Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Untuk menyeimbangkan nada pesimis tentang kebuntuan demokrasi dalam Seri ke 21, 
saya kutipkan artikel di bawah ini, yang bernada cukup optimis, bahwa dalam 
kehidupan politik masih ada harapan.
Mudah-mudahan bermanfaat.
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]


Meretas Harapan pada Pemilu 2009






        function Big(me)
        {
        me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;
        }
        function Small(me)
        {
        me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;
        }
        
  



AGS / Kompas Images 
J KRISTIADI 
Kompas, Selasa, 2 September 2008 | 03:00 WIB 
Pemilu sebagai pesta demokrasi tahun 2009 dibayang-bayangi kegamangan 
masyarakat yang meragukan hubungan antara demokrasi dan kesejahteraan. Rakyat 
memang telah merasakan kebebasan, tetapi hal itu tidak serta-merta diikuti 
tingkat kesejahteraan.
Kesangsian publik itu dapat dicermati lewat kecenderungan semakin merosotnya 
kepercayaan masyarakat terhadap partai politik dan lembaga perwakilan rakyat 
yang dinilai makin oligarkis, korup, tidak etis, dan oportunistis.
Tidak mengherankan kalau ancaman golput semakin hari semakin nyaring. Kinerja 
Komisi Pemilihan Umum yang tidak maksimal dan terkesan kedodoran dalam 
manajemen semakin membuat masyarakat skeptis bahwa kualitas Pemilu 2009 akan 
lebih baik dari pemilu sebelumnya.
Kegamangan masyarakat tersebut beralasan karena perilaku elite politik dalam 
berburu kekuasaan, kekayaan, dan kenikmatan duniawi telah melampaui batas-batas 
toleransi dan imajinasi masyarakat. Sebutlah, misalnya, kasus korupsi politik 
Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, dugaan skandal penyuapan pemilihan deputi 
gubernur senior BI, dan berbagai kasus penyalahgunaan kekuasaan oleh anggota 
lembaga negara.
Pelita harapan
Namun, benarkah demokrasi di Indonesia telah mengalami kejumudan—beku, statis, 
suram, dan tanpa harapan? Pencermatan dalam perspektif lain tampaknya tidak 
demikian. Beberapa perkembangan dapat dijadikan pelita untuk menuntun melewati 
lorong gelap menuju sebuah harapan kehidupan demokrasi yang lebih 
terkonsolidasi.
Pertama, upaya membangun konstruksi ketatanegaraan dengan menata 
lembaga-lembaga negara agar dapat saling kontrol—sehingga tidak ada 
superbody—sudah mulai berfungsi dan bergerak menuju ke arah bekerjanya 
mekanisme checks and balances. Pergerakan ke arah itu antara lain dalam bentuk 
pengajuan revisi oleh masyarakat terhadap berbagai undang-undang yang dianggap 
bertentangan dengan UUD 1945, dan dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi. Dengan 
kata lain, Mahkamah Konstitusi relatif telah berfungsi sebagai institusi dan 
sarana rakyat mengontrol Dewan Perwakilan Rakyat.
Kedua, ideologi partai politik cenderung semakin inklusif (”ke tengah”).. 
Partai-partai nasionalis mulai membuka akses terhadap kelompok keagamaan, 
misalnya PDI-P dengan membentuk sayap organisasi bernama Baitul Muslimin 
Indonesia. Partai Keadilan Sejahtera mulai mewacanakan kemungkinan menjadi 
partai terbuka serta menjaring calon pemimpin lintas ikatan-ikatan primordial. 
Partai Kebangkitan Bangsa bahkan mempunyai pengurus dan calon anggota 
legislatif non-Muslim.
Dalam perspektif ini, budaya multikultur yang berkembang dalam masyarakat telah 
secara sehat masuk dalam domain politik. Terpilihnya ”Ahok” Purnama sebagai 
Bupati Belitung Timur di salah satu basis Partai Bulan Bintang (PBB) 
membuktikan bahwa tingkat toleransi dan nilai pluralitas telah berkembang dalam 
masyarakat.
Ketiga, rakyat mulai biasa memilih para pemimpinnya, antara lain lewat 
pemilihan kepala daerah yang dalam tiga tahun telah ratusan kali dilakukan 
tanpa gejolak sosial yang berarti. Itu berarti rakyat mulai biasa mengoreksi 
kesalahan sendiri.
Kalaupun pilihannya keliru, hal itu diperbaiki dengan mekanisme demokratik 
tanpa harus menggunakan peluru dan kekerasan.
Keempat, betapa pun buruknya persepsi masyarakat terhadap parpol, lembaga 
perwakilan, dan birokrasi, tetap selalu ada unsur-unsur dalam lembaga tersebut 
yang masih mau mendengarkan suara hati nuraninya. Kasus pengakuan Agus Condro, 
anggota DPR dari PDI-P, merupakan salah satu contoh yang pantas dikemukakan.
Kelima, kebebasan media massa telah menjadikan perpolitikan Indonesia dalam 
gelas kaca yang transparan sehingga selalu dapat diikuti, dicermati, dan 
dikontrol oleh publik. Ibaratnya, tiada tempat persembunyian bagi mereka yang 
melakukan ”perselingkuhan politik”.
Media massa dengan kelebihan dan kekurangannya dapat mengungkapkan peristiwa 
yang berkaitan dengan kepentingan publik serta membangun opini yang menjadi 
kekuatan penekan.
Beberapa hal yang diutarakan itu barulah tahap sangat awal bekerjanya mesin 
demokrasi. Dinamika tersebut dapat memberikan sinar terang dalam hiruk-pikuk 
proses demokrasi dewasa ini.
Namun, membangun peradaban demokrasi berarti memenangi pertarungan abadi antara 
mereka yang menginginkan kekuasaan untuk kemaslahatan umat dan mereka yang 
memburu kekuasaan untuk melampiaskan dahaga keangkaramurkaan.
Oleh karena itu, dalam bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dan rahmat ini, 
sebaiknya semua komponen bangsa, terutama mereka yang telah mendapatkan 
kepercayaan rakyat duduk dalam lembaga terhormat, lebih tafakur dan 
mempergunakan kesempatan emas ini untuk memperbaiki perilaku.
Pergunakanlah kekuasaan yang telah dipercayakan rakyat untuk membuat kebijakan 
publik yang memihak kepada kepentingan kaum miskin dan marjinal
 


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke