Menelusuri Jejak Ulama Inyiak Parabek, Kitab Bermazhab Syafi'i Tapi
Bukan NU 

 

Minggu, 21 September 2008 

 

Nama besar Sumatera Thawalib Parabek sudah dikenal sejak lama. Bukan
saja di Indonesia, tetapi sampai ke luar negeri. Sekolah ini telah
melahirkan tokoh-tokoh ternama, sebut saja Adam Malik (Wakil Presiden
RI), Buya HAMKA (Ketua MUI), Buya Dt. Palimo Kayo (Ketua MUI Sumbar),
Buya Yunan Nasution (DDI), 

KH. Ghafar Ismail (Ulama Pekalongan), A. Kamal SH (mantan Walikota
Bukittinggi), Misbah Malim, LC M.A. (DDI Pusat) dan banyak lagi yang
lainnya. Pelajar Sumatera Thawalib berasal dari berbagai daerah di
Sumatera (Riau, Jambi, Palembang, Medan, Aceh). Mereka datang untuk
mendalami kitab kuning yang menjadi spesialisi dari Inyiak Parabek. 

Khususnya tata cara penetapan hukum berdasarkan Al quran dan hadist
Rasulllah SAW atau yang dikenal dengan istinbat. Dulunya, para ulama
punya spesialisasi ilmu tersendiri. Inyiak Canduang fasih dalam masalah
fiqih, ushul fikih di Parabek, spesialis bahasa di Padangpanjang. Antara
Inyiak Parabek dengan Inyiak Padangpanjang merupakan kawan seperguruan
di Mekah, bersama Syech Ahmad Khatib, urang awak asal Batutaba yang
menjadi Imam besar di Masjidil Haram. 

Ketika kembali ke Minangkabau, Inyiak Parabek mendirikan Sumatera
Thawalib di Parabek, Inyiak Karim Amarullah (orangtua Buya Hamka)
mendirikan Thawalib di Padangpanjang. Berdirinya Madrasah tahun 1910
dimulai dengan halaqah di Parabek.  Lama pendidikannya variatif bahkan
ada yang mencapai 11 tahun. Namun sejak tahun 1980 sampai sekarang
menjadi 6 tahun. Bedanya, sekarang ada pendidikan Takhashus. Jadi murid
Parabek yang telah tamat tapi merasa belum puas dengan ilmunya bisa
menambah pendidikan non formal. 

Ada yang menarik dari Madrasah Thawalib Parabek. Menurut Wakil Pimpinan
Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek, Buya Deswandi, sekalipun
Thawalib lebih banyak menggunakan kitab bermazhab Syafei tetapi
posisinya netral (tidak Muhammadiyah, bukan pula NU). Syekh Ibrahim Musa
selalu menekankan prinsip "pelajari semua, amalkan satu". Ciri khas
lainnya lebih menitikberatkan pada ilmu alat (Nahu, Sharaf, ushul fiqh,
balaghah). Jadi mengkaji agama dengan memakai alat. 

"Orang sekarang terlalu berani menafsirkan Alquran. Seringkali hanya
berbekal sedikit bahasa Arab lantas menafsirkan Alquran. Padahal, untuk
menterjemahkan Alquran harus menguasai bahasa, sastra dan ilmu balaghah.
Kalau tidak demikian, bisa sesat. Dulunya sangat ditekankan, selesai
dulu ilmu alat, baru bisa berfatwa," jelas Deswandi. Untuk menjaga
kelanjutan perguruan, Sumatera Thawalib menerapkan disiplin ketat. Semua
guru Parabek adalah guru tetap dan dilarang melamar menjadi PNS.
Pokoknya tidak boleh ada guru sambilan. Ini sangat prinsipil karena
orang memasukkan anaknya ke Parabek untuk sebuah pencapaian masa depan
yang lebih baik.

  Kampus Perguruan Thawalib Parabek yang didirikan Inyiak Parabek tahun
1910 tampak megah. 

Agar guru bertahan, pihak perguruan memberikan fasilitas dan sarana yang
memadai.  Kini perguruan yang sudah berumur ratusan tahun itu memiliki
570 murid yang berasal dari Malaysia dan seluruh Sumatera. 

Sekolah ini memiliki 29 orang guru tetap, 3 orang Syekh Madrasah, dan 12
orang karyawan. Bahkan saat ini, Sumatera Thawalib Parabek juga
mempunyai tenaga pengajar dari Mesir, yakni DR. Hamdi Sulaiman, yang
dikirim langsung dari Mesir oleh Al Azhar University.

Dirikimnya tenaga Mesir itu,  menurut Buya Deswandi, karena mahasiswa
dari Sumatera Thawalib Parabek yang kuliah di Al Azhar University
memiliki prestasi sangat bagus. Mereka mampu mengalahkan mahasiswa
lainnya yang berasal beberapa negara termasuk dari Arab dan Yaman.
Padahal dari segi penguasaan bahasa, jelas Arab dan Yaman lebih
menonjol. Namun mahasiswa dari Parabek itu mampu menjadi yang terbaik. 

Sebagai pendiri Sumatera Thawalib Parabek dan sekalipun pernah
menegaskan tanpa aliran politik Syekh Ibrahim Musa pernah berkarir
anggota Dewan Konstituante RI tahun 1956. Di luar itu sebagai Ketua
Majelis Fatwa dan Syura Sumatera Tengah,, anggota Dewan Kurator
Universitas Andalas, Anggota Majelis Islam Tinggi di Bukittinggi 1947,
Pengurus Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) Sumatera Barat, Dosen
Perguruan Tinggi Darul Hikmah dan lainnya. 

Inyiak Parabek boleh saja meninggalkan Thawalib, namun Sumatera Thawalib
Parabek tetap menjadi pusat pendidikan unggulan. Konsen untuk
menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan integratif antara ilmu
agama dan umum, berkualitas dan mampu bersaing. Tak kalah penting
lulusan yang memiliki jiwa kepemimpinan yang agamis. (*)

http://www.padangekspres.co.id/content/view/18935/1/

 



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<inline: image001.jpg>>

Kirim email ke