Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta, khususnya para pemimpin muda,
Secara berkebetulan lagi, begitu saya mem-'posting' Seri ke 17 tentang Pemimpin
Tanpa Kepemimpinan', ada artikel berikut tentang Pemimpin-pemimpin Muda.
Saya percaya pemikiran Jakob Sumardjo ini layak kita renungkan bersama, sebagai
masukan.
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]
Pemimpin-pemimpin Muda
Kompas, Sabtu, 30 Agustus 2008 | 00:44 WIB
Oleh Jakob Sumardjo
Akhir-akhir ini bangkit keinginan atau gerakan kaum muda untuk menduduki
jabatan-jabatan negara, menggantikan politisi tua yang selama ini dinilai tak
becus memberikan kesejahteraan kepada rakyat. Niat ini baik, tetapi perlu
beberapa catatan.
Kekacaubalauan pemerintahan birokrasi modern Indonesia selama ini—yang
mengakibatkan kelakuan korup di mana-mana—tak dapat dipahami tanpa menelusur
genealoginya.
Asal mula kemodernan bukan dari niat kita sendiri, tetapi dari kolonialisme
Belanda. Kalau Belanda tidak menjajah Indonesia , negara ini masih dikuasai
raja-raja dengan sistem feodalnya. Belanda yang memakan kita untuk menjadi
modern karena pemerintahan birokrasi mereka memang modern.
Pada zaman kolonial, terutama sejak awal abad ke-20, pemerintah kolonial
Belanda membentuk negara birokrasi yang nonpolitik. Pemerintah kolonial tidak
didasari oleh kepentingan partai politik tertentu dari pihak Belanda.
Pemerintahan kolonial ini murni dari melayani keinginan partai-partai politik.
Dualisme pemerintahan
Negara Hindia-Belanda menganut dualisme pemerintahan. Pemerintahan inti adalah
golongan Belanda yang menduduki jabatan puncak, yakni gubernur jenderal, sampai
gubernur-gubernur dan residen. Sementara para residen mendampingi pemerintahan
tingkat kedua yang terdiri dari para raja, bupati, wedana. Pemerintahan tingkat
dua ini tidak modern birokratik, tetapi tradisional-feodalistik, bahkan
bersifat adat.
Selama masa kolonial tak ada orang Indonesia yang dapat menduduki jabatan
kolonial, sekurang-kurangnya residen, apalagi menjadi gubernur. Orang-orang
Indonesia selama ini tidak punya pengalaman dalam tata kerja sistem birokrasi
modern pemerintahan. Mereka hanya mengenal tata pemerintahan ”tradisional”
sejak dahulu kala.
Jadi, setelah kemerdekaan, para pejabat negara Indonesia yang baru ini sama
sekali tidak punya pengalaman dalam birokrasi pemerintahan modern. Pengalaman
mereka adalah pemerintahan Indonesia lama yang patrimonial, primordial, feodal.
Pejabat adalah segalanya. Jabatan adalah kekuasaan itu sendiri, yakni negara
itu sendiri.
Apa pun boleh dilakukan karena pemerintahan adalah miliknya.
Keadaan tidak berpengalaman modern ini lebih diperparah lagi dengan munculnya
berbagai gerakan nasional. Tentu saja semua gerakan nasional ini baik dan
positif karena tujuan utamanya bebas dari pemerintahan kolonial. Tetapi,
gerakan-gerakan ini sejak awal menganut berbagai ideologi yang saling
bertentangan. Tak pernah ada persatuan ideologi politik yang sesungguhnya
sampai sekarang.
Tujuan gerakan-gerakan nasional ini jelas, yakni mengusir pemerintahan
birokrasi kolonial dan membentuk pemerintahan dan negara Indonesia secara
politis. Jadi, negara politik menggantikan negara nonpolitik (apolitik).
Salah urus negara
Sekarang ini ada dua macam ”penyakit” bangsa, yakni sistem pemerintahan
setengah patrimonial-tradisional dan setengah modern. Ini karena kita tak
pernah memiliki pengalaman birokrasi modern tingkat residen, gubernur, dan
gubernur jenderal kolonial. Kedua, kita membentuk negara partai bukan negara
apolitik, negara yang mengatasi partai-partai.
Sistem birokrasi serba tanggung inilah yang mengakibatkan kita salah urus
negara. Kita semua sebenarnya manusia banci. Bukan lelaki atau perempuan tulen.
Tugas pemimpin muda sekarang adalah menjadi lelaki tulen itu. Menjadi birokrat
modern seratus persen tanpa bisa patrimonial dan kepartaian.
Menilik usia mereka di bawah 50 tahun (mengikuti Obama dan Kennedy), kelahiran
mereka tahun 1960-an, saat Orde Baru mulai berkuasa.
Dekonstruksi besar-besaran
Pengalaman pada sistem pemerintahan yang tanggung ini adalah musuh utama
mereka. Orang-orang ini harus tidak teracuni oleh alam pikiran kaum tua yang
genealoginya kolonial. Kaum muda ini harus benar-benar pascakolonial, yang
paham betul makna birokrasi pemerintahan modern yang murni. Pertama-tama mereka
harus mampu menciptakan sebuah sistem baru yang bebas dari sistem gado-gado
selama ini.
Tugas mereka berat, yakni dekonstruksi besar-besaran. Pemerintahan mereka harus
bersih dari alam pikiran tua yang kini masih dominan. Banyak veteran kolonial
yang hingga kini masih hidup. Pikiran dan sikap tanggung kebencian harus
diganti. Karena mereka juga produk dari alam pikiran kacau itu dan sama sekali
belum memiliki pengalaman birokrasi modern yang sesungguhnya (kecuali yang
bekerja di perusahaan asing), pembelajaran dan pelatihan sistem birokrasi
modern harus disiapkan. Mengubah budaya tidak semudah membalik telapak tangan,
main simsalabim.
Pembongkaran cara berpikir sistemik ini tidak boleh jatuh ke zonesentrisme,
kebiasaan adopsi cara berpikir asing tanpa kompromi. Indonesia memiliki
historistasnya sendiri yang berbeda dengan bangsa-bangsa dan negara lain yang
sudah maju. Kebiasaan asal meniru ini juga bawaan kolonial, karena kita warga
kelas dua, semua yang berasal dari warga kelas satu kolonial kita puja dan kita
tiru.
Menguasai data empiris Indonesia adalah titik tolak pembongkaran. Kita baru
mampu membangun yang baru jika menguasai apa yang akan kita bongkar. Kemampuan
semacam ini rata-rata sudah ditinggalkan bangsa Indonesia .
Banyak yang harus dipelajari selain niat baik saja.
Jakob Sumardjo Esais
Top of Form
Bottom of Form
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---