Hidup Adalah Perbuatan..
Dimana ada kemauan disitu ada jalan..
Bersama kita bisa..
Mari kita bangkit kembali sebagai macan asia ..
Hanya pemimpin yang punya hati nurani dipilih rakyat...

Ituah slogan-slogan bagus dan harapan yang sering terlihat dalam spot 
iklan..semuanya adalah BAGUS.. karena sebagai bagian dari harapan, cita-cita, 
dan keinginan luhur dari pengusung iklan dimaksud..

Harapan adalah impian, dan impian adalah mimpi yang menghiasi malam, sebagai 
bunga tidur..
Slogan-slogan diatas semoga tidak menjadi bunga tidur bagi rakyat yang berada 
dalam ranah yang sansai.. 

Saya teringat di saat 17 Agustus 2008, salah satu televisi swasta telah memutar 
memoar "Bapak Republik" Tan Malaka, yang dengan gigih, dengan satu dalam 
pikiran, perkataan dan tindakan mewujudkan mimpi rakyat untuk cita-cita 
kemerdekaan.. dan semua slogan diatas telah dilakukannya jauh sebelum ada 
televisi memutar semua slogan dimaksud.

Dia pejuang yang larut dalam kesendirian, berjuang dengan hati dan pikiran, dia 
dikejar oleh Comintern, dan juga  oleh orang-orang didalam negerinya.

Dia setelah melanglang buana ke Eropa dan seluruh Asia, dengan reputasi yang 
lebih dari Ho Cin Min dan Dr Sun Yat Sen, dan dia kembali ke Ranah Menuju Akar..


Salam 


 Ardian Hamdani





----- Pesan Asli ----
Dari: Indra Jaya Piliang <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Kamis, 11 September, 2008 00:03:08
Topik: [EMAIL PROTECTED] Kembali Ke Ranah Menuju Akar

 
Kembali Ke Ranah Menuju Akar
 
Biasanya saya menulis judul
dulu pada sebuah tulisan. Kali ini tidak. Saya menulis dulu, baru kemudian
menulis judulnya. 
 
Apa yang mau saya tulis?
Belum jelas juga. Yang ingin saya sampaikan adalah seputar catatan-catatan yang
diberikan kepada politisi. Boleh, dong, saya menjadi pengamat dari pengamat
politisi? 
 
Media massa di Indonesia,
sama dengan orang di kampung saya, bisa dengan sangat terlena menganalisa
apa-apa yang terjadi dengan Obama. Kini, berpindah ke Palin. Obama dan Palin
seakan menjadi anak kandung dalam pemberitaan dan analisa, sementara politisi
Indonesia seakan terus menjadi anak tiri dan tersangka dari apa-apa yang belum
dia kerjakan. 
 
Sebagai contoh, politisi
seperti Obama dan Paling pandai berpidato. Saya juga yakin bahwa saya bisa
berpidato dengan baik, begitupula dengan para calon anggota legislatif yang
lain. Tetapi, apakah pidato itu yang ditunggu orang, ketika hidup adalah
perbuatan? Beberapa penulis yang hidup dari honor-honor di media massa,
khususnya dengan cara menulis soal-soal politik, dengan mudah memuntahkan
sumpah-serapah seolah politikus itu sampah. Eh, keliru, seolah politikus
Indonesia itu sampah. Sementara, politikus di Amerika sana adalah berlian yang
layak disimak. 
 
Barangkali inilah mentalitas
pasca-kolonial itu yang hidup dalam benak kaum intelektual pasca-kolonial juga.
Apa yang diucapkan oleh politikus Indonesia tidak benar-benar disimak. Belum
lagi dengan detil seluruh dimensi kehidupan seorang politikus. Yang diucapkan
dan ditulis lebih banyak sisi idealitas yang belum tentu para penulisnya bisa
menjalankan itu. 
 
Istilah-istilah teknis dalam
politik praktispun tidak diketahui dengan baik. Misalnya, soal daerah
pemilihan. Juga persoalan-persoalan di daerah pemilihan masing-masing. Selain
itu tentang tugas seorang anggota legislatif yang terbatas hanya kepada
pengawasan atas eksekutif, penyusunan anggaran dengan eksekutif dan penyusunan
undang-undang atau regulasi bersama eksekutif. Tiga tugas pokok itu diabaikan
ketika memberikan penilaian atas seorang politikus. 
 
Yang dikobar-kobarkan adalah
dendam atas masa lalu. Saya beruntung tidak memiliki dendam apapun atas masa
lalu, termasuk terhadap orang-orang yang mungkin pernah mengkhianati saya,
mengejek saya, ataupun pernah dengan terang-terangan menyebarkan fitnah bohong
atas diri saya. Tetapi saya melihat, sejumlah politisi lain, terutama dari
angkatan muda, yang belum pernah berkuasa, yang bercita-cita atas masa depan
mereka, selalu saja dicecoki dengan persoalan-persoalan masa lalu yang mestinya
itu urusan kaum tua. 
 
Sejak memutuskan menjadi
politisi, saya memutuskan mengambil posisi dan mentalitas politisi. Saya mulai
menyesuaikan diri dengan Partai Golkar, menikmati denyut persoalan yang muncul,
termasuk di tingkat ranting, desa, nagari, kecamatan, kabupaten dan kota,
propinsi dan tentu juga pusat. Golkar telah berubah menjadi partai tradisional
di beberapa tempat. Tidak jarang saya bertemu dengan kader-kader tua yang
militan, namun kecewa dengan keadaan. Mereka dulu barangkali menikmati betul
sebagai satu-satunya partai penguasa, sementara sekarang sama saja dengan
partai lain yang harus berjuang secara harian, mingguan, bulanan, tahunan dan
puluhan tahun. Partai yang harus mempertahankan dirinya sebagai kekuatan
demokrasi yang besar, bukan pelanjut dari sejumlah kesalahan di masa lalu. 
 
Dari sisi pendanaan, hampir
semua politisi yang saya kenal di Golkar terlihat bekerja secara
sendiri-sendiri dulu, lalu membangun kolektifitas secara bersama-sama. 
Barangkali
inilah masalah terbesar yang dihadapi oleh politisi, yakni semakin besarnya
biaya untuk melakukan kegiatan-kegiatan politik. Bagi politisi yang hanya 
mengandalkan
dukungan tradisional, biasanya bertumpu kepada organisasi primordial yang
dimiliki, termasuk ormas-ormas yang dimasuki. Tetapi itu saja tidak cukup. 
Bagaimana
anda bersaing mendapatkan pemilih, katakan sebanyak 1000 atau 2000 suara untuk
mendapatkan kursi DPRD kabupaten dan kota, sementara di daerah pemilihan anda
harus bersaing sesama politisi dan dengan politisi partai lain?
 
Apalagi, masyarakat sudah
semakin menunjukkan kekuatannya. Politisi yang muncul sebagai calon anggota
legislatif dianggap memiliki cukup uang untuk memajukan dirinya, sehingga
segala jenis permintaan bantuan datang setiap hari. Beruntung saya maju di
Sumatera Barat yang menurut riset Lembaga Survei Indonesia (Mei 2008) 
masyarakatnya
tidak terpengaruh dengan politik uang. Di beberapa daerah memang ada permintaan
yang berlebih kepada politisi, tetapi di sebagian besar daerah sama sekali
hanya membutuhkan kehadiran politisi untuk sekadar berkenalan dan berdiskusi
dengan keras. 
 
Kemampuan politisi mensiasati
daerah pemilihannya sungguh diuji. Ada yang datang menyebarkan spanduk ucapan
selamat melaksanakan Ibadah Puasa atau nanti selamat merayakan Idul Fitri, ada
yang menyebarkan kalender dan stiker, tidak sedikit yang memasang iklan di
media massa, sementara yang lain menunjukkan kekuatan dengan cara dekat dengan
para penyelenggara pemerintahan daerah dalam segala bentuk kegiatan formal. 
 
Kalau saya ditanya tentang
kiat dan strategi yang saya usung, tentu sulit saya ungkapkan secara terbuka. 
Bukan
takut ditiru oleh orang lain, tetapi belum merasa yakin apakah strategi itu
benar-benar tepat. Tetapi intinya adalah saya harus pertama sekali merasakan
hawa di tengah-tengah masyarakat itu sendiri dengan sedikit atau banyak
pancingan. Biasanya saya mengandalkan jaringan pertemanan yang sudah terbentuk,
baik teman-teman sekolah di tingkat dasar, menengah dan universitas, atau
keluarga terdekat saya yang bertempat tinggal di Sumatera Barat, serta tentu
saja jaringan Partai Golkar yang sebetulnya belum sepenuhnya saya kenali dan
yakini bisa mendorong suara untuk saya. Kenapa? Karena masing-masing calon
anggota legislatif juga mengandalkan Partai Golkar. Jadi, terdapat semacam
persaingan internal yang menurut saya sangatlah santun. 
 
Dan ketika di lapangan, saya
harus berani untuk mengambil keputusan untuk mengerjakan apa, dengan alat-alat
sosialisasi yang saya bawa dan anggaran terbatas yang saya punyai. Sudah dua
kali saya “turun” ke lapangan. Pertama selama tiga hari, kedua
selama lima hari. Kedatangan pertama saya membawa uang sebanyak Rp. 5 Juta dan
habis tepat ketika saya harus naik pesawat ke Jakarta. Kedatangan kedua saya
membawa uang sebanyak Rp. 7,5 Juta dan tentu mobil yang disopiri oleh kakak
saya dari Jakarta. Uang itu juga habis ketika saya menginjakkan kaki di bandara
untuk kembali ke Jakarta. 
 
Saya beruntung telah
ditanggung ongkos naik pesawat pulang dan pergi oleh teman baik saya. Berapa 
kalipun
saya pulang-pergi ke daerah pemilihan saya. Seorang teman saya yang mencalonkan
diri di Sumatera Utara dan bertempat tinggal di Jakarta dari partai lain dengan
penuh rasa iri mengatakan: “Wah, gua belum punya sponsor. Padahal, gua
hanya membutuhkan sepuluh kali pulang-pergi ke dapil gua. Itupun gua belum
punya sponsor.” Tentu saya prihatin atas “nasib” teman saya
itu, tetapi sayapun tidak bisa berbuat apa-apa. 
 
Tentu uang yang saya bawa di
luar logistik yang dicetak di Jakarta. Lagi-lagi saya beruntung, karena stiker
dan kartu nama yang saya bawa dicetak oleh saudara saya dengan mengandalkan
printer besar di Jakarta. Bantuan terbesar saya terima dari teman di Gorontalo
yang mencetakkan 5000 stiker di Surabaya. Alasan teman ini sederhana: karena
Gorontalo dan Sumatera Barat memiliki filosofi yang sama, yakni Adat Bersendi
Syara dan Syara Bersendi Kitabullah. Seorang teman lama yang bekerja di luar
Jakarta mengirimkan uang sebesar Rp. 1 Juta untuk dibelikan buku, karena tahu
saya juga membeli buku-buku di Kwitang untuk dibagikan ke sekolah-sekolah. Saya
sungguh terharu atas sambutan kepala sekolahnya, lalu langsung menjadwalkan
buka puasa. Saya tidak datang mengantarkan buku itu, hanya mengantar ke rumah
seorang adik HMI yang saya kenal lewat internet. Dua perempuan HMI inilah yang
datang mengantarkan ke sekolah itu. 
 
Dan setiap kali kembali ke
Jakarta saya harus memikirkan lagi, apakah masih bisa menyisakan uang untuk
kembali lagi ke dapil saya? Semakin lama di dapil, semakin banyak permintaan,
entah spanduk, kaos atau apapun. Tetapi yang paling banyak adalah kehadiran
saya untuk bertatap muka. Pernah malam setelah pukul 12 malam, ketika saya
kelelahan di rumah, datang telepon dengan nada intimidatif: “Saya sudah
edarkan stikermu, tetapi mana wajahmu? Kami menunggumu di sini.” Dengan nada
memelas, saya menjanjikan hari yang lain. Tidak mungkin saya harus mengganti
lagi baju dan celana yang sudah basah, karena untuk sampai di rumah saya harus
melewati sungai yang dalamnya sepaha, tanpa ada jembatan penyeberangan. 
 
Setiap hari saya memastikan
untuk hadir dalam acara-acara “resmi” yang dihadiri oleh lebih dari
50 orang sampai 500 orang. Setiap hari. Lalu, di sela-sela menunggu acara
resmi, saya datangi tempat-tempat yang saya bisa datangi, dari rumah ke rumah,
dengan mengandalkan informasi dari keluarga, teman, partai atau insting saya
semata. Maka, saya menghindari bertemu dua kali dengan orang yang sama dalam
sehari, karena hanya akan berputar-putar dengan persoalan-persoalan yang sama
saja. 
 
Dan anehnya, saya semakin
merindukan untuk kembali dan kembali, bertemu dengan lebih banyak lagi orang,
sebagian besar hanya untuk mengetahui persoalan mereka dan mendiskusikan solusi
yang mungkin paling tepat. Saya semakin melupakan begitu banyak seminar dan
diskusi yang saya pernah hadiri. Beberapa kali saya harus menelepon teman-teman
saya di Jakarta atau di manapun, dari partai apapun dan profesi apapun, untuk
bertanya hal-hal yang saya tidak ketahui. Untunglah saya memiliki database yang
lengkap di otak saya tentang kemampuan-kemampuan spesifik yang saya punyai. 
 
Tentu, saya lelah dan lelah.
Untuk itu, saya memiliki tukang pijit khusus. Namanya Syahrul. Dialah teman
saya. Dia dulu sama-sama satu SMA dengan saya di Jurusan Fisika SMA 2 Pariaman.
Kalau saya ke Padang, dulu, saya suka memanggilkan untuk menemani saya tidur
bersama yang lain, lalu dia dengan kemampuannya bisa memijit saya dan
teman-teman lain. Dia memang menjadi tukang pijit. Pikirannya cerdas,
profesinya juga luar biasa. Sosok Syahrul sering saya ledek sebagai 
“Suwondo”-nya
Gus Dur. Di mata keluarga saya, Syahrul adalah teman saya yang paling tulus dan
ikhlas. Wajahnya bersih, hatinya lebih bersih lagi. Jarang bicara, lebih banyak
melayani. Pendapat Syahrul mungkin sangat tepat untuk menggambarkan saya: “Dulu,
saya selalu berpikir, kau itu tenggelam dengan dirimu, pekerjaanmu, di berbagai
media massa, di berbagai forum, lalu melupakan kampungmu, seperti yang lain. 
Nyatanya
saya terkejut, sebagaimana juga orang lain, atas keputusan yang kau ambil di
usia emasmu, dalam kemapanan yang kau nikmati!” 
 
Cita-cita Syahrul seluhur
dirinya: ingin belajar akupuntur di Jakarta, lalu mengembangkannya di Sumatera
Barat! Beruntung di Jakarta saya juga mempunyai seorang dokter langganan saya,
ahli akupuntur lulusan China dan Korea Selatan. Biasanya, kalau saya
benar-benar kolaps, sakit, apapun penyakitnya (batuk, kolekterol, asam urat
atau perasaan saja tentang itu), saya datang ke dia. Dia akan menaruh
bebeberapa jarum di tubuh saya, lalu setelah itu saya kembali segar. Suatu hari,
saya ingin memperkenalkan Syahrul dengan Dr Tjahyo. Mudah-mudahan mereka bisa
bekerjasama dengan baik. 
 
Apa yang saya lakukan dan
kerjakan, barangkali hanya semata-mata demi sebuah ketenangan batin dalam
menjalankan profesi sebagai seorang politisi. Di hadapan hampir 100 orang di
kampung saya, dalam cahaya temaran lampu surau Lembah Aur, surau masa kecil
saya ketika saya harus tidur di sana (lelaki Minang tang belum menikah pantang
tidur di rumah), saya mengatakan dengan nada terbata: “Denai hanya ingin
pulang, membangun kampung, bersama sanak keluarga. Denai tidak mau kampung ini
hancur, masyarakatnya hancur, ekonominya hancur, karena dunia berubah dan
terus-menerus mencoba menghancurkan kampung dan masyarakatnya. Kalau kali ini
Denai gagal, izinkan denai menjadi petani, menggarap tanah milik keluarga,
bersama Ajo Ir dan lain-lain.” 
 
Hanya “pidato”
saya yang tidak ditepuk-tangani, di tengah tepuk tangan atas pidato-pidato lain
yang begitu indah dan mendirikan bulu roma. Dalam hati, saya menangis atas
kemampuan olah kata yang masih tersisa, di tengah kemiskinan, ketidaktahuan,
dan segala macam persoalan yang melanda orang-orang kampung saya. 
 
Minggu depan, saya mungkin
akan kembali, memenuhi sejumlah janji untuk bertemu muka dengan masyarakat di
kampung saya. Tetapi, saya belum yakin itu kapan. Yang jelas, setelah tanggal
20 September, saya dan istri dan anak naik kendaraan pribadi, lewat jalur
darat, menuju kampung. Istri saya ingin menikmati perjalanan panjang ini lewat
jalur darat, 38 jam perjalanan. Dan tepat pada tanggal 1 Januari 2009 nanti,
seluruh kehidupan kami akan berada di kampung. Saya sudah memutuskan mundur
dari CSIS tanggal 1 Januari itu, juga mundur dari pekerjaan saya sebagai Analis
Senior pada sebuah perusahaan konsultan. 
 
Kembalikan, Kampung
Halamanku!!!
 
Jakarta, 10 September 2008. 
(Belum sempat mandi, setelah
mendarat di Cengkareng pukul 20.30 tadi.) 
 
www.indrapiliang.com  
 
 
 


      
___________________________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke