Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu,

Terima kasih sekali kita ucapkan kepada Angku Dr. Suheimi dengan 
laporan bersambung pengalaman beliau selama di Masjidl Haram. 
Banyakpelajaran yang dapat kita ambil, banyak hal yang dapat kita 
bayangkan, apa lagi bagi kita yang pernah ke sana. Laporan beliau 
saya rasakan dan bayangkan bahwa saya dekat bersama di samping 
beliau.

Sedikit catatan saya kalau-kalau Angku Dr. Suheimi agak terpesona 
dan tergugah dengan artikata "haram" dengan kutipan dari beliau:

> "Jadi yang saya saksikan di Masjidl Haram ini yang ada kata 
haramnya justru banyak bolehnya."

Ada beberapa arti kata "haram", namun yang sangat berlawanan 
adalah "haram" yang berarti "suci" dengan Masjidl Haram itu, berbeda 
atau kontras dengan "haram" (terlarang, tidak boleh) yang biasa kita 
dengar seperti tidak boleh makan babi misalnya. 

Sekian sekedar catatan saya. Saya kira Angku Ahmad Ridha dan ahli-
ahli bahasa Arab kita di Lapau dapat menambahkan perubahan-perubahan 
bentuk dan arti kata "haram" itu dalam tatabahasa Arab.

Kita ucapkan selamat kepada Angku Dr. Suheimi Suami Isteri yang 
sedang beribadah di tempat Suci dan sempat kembali dengan selamat 
menambahkan catatan pandangan mata beliau selama di sana.

Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif

--- In [EMAIL PROTECTED], ridwan m sirin <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> 
> 
> TOLERANSI MASJIDIL HARAM
> Oleh: KSuheimi
>  
> Hari Jum'at jam.10.00 orang-orang dianjurkan untuk tidak masuk 
lagi ke Masjidil Haram karena didalam sudah penuh sesak tak ada 
tempat lagi.
> Terpaksa orang sholat di hotel, atau diemperan toko dan di jalan-
jalan.
> Ramainya Masjidil Haram hari Jum'at bertepatan dengan Jum'at 
terakhir dibulan puasa ini, Jum'at 27 Ramadhan, maka semua orang 
berhimpun dan berduyun-duyun kesini dan sebagian meyakini nanti 
malam adalah malam Lailatul Qadar.
>  
> Saya membimbing isteri, saya mencari tempat.
> Kami pasang niat dan pasang do'a " Mohon diberi kemudahan dan 
kelapangan di Masjidil Haram ini"
> Do'a itu dikabulkan "Allahu/ya Allah..luar biasa ramainya, namun 
walau seramai itu toleransinya sangat tinggi.
> Dikampung saya pantangan betul kalau kepala ini dipegang dan 
ditekan orang lain, di Masjidil Hara mini dengan rela dan ikhlas 
membiarkan kepala kita dipegang sebagai tanda keakraban dan kasih 
saying.
>  
>  
> Beberapa kali kepala saya ditekan dan beberapa kali dipegang-
pegang saya ikhlas dan membiarkan saja kepala dilangkahi dan sujud 
mengenai tumit orang itu hal biasa.
> Karena ramainya dan berselisih jalan dengan kaki manusia laki-laki 
dan perempuan berbaur iu hal biasa dan wudhuknya tak diulang.
> Perempuan sholat dekat laki-laki itupun hal biasa bahkan perempuan 
masuk melangkah berjalan ketika semua khusu' sholat berjama'ah 
itupun biasa, imam sholat dilantai satu dan makmum banyak yang 
sholatnya didepan didekat Ka'bah itupun hal biasa.
>  
> Orang Marokko sholatnya tangan dilepas saja, orang Aljazair lain 
lagi posisi tangannya bermacam ragam dan berjenis-jenis itupun biasa.
> Perbedaan dalam kesatuan, perbedaan tak menimbulkan pertentangan 
dan percekcokkan.
> Perbedaan adalah hal biasa dan dapat diterima dengan baik.
> Menghadap sholatnya ada yang ketimur, kebarat, utara dan selatan. 
Biarlah berbeda tapi tujuannya tetap satu yaitu menghadap Ka'bah, 
berbeda untuk mencapai satu tujuan…hanya menyembah Allah, mengabdi 
kepada NYA saja.
>  
> Walau kepala ditundukkan ke Ka'bah namun yang disembah adalah 
Allah yang menjadikan Ka'bah itu, makin kepusat makin toleransi, 
makin sabar, dan makin toleran dan makin mau menerima, setiap orang 
berusaha menolong orang lain.
> Apa yang dimilikinya dibagi-bagikannya.
> Tiba-tiba saya disuguhi Yoghurt Arab yang enak oleh wanita Arab, 
kadang saya ditawarkan susu kambing, buah korma dll. Kalau orang 
Afrika kami sering disuguhi teh yang lezat dan yang jadi rebutan 
adalah korma muda manis asam dan berair enak yang disebut korma 
Rutab.
>  
> Rasa bersama, buka bersama di Masjidil Haram ini rezeki dijamin 
kata teman saya orang Brunei. Ada saja orang memberi rezeki dan ada 
rezeki kita ditangan orang padahal tak kenal nama, tak kenal bangsa 
tapi persahabat terjalin akrab.
> Seperti duduk saat ini "Battery Low" saya pasang charger ditonggak 
mesjid kemudian beriringan berganti-ganti saja yang datang minta 
tolong, saya biarkan saja battery ini low karena ditempat yang jauh 
dirantau orang rasa ingin menolong, membantu seiya sekata saling 
memudahkan dan saling memaafkan terbina dengan baik.
>  
> Tapi nun jauh disana, dikampung kita kadang-kadang sampai tak 
bertegur sapa, kadang saling menafikan dan saling mengejek dan 
saling menghina, tidak ikhlas dalam menolong.
> Pinggang saya pegal dan sakit karena terlama duduk dan terlalu 
lama berdiri. Saya ambil minyak hitam dan minta tolong pijitkan pada 
seorang teman dari Palestina, yang enak urutannya. Sakit dan pegal 
saya jadi berkurang.
>  
> Jadi yang saya saksikan di Masjidil Haram ini yang ada kata 
haramnya justru banyak bolehnya.
> Saya saksikan banyak ma'mum yang sedang sholat membuka Al-Qur'an 
menyimak surat yang dibaca imam, ada juga yang ketika sholat dia 
berjalan ketempat yang kosong atau sedang sholat disuruh pindah oleh 
petugas.
> Hari ini jam menunjukkkan pkl.14.30 banyak mereka keletihan dan 
bibirnya rengkah karena teriknya matahari dan panasnya dibulan 
Ramadhan ini.
> Memang Ramadhan itu artinya panas atau membakar. Dalam keletihan 
karena tiap malam mendirikan qiamul lail sampai jam 03 pagi, pulang 
makan sahur kemudian sebelum azan shubuh sudah dimesjid lagi.
>  
> Maka banyak yang saya lihat sekarang mereka terkapar tidur 
berdempet-dempetan, bertumpuk-tumpuk yang saya ingin memfotonya tapi 
sayang tustelnya tidak boleh dibawa masuk mesjid.
> Saya beruntung dalam suasana begini bisa menulis laporan pandangan 
mata di Masjidil Haram dan bisa baca Al-Qur'an, memang saya jarang 
saya punya kesempatan sebanyak di Masjidil Haram.
> Biasanya kehidupan saya selalu dipenuhi untuk memenuhi kebutuhan 
hidup didunia. Disini di Masjidil Haram hati merasa tenang, perasaan 
tenteram dan pikiran damai ada keredhaan, keikhlasan dan ada 
kepolosan dengan mudah mengakui kesalahan dan dosa yang diperbuat, 
setiap kali saya melihat ketinggian budi dan kebaikan akhlak di 
Masjidil Haram ini saya merasa tiba-tiba menjadi kecil karena mereka 
punya pribadi dan ilmu yang jauh melebihi kita.
> Saya malu dan berusaha untuk meniru dan meneladani orang disini 
disaat dia sabar, terinjak sabar, terjepit sabar apalagi ketika 
makan dan minumnya diambil orang dia tetap menjadi sabar.
>  
> Semoga pengalaman umrah ini menjadikan saya mendapat umrah yang 
mabrur.
>  
> Masjidil Haram selesai sholat Jum'at 26 September 2008.   



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke