saudara, dua hari
kemudian bisa jumpa. Saya lihat setelah sepekan ditahanan, Hamka sudah lebih
rileks.

Kala itulah ia bertutur, bahwa semua anggota komisi IX kala itu menerima
dana aliran BI. Saya katakan buka saja di pengadilan. “Saya akan ajak
kawan-kawan untuk mengembalikan dana itu dulu, paling tidak bisa mengurangi
hukuman” ujarnya.

Dalam kenyataan, ada satu dua orang anggota DPR yang mengembalikan dana
aliran BI sendiri-sendiri.

Ketika dipindah ke tahanan markas Brimob, Kelapa Dua, saya pernah pula
menjenguknya. Saya katakan seluruh pejabat BI, bahkan termasuk Anwar
Nasution, kini kepala BPK, juga semua anggota komisi IX DPR, diindikasikan
menjadi bagian kesalahan.

Hamka mengangguk!

Kala itu di sebelah kamarnya saya lihat ada Jaksa Urip, yang menjadi bintang
dalam kasus suap kejaksaan, yang menyeret Artalyta Suryani.

Saya desak Hamka untuk mengungkapkan list penerima dana di pengadilan. Dia
masih
menolak “Biarlah saya yang menanggung semua kesalahan,” ujarnya.

Di kemudian hari, saya simak, Hamka membeberkan juga di pengadilan tentang
siapa-siapa saja yang menerima dana BI. Hamka tentu sosok yang bersalah, dan
harus dihukum.

Indonesia Coruption Watch (ICW) meminta Hamka untuk dilindungi atas
pengakuannya. Belakangan ICW juga menyampaikan keprihatinan mengapa Aulia
Pohan, besan Presiden SBY, belum juga tersangka. ICW secara resmi menanyakan
ke KPK. Hukum yang hakiki muaranya keadilan. Di ranah keadilan itu, hanya
publik yang dapat menilai, mengapa, ada tebang pilih?

Dan saya lihat penyesalan ada di mata Hamka. Sayang, penyesalan selalu
muncul di akhir.
Dan banyak pula pejabat yang sudah tak menjabat, beberapa saya temui,
menyesali, mengapa ketika "berkuasa" dulu tidak berbuat bagi kemaslahatan?
Tidak memberi arti bagi sesama.

Waktu habis.

Ramadan tahun ini menjelang.

Iwan Piliang, Sketsa di www.presstalk.info
        


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke