Assalamu alaikum Warahmatullahi wa barakatuh, Silahkan baca Berita ANTARA News, Padang 07/09/08 03:53, dibawah judul Mahasiswa Jepang Ikut Jual Hidangan Berbuka di Pinggir JalanPadang, (ANTARA News) - Sebanyak 16 mahasiswa asal Universitas Meiji, Tokyo, Jepang, memasak menu siap santap ala negara mereka untuk berbuka puasa (pabukoan) dan langsung menjualnya di Jalan A. Yani, Kota Padang, Sumbar, Sabtu sore.
Ketua Panitia juga mahasiswa dari Universitas Andalas (Unand), Sherly Ramadhani, mengatakan, kegiatan tersebut diadakan Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales (AIESEC) Meiji University yang sedang studi tur ke Sumbar. "Mereka studi tur ke sini selama dua pekan, selain memasak dan menjual pabukoan ini mereka juga akan melakukan kegiatan-kegiatan diskusi dengan trainer AIESEC," jelas Sherly. ------- dan seterusnya, siahkan kunjungi situs http://www.antara.co.id/arc/2008/9/7/mahasiswa-jepang-ikut-jual-hidangan-berbuka-di-pinggir-jalan/ --------------------------------------------------------------- Barangkali ini satru bentuk kearifan mahasiswa UNAND Padang membaca peluang bulan Ramadhan untuk mengisi program study tour Mahasiswa-mahasiswa Jepang di Padang, dan mereka professional mengemasnya untuk kegiatan belajar pariwisata. Karena itu amat diperlukan Proffessional. Wassalam BuyaHMA Pada 7 September 2008 07:48, Masoed Abidin <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > Assalamu alaikum Warahmatullahi wa Barakatuh, > Ingin pulo buya sato sakaki. > > Moga puaso kito batarimo di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala. > Memang yang mendasari puaso itu tauhid kepada Allah. > Kalau menurut pengajian di surau, satu ibadah yang tak tersentuh riya hanya > ibadah puasa ini. Insya Allah. > > Di dalam Harian Singgalang Sabtu, 6/9/08 kapatang, Buya sampaikan bahwa > Prof. James Hellyward semestinya mulai kini sudah merancang nuansa ibadah > berpuasa orang-orang di Minangkabau (Sumatera Barat) itu menjadi obyek > wisata, sebagaimana orang Bali menjual upacara Nyepi. > Kalau mau dipakai juga kata-kata "menjual" sebagai pintu devisa atau > menggenjot pendapatan daerah secara materi. > > Mau belajar ke Makkah atau Madinah? Silahkan. > Tradisi orang Arab di Makkah dan Madinah adalah menjamu orang berbuka puasa > sebagai implementasi dari anjuran Rasulullah SAW agar memberi perbukaan > kepada orang yang akan berbuka puasa, dan pahalanya sebesar pahala puasa > orang yang diberi perbukaan itu. > > Konsepnya, sunnah Rasulullah, yakni ibadah yang melahirkan tradisi Dikemas > oleh pemerintah, dan ujungnya diraup keuntungan untuk negara dan bangsa. > > Maka, orang-orang berduit yang mencari selama setahun penuh, menghabiskan > selama bulan Ramadhan untuk menjamu orang berbuka puasa. > Terjadi multiplier effect dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara dan > berpariwisata selama bulan Ramadhan itu. > > Di antaranya, masjid Nabawi dan masjid Al Haram Mukarramah penuh sesak, > mengalahkan bulan hajji dan pengunjungnya terbanyak dari luar negeri, sumber > devisa yang gemuk. Ini namanya membaca peluang syariat untuk bisnis dunia, > atau lebih halus lagi, bahwa syariaat agama itu membukakan rezeki di dunia > bagi orang yang cerdas dan mengharapkan redha Allah. > > Waktu setengah jam sebelum berbuka puasa, seluruh pelataran masjid sampai > ke jalan-jalan feeder road sekeliling masjid dari semua penjuru dipenuhi > hidangan juwadah yang disiapkan orang-orang yang ingin bersedekah menjamu > orang yang berpuasa. > Mereka disambut dengan tarikan dan pelukan tangan bersahabat, tidak > membedakan bangsa dan etnis, mereka berbaur, bercengkerama, sambil menunggu > waktu berbuka tiba. > > Terjadilah interaksi spontan, bahkan ikatan bisnis mulai dirancang, dan > Menteri atau Kepala Dinas Pariwisatanya menjadi senyum-senyum dikulum, > negerinya ramai, uangpun masuk. Raja sebagai penguasa tunggal di negerinya > juga pandai, mereka tidak keluarkan aturan eksklusif, di masjid tidak boleh > makan minum, cuma dibuatnya pengumuman holistik, jagalah kebersihan dan > ketenangan di dalam ikatan ruhul Islam yang kuat. > Tak ada yang rugi, tak pula ada yang dirugikan, apalagi tidak pula ada yang > berniat merugikan. > > Sumatera Barat punya potensi ibadah dan religi (kata orang sekarang walau > sudah rapuh dan keropos, tapi sebenarnya masih dapat dikemas) Ini modal > besar jika kita mau intensif dan basitungkin mamikiekan dan merancangnya. > Umpamanya, > Khusus dalam dan dengan puasa ini, seperti acara jalang menjalang, ma anta > pabukoan antara minantu baru ka mintuo, antara ipa bisan, kemaslah dengan > baik, buatkan anjuran dan di dalamnya ada nilai ibadah. > Tradisi balimau, yang katanya satu-satunya ada di Minangkabau, jaga dengan > sempurna, kemas dengan baik, pelihara aturan syariatnya, menartik untuk > ditengok orang yang belum tahu akan nilai dan isi budayanya. > Pasa pabukoan, ramaikan dengan makanan tradisi, minta mereka berjualan > dengan memakai pakaian tradisional, seperti batikuluak, ba saruang, babaju > kuruang, bukannya basarawa cincuik saroman nan biaso dipakai urang di pantai > Napels atau di Selatan Balkan itu. > Shalat tarawih nan tertib, tidak di tingkah oleh petasan yang menghamburkan > uang dengan mengirimnya ke China. > Atau tadarus di Masjid yang sudah ditinggalkan, kemas balik dengan baik. > > Safari Ramadhan juga dapat dikemas apik. Umpamanya rombongan safari > Ramadhan itu makan bajamba di musajik yang dikunjungi. > Ubah dari Rumah Pejabat pindahkan ke Rumah Ibadat. > Ketika ini berani dibuat, pasti masyarakat se kampung akan amat senang, > negerinya didatangi para pemuka dan pejabat tinggi negeri, mulai dari > Gubernur sampai ke Wali Nagari. > Tanpa disadari hidup kembali budaya lokal, singkek ba uleh kurang ba > tukuak, saling menghormati, menjadi pelajaran amat berarti bagi semua anak > muda pelanjut generasi di nagari. > Waktu yang tersedia panjang pula. Sejak maghrib sampai selesai tarawih, > minimal 4 jam untuk interaksi dan dialog two-way communication dari atas > ke bawah ke atas. Timbul semangat membangun nagari, kuat, beradat, > bekesopan-santunan, sesuai ajaran syarak mangato adaik mamakaikan. > Beranikah kita mengubah tradisi yang sudah dibiasakan selama ini? Terpulang > kepada keteguhan hati kita masing-masing. > > Amat perlu orang-orang pengelola pariwisata itu mengerti, bahwa orang > datang dan tertaris untuk melihat sesuatu yang tidak dipaksakan, tetapi dia > ingin melihat sesuatu yang dibiasakan. > > Alun juo cukuik lai, > Ditambah saketek lai. > Buya pernah di datangi seorang sahabat kaya dari Saudi, namanya Sheikh Al > Mousa, Alhamdulillah dia punya 7 hotel di keliling Masjidil Haram dan Masjid > Nabawi. Ketika sampai di Ranah Minang, kalimat yang meluncur dari lidahnya > adalah "Subhanallah", melihat indahnya bumi ranah bundo "qith'ah minal > Jannah fid-dunya" = sepotong sorga yang tercampak ke bumi. > Ketika buya pilihkan tempat menginap di Hotel Bumi Minang dan Pangeran > Beach yang waktu itu baru dan paling besar, dia menolak dengan halus, karena > dia sudah amat terbiasa menginap di hotel mewah. > Dia ingin tidur di Masjid. Hilang juga akal mencari masjid yang punya bilik > tempat menginap yang "representative" menurut ukuran kita. > Akhirnya di menginap di lantai salah satu masjid yang cukup ternama di kota > Padang, akan tetapi di tengah malam dia dibangunkan dengan hardikan, "tidak > boleh tidur di masjid", disangka oleh garin (karim) masjid orang yang > tidur itu gembel biasa, padahal dia adalah seorang milyuner yang sudah jenuh > dengan segala kekayaan yang dia punya. > Begitulah satu dari jutaan macam kulikat orang berwisata dari seantero > mancanegara. > > Tidak semua orang yang datang di bulan puasa itu merasa tersiksa karena > tidak dapat makan seenak hatinya di warung-warung nasi secara terbuka di > siang hari di bulan Ramadhan di Padang atau di Sumatera Barat. > > Tidak perlu cemas, umumnya pariwisata mancanegra itu lebih menghormati > orang yang berpuasa dibanding sopir taksi atau pengemudi angkot yang > notabene anak-anak keluarga muslim juga, tetapi dengan bangganya merokok di > tengah jalan, dan kunyah-kenyoh di bulan basaha sambil membawa > kenderaannya hilir mudik. > > Puasa tidak menghalangi pariwisata. > Makanya Buya berkata Puasa juga dapat dikemas menjadi obyek wisata. > Diperlukan Professional untuk itu. > > Sakitu dulu. > Tulisan ini juga buya forward ke Pemda Sumbar, untuk kajian tahun depan. > Mohon maaf lahir bathin, > > Wassalam > Buya H.Masoed Abidin (HMA) > > > > > > -- Allahumma inna nas-aluka ridhaa-ka wa al-jannah, wa na'uudzu bika min sakhati-ka wa an-naar Allahumma ghfir-lana dzunubana, wa li ikhwanina, wa sabaquuna bil-imaan,wa laa taj'al fii qulubinaa ghillan lil-ladzina aamanuu Rabbana innaka ghafuurun rahiim. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
