Dari Jantung Feodalisme
 
 
 
 Adalah Feodalisme sebagai satu-satunya hantu yang masih berdiri kokoh
 
 tanpa melalui otokritik atau revisi gagasan dengan menambahkan atribut
 
 neo- di depan namanya. Kita tahu bahwa Liberalisme berubah menjadi
 
 Neoliberalisme, Kapitalisme menjadi Neokapitalisme, Marxisme menjadi
 
 Neomarxisme, hingga Kolonialisme menjadi Neokolonialisme. Yang
 
 terakhir ini selalu diklaim sebagai bentuk penindasan yang paling
 
 kejam dan mengerikan, tanpa kemudian menyadari bahwa Feodalisme adalah
 
 gagasan sekaligus struktur kekuasaan penindas sejati yang telah
 
 mengangkangi ibu pertiwi lebih lama daripada Kolonialisme.
 
 
 
 Yang lebih buruk adalah kita, sebagai orang Minang maupun suku bangsa
 
 non-Jawa lainnya, selalu gagal di dalam mendefinisikan siapa musuh
 
 sebenarnya. Sudah saatnya sentimen Jawa versus non-Jawa dihapus dari
 
 peta kesadaran setiap orang termasuk orang Jawa sendiri, karena hal
 
 tersebut hanya melanggengkan Feodalisme, sehingga ia tidak pernah
 
 mengalami kebangkrutan politik maupun budaya. Entitas Jawa harus
 
 selalu dipandang dalam kerangka fragmentasi yang mendalam, karena
 
 berkait erat dengan bagaimana Feodalisme berlindung di balik dikotomi
 
 Jawa versus non-Jawa. Soliditas Jawa adalah tameng terbaik bagi
 
 Feodalisme yang telah teruji selama ratusan tahun.
 
 
 
 Fragmentasi tersebut eksis dan selalu menjadi problematis di internal
 
 suku bangsa Jawa, akan tetapi menjadi lenyap ditelan udara ketika dan
 
 hanya ketika berhadapan dengan sentimen anti-Jawa. Kita tahu bagaimana
 
 orang Solo ketika diminta pendapatnya mengenai orang Yogya dan begitu
 
 pula sebaliknya bagaimana orang Yogya memandang orang Solo, lengkap
 
 dengan kedua kerajaan yang memiliki sejarah konflik yang cukup
 
 panjang. Kita juga tahu bagaimana orang Solo maupun orang Yogya
 
 memandang orang Jawa Timur. Inilah fragmentasi yang harus dicermati
 
 oleh siapa pun yang berada di luar suku bangsa Jawa.
 
 
 
 Sentimen tersebut merupakan taktik politik dan budaya yang
 
 diselenggarakan oleh agen Feodalisme, sehingga konsentrasi kawula
 
 terpecah di dalam mencermati problem sosial di sekelilingnya. Tuyul
 
 misalnya, dijadikan senjata sosial yang ampuh guna menekan mobilitas
 
 vertikal kawula secara ekonomi. Sehingga kawula menjadi takut dicap
 
 memelihara tuyul jika dan hanya jika mengalami peningkatan kemampuan
 
 secara ekonomi. Padahal, sejatinya hal tersebut adalah taktik budaya
 
 guna melanggengkan status quo para agen Feodalisme. Nrimo dijadikan
 
 komoditas "filosofis" kejawaan oleh para agen Feodalisme. Namun,
 
 Feodalisme bukan tanpa kelemahan.
 
 
 
 Persoalan kepemimpinan adalah bentuk pengandaian yang sangat
 
 menentukan akseptibilitas publik (tidak hanya kawula). Tingkat
 
 akseptibilitas publik terhadap Feodalisme akan meninggi ketika
 
 struktur politik, sosial, serta kebudayaan dicekal oleh figur yang
 
 populis. Populis tentu tidak sama dengan populer. HB X adalah sosok
 
 yang populer karena ia menjadi sultan, akan tetapi ia bukan seorang
 
 yang populis terutama jika dipandang dari kebijakan dan/atau titahnya
 
 mengenai Sultan Ground, Ambarukmo, hingga proyek penambangan pasir di
 
 Kulonprogo. Akan tetapi hal tersebut belum cukup untuk membangkrutkan
 
 Feodalisme. Revolusi Prancis tidak akan pernah terjadi di jantung
 
 Feodalisme. Tepat di sini, adagium bahwa "bahasa menunjukkan bangsa"
 
 menunjukkan kebenaran tesisnya.
 
 
 
 Aksara Jawa menggunakan "pangku" sebagai tanda untuk mematikan
 
 kalimat. Hal tersebut merupakan simbolisasi atas bagaimana seharusnya
 
 orang Jawa untuk tidak bersikap. Aksara Jawa mati "dipangku", orang
 
 Jawa mati juga "dipangku". "Pangku" di sini merupakan proses
 
 meninggikan di dalam pengertian aksara atau melambungkan di dalam
 
 pemahaman kemanusiaan. Hal yang terakhir ini dibuktikan secara
 
 terbalik dengan kebiasaan orang Jawa untuk semakin tabah, kuat,
 
 mbatin, serta nrimo ketika direndahkan. Feodalisme turut melatih
 
 pribadi kawula secara sistematis untuk merendah dan direndahkan.
 
 Sehingga menjadi sia-sia ketika orang non-Jawa kerapkali merendahkan
 
 orang Jawa dan Feodalisme.
 
 
 
 Strategi terbaik adalah dengan "meninggikan" atau "melambungkan" asa
 
 orang Jawa. Orang Jawa seringkali meninggikan orang lain baik sesama
 
 orang Jawa maupun pada orang non-Jawa, karena hal tersebut
 
 dipersepsikan sebagai taktik di dalam pergaulan agar lawan bicara
 
 menjadi lengah. Hal tersebut juga dibuktikan secara terbalik dengan
 
 penolakan secara massif dari para agen Feodalisme terhadap ambisi
 
 politis HB X untuk tidak menjadi gubernur kembali agar dapat maju di
 
 dalam Pemilu 2009 sebagai calon presiden. Kawula sadar bahwa
 
 akselerasi politik secara vertikal tersebut merupakan manifestasi dari
 
 proses "melambungkan" HB X yang dilambungkan oleh partai politik serta
 
 kekuatan lainnya, sehingga berakibat fatal pada struktur dan
 
 kebudayaan feodal di jantungnya sendiri. Dalam konteks ini, siapa pun
 
 yang jengah dengan Feodalisme dapat mengambil beberapa langkah berikut;
 
 1. Mendukung setiap langkah ambisius HB X sebatas hanya pada fase
 
 pencalonan diri sebagai capres dan penolakan untuk menjadi gubernur
 
 kembali; akan tetapi keduanya dilakukan dengan kesadaran untuk
 
 "melambungkan" pucuk pimpinan tertinggi Feodalisme hingga kemudian
 
 mencapai proses "pemangkuan". HB X bukan HB IX yang populis dan insaf
 
 dengan hal tersebut, sehingga tidak muncul penolakan yang signifikan
 
 ketika menjadi wakil presiden beberapa puluh tahun yang lalu.
 
 Pencalonan tersebut merupakan tahap akhir dari proses pemangkuan
 
 karena yang bersangkutan tidak akan pernah terpilih menjadi presiden.
 
 2. Memasok kesadaran progresif suku bangsa non-Jawa yang secara
 
 geo-politik berada di front, yaitu suku bangsa Sunda. Suku bangsa
 
 Sunda mengalami pelemahan secara sistemik sejak beberapa abad yang
 
 lalu. Dalam batas ini, taktik politik-simbolik yang paling mungkin
 
 untuk dilakukan adalah mengampanyekan perubahan nama Propinsi Jawa
 
 Barat karena tidak sesuai dengan identitas mereka. Alternatif pilihan
 
 nama baru dapat berupa Propinsi Sunda atau Propinsi Parahyangan yang
 
 lebih sesuai dengan identitas kesukuan.
 
 3. Meniadakan dikotomi Jawa versus non-Jawa karena hal tersebut tidak
 
 memadai jika dikaitkan dengan fragmentasi di internal suku bangsa Jawa
 
 seperti yang telah ditunjukkan sebelumnya. Peniadaan tersebut harus
 
 diiringi dengan mengarahkan pisau analisis pada Feodalisme sebagai ide
 
 serta struktur kebudayaan yang opresif yang menjadi musuh bersama baik
 
 bagi orang non-Jawa maupun orang Jawa sendiri.
 
 
 
 Demikian ulasan singkat ini dibuat, semoga tidak dipahami sebagai
 
 bentuk provokasi, akan tetapi lebih sebagai upaya awal untuk
 
 mengundang diskusi slebih lanjut yang hangat dan konstruktif dalam
 
 kerangka menggerus Feodalisme yang selalu menjerat upaya perbaikan bangsa.

=======================================
Dikutip dari artikel seorang teman yang sangat mencintai minang...
=======================================
ttd
Anggun Gunawan (23M-Jogja)



      
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke