Universitas adalah domain pemerintah pusat. Dan memang bukan domain dari seorang politisi. Itu tugas eksekutif. Saya belajar dari Fadel Muhammad, ketika ia mengusulkan pembangunan pangkalan TNI di Gorontalo. Ia melobi banyak sekali kalangan, termasuk menyediakan tanah gratis untuk pembangunan pangkalan TNI itu. Ada efek ekonomi yang dia sampaikan.
Justru saya senang kalau ada masukan dari yang bisa memberikan masukan, agar didapatkan proposal yang terbaik yang bisa dilakukan. Ini kan baru jarring aspirasi. Belum menjadi, tetapi akan jadi. Tentu saya mengetahui dengan baik apa-apa yang menjadi criteria universitas bonafid itu, tetapi sekali lagi belum saatnya. Yang penting digerakkan sekarang adalah: apakah masyarakatmendukung ide genuine ini di ranah Minang? Kebutuhan terbesar politisi adalah dukungan public yang luas. Soal detil, serahkan kepada ahlinya. Politisi yang baik selalu bicara soal-soal yang menimbulkan harapan, membangun optimisme, menggerakkan kearah kebaikan. Dan politisi bekerja secara kolektif. Kalau contoh di bawah, memimpin yayasan, menawarkan teman, dllnya, sudah saya lakukan. Mana ada pejabat atau urang cadiak di Minang yang mau menerima uluran tangan seorang pengamat? Pengamat kan dinilai tidak memiliki kekuasaan. Dulu saya tawarkan bantuan ke satu daerah untuk menghadirkan seorang menteri, dengan programnya, dllnya. Yang ditanya macam-macam, sama seperti kaum yang disuruh Nabi Isa mencari seekor lembu untuk menghidupkan orang mati itu. Ditanya macam-macam, warnanya, umurnya, dllnya. Artinya apa dari pertanyaan itu: "Anda kerjakan yang 100, kami kerjakan yang nol. Kami terima jadi!". Ruang politik adalah ruang dialog, bukan monolog. Politisi yang baik adalah politisi yang rajin berdialog, bukan bermonolog. ijp _____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of [EMAIL PROTECTED] Sent: 29 Agustus 2008 9:09 To: [email protected] Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Politisi Juga Manusia==> universitas Hehe..saya sudah menebak juga akan dijawab seperti ini :-) Sederhana saja, kalau hanya mencari kompetitor buat Universitas Muhammadyah, ngga perlu tunggu jadi anggota DPR dulu, dong. Kenapa tidak manfaatkan saja jaringan yang sudah ada, 4ribuan kontak yang ada di phonebook, 30an PhD, berteman dekat dengan tokoh semua partai, dll.. "Pak, ambo nio buek institut filsafat di padang lua, bisa apak bantu? bia ambo yang jadi ketua yayasan". Done!..Belum adanya universitas bonafid di dapil II bukan terhalang oleh alasan politis jadi tanpa harus jadi politisi. Masyarakat yang cerdas ngga akan pernah menyoalkan apalagi menyalahkan anggota DPR (pusat) kalau di daerahnya tidak ada kampus top. Sebodoh2nya mereka, mereka tahu itu urusan pejabat lokal dan legislatif lokal serta masyarakat lokal. Tadinya saya ingin memperkuat usulan uda IJP, ketika Abdullah badawi mengkampanyekan islam hadhari, ia harus menjelaskan apa itu islam hadhari. Ketika Adi Sasono menyebut masyarakat madani, ia jelaskan apa itu masyarakat madani. Ketika uda IJP menyebut universitas bonafid, jangan dijelaskan dengan satu batu bata dalam lima tahun lah, bisa2 yang sudah optimis jadi pesimis lagi. Sebenarnya banyak unek2 saya tentang anggota dewan ini. Diantaranya : 1. Menemui konstituen di daerah. Konstituen yang mana? Konstituen yang bekerja, apalagi karyawan swasta seperti saya tidak akan sempat bertemu dengan anggota dewan yang pulang kampung. 2. Menyerap aspirasi. Aspirasi mana lagi? Bukankah setiap partai sudah punya cabang sampai kecamatan? Bukankah sudah jelas persoalan2 yang ada di indonesia. Kemiskinan, busung lapar, perekonomian yang tidak memihak rakyat, korupsi, pengenakan hukum dll....selesaikan saja yang ini, tanpa perlu reses yang juga menyerap anggaran. 3. Jika dua hal diatas lebih ditekankan pada usaha menarik simpati dan suara rakyat, saya setuju. Dan memang caranya pun harus simpatik dan low profile. Jika ternyata saya sempat bertemu dengan anggota dewan yang terhormat, lalu beliau malah mengajak saya berdebat padahal ia butuh suara saya, mending saya pulang saja :-) "Indra Jaya Piliang" <[EMAIL PROTECTED]> Sent by: [email protected] 08/28/2008 11:20 PM Please respond to [email protected] To <[email protected]> cc Subject [EMAIL PROTECTED] Re: Politisi Juga Manusia==> universitas Sederhana saja, saya berjanji di daerah Sumbar II. Padang tidak termasuk. Jadi, nggak perlu saya tanggapi. Satu universitaspun tidak ada di Sumbar II. Ada Universitas Muhammadiyah, tetapi ini kan tanpa competitor. Ini sebuah ikhtiar. Satu batu bata dululah dalam lima tahun. Itu saja sudah cukup. Nggak mudah membangun satu batu bata untuk sebuah universitas di Sumbar II, bahkan setelah 63 tahun. Jadi, kejauhan bicara soal criteria, dllnya itu. ijp _____ <br --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
