Assalamua'laikum WR.WB.
 
Dunsanak di palanta RN yang dumuliakan Allah SWT, ambo dapek amanah dari 
dunsanak kito dr.KSUHEIMI
nan sadang ittikaf di Masjidil Haram Makkah Al-Mukaromah untuak maedit dan 
mampostingkan pangalaman-pangalaman beliau
baru-baru di Makkah. mohon maaf kalau ada yang salah ketik.
Semoga bermamfaat.
 
Wassalam
Ridwan M Sirin
Jeddah
--------------------------------------------------------------------------------------
 
BUKA BERSAMA PUTRI DAN PANGERAN RAJA BRUNEI DI MASJIDIL HARAM
Oleh: K Suheimi
 
Saya tak menyangka dapat berbuka bersama dengan putra putrid Raja Brunei 
Darussalam
Justru berbuka bukan disembarang tempat, tetapi ditempat yang dimuliakan Allah 
SWT.
Didepan Ka’bah Baitullah Masjidil Haram.
 
Seusai tawaf sunat ba’da sholat zhuhur, saya dan isteri menunaikan tawaf sunat 
dalam teriknya matahari dengan temperature 47C kami larut dalam rombongan hamba 
NYA yang basah bibirnya memanjatkan do’a setelah mengelilingi ka’bah sampai 
tujuh kali kami sampai di multazam didepan pintu ka’bah. airmata saya jatuh 
berderai dan isteri saya terisak tangisnya tertahan digenggamnya jemari saya, 
kami larut dalam do’a.
 
Dada saya berguncang jantung saya bergetar :ENGKAU perkenankan hamba Mu yang 
daif ini berkunjung kepintu rumah MU ini Allah, aku ketuk pintu rumah MU ini 
dengan linangan airmata kupanjatkan do’a dan kumohon ampunan MU ujung semua 
do’a saya tutup “YAallah berilah hamba ini setiap detik waktu menjadi 
detik-detik yang bermamfaat untukku dan untuk orang lain.
 
Airmata ini pun terurai kembali sewaktu di maqam Ibrahim kami sholat. Entah 
kenapa hati tidak bisa ditahan dan airmata berlinang mengantung dikelopak mata 
berbaur dengan keringat yang menetes dari kening. Hijir Ismail dapat kami 
masuki, saya tertunduk ingat perjuangannya dan ketabahannya Ismail.
“ Laksanakanlah apa yang diperintah ALLAH itu, Ayah..bisik Ismail kepada 
ayahnya setelah beberapa hari dia menimbang permintaan ayahnya untuk 
menyembelih Ismail seperti yang diperintahkan Allah.
 
Dialah yang menguatkan hati ayahnya sewaktu digoda iblis, dilemparinya iblis 
Jumratul Ula, Wustha dan Aqaba. Keikhlasan Ismail lah yang mendorong kesuksesan 
ayahnya: keikhlasannya berkorban menyerahkan lehernya dengan pasrah.
Ismail hanya mohon 3hal dari ayahnya sebelum pengurbanan itu terlaksana.
 
Ayahku, aku mohon 3 hal padamu “Katakanlah anakku kata Ibrahim sambil berbisik
1)      Tolong ayah asah pisau itu setajam tajamnya agar peristiwa penyemblihan 
itu berlangsung dengan cepat
2)      Tolong ayah ikat kaki dan tanganku agar ayah tidak melihat aku 
menggelepar sewaktu pengurbanan itu.
3)      Selesai penyembelihan itu tentu bajuku ini berlumuran darah, tolong 
berikan baju yang berlumuran darah ini kepada ibuku, agar ibu tahu anaknya 
telah berbakti kepada orang tuanya.
 
Baik anakku kata Ibrahim, sambil menggenggam jemari dan membimbing anaknya.
Namun sebagai sebagai ayah, ternyata Ibrahim tidak tega. Sewaktu pisau yang 
tajam itu menempel dileher anaknya, Ibrahim melengos..saat itulah ALLAH 
mengganti Ismail dengan kibas. Cukup Ibrahim..pengorbananmu diterima “bukan 
darahnya bukan dagingnya dan bukan bulunya yang sampai kepada Allah tetapi 
adalah nilai Taqwanya nabi Ismail yang membantu ayahnya Ibrahim mendirikan 
Ka’bah .
Bukan hanya itu dikalangkannya lehernya dan dibiarkannya dirinya yang akan 
dikorbankan.
 
Peristiwa itu membayang lagi, makanya dada ini bergoncang lagi ketika akan 
sholat di hijir Ismail dan airmatapun mengalir saya terisak menahan sendu.
Saputangan basah oleh airmata dan bajupun basah oleh keringat, baru terasa 
bahwa matahari sungguh terik. Kami mencari perlindungan dan tempat yang dingin 
saya antar isteri ke tempat perempuan dan saya mencari-cari luangan lain untuk 
tempat duduk dan melepas lelah.
 
Saya terhampar kesebuah tempat yang ada Al Qur’an dan justru Qur’an terjemahan 
bahasa Indonesia yang dicetak dan diwakafkan oleh almarhum Raja Fahd dari 
percetakan Mushaf Al Karim Malik Fahd di Madinah Al Munawarah. Sungguh 
berkualitas dengan kertas yang sangat bagus dengan tulisan yang sangat jelas. 
Kita tak akan bisa mencari Qur’an ini di pasar-pasar.
Asyik saya membacanya karena bagus sekali bacaan dan sangat dibutuhkan, 
sehingga tanpa saya sadari disekililing saya banyak orang berpakaian melayu.
Ternyata orang-orang disekitar tempat itu dipindahkan oleh petugas keamanan 
mesjid.
Baru saya tahu ketika semua berdiri tapi petugas disana mengatakan kalau bapak 
mau duduk silahkan nggak apa-apa mereka tak mau mengganggu orang yang sedang 
membaca Alqur’an.
Saya dibiarkan saja tetap duduk disitu tidak disuruhnya hengkang dari sana.
 
Masuklah putri dan pangeran beserta rombongan. Ketika semua duduk saya diapit 
oleh yang tertua disebelah kiri saya pak Jakfaruddin ketua rombongan dari 
Kerajaan Brunei Darussalam dan disebelah kanan saya pak Jabaruddin duta besar 
Brunei Darussalam di Saudi Arabia.
Kedua beliau ini baik dan ramah sambil berkata “Brunei itu makmur dan banyak 
rezeki karena penduduknya menjalankan agama dengan baik”
Memang saya saksikan raja mengirim anak-anaknya dibulan Ramadhan ini untuk 
mendalami dan mengamalkan syariat Islam.
 
Benar kata saya dalam hati, bila hamba NYA menjalankan perintah NYA dengan 
benar ALLAH akan datangkan rezeki dari tempat yang tidak diduga-duga.
Saya perhatikan semua anak raja itu sederhana sekali, namun kulitnya bersih 
seperti orang Indonesia. Saya tetap saya asyik membaca AlQur’an karena inilah 
waktu yang saya yang terbaik di Masjidil Haram untuk memahami. Detik-detik 
sebelum berbuka puasa saya dengar suara halus dibelakang tabir mengucapkan 
“Assalamua’laikum” kali yang kedua baru bisa saya jawab “Alaikumsalam” pak ini 
perbukaan silahkan dimakan katanya.
 
Betapa terkejutnya saya, putri raja yang peduli dengan lingkungan. Saya terima 
pemberiannya sambil mengucapkan terima kasih, rupanya ada rezeki saya ditangan 
sang putri. Dengan menyebut nama NYA dan bersyukur “ALLAHUMMA LAKASHAUMTU WA 
BIKA IMANTU WA ALA RIZKIKA AFTARTU” kue yang saya makan hari itu sangat 
lezatnya. Terimakasih ya ALLAH terima kasih sang putri saya nikmati penganan 
itu dan saya bagi-bagi dan setengahnya saya bungkus saya berikan untuk isteri 
saya. Rupanya ada rezeki kita ditangan sang putri.
 
Ketika mereka meninggalkan tempat saya, saya sampaikan hormat dan terima kasih, 
dibalasnya dengan senyum, senyum yang ikhlas, senyumnya Masjidil Haram.
Terima kasih raja Brunei, anda telah berikan contoh dan suri tauladan yang 
sangat baik.
Izinkan saya saya untuk mencontoh bahwa mendidik anak kirim mereka kesini ke 
masjidil haram.
Itulah saat saya merasa lapang dan bahagia sekali
Biasanya sholat di Masjidil Haram berdesakan dan berimpit2an. Baru kali ini 
saya merasa lega dan nyaman sekali didekat pak Jabaruddin. Terima kasih ya 
Allah terima kasih sang putri raja.
 
Masjidil Haram 23 September 2008.


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke