Batua, Sanak Jupardi. Samo-samo maklum sajolah kito sia nan mandukuang Bu Mega ko.
Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta) Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED] --- On Fri, 8/29/08, jupardi andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: jupardi andi <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: SERI NAN DI LUA TAMPURUANG 14 : TEKA TEKI SEKITAR KEPEMIMPINAN MEGAWATI To: [email protected] Date: Friday, August 29, 2008, 7:05 AM Apo nan salah jo Megawati ko Pak Syaaf..he..he..he ambo bisa jawek...saketek..tapi ambo takuik malewakan Inyo punyo massa "pokoke"..ambo ndak punyo massa bantuak Mbak Mega tu rancak awak bagalak-galak sajo mancaliak..Ibu Megakarti di news.com Megakarti mangecek bantuak iko "itulah kalo presidennya laki-laki" he..he Salam-Jepe --- On Thu, 8/28/08, Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] SERI NAN DI LUA TAMPURUANG 14 : TEKA TEKI SEKITAR KEPEMIMPINAN MEGAWATI To: "Rantau Net" <[email protected]> Date: Thursday, August 28, 2008, 10:28 PM Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta, Jika dalam posting Seri Nan di Lua Tampuruang no 13 sebelum ini saya menyatakan kekaguman saya pada Sri Mulyani Indrawati dan Michelle Obama, kini saya termenung terhadap kepemimpinan mantan presiden Megawati Soekarnoputri -- yang akan diusung lagi oleh PDI-P sebagai calon presiden pada Pilpres 2009 yang akan datang -- yang selain menjual gas dari lapangan Tangguh di Papua dengan harga obral pada tahun 2002 kini juga menyalahkan para menterinya. Apa yang salah pada Megawati ini ? Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta) Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED] LNG Tangguh Dinego Ulang Seputar Indonesia, Friday, 29 August 2008 RAPAT KABINET, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin rapat paripurna kabinet di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin. JAKARTA (SINDO) – Pemerintah segera membentuk tim negosiasi ulang kontrak penjualan gas alam cair (LNG) Tangguh ke China yang dinilai merugikan negara. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Perekonomian Sri Mulyani Indrawati agar menyusun tim negosiasi yang kuat untuk membicarakan kembali nilai penjualan gas alam cair Tangguh. Presiden juga meminta Menteri Koordinator Perekonomian berkoordinasi dengan menteri-menteri teknis terkait dan Wapres Jusuf Kalla yang diharapkan dapat memberikan supervisi atas pelaksanaan kerja tim tersebut. ”Instruksi saya, bikin harga yang realistis. Lakukan benchmark, pedomani kontrak-kontrak yang selama ini kita lakukan.Tim harus kredibel dan memiliki otoritas untuk mengemban tugas pemerintahan,” ujar Presiden SBY saat membuka sidang paripurna kabinet yang dihadiri oleh hampir seluruh jajaran menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) di Kantor Kepresidenan, Jakarta,kemarin. Presiden menegaskan,apabila tim bisa menegosiasi kembali harga penjualan gas alam cair Tangguh, maka keputusan seluruhnya akan menjadi tanggung jawabnya sebagai presiden. Sebagai presiden, SBY tidak akan melempar tanggung jawab kepada siapa pun, termasuk Wakil Presiden, para menteri, dan tim negosiasi, apabila terjadi permasalahan dengan kebijakan atau substansi dari kontrak itu. ”Pemimpin bertanggung jawab.Karena itu tidak perlu ada keragu-raguan dalam negosiasi itu dan tidak mungkin saya sebagai presiden melempar kepada yang lain, apalagi menteri-menteri yang tidak terlibat dan tidak dilibatkan dalam penerapan harga seperti Menko Kesra, MenkoPolhukam,danmenterimenteri lain,”paparnya. Di tempat yang sama Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, pada 2002 lalu Presiden Megawati Soekarnoputri meminta agar ada menteri-menteri yang ikut ke Fujian,China, untuk bernegosiasi dalam penjualan LNG Tangguh. Namun, menurut Kalla (saat itu menjabat Menko Kesra), dia bersama SBY (saat itu menjabat Menko Polhukam) tidak pernah diajak untuk berbicara mengenai hal ini. ”Terutama karena itu adalah tugas masing-masing (menteri terkait). Saya, (saat itu) Menko Kesra, dan beliau (SBY) Menko Polhukam,jadi tidak pernah sekalipun (ikut memutuskan harga),” ujarnya. Kalla menjelaskan, kontrak penjualan gas yang dilakukan pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri dapat menimbulkan potensi kerugian negara sebesar Rp750 triliun. Harga jual gas LNG Tangguh yang terdapat dalam kontrak sebesar USD3,4/mmbtu hanya seperenam harga jual yang seharusnya, sehingga negara akan dirugikan sebesar USD3 miliar setahun. ”Kita kehilangan opportunity untuk memperoleh pendapatan USD3 miliar setahun, kalau dikalikan 25 tahun, artinya Rp750 triliun atau USD75 miliar. Ini lebih besar dari keseluruhan ongkos krisis Rp600 triliun,” hitung Kalla. Dalam kunjungan ke China pekan lalu, keinginan Kalla untuk menegosiasikan ulang kontrak gas alam cair Tangguh dapat dimengerti dengan baik oleh Presiden China Hu Jintao dan Wakil Presiden Xi Jinping. ”Saya berbicara dengan Presiden dan Wakil Presiden China. Dia (Presiden China) mengatakan Presiden Indonesia yang meminta (renegosiasi) saya bilang benar, karena kita ini bersahabat tapi mari kita bicara jangka panjang. Kalau jangka pendek, oke proyek ini selesai karena bisa-bisa tidak jalan dengan seperti itu,”lanjutnya. Kalla juga menyampaikan kepada Presiden China bahwa tidak mungkin Indonesia menjual gasnya dengan harga jauh lebih rendah dari harga dunia dewasa ini. Dalam pembicaraan tersebut tidak disebutkan mengenai batasan harga, namun lebih terfokus pada pembicaraan mengenai formula (harga) baru. Penuhi Rasa Keadilan Dalam kaitan renegosiasi kontrak gas alam cair Tangguh, Presiden SBY menjelaskan bahwa pemerintah telah menerima surat dari BPK pada 14 Juli lalu.Dari surat itu pemerintah harus merenegosiasi ulang kontrak dengan tujuan untuk memenuhi rasa keadilan. Pemerintah, tutur Presiden, selalu menghormati seluruh kontrak di masa lalu seperti pada masa Presiden Soekarno hingga Presiden Soeharto. Kontrak akan dihormati hanya jika dalam pelaksanaan dan pengawasannya benar. ”Tetapi kalau kontrak itu sungguh merusak rasa keadilan dan menghancurkan dan merugikan negara dalam jumlah yang besar, tentu kita berupaya dengan tujuan yang baik untuk melakukan renegosiasi,”kata Presiden. Untuk memperbaiki kontrak gas alam cair Tangguh dengan China ini pemerintah tidak akan mengambil alih begitu saja. Pemerintah akan melakukan pendekatan-pendekatan yang dibenarkan menurut hukum internasional agar negara tidak dirugikan. Presiden SBY membantah telah dilibatkan dalam menentukan kontrak gas alam cair Tangguh di masa kepemimpinan Presiden Megawati. ”Jangan menyebarkan beritaberita yang rakyat jadi bingung. Spekulasi apa betul Pak SBY dan JK ikut menentukan harga? Tidak benar,”ujarnya. Menteri Sri Mulyani mengatakan akan segera memilih anggota tim negosiasi ulang yang jumlahnya tidak akan terlalu banyak.Dia akan memilih anggota tim yang memiliki integritas dan tidak memiliki konflik kepentingan. Anggota tim juga harus memiliki kompetensi dan pemahaman di bidang gas. ”Nanti (daftar nama) tim akan kita serahkan ke Presiden setelah selesai disusun, termasuk rencana kerja dan langkah-langkah yang akan dilakukan.Tim akan segera terbentuk dalam waktu dekat,” ujarnya. Dalam melihat kontrak itu, harus dilihat benchmark kontrak-kontrak yang ada di Indonesia atau di dunia saat ini untuk dijadikan referensi.. Selain itu, disiapkan pula argumen yang kuat dan logis mengenai persetujuan yang dicapai dan manfaatnya bagi pemerintah. ”Sehingga dalam pengaturan keseluruhan ini secara transparan masyarakat bisa melihat alur dari pemikiran dan pertimbangan- pertimbangan yang kita lakukan,”urainya. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro menjelaskan, kontrak gas alam cair Tangguh baru akan berjalan pada 2009 mendatang karena gasnya belum dikirimkan.Saat ini pembangunan terminal gas belum sepenuhnya selesai. ”Baru selesai akhir tahun ini pembangunan terminalnya, kemudian dari pembangunan terminal baru ini gasnya dikirim tahun depan,” jelasnya. Ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Tjahjo Kumolo mempertanyakan negosiasi ulang kontrak gas alam cair Tangguh. Menurut dia, sebagai apa pun posisi SBY dan Kalla pada waktu pemerintahan Megawati, keduanya merupakan menteri yang juga ikut mengetahui pertimbangan yang digunakan pemerintah pada waktu itu. ”Pak SBY dan Pak Jusuf Kalla dulu kan juga menteri yang tentunya tahu kenapa itu diputuskan pemerintah,” kata Tjahjo kepada SINDO kemarin. Walau begitu, jika sekarang pemerintah hendak melakukan negosiasi ulang, FPDIP mempersilakan saja karena pemerintah memang punya kewenangan mengeluarkan kebijakan tersebut. ”Ini kan kebijakan pemerintah. Sah-sah saja kalau pemerintah sekarang mau mengubah dengan pertimbangan harga dunia,”ujarnya. Saat dikonfirmasi beberapa hari lalu, Megawati menyatakan bahwa kontrak gas alam cair Tangguh merupakan kebijakan pemerintah yang di dalamnya ada SBY dan Jusuf Kalla sebagai menteri. ”Bilang sama Pak Kalla, beliau juga ada di situ, sama SBY,” kata Mega di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Senin (25/8). Mega tak mau berkomentar saat para wartawan bertanya apakah siap jika kasus penjualan LNG Tangguh diselidiki karena diduga merugikan negara lantaran dijual terlalu murah. (rarasati syarief/ rahmat sahid) --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
