Orang Kubu Malangun ke Pd.Panjang
Sabtu, 20 September 2008 PADANG PANJANG - Kota Padang Panjang kedatangan tamu tak diundang, Kamis (18/9) sore 25 orang dari suku anak (kubu-red) asal Provinsi Jambi. Hingga Jumat (19/9) sore, untuk sementara mereka diinapkan oleh Pol PP setempat di gedung lama RSUD Padang Panjang di Kelurahan Guguk Malintang. "Untuk sementara mereka kita inapkan di sini dulu. Rencananya, mereka segera akan kita pulangkan ke kampung halaman mereka di Bukit Dua Belas, Kabupaten Bangko, Jambi, " kata Kasat Pol PP, Sukma, S.Sos yang dikonfirmasi Singgalang kemarin. Meski berasal dari suku anak dalam, sebagian mereka sudah bisa berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia berlogat Jambi. Lantaran itu pula, Singgalang bisa mengorek banyak keterangan dari mereka. Mat Saleh dan Mustofa yang disebut sebagai pimpinan rombongan menyebutkan, kedatangan mereka ke Padang Panjang merupakan bagian dari tradisi melangun, yaitu menghilangkan rasa sedih akibat meninggalnya pimpinan adat mereka. Mereka mulai meninggalkan kampung halaman sekitar 12 hari lalu. Menurut tradisi, melangun sebenarnya pergi ke tempat yang jauh bukan hanya karena kepala suku mereka meninggal. Meninggalnya anggota keluarga yang mereka sayangi juga dikuti dengan melangun. Alasan meninggal tempat pemukiman, karena dengan meninggalnya keluarga mereka dianggap sial. Mereka melangun dan bermukim di tempat yang baru dan mereka akan kembali melangun jika kemudian ada diantara keluarga mereka yang meninggal dan begitulah seterusnya. Data Singgalang di Taman Nasional Bukit Duabelas terdapat sekitar 1.500 jiwa suku anak dalam. Rombongan melangun yang 'nyasar' ke Padang Panjang ini, sebelumnya dengan berjalan kaki, rombongan yang juga terdiri dari sejumlah anak-anak dan balita itu menuju arah Sumbar. Sebelum ke Padang Panjang, mereka sempat singgah di Pagaruyung, Batusangkar. "Kami sengaja malangun ke sini, karena nenek moyang kami berasal dari Pagaruyung," jelas Mat Saleh. Menurut Mustofa, di kalangan suku anak dalam malangun dilakukan selama tiga tahun. Selama itu pula, sesuai tradisi suku anak dalam, mereka akan meninggalkan kampung halamannya untuk kemudian berkelana ke berbagai daerah lain. "Namun kini tradisi itu hanya kami jalankan selama tiga bulan saja. Kalau Pemda Padang Panjang berniat memulangkan kami, kami akan ikuti dan berterima kasih telah membantu kami," jelas Mustofa. Pantauan Singgalang warga suku anak dalam yang 'nyasar' ke Padang membawa perbekalan sedanya. Anak-anak mereka dibiarkan bermain tanpa pakaian, tetapi orang dewasa berpakaian lengkap. Menurut pengakuan sejumlah suku anak dalam kepada Singgalang di tempat terpisah beberapa tahun silam, mereka sesungguhnya anak kemanakan orang Minangkabau juga. Mereka pergi ke pedalaman di zaman Belanda. Kalangan Pagaruyung juga mengakui hal itu. oJasriman http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?option=com_content&task=view &id=3382&Itemid=287 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
