Dilanjutin lanjutin lagi Cersil 5 Harimau Mudanya............. Part III Kesakitan Panah Asmara
Merasa sapaannya tidak diindahkan oleh sang tabib, Lukman mulai merasa kesal mungkin karena dia sudah lelah sekali jadi emosi tidak bisa dikontrol lagi. Tapi belum sempat dia mengeluarkan kata-kata kasar, dia merasakan punggungnya ditimpuk sesuatu, cepat dia menoleh ke arah datangnya timpukan. Terlihat Datuak Marindiang sedang berdiri menyender pada sebuah pohon besar sambil menyeringai memandang kepada Lukman. Pemuda ini tidak berani mengumbar emosinya kepada teman ayahnya ini karena dia tahu dia akan dapat masalah besar jika dia melakukan hal itu, tapi tetap dia memasang muka cemberut karena kesal sekali. "Kalian ini benar-benar tidak sopan sekali, masak di depan sang penolong, kalian tidak turun dari kuda untuk menyapanya?" Di mana etiket tata krama yang telah diajarkan oleh orang tua kalian?" tegur Datuak Marindiang kepada mereka. Segera mereka menyadari kesalahan mereka, pantas saja sang tabib tidak mau menjawab pertanyaan tadi. Karena dalam adat kesopanan, jika orang berbicara di atas kuda dengan orang yang menginjak tanah maka kedudukan orang yang diatas kuda lebih tinggi derajatnya dari orang yang berdiri di tanah. Sedangkan tabib tersebut boleh dibilang mereka harus menghormatinya karena sudah melepaskan budi kepada mereka, jadi tidak sepantasnya mereka melakukan penyapaan dengan cara seperti itu. Buru-buru semua turun dari kuda dengan wajah memerah malu, terutama Lukman yang saking tergesa-gesanya tadi karena takut sang tabib menghilang lagi melakukan kesalahan seperti itu. Setelah mereka semua turun dari kuda, semuanya merangkap kedua tangan di dada dan sambil membungkukkan badan memberi hormat kepada sang tabib yang masih saja asyik membersihkan wajah dan mulutnya dengan air. "Salam hormat dan kenal kami kepada anda, Dewi Tangan Dingin." Kata Lukman mewakili teman-temannya. Tidak terdengar sahutan apa-apa dari tabib tersebut, seakan-akan dia tidak menyadari kehadiran banyak orang di sekitarnya. Malah anehnya kuda Putih yang tadinya merumput, membalikan badannya menghadap mereka dan memberikan salam dengan menganggukan kepalanya secara anggun sekali ke arah mereka seakan membalas sapaan hormat mereka. Kebalikan dengan sang majikan yang masih asyik membasuh dirinya seakan dia tidak perduli dengan keadaan sekitarnya. Melihat hal ini rombongan Lukman mempunyai perasaan yang campur aduk antara takjub melihat kelakuan sang kuda itu dan kesal melihat tingkah majikannya. "Maafkan kami, tabib, jika kami tidak sopan tadi. Kini kami menyampaikan salam hormat kami kepada tabib dan kami juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada anda karena telah menolong kami selama ini. Perkenankanlah kami memperkenalkan diri kepada anda agar kelak kami tidak disangka sebagai orang yang tidak tahu budi dan terima kasih kepada orang yang telah menolong kami. Kami berjanji kami pasti akan membayar budi besar yang telah anda lepaskan kepada kami, karena kami mempunyai prinsip tidak pernah berhutang apapun kepada siapapun tanpa kami bayar, begitu juga jika ada orang yang berhutang pada kami tidak akan pernah tidak akan kami tagih. Harap anda memakluminya." Kata Malik terdengar tegas karena dia juga mulai merasa tidak nyaman melihat tabib tersebut menyepelekan kehadiran mereka. Terdengar helaan nafas yang keluar dari mulut sang tabib dan dia berbicara kepada kudanya dengan alunan suara yang begitu lembut mendayu,"Bening, aku selalu merasa heran melihat tingkah laku manusia. Selalu merasa ingin dihormati, ingin disanjung dan selalu ingin diingat budinya. Jika melihat ada orang yang tidak mengenal arti ketiga hal tersebut, mereka merasa penasaran selalu ingin tahu untuk mencari pembenaran diri. Manusia itu suka lupa bahwa apapun yang dilakukan di muka bumi ini selalu ada hukum sebab akibat, setiap perbuatan baik pasti ada balasannya dan begitu juga kebalikannya. Kenapa manusia selalu meributkan masalah balas membalas, adalah hal itu bisa menentramkan dan memberi kedamaian dalam jiwa seseorang dengan keterikatan seperti itu ? Jika sekarang aku berbuat baik kepada seseorang bukan berarti aku menuntut orang itu juga harus berbuat kebaikan kepadaku, tapi alangkah indahnya kalau dia melakukan kebaikan yang seperti aku lakukan padanya dibalas dengan memberi kebaikan pula kepada orang lain, sehingga mata rantai dari sebuah kebaikan tidak akan terputus begitu saja ? Tapi pasti timbul pertanyaan, jadi jika aku melakukan kejahatan kepada seseorang, apakah seseorang itu harus melakukan kejahatan juga kepada orang lain ? Nah di sinilah letak kepekaan batiniah dan keindahan seni sebuah hati yang penuh dengan kebajikan. Dari kecil sehingga dewasa kita dididik oleh orang tua dan lingkungan kita untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, jika batin dan hati kita tidak bisa memilah itu semua apakah itu berarti kita gagal menjadi manusia ?" Bersambung.... --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
