Assalamu'alaikum ww,
Pak Iwan Piliang, baa nyo kok sato pak Iwan di Palanta RantauNet ko sato 
basamo-samo jo dunsanak nan ado di salapan pinjuru mato angin. Buliah mak sato 
pulo dunsanak kito dapek carito lansuang jo sakalian batuka pikiran untuak 
manambah wawasan kito basamo di Palanta iko.

Tarimo kasi talabiah daulu dan bari maoh lah dibao pulo apak ka Palanta.

Untuak kito basamo jo rang dapua bari maoh ndak dikuduang nan bajelo supayo pak 
Iwan maklum jo mukasuik kito.

Wassalam
Batuduang Ameh (40)
 "4 Rancak 5 Lamak Bana"


-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Nofend 
Marola
Sent: Thursday, August 28, 2008 9:54 AM
To: [email protected]
Subject: [EMAIL PROTECTED] Iwan Piliang: Dari Adhyaksa hingga Hamka Yandhu



Ambo suko jo tulisan sanak Piliang nan ciek ko :)

** Yo ndak ado hub. Jo minang do, cuman nan manulis urang minang.

Salam
---------------------------------------------- 

Rabu, 27 Agustus 2008 DUA sosok judul tulisan ini, saya kenal. Namun keduanya 
saya disandingkan, bukan untuk mensetara, menyamarata. Mereka beda.
Adhyaksa Dault, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menegpora). Sedangkan Hamka 
Yandhu, anggota komisi XI DPR, kini tersangka kasus aliran dana Bank Indonesia 
ke DPR, 2004 lalu. 

Jumat, 22 Agustus 2008 lalu Adhyaksa menilai Bupati Jember, Jawa Timur, MZA 
Djalal, tidak sopan. Pasalnya, Bupati Jember itu mengundang kehadiran 
Mennegpora, tapi yang bersangkutan malah tidak ada di tempat saat kedatangannya.

Tuan rumah menghilang.

Kekesalan Adhyaksa mengemuka sebelum shalat jumat di Masjid Universitas 
Muhammadyah, Jember. "Kalau seperti ini, Bupati Jember tidak sopan.
Mengundang saya untuk datang ke Jember guna melepas peserta gerak jalan 
tradisional (Tajemtra), namun orangnya tidak ada di tempat tanpa alasan yang 
jelas," tuturnya kepada beberapa wartawan.

Padahal jauh-jauh dari Jakarta, ia mesti numpak helikopter. Tidak semua agenda 
akhirnya ia datangi. Adhyaksa kecewa. Jika dihitung waktu, termasuk membatalkan 
agenda lain yang kiranya bejibun, plus biaya, perjalanan itu tak terbantahkan 
sia-sia.

Jika saja Adhyaksa menempatkan diri sebagai sosok negarawan yang kian hari 
belum jua muncul di ranah ini, kesempatan itu seharusnya dapat dia pakai 
menemui masyarakat Jember, paling tidak menghadiri seminar yang sudah 
diagendakan. Seterusnya dengan jenaka dapat berdialog dengan masyarakat sambil 
"meledek" Pemda yang seakan menghilang.

Akan lain jadinya.

Pilihan sudah diambil Adhyaksa, sebagai pejabat publik. Adalah hak rakyat 
menilai tabiat sang Menteri. Selasa, 26 Agustus 2008, Adhyaksa hadir pada Acara 
Apresiasi Atlet Olimpiade Indonesia yang diadakan Kompas Gramedia di Bentara 
Budaya. Acara mendadak meriah ketika dirinya menyampaikan sambutan.

"Buat Eko sama Triyatno, selain bersyukur dapat medali, kalian harus bersyukur 
juga masuk di rubrik Sosok Kompas, saya saja selama jadi menteri belum pernah 
dijadiin sosok. Kompas itu berat, nggak sembarang orang bisa dijadikan Sosok. 
Harus yang berprestasi, kamu harus berbahagia. Gitu ngelihat kalian di Sosok, 
aku langsung bilang ke istriku, liat ni atlet-atlet ini luar biasa, jadi Sosok, 
aku aja belum pernah," ujarnya.

Eko Yuli Irawan dan Triyatno, adalah dua atlet angkat besi yang masing-masing 
mendapatkan medali perunggu di Olimpiade Beijing lalu.

"Besok, kalian laminating itu. Bilang orangtua, 'Mak, liat aku ada di Sosok, 
Pak menteri aja belum pernah'." kata Adhyaksa.

Entah telah mengevaluasi peristiwa Jember, atau memang cuma spontan, tetapi 
jika saja Adhyaksa punya kerendahan hati, plus juga semua pejabat publik 
berkenan berkaca diri untuk mau berbagai jenaka, maka Anda nilailah dua paparan 
di atas, mana yang lebih enak? Mana yang lebih membekas positif di hati.


MASIH lekat dalam benak saya, bahwa sosok Adhyaksa ketika di Sekolah Menengah 
Atas (SMA) Negeri 3, Setiabudi, Jakarta Selatan, rajin berolah raga basket.
Karena keasikan slam dunk, di saat jam istirahat, waktu masuk kembali ke ruang 
kelas bajunya berbalut peluh.

Era itu, 1981 -1983, di salah satu kelas kami pernah bersama. Di saat jam 
olahraga, jika kerongkongan kering, kami melepas dahaga di kediamannya, yang 
kala itu, sepelemparan batu saja jaraknya dari halaman sekolah. 

Di kemudian hari saya melihat dari jauh, Adhyaksa menjadi Menteri Negara Pemuda 
dan Olahraga (Menegpora).

Jauh sebelumnya saya pernah bertemu dalam perjalanan menuju Makassar di sekitar 
1994. Kala itu saya tahu bahwa Adhyaksa menikahi puteri Artono Arismunandar - - 
saat itu menjabat Dirjen Listrik dan Energi Baru. Artono adalah kakak kandung 
tertua Wismoyo Arismundar, mantan Danjen Kopassus, yang juga ipar almarhum 
mantan Presiden Soeharto. Dan kala itu, bersama kelompok usahanya, Adhyaksa 
menjadi rekanan PT PLN.

Sejak Adhyaksa menjadi Menegpora, beberapa kawan seangkatan di SMA, pernah 
mengajak untuk bermain tennis di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan, bersamanya.
Juga menghadiri pengajian sesama kawan sealmamater. Entah mengapa, saya belum 
penah gabung. Kawan yang pada mentas itu saya simak dari jauh.

Sesekali mereka saya temui di acara seremoni, secara kebetulan, macam sekitar 
dua bulan lalu saya menjabat tangan Adhyaksa di saat ia hendak turun eskalator 
dari Ballroom Hotel Sahid Jaya. Kami bersalaman sekadar basa-basi menanyakan 
kesehatan, keluarga, masing-masing.

BEDA dengan Hamka Yandhu, yang kini sedang dalam penahanan KPK dan dititipkan 
di tahanan Brimob, Kelapa Dua.

Di saat pernah meninggalkan dunia jurnalistik 1989, maka saya mencoba 
peruntungan berusaha di jasa kreatif, termasuk membuat animasi seri. Pada 1991, 
mengantarkan saya dilantik menjadi salah satu anggota Himpunan Penguasaha Muda 
Indonesia (HIPMI) DKI, Jakarta, di antaranya bersama Hamka Yandhu.

Hariyadi Sukamdani, putera Chairman Kelompok Usaha Sahid, juga salah satu yang 
dilantik seangkatan kami. Hariyadi di kemudian hari mentas menjadi Ketua Umum 
BPP Hipmi

Kepengusahaan Hamka Yandhu kala itu, ikut bergabung bekerja di perusahaan 
Kelompok Usaha Adi Tahir, putera Almarhum Achmad Tahir, yang pernah menjadi 
Menteri Pariwisata dan Telekomunikasi di era Soeharto. Saat itu saya lihat ia 
mengerjakan proyek-proyek jam kota di DKI - - kini jam bulat dengan kaki-kaki 
dari bahan stainless steel itu sudah tak tampak lagi di seputar Jakarta.

Di kemudian hari, saya tak mengamati kiprahnya lagi di dunia usaha.
Tahu-tahu dari jauh saya melihat Hamka sudah menjadi anggota DPR, dan duduk di 
komisi yang membawahi perbankan dan anggaran, Komisi IX, kala itu, lalu 
berlanjut ke komisi XI, bidang yang sama - - seakan membalik angka Romawi saja. 
Saya pun sudah berjibaku kembali dengan dunia tulis-menulis.

Jujur saya katakan, di antara kawan-kawan anggota DPR yang masih berkenan 
membalas sms, atau menelepon kembali, bila telepon genggamnya tak aktif, adalah 
Hamka orangnya, kendati cuma sekadar basa-basi. Dan bagi saya yang masih berada 
di lapisan bawah, sapaan dari seorang kawan anggota dewan, saya rasakan sebuah 
"kehormatan".

Dalam banyak dialog-dialog ringan, ia bertutur jujur dan terkadang membuat saya 
nyengir.

Misalnya, "Pak Narlis, orang tuh nggak perlu pintar, ntar kalau banyak uang dia 
pasti tampak pintar."

Hamka tertawa.

Narlis yang dimaksudkan adalah Narliswandi Piliang, nama lengkap saya.

Di lain hari dia pernah juga berujar, "Semua orang bisnis cari fasilitas.
Dan mereka yang sudah besar tak akan berpikir menolong yang kecil-kecil."

Nada-nada kalimat itu, seakan menyiratkan saya, bahwa sebagai orang biasa yang 
mentas di DPR, ia masih bisa bicara seakan berpihak. Kehidupan pribadinya sudah 
menempati jajaran puncak, penampilan dan ekonomi kalangan atas dijamahnya. Dulu 
sebelum menjadi anggota DPR, ia masih mengendarai Daihatsu Zebra.

Suatu hari, lima tahun lalu, saya pernah meminta waktunya untuk jumpa. Kami 
berjanji ketemu di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta. Saya menunggu di lobby.
Namun rapat-rapat anggaran, termasuk rapat dengan Bank Indonesia, yang pernah 
menyita waktu hingga menjelang pukul 24.00, membuat saya seakan ter-seterap. 
Untuk mengorder secangkir kopi, di café hotel, saya kala itu tak berani, kuatir 
bila Hamka tak datang takut uang tak cukup membayar. Dan benar, karena 
kepadatan dan kelelahan Hamka tidak jadi muncul. Dan saya pulang berjalan kaki.

PUKUL, 18.30, 17 April 2008, di Polres, Jakarta Barat. Setengah jam sebelumnya 
saya menelepon keponakan Hamka, setelah membaca berita online dan menonton di 
televisi, bahwa menyebutkan dia ditahan KPK, dan dititipkan ke Polres.

Di saat keluarga Hamka muncul di sekitar pukul 19.00, saya pun numpang masuk 
ruang tahanan menjenguk. Saya salami dia. Kami berangkulan. Jaket kulit kuning 
sebagaimana yang dipakainya tampak di teve masih melekat.

Tak sampai dua menit saya lalu keluar. Saya memperhatikan siapa tamu yang 
menjenguk. Hampir tak ada kawan Hamka sesama anggota dewan yang muncul malam 
itu. Pukul 23.45, saya izin kembali masuk, dengan mengaku saudara. Hamka tampak 
kaget. "Saya pikir sudah pulang," ujarnya.

Ia merangkul saya.

Dia bisikkan kata, "Di saat begini, semua kawan hilang."

Dua hari kemudian saya lihat di televisi, Akbar Tanjung, tak boleh jumpa Hamka 
di saat besuk. Saya datang lagi, dengan mengaku saudara, dua hari kemudian bisa 
jumpa. Saya lihat setelah sepekan ditahanan, Hamka sudah lebih rileks.

Kala itulah ia bertutur, bahwa semua anggota komisi IX kala itu menerima dana 
aliran BI. Saya katakan buka saja di pengadilan. "Saya akan ajak kawan-kawan 
untuk mengembalikan dana itu dulu, paling tidak bisa mengurangi hukuman" 
ujarnya.

Dalam kenyataan, ada satu dua orang anggota DPR yang mengembalikan dana aliran 
BI sendiri-sendiri.

Ketika dipindah ke tahanan markas Brimob, Kelapa Dua, saya pernah pula 
menjenguknya. Saya katakan seluruh pejabat BI, bahkan termasuk Anwar Nasution, 
kini kepala BPK, juga semua anggota komisi IX DPR, diindikasikan menjadi bagian 
kesalahan.

Hamka mengangguk!

Kala itu di sebelah kamarnya saya lihat ada Jaksa Urip, yang menjadi bintang 
dalam kasus suap kejaksaan, yang menyeret Artalyta Suryani.

Saya desak Hamka untuk mengungkapkan list penerima dana di pengadilan. Dia 
masih menolak "Biarlah saya yang menanggung semua kesalahan," ujarnya.

Di kemudian hari, saya simak, Hamka membeberkan juga di pengadilan tentang 
siapa-siapa saja yang menerima dana BI. Hamka tentu sosok yang bersalah, dan 
harus dihukum.

Indonesia Coruption Watch (ICW) meminta Hamka untuk dilindungi atas 
pengakuannya. Belakangan ICW juga menyampaikan keprihatinan mengapa Aulia 
Pohan, besan Presiden SBY, belum juga tersangka. ICW secara resmi menanyakan ke 
KPK. Hukum yang hakiki muaranya keadilan. Di ranah keadilan itu, hanya publik 
yang dapat menilai, mengapa, ada tebang pilih?

Dan saya lihat penyesalan ada di mata Hamka. Sayang, penyesalan selalu muncul 
di akhir.
Dan banyak pula pejabat yang sudah tak menjabat, beberapa saya temui, 
menyesali, mengapa ketika "berkuasa" dulu tidak berbuat bagi kemaslahatan?
Tidak memberi arti bagi sesama.

Waktu habis.

Ramadan tahun ini menjelang.

Iwan Piliang, Sketsa di www.presstalk.info
        




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke