Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Secara berkebetulan, begitu saya mem-posting Seri Nan Di Lua Tampruang ke 16 
tentang Sistem Pemerintahan Presidensil, saya membaca artikel berikut dari S. 
Budi Hardiman, yang intinya bahwa sekarang ini ada gejala pemimpin tanpa 
kepemimpinan, seperti bir tanpa alkohol yang sudah diproduksi dan dijual di 
pasar-pasar.
Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua dalam memghadapi pemilu dan pilpres 
mendatang.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]

Kepemimpinan
Pasar Politik yang Raib-Hakikat
Kompas, Sabtu, 30 Agustus 2008 | 01:06 WIB 
Oleh F Budi Hardiman
Ada banyak cara untuk mempelajari perilaku politik dalam masyarakat kita. Salah 
satu cara yang mungkin kurang lazim, tetapi bisa dicoba adalah dengan melihat 
hubungan antara konsumen dan produk-produk di dalam ekonomi pasar yang hampir 
menjadi comprehensive worldview dewasa ini.
Jika belanja di pasar-pasar swalayan, Anda akan menemukan produk-produk baru 
yang tidak pernah ada sebelumnya: kopi tanpa kafein, bir tanpa alkohol, atau 
susu tanpa lemak. Dalam produk-produk elektronik bahkan kita temukan juga 
perang tanpa perang (computer games), seks tanpa seks (virtual sex), dan 
seterusnya.
Ciri produk-produk ini adalah tiadanya ciri yang selama ini dihubungkan dengan 
”hakikat” (negatif) benda-benda itu. Kopi seharusnya dengan kafein, bir 
seharusnya beralkohol, susu seharusnya berlemak, perang seharusnya dengan 
pertumpahan darah, seks seharusnya dengan persetubuhan. Namun, persis ciri-ciri 
berisiko itulah yang dihilangkan. Raibnya risiko juga berakibat raibnya hakikat 
produk-produk itu karena justru risiko itulah yang menandai nature mereka.
Mungkin atas tuntutan para konsumen dan demi kepuasan konsumen produk-produk 
yang raib-hakikat itu ada di pasar. Akan tetapi, tuntutan dan kepuasan konsumen 
itu tidak boleh dilepaskan dari perilaku sosial masyarakat konsumen dewasa ini. 
Orang ingin kenikmatan, tetapi tanpa jerih payah yang lama, melainkan dengan 
cepat dan tanpa risiko. Hasrat ini juga beroperasi dalam hubungan antarmanusia.
Seandainya ada karakter atau isi kepribadian yang bisa diperoleh tanpa 
perjuangan untuk menjadi dewasa, melainkan cukup dengan membelinya, konsumen 
dewasa ini pasti juga berminat untuk mengambilnya. Karena karakter sedikit 
banyak berkaitan dengan citra dan pencitraan, dan hal-hal ini bisa dibeli dan 
dimanipulasi. Agaknya suatu karakter tanpa pendewasaan diri, yaitu suatu 
karakter tanpa karakter, juga sudah menjadi kenyataan di dalam masyarakat 
konsumsi dewasa ini. Kesan pintar, saleh, cantik, otoritatif, cool, dan 
sebagainya bisa dikoordinasikan dan langsung dapat ”dinikmati” para 
konsumennya, entah itu kelompok penggemar, kelompok agama, ataupun para 
konstituen partai.
Pasar politik kita
Di dalam politik kita yang semakin mirip dengan pasar itu, kita juga dapat 
menemukan ”produk-produk” baru yang secara analogis mirip dengan susu tanpa 
lemak atau karakter tanpa perjuangan menjadi dewasa. Mereka adalah 
”pemimpin-pemimpin tanpa kepemimpinan”, yaitu orang-orang yang sedang atau akan 
memimpin kita, tetapi tidak mempunyai nature untuk memimpin. Sebagian adalah 
produk-produk mesin politik Orde Baru yang memimpin kita bukan karena kualitas 
moral atau karakter, melainkan karena jabatan; sebagian lainnya adalah 
cangkokan dari habitat lain.
Kepemimpinan selalu berkaitan dengan kualitas-kualitas tinggi dalam moral dan 
karakter. Kualitas-kualitas, seperti visionary, empowering, authentic, 
resonant, heroic, transformational, dan puluhan ciri lain—yang lalu menjadi 
judul buku-buku tentang leadership—adalah hasil tempaan yang lama dan penuh 
jerih payah melalui keterlibatan penuh dedikasi di dalam komunitas yang 
melahirkan nature kepemimpinan itu.
Maka, kepemimpinan juga dilekatkan dengan ide-ide dan perbuatan-perbuatan besar 
yang membawa perubahan, sekalipun harus lama bertekun, bergerak melawan arus, 
dan tak jarang berkorban untuk para pengikut. Pada para pemimpin tanpa 
kepemimpinan, nature seperti itu tidak ditemukan. Mereka naik terlalu cepat 
sebelum karakter dan kualitas moral mereka ditempa komunitas yang mereka 
pimpin. Dicangkokkan dari luar, mereka tidak berakar dalam komunitas itu.. 
Tidak puas di dalamnya, mereka ”lompat pagar”.
Menipu publik
Menghilangkan risiko yang melekat pada susu, kopi, seks, dan perang tentu demi 
kesejahteraan konsumen, karena mereka membeli untuk maksud itu. Dalam politik 
situasinya berbeda. Munculnya pemimpin-pemimpin tanpa kepemimpinan justru 
memperbesar risiko. Tak tumbuh dari publik, mereka mudah tergoda untuk 
mengkhianati dan menipu publik. Pemimpin seharusnya memberdayakan, tetapi 
mereka memperdaya.
Dalam politik yang didikte pasar perbedaan antara voters dan consumers makin 
tidak relevan.
Sudah sejak lama, mungkin sejak zaman kolonial, kita dibiasakan untuk memandang 
kepemimpinan sebagai perkara jabatan dan bukan sebagai kualitas moral dan 
karakter yang melekat pada pribadi yang tak tertukarkan.
Seperti benda-benda konsumsi lainnya, jabatan bisa beroperasi dalam sistem 
pertukaran dengan kode uang atau kuasa. Karena itu, jabatan-jabatan bisa diisi 
atau dikosongkan menurut logika birokrasi atau modal. Bukan nilai intrinsik 
kepemimpinan yang penting di sini, melainkan efek pencitraannya terhadap voters.
Kembali pada publik
Mengembalikan kepemimpinan kepada publik bukan berarti marketing orang-orang 
pilihan elite kepada publik, melainkan menghasilkan pemimpin-pemimpin dari 
proses deliberasi publik. Proses penyaringan tidak dibuat sekonyong-konyong 
dari atas untuk kebutuhan sekonyong-konyong pula, melainkan mulai dari sel-sel 
terkecil deliberasi warga, seperti ketetanggaan, organisasi sosial, perusahaan, 
dan seterusnya.
Sel-sel deliberasi warga sudah kita miliki dan tinggal diaktifkan. Sebuah 
kelompok arisan pun bisa berubah menjadi forum deliberasi politis jika para 
pesertanya mulai peduli dengan kepemimpinan publik. Darinya dapat tumbuh 
rational voters.
Makin banyaknya konsumen yang menyukai kopi tanpa kafein atau bir tanpa alkohol 
akan menguntungkan pasar dan tidak merugikan masyarakat. Namun, peningkatan 
jumlah emotional voters yang berselera terhadap pemimpin-pemimpin dengan nama 
besar tapi tanpa kepemimpinan bukan hanya tidak menguntungkan pasar, melainkan 
juga merugikan demokrasi, karena baik pasar maupun masyarakat akan dipimpin 
oleh orang-orang yang sebenarnya tak berhak berkata: ”kami mewakili kalian”.
F Budi Hardiman Dosen STF Driyarkara, Jakarta
 


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke