Kita bukanlah orang yang malas.  Kalaupun sebagian kita menjadi malas, karena 
mereka telah jenuh dengan kerajinan dan kegesitan yang tanpa hasil selama ini.  
Lihatlah sopir taksi, 18 belas jam mereka bekerja dalam sehari hanya demi 
mendapatkan lima puluh ribu.  Lihatlah tukang sate padang yang berkeliling di 
pelosok-pelosok gang Jakarta, nyaris dua pertiga siklus keseharian mereka 
dipakai untuk bekerja.  Lihatlah para petani dan peladang di kampung halaman 
kita, tenaga yang mereka keluarkan setiap harinya sangatlah luar biasa.  
Hernando de Soto pernah berujar, jika effort yang dikeluarkan warga negara 
dunia ketiga dilakukan di negara maju, hasil yang diterima sangatlah luar 
biasa.  Kalau de Soto benar, berarti ada yang salah dengan sistem struktur 
sosial negara-negara ketiga ini.  Ada hambatan besar bagi masyarakatnya untuk 
melakukan sebuah vertical movement.

Ketika melihat serombongan pemuda di atap metromini, teman saya berujar kalau 
situasi ini adalah sebuah kesengajaan.  Ada kesengajaan elit negara ini untuk 
tetap mempertahankan struktur sosial  masyarakat yang ada, agar bisa mereka 
manfaatkan untuk kepentingan para elit ini.  Kata kawan saya ini lagi, tiga 
puluh persen masyarakat kita harus senantias dibuat bernalar pendek, perut 
kosong dan gampang dipanas-panasin.  Kalaupun kawan saya ini salah, yang jelas 
negara ini sudah gagal membuat sebuah lompatan besar perbaikan struktur sosial 
masyarakatnya.

Untuk lepas dari himpitan keadaan, ada dua jalan keluar.  Yang pertama adalah 
sebuah proses belajar, keduanya dengan modal kerja.  Artinya untuk melakukan 
sebuah vertical movement dalam kehidupan ini, kita memang senantiasa harus 
belajar.  Pendidikan menjadi penting disini, baik formal ataupun informal.  
Cuma kita memang menjadi banyak nrimo dan selalu fokus hanya pada satu sudut 
pandang.  Ketika mereka merasa, sekola tinggi menjadi percuma saat ini karena 
hanya PNS yang diincar, masyarakat merasa cukup baca tulis sudahlah cukup.  
Yang penting bisa membaca running text tontonan TV.  Atau bagi mereka yang 
bertujuan menjadi karyawan pabrik, cukup sajalah punya ijazah SMEA.  Lihatlah 
situasi di kampung kita saat ini, dimana PNS menjadi satu-satunya pengharapan 
untuk hidup tenang.  Banyak sekali pertanyaan dari teman orang tua dan orang 
kampung yang berangkat dari asumsi, saya seorang PNS.  Mulai dari golongan 
sampai pada peluang untuk menduduki jabatan
 eselon.  Ada kesedihan sebenarnya dengan fenomena ini, bahwa vertical movement 
hanya didapat ketika anda menjadi PNS.  Premisnya berubah menjadi kalau anda 
kuliah, dan tidak menjadi PNS, maka anda gagal.

Dengan premis yang berkembang di masyarakat kita saat ini, tanpa adanya 
embel-embel PNS, sulit untuk meyakinkan mereka bahwa dengan sekolah kehidupan 
akan lebih baik.  Mereka menjadi semakin teryakinkan oleh banyaknya fakta 
sarjana yang menjadi tukang ojek.  Sarjana yang hanya beternak ayam di kebun 
belakang rumah.  Tidak ada yang salah dengan sarjana beternak ayam, apalagi 
kalau ia memang seorang sarjana peternakan.  Cuma untuk kasus ini, masyarakat 
masih sangat butuh diyakinkan bahwa peternak yang belajar, signifikan 
memberikan hasil yang lebih baik daripada para peternak sekadar.  
Pertanyaannya, apakah sistem pendidikan yang menghasilkan sarjana peternakan 
sudah menyiapkan nantinya sang sarjana memiliki kemampuang lebih daripada 
peternak standar.

Uda Zul Kahar adalah seorang yang mampu melakukan sebuah vertical movement 
dalam hidupnya dengan terus belajar.  Siapa yang menyangka, seorang yang dari 
lubuak basuang ke maninjau saja harus berjalan kaki, saat ini adalah member 
utama maskapai penerbangan bintang lima dunia.  Semua ia dapatkan dengan sebuah 
proses belajar.  Uda Zul mengatakan pada saya bahwa hambatan dalam vertical 
movement adalah grativasi.  Untuk orang minang -mengutip teori kepitingnya IJP- 
ada gaya lain yang menghambat pergerakan ke atas.  Yaitu tarikan dari orang 
yang di bawah.  Dan lebih sial lagi, jumlah mereka banyak.  Artinya kita butuh 
tenaga ekstra untuk bisa bergerak ke atas.  Selain belajar sebagai sumber mesin 
tenaga utamanya, sumber lain untuk ekstra tenaga perlu kita pikirkan.  Belajar 
dari pengalaman dan pengamatan saya, tenaga lebih itu bisa kita dapatkan dari 
sebuah "sarengeh".  Orang minang perlu meningkatkan kadar "kesarengehan" 
mereka.  Agar kita mampu melakukan
 vertical movement dengan mulus.  Gravitasi dan tarikan dari orang-orang di 
bawah perlu kita hadapi terus menerus dengan belajar dan sedikit sarengeh.  
Selamat belajar dan selamat sarengeh!!


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke