Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Kita, yang akhir-akhir ini digelisahkan oleh demikian buruknya kehidupan
politik di negeri ini khususnya sehubungan dengan korupsi, layak bertanya-tanya
tentang bagaimana dengan politik di negeri jiran, Malaysia, khususnya mengenai
dimensi etika politik dalam upaya menjatuhkan lawan.Kelihatannya di sana
segala cara akan dipakai untuk menang, seperti diajarkan Niccolo
Macchiavelli. Nampak jelas bahwa isu sodomi yang dituduhkan kepada Anwar
Ibrahim bernuansa politik. Jika fitnah lebih jahat dari pembunuhan, seperti
diajarkan Islam, dimana peran Islam di negeri jiran kita itu, khususnya di
kalangan elite mereka?
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]
Anwar Ibrahim Ancaman bagi Barisan Nasional
Kompas, Jumat, 29 Agustus 2008 | 01:52 WIB
Oleh Maruli Tobing
Apa yang dikhawatirkan Pemerintah Malaysia kini menjadi kenyataan. Anwar
Ibrahim, pemimpin oposisi yang mengancam akan menjatuhkan pemerintahan PM
Abdullah Badawi, berhasil merebut dua pertiga suara pemilih dalam pemilu sela
di Permatang Pauh, Pulau Penang , Malaysia , Selasa (26/8).
Kemenangan Anwar Ibrahim secara telak menimbulkan pertikaian dalam tubuh
Barisan Nasional. Desakan agar PM Abdullah Badawi mundur kembali muncul dari
kalangan sendiri. Tokoh senior Barisan Nasional, koalisi parpol yang berkuasa,
Tengku Razaleigh Hamzah, mengemukakan, sudah saatnya tampil pemimpin baru.
Kekalahan Datuk Arif Shah Omar Shah, caleg Barisan Nasional, sekaligus
membuktikan bahwa kekuasaan, uang, dan dominasi atas media massa tidak selalu
faktor yang menentukan dalam merebut suara pemilih.
Rakyat yang muak terhadap kebohongan dan perilaku korup politisi Barisan
Nasional memutuskan memilih Anwar Ibrahim yang berjuang demi demokrasi,
keadilan, dan pemerintahan yang bersih.
Dalam persepsi rakyat Malaysia , Anwar Ibrahim adalah sosok martir yang
menderita di bawah rezim zalim Barisan Nasional. Tahun 1998, pemerintah
merekayasa tuduhan korupsi dan sodomi hingga ia dipenjarakan selama 6 tahun.
Memang, pemilu di Permatang Pauh hanya memperebutkan satu kursi parlemen yang
kosong akibat pengunduran diri Wan Azizah Wan Ismail, istri Anwar Ibrahim.
Jumlah pemilih juga hanya 58.000 orang.
Tetapi, bagi Barisan Nasional maupun Pakatan Rakyat, koalisi 3 parpol oposisi
yang digagas Anwar Ibrahim tahun lalu, pemilu kali ini merupakan pertarungan
habis-habisan.
Masalahnya, seperti dikemukakan para analis politik, jika Anwar Ibrahim menang
di Permatang Pauh, otomatis ia akan menjadi pemimpin oposisi yang menguasai 82
dari 222 kursi parlemen. Pemerintahan PM Badawi akan mengalami kesulitan dan
bukan mustahil dijatuhkan jika terjadi pembelotan Barisan Nasional.
Dalam bahasa Deputi PM Najib Tun Razak, ”Jika Anwar masuk ke parlemen, bukan
hanya saya target serangannya, melainkan pemerintahan Barisan Nasional.’’ (The
Sun, 25/8). Dalam pemilu Maret lalu Anwar tidak diajukan sebagai caleg karena
masa pembatasan kegiatan berpolitiknya selama 5 tahun baru berakhir pertengahan
April lalu.
Bagi oposisi, jika Anwar gagal di Permatang Pauh, kredibilitasnya akan melorot.
Dengan sendirinya kohesi aliansi 3 parpol oposisi ikut melemah. Perjuangan
meruntuhkan kekuasaan Barisan Nasional yang korup akan menjadi mimpi semata.
”Kampanye paling ganas’’
Pertarungan di Permatang Pauh merupakan perjuangan terberat bagi Barisan
Nasional maupun Pakatan Rakyat. Kedua pihak mengerahkan sumber daya yang ada
dan memproduksi isu maupun kontra isu yang saling memojokkan lawan. Mereka
mengklaim bahwa rakyat akan memutuskan siapa yang dipercaya menjadi wakil
mereka.
Meminjam pernyataan Menteri dalam Negeri Datuk Seri Syed Hamid Albar, ”Pemilu
sela di Permatang Pauh merupakan pemilu yang paling agresif dan ganas dalam
sejarah negara ini.’’ (Utusan Malaysia, 26/8)
Kampanye Barisan Nasional untuk memenangkan Arif Shah Omar Shah dipimpin
langsung oleh Deputi PM Najib Tun Razak di lokasi. Barisan Nasional mau tidak
mau harus bekerja ekstra, terutama karena Permatang Pauh adalah basis pendukung
Anwar Ibrahim maupun istrinya, Wan Azizah.
Sehari sebelum pendaftaran caleg di Komisi Pemilihan Umum, Barisan Nasional
menampilkan Saiful Bukhari bin Azlan (23) dengan memegang sebuah Al Quran di
masjid Kuala Lumpur, (15/8). Ia bersumpah bahwa dirinya benar-benar disodomi
Anwar Ibrahim. Jika berbohong, ia siap menerima laknat.
Jaringan televisi yang dikuasai Barisan Nasional terus-menerus menayangkan
sumpah ini. Di Permatang Pauh malah dimunculkan dalam papan reklame raksasa dan
disisipi teks, mengapa Anwar Ibrahim tidak berani bersumpah.
Barisan Nasional mengerahkan anggota kabinet dan parlemen sebagai juru
kampanye. Menghamburkan jutaan ringgit untuk membeli suara dan menyediakan
kredit tanpa bunga bagi usaha kecil.
Tidak cukup hanya itu, PM Badawi malah mengumumkan penurunan harga BBM.
Sebelumnya, Anwar Ibrahim menyerang kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM.
Untuk lebih menghancurkan citra Anwar Ibrahim, para juru kampanye Barisan
Nasional membangkitkan sentimen agama dan etnis di daerah yang 70 persen
penduduknya beragama Islam dan etnis Melayu.
Mereka menuding Anwar Ibrahim hendak menjual hak-hak orang Melayu yang beragama
Islam kepada orang China dan India. Poster Anwar ditampilkan dengan berkepala
babi.
Sementara itu, Khairy Jamaluddin, menantu PM Badawi dan Wakil Ketua Pemuda
UMNO, partai puak Melayu dan motor Barisan Nasional, menuding Partai Keadilan
Rakyat (PKR) pimpinan Wan Azizah mendapatkan dana dari Amerika Serikat.
Akan tetapi, kelompok oposisi lebih dulu bergerak dengan mengerahkan ratusan
pemuda dan mahasiswa sukarelawan. Mereka menemui warga dari rumah ke rumah
untuk menjelaskan program dan komitmen Anwar Ibrahim.
Para mahasiswa melancarkan kontra propaganda dengan menyebarkan kopi catatan
medis Dr Muhamed Osman Abdul Hamid, atas pasien bernama Saiful bin Azlan di
Pusat Perawatan Islam Kuala Lumpur. Dalam catatan medis itu disebutkan, tidak
ditemukan tanda-tanda disodomi pada anus Saiful.
Di samping para pemuda dan mahasiswa, hampir semua jajaran Pakatan Rakyat di
parlemen turun sebagai juru kampanye. Setiap kali dilakukan orasi, ribuan warga
menghadirinya. Para juru kampanye mengingatkan rakyat agar jangan terkecoh lagi
oleh kebohongan Barisan Nasional yang korup.
Situasi oposisi sempat kritis karena Anwar Ibrahim tetap menolak bersumpah
seperti dilakukan Saiful bin Azlan. Bagi Anwar, sumpah demikian tidak relevan
karena tidak berpengaruh terhadap proses hukum. Lagi pula, ia telah melaporkan
fitnah yang dilakukan Saiful ke mahkamah syariah.
Perubahan terjadi beberapa hari menjelang pemungutan suara, setelah Presiden
PAS, Partai Islam Se-Malaysia, Datuk Seri Abdul Hadi Awang, menjelaskan bahwa
sumpah dengan Al Quran tidak dikenal dalam Islam.
Pemimpin spiritual PAS, Tuan Guru Nik Aziz bin Nik Mat menyatakan, sumpah
dengan kitab suci adalah tradisi Barat yang beragama Nasrani. Ia menjadi curiga
Saiful bin Azlan berusaha memasukkan tradisi Nasrani dalam kehidupan Islam.
Melalui mosi tidak percaya
Pintu parlemen kini terbuka lebar bagi Anwar Ibrahim untuk memimpin oposisi..
Lantas, apakah ia akan mewujudkan komitmennya menjatuhkan pemerintahan PM
Abdullah pada September ini?
Langkah pertama yang akan dilakukan oposisi pimpinan Anwar Ibrahim di parlemen
adalah menolak rencana anggaran yang diusulkan pemerintah. Menyoroti kasus
korupsi yang melibatkan pejabat tinggi negara, termasuk Deputi PM Najib Tun
Razak maupun menantu PM Badawi. Kasus pembunuhan Altantuya, wanita berparas
cantik asal Mongolia, yang disebut-sebut melibatkan Najib Tun Razak, juga akan
disoroti.
Semua ini pada akhirnya akan melahirkan mosi tidak percaya atas pemerintahan PM
Abdullah Badawi. Anwar yakin mosi itu akan berhasil karena di kalangan Barisan
Nasional sendiri muncul perpecahan di antara mereka yang mendukung dan menolak
kepemimpinan Badawi.
Setelah pemilu Maret lalu, misalnya, kalangan pengurus Barisan Nasional
menuntut PM Badawi mengundurkan diri. Ia dianggap bertanggung jawab atas
kegagalan mempertahankan mayoritas dua pertiga kursi parlemen. Empat anggota
kabinet mendukung tuntutan itu. Suara yang menuntut pengunduran diri PM Badawi
kembali muncul setelah kemenangan Anwar Ibrahim di Permatang Pauh.
Akan tetapi, Anwar sendiri harus dapat membuktikan di depan pengadilan,
pertengahan September ini, bahwa dia tidak melakukan sodomi terhadap Saiful bin
Azlan. Memang, dari berbagai jajak pendapat, mayoritas responden melihat kasus
sodomi II adalah kelanjutan sodomi I. Dalam arti, konspirasi untuk mengakhiri
karier politik Anwar Ibrahim.
Namun, hal yang kurang mendapat sorotan adalah, konspirasi kali ini jauh lebih
canggih. Termasuk dalam merekayasa bukti-bukti dan saksi-saksinya. Maka, bukan
mustahil pula Anwar Ibrahim akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji
besi.
Politik tidak mengenal belas kasihan dan tidak membutuhkan kejujuran. Kecuali
bagaimana memperoleh dan mempertahankan kekuasaan.
Top of Form
- Beri Rating Artikel -----------Sangat BaikBaikCukupKurangSangat Kurang
Bottom of Form
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---