Sanak Mantari Sutan, ambo satuju saratuih prosen jo nan Sanak tulih. Rasonyo indak ado nan paralu ambo tukuak tambah atau ambo kurangi. Ambo tatarik jo konsep hambatan 'gravitasi' dari nan di bawah, nan mahambek kito untuk naiak kateh, sahinggo diparalukan tanago ekstra untuak bisa 'melejit'. Dalam konteks nagari kito, apo persisnyo 'gravitasi' tu? Apo samo jo 'extended family system'?
Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta) Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] --- On Wed, 9/3/08, Mantari Sutan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Mantari Sutan <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] Vertical Movement Uda Zul Kahar To: [email protected] Date: Wednesday, September 3, 2008, 2:32 PM Kita bukanlah orang yang malas. Kalaupun sebagian kita menjadi malas, karena mereka telah jenuh dengan kerajinan dan kegesitan yang tanpa hasil selama ini. Lihatlah sopir taksi, 18 belas jam mereka bekerja dalam sehari hanya demi mendapatkan lima puluh ribu. Lihatlah tukang sate padang yang berkeliling di pelosok-pelosok gang Jakarta, nyaris dua pertiga siklus keseharian mereka dipakai untuk bekerja. Lihatlah para petani dan peladang di kampung halaman kita, tenaga yang mereka keluarkan setiap harinya sangatlah luar biasa. Hernando de Soto pernah berujar, jika effort yang dikeluarkan warga negara dunia ketiga dilakukan di negara maju, hasil yang diterima sangatlah luar biasa. Kalau de Soto benar, berarti ada yang salah dengan sistem struktur sosial negara-negara ketiga ini. Ada hambatan besar bagi masyarakatnya untuk melakukan sebuah vertical movement. Ketika melihat serombongan pemuda di atap metromini, teman saya berujar kalau situasi ini adalah sebuah kesengajaan. Ada kesengajaan elit negara ini untuk tetap mempertahankan struktur sosial masyarakat yang ada, agar bisa mereka manfaatkan untuk kepentingan para elit ini. Kata kawan saya ini lagi, tiga puluh persen masyarakat kita harus senantias dibuat bernalar pendek, perut kosong dan gampang dipanas-panasin. Kalaupun kawan saya ini salah, yang jelas negara ini sudah gagal membuat sebuah lompatan besar perbaikan struktur sosial masyarakatnya. Untuk lepas dari himpitan keadaan, ada dua jalan keluar. Yang pertama adalah sebuah proses belajar, keduanya dengan modal kerja. Artinya untuk melakukan sebuah vertical movement dalam kehidupan ini, kita memang senantiasa harus belajar. Pendidikan menjadi penting disini, baik formal ataupun informal. Cuma kita memang menjadi banyak nrimo dan selalu fokus hanya pada satu sudut pandang. Ketika mereka merasa, sekola tinggi menjadi percuma saat ini karena hanya PNS yang diincar, masyarakat merasa cukup baca tulis sudahlah cukup. Yang penting bisa membaca running text tontonan TV. Atau bagi mereka yang bertujuan menjadi karyawan pabrik, cukup sajalah punya ijazah SMEA. Lihatlah situasi di kampung kita saat ini, dimana PNS menjadi satu-satunya pengharapan untuk hidup tenang. Banyak sekali pertanyaan dari teman orang tua dan orang kampung yang berangkat dari asumsi, saya seorang PNS. Mulai dari golongan sampai pada peluang untuk menduduki jabatan eselon. Ada kesedihan sebenarnya dengan fenomena ini, bahwa vertical movement hanya didapat ketika anda menjadi PNS. Premisnya berubah menjadi kalau anda kuliah, dan tidak menjadi PNS, maka anda gagal. Dengan premis yang berkembang di masyarakat kita saat ini, tanpa adanya embel-embel PNS, sulit untuk meyakinkan mereka bahwa dengan sekolah kehidupan akan lebih baik. Mereka menjadi semakin teryakinkan oleh banyaknya fakta sarjana yang menjadi tukang ojek. Sarjana yang hanya beternak ayam di kebun belakang rumah. Tidak ada yang salah dengan sarjana beternak ayam, apalagi kalau ia memang seorang sarjana peternakan. Cuma untuk kasus ini, masyarakat masih sangat butuh diyakinkan bahwa peternak yang belajar, signifikan memberikan hasil yang lebih baik daripada para peternak sekadar. Pertanyaannya, apakah sistem pendidikan yang menghasilkan sarjana peternakan sudah menyiapkan nantinya sang sarjana memiliki kemampuang lebih daripada peternak standar. Uda Zul Kahar adalah seorang yang mampu melakukan sebuah vertical movement dalam hidupnya dengan terus belajar. Siapa yang menyangka, seorang yang dari lubuak basuang ke maninjau saja harus berjalan kaki, saat ini adalah member utama maskapai penerbangan bintang lima dunia. Semua ia dapatkan dengan sebuah proses belajar. Uda Zul mengatakan pada saya bahwa hambatan dalam vertical movement adalah grativasi. Untuk orang minang -mengutip teori kepitingnya IJP- ada gaya lain yang menghambat pergerakan ke atas. Yaitu tarikan dari orang yang di bawah. Dan lebih sial lagi, jumlah mereka banyak. Artinya kita butuh tenaga ekstra untuk bisa bergerak ke atas.. Selain belajar sebagai sumber mesin tenaga utamanya, sumber lain untuk ekstra tenaga perlu kita pikirkan. Belajar dari pengalaman dan pengamatan saya, tenaga lebih itu bisa kita dapatkan dari sebuah "sarengeh". Orang minang perlu meningkatkan kadar "kesarengehan" mereka. Agar kita mampu melakukan vertical movement dengan mulus. Gravitasi dan tarikan dari orang-orang di bawah perlu kita hadapi terus menerus dengan belajar dan sedikit sarengeh. Selamat belajar dan selamat sarengeh!! --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
