Assalamu alaikum Warahmatullahi wa Barakatuh,
Ingin pulo buya sato sakaki.
Moga puaso kito batarimo di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala.
Memang yang mendasari puaso itu tauhid kepada Allah.
Kalau menurut pengajian di surau, satu ibadah yang tak tersentuh riya hanya
ibadah puasa ini. Insya Allah.
Di dalam Harian Singgalang Sabtu, 6/9/08 kapatang, Buya sampaikan bahwa Prof.
James Hellyward semestinya mulai kini sudah merancang nuansa ibadah berpuasa
orang-orang di Minangkabau (Sumatera Barat) itu menjadi obyek wisata,
sebagaimana orang Bali menjual upacara Nyepi.
Kalau mau dipakai juga kata-kata "menjual" sebagai pintu devisa atau menggenjot
pendapatan daerah secara materi.
Mau belajar ke Makkah atau Madinah? Silahkan.
Tradisi orang Arab di Makkah dan Madinah adalah menjamu orang berbuka puasa
sebagai implementasi dari anjuran Rasulullah SAW agar memberi perbukaan kepada
orang yang akan berbuka puasa, dan pahalanya sebesar pahala puasa orang yang
diberi perbukaan itu.
Konsepnya, sunnah Rasulullah, yakni ibadah yang melahirkan tradisi Dikemas oleh
pemerintah, dan ujungnya diraup keuntungan untuk negara dan bangsa.
Maka, orang-orang berduit yang mencari selama setahun penuh, menghabiskan
selama bulan Ramadhan untuk menjamu orang berbuka puasa.
Terjadi multiplier effect dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara dan
berpariwisata selama bulan Ramadhan itu.
Di antaranya, masjid Nabawi dan masjid Al Haram Mukarramah penuh sesak,
mengalahkan bulan hajji dan pengunjungnya terbanyak dari luar negeri, sumber
devisa yang gemuk. Ini namanya membaca peluang syariat untuk bisnis dunia, atau
lebih halus lagi, bahwa syariaat agama itu membukakan rezeki di dunia bagi
orang yang cerdas dan mengharapkan redha Allah.
Waktu setengah jam sebelum berbuka puasa, seluruh pelataran masjid sampai ke
jalan-jalan feeder road sekeliling masjid dari semua penjuru dipenuhi hidangan
juwadah yang disiapkan orang-orang yang ingin bersedekah menjamu orang yang
berpuasa.
Mereka disambut dengan tarikan dan pelukan tangan bersahabat, tidak membedakan
bangsa dan etnis, mereka berbaur, bercengkerama, sambil menunggu waktu berbuka
tiba.
Terjadilah interaksi spontan, bahkan ikatan bisnis mulai dirancang, dan Menteri
atau Kepala Dinas Pariwisatanya menjadi senyum-senyum dikulum, negerinya ramai,
uangpun masuk. Raja sebagai penguasa tunggal di negerinya juga pandai, mereka
tidak keluarkan aturan eksklusif, di masjid tidak boleh makan minum, cuma
dibuatnya pengumuman holistik, jagalah kebersihan dan ketenangan di dalam
ikatan ruhul Islam yang kuat.
Tak ada yang rugi, tak pula ada yang dirugikan, apalagi tidak pula ada yang
berniat merugikan.
Sumatera Barat punya potensi ibadah dan religi (kata orang sekarang walau sudah
rapuh dan keropos, tapi sebenarnya masih dapat dikemas) Ini modal besar jika
kita mau intensif dan basitungkin mamikiekan dan merancangnya.
Umpamanya,
Khusus dalam dan dengan puasa ini, seperti acara jalang menjalang, ma anta
pabukoan antara minantu baru ka mintuo, antara ipa bisan, kemaslah dengan baik,
buatkan anjuran dan di dalamnya ada nilai ibadah.
Tradisi balimau, yang katanya satu-satunya ada di Minangkabau, jaga dengan
sempurna, kemas dengan baik, pelihara aturan syariatnya, menartik untuk
ditengok orang yang belum tahu akan nilai dan isi budayanya.
Pasa pabukoan, ramaikan dengan makanan tradisi, minta mereka berjualan dengan
memakai pakaian tradisional, seperti batikuluak, ba saruang, babaju kuruang,
bukannya basarawa cincuik saroman nan biaso dipakai urang di pantai Napels atau
di Selatan Balkan itu.
Shalat tarawih nan tertib, tidak di tingkah oleh petasan yang menghamburkan
uang dengan mengirimnya ke China.
Atau tadarus di Masjid yang sudah ditinggalkan, kemas balik dengan baik.
Safari Ramadhan juga dapat dikemas apik. Umpamanya rombongan safari Ramadhan
itu makan bajamba di musajik yang dikunjungi.
Ubah dari Rumah Pejabat pindahkan ke Rumah Ibadat.
Ketika ini berani dibuat, pasti masyarakat se kampung akan amat senang,
negerinya didatangi para pemuka dan pejabat tinggi negeri, mulai dari Gubernur
sampai ke Wali Nagari.
Tanpa disadari hidup kembali budaya lokal, singkek ba uleh kurang ba tukuak,
saling menghormati, menjadi pelajaran amat berarti bagi semua anak muda
pelanjut generasi di nagari.
Waktu yang tersedia panjang pula. Sejak maghrib sampai selesai tarawih, minimal
4 jam untuk interaksi dan dialog two-way communication dari atas ke bawah ke
atas. Timbul semangat membangun nagari, kuat, beradat, bekesopan-santunan,
sesuai ajaran syarak mangato adaik mamakaikan.
Beranikah kita mengubah tradisi yang sudah dibiasakan selama ini? Terpulang
kepada keteguhan hati kita masing-masing.
Amat perlu orang-orang pengelola pariwisata itu mengerti, bahwa orang datang
dan tertaris untuk melihat sesuatu yang tidak dipaksakan, tetapi dia ingin
melihat sesuatu yang dibiasakan.
Alun juo cukuik lai,
Ditambah saketek lai.
Buya pernah di datangi seorang sahabat kaya dari Saudi, namanya Sheikh Al
Mousa, Alhamdulillah dia punya 7 hotel di keliling Masjidil Haram dan Masjid
Nabawi. Ketika sampai di Ranah Minang, kalimat yang meluncur dari lidahnya
adalah "Subhanallah", melihat indahnya bumi ranah bundo "qith'ah minal Jannah
fid-dunya" = sepotong sorga yang tercampak ke bumi.
Ketika buya pilihkan tempat menginap di Hotel Bumi Minang dan Pangeran Beach
yang waktu itu baru dan paling besar, dia menolak dengan halus, karena dia
sudah amat terbiasa menginap di hotel mewah.
Dia ingin tidur di Masjid. Hilang juga akal mencari masjid yang punya bilik
tempat menginap yang "representative" menurut ukuran kita.
Akhirnya di menginap di lantai salah satu masjid yang cukup ternama di kota
Padang, akan tetapi di tengah malam dia dibangunkan dengan hardikan, "tidak
boleh tidur di masjid", disangka oleh garin (karim) masjid orang yang tidur itu
gembel biasa, padahal dia adalah seorang milyuner yang sudah jenuh dengan
segala kekayaan yang dia punya.
Begitulah satu dari jutaan macam kulikat orang berwisata dari seantero
mancanegara.
Tidak semua orang yang datang di bulan puasa itu merasa tersiksa karena tidak
dapat makan seenak hatinya di warung-warung nasi secara terbuka di siang hari
di bulan Ramadhan di Padang atau di Sumatera Barat.
Tidak perlu cemas, umumnya pariwisata mancanegra itu lebih menghormati orang
yang berpuasa dibanding sopir taksi atau pengemudi angkot yang notabene
anak-anak keluarga muslim juga, tetapi dengan bangganya merokok di tengah
jalan, dan kunyah-kenyoh di bulanbasaha sambil membawa kenderaannya hilir mudik.
Puasa tidak menghalangi pariwisata.
Makanya Buya berkata Puasa juga dapat dikemas menjadi obyek wisata. Diperlukan
Professional untuk itu.
Sakitu dulu.
Tulisan ini juga buya forward ke Pemda Sumbar, untuk kajian tahun depan.
Mohon maaf lahir bathin,
Wassalam
Buya H.Masoed Abidin (HMA)
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---