Assalammualaikum WR WB bapak Saaf yth. Agak aneh juga membaca analisis bapak
tentang adat minang yang di rancang untuk petani. Sementara orang mengenal
minang sebagai pedagang. Sebenarnya permasalahannya menurut hanifah adalah
selama ini bapak tidak pernah merakyat. Kalaupun ikut berminang minang tetap
saja pada kelompok elit minang. Buktinya gelar bapak tidak pernah di pakaikan.
Kelihatan kadang bapak gengsi dengam gelar tersebut yang secara ekonomi tidak
punya nilai jual. RN adalah pengalaman bapak bertemu dg warga minang dari
berbagai tingkat pendidikan dan tingkat penghasilan dimanapun berada.
Alhamdulillah banyak ilmx dan pengalaman yang dapat bapak petik di RN. yang
jelas BUDAYA MINANG sangat indah. Maaf kalau tidak berkenan. Lagi hujan di
Bengkulu. Wass. Hanifah
Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
> Sekedar mengisi kekosongan karena langang -nya RN dalam hari-hari Lebaran
> ini, izinkan saya berbagi pengalaman dengan para sanak sekalian.
> Kali ini yang ingin saya angkat adalah topik memanfaatkan teknologi masa
> kini untuk mempersatukan orang Minang. Untuk lengkapnya lihatlah coretan saya
> di bawah ini.
>
> Wassalam, Saafroedin Bahar
> (L, masuk 72 th, Jakarta)
> Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED] ;
> [EMAIL PROTECTED]
> Jika kita mempelajari sejarah Minangkabau, kita akan sadar bahwa sistem
> kekerabatan Minangkabau yang asli – yang berangkat dari buah paruik- kaum –
> suku- nagari -- pada dasarnya dirancang untuk suatu masyarakat petani ukuran
> kecil. Selama masih bergerak dalam bidang pertanian, dan masih dalam ukuran
> kecil, sistem tersebut berjalan dengan baik.
> Masalah baru timbul jika masyarakat Minangkabau tersebut tumbuh dan
> berkembang, bukan hanya hidup dari pertanian tapi juga dalam bidang-bidang
> lainnya; dan bukan lagi berukuran kecil, tetapi sudah berukuran lebih besar
> dan lebih luas. Pada dasarnya Minangkabau tidak mengenal struktur sosial di
> atas nagari. Struktur Kerajaan Pagaruyung jelas merupakan replika dari
> Kerajaan Mojopahit, yang bersumber pada kontak dengan budaya Jawa setelah
> Ekspedisi Pamalayu, 1275.
> Demikianlah, masalah sosial Minangkabau mulai timbul akut sekitar abad ke
> 16, sewaktu bumi Minangkabau bukan saja memproduksi berbagai hasil bumi untuk
> keperluan perdagangan luar negeri, tetapi juga merupakan bahan tambang besi
> dan emas, yang dijual ke mancanegara. Buku Christine Dobbin berjudul ‘Gejolak
> Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Paderi’ – yang Insya Allah akan kita
> bedah pada tanggal 18 Oktober 2008 di Padang dan tanggal 6 November 2008 di
> Jakarta – menjelaskan hal itu dengan jernih sekali. Prof Bernard Schrieke
> mencatat terjadinya perubahan sosial yang hebat di Sumatera Barat setelah
> dibangunnya jaringan jalan kereta api dari Padang ke Payakumbuh, Padang –
> Naras, dan Padang-Sawahlunto. Kereta api memungkinkan terjadinya apa yang
> disebut sebagai mobilitas sosial horisontal, karena orang bisa
> bergerak dengan mudah ke luar nagari- nya.
> Susahnya, menurut pengamatan saya, sangat jarang sekali masalah perubahan
> sosial ini dikaji, direncanakan, atau dikendalikan dengan baik. Kecenderungan
> yang nampak jelas hanyalah kebingungan, kekhawatiran, timbulnya reaksi. Ingat
> beberapa judul buku Minang yang terbit sejak tahun 2003 sampai baru-baru ini
> ? Minangkabau yang Gelisah, Minangkabau di Tepi Jurang, Adat Minangkabau di
> Tepi Jurang Kehancuran.. Duabelas Jurus Pertahanan untuk Melawan Serangan.
> Sekedar catatan, buku yang saya tulis bersama Ir Mohammad Zulfan
> Tadjoeddin (2004) Masih Ada Harapan: Posisi Sebuah Etnik Minoritas dalam
> Hidup Berbangsa dan Bernegara, sesuai dengan judulnya, tidaklah membahas
> Minangkabau yang terbatas pada nagari yang berukuran kecil dan hidup dari
> pertanian saja, tetapi justru bertitik tolak pada posisi Minangkabau dalam
> konteks yang lebih besar ini.
> Mungkin oleh karena masih membatasi dalam visi dan missi yang berukuran
> kecil itulah maka demikian sulit mempersatukan orang Minang. Saya mengalami
> dan menyadarinya sejak tahun 1966 - 1972, sewaktu pertama kalinya saya ‘
> berminang-minang’ [istilah Pak Fasli Jalal] sebagai tugas dinas Kodam III/17
> Agustus. Karena terbiasa berfikir dalam skala kecil nagari, kelihatan sekali
> betapa orang Minang yang satu cenderung melihat orang Minang lain yang tidak
> senagari dengan mereka sebagai orang luar, orang ‘asing’, sebagai outgroup.
> Saya mengalaminya kembali antara tahun 1989 – 1995 sewaktu secara sukarela
> saya diajak Bung
> Azwan Hamir untuk bergerak dalam Gebu Minang.
> Mungkin sebagai reaksi terhadap cara berfikir dan struktur sosial
> Minangkabau yang terkotak-kotak tersebut – dan mungkin karena latar belakang
> pendidikan saya dalam bidang pemerintahan dan karir saya dalam tugas-tugas
> teritoaial di TNI-Angkatan Darat -- secara pribadi saya merasa tertantang
> untuk menjawab pertanyaan: bagaimana caranya menyatukan orang Minang ini?
> Namun ada beberapa hal yang tidak saya duga mendukung terwujudnya obsesi
> saya tersebut. Pada tahun 1983 saya mulai mengenal komputer , yang ternyata
> sangat banyak menolong dalam tugas saya sebagai perwira staf. Sekitar tahun
> 1990 saya mengenal hand phone, dihadiahkan oleh sahabat saya Drs Soemitro
> Maskun. Pada tahun 1999 sebagai komisaris utama PT Semen Padaang saya mulai
> mempergunakan laptop. Saya kemudian mengenal short message service (SMS)
> sekitar tahun 2002, justru karena ditertawakan oleh putri saya Dyah
> Nursawitri, SE. Saya mengenal e-mail dan mailing list (milis) sekitar tahun
> 2005, atas kebaikan hati Nanda Ir .
> H.Mulyadi Dt Marah Bangso dari Pusri.
> Setelah itu saya amat asyik mempergunakan SMS dan email ini bukan hanya
> untuk tugas dinas, tetapi juga untuk ‘berminang-minang’. Dalam dua tiga tahun
> terakhir ini saya sangat asyik dengan milis Rantau Net.
> Hasilnya luar biasa. Saya percaya sebagian rekan-rekan sudah tahu bahwa
> ternyata tidak demikian sulit untuk mempersatukan orang Minang dengan
> memanfaatkan SMS dan e-mail, asal kita punya visi dan missi, mampu menyusun
> kerangka acuan, rencana kebijakan dan strategi, banyak teman, dan mau
> mengambil prakarsa .
> Beberapa kegiatan besar ‘berminang-minang’ akhir-akhir ini, yang dalam
> persiapannya amat intensif mempergunakan SMS dan e-mail ini antara lain
> adalah: Mubes Gebu Minang tahun 2005 di Sawah Lunto; Lokakarya Hak Masyarakat
> Hukum Adat Minangkabau dari Perspektif Hak Asasi Manusia tahun 2007 di
> Unversitas Andalas, Padang; Semiloka Perang Paderi, Januari 2008; dan
> kunjungan ke Benteng Bukik Tajadi, Bonjol, Agustus 2008.
> Lebih dari itu, melalui milis Rantau Net telah dibahas berbagai masalah
> mendasar Minang yang selama ini tergenang tak hanyut terendam tak basah,
> seperti ABS SBK, sako dan pusako, atau masalah silsilah dan ranji.
> Keikutsertaan warga Minang ini sedemikian rupa – tidak hanya di Indonesia
> tetapi juga dari mancanegara – sehingga wacana keminangan bisa dibahas dan
> semacam kesepakatan bisa dicapai – dengan berpegang pada aturan main yang
> telah disusun oleh orang dapua Rantau Net. Tidaklah berkelebihan jika Ir
> Yulnofrins Napilus menyebut Rantau Net ini sebagai ‘parlemen orang Minang
> sedunia’.
> Berdasar pengalaman dan manfaat ini, saya [bermaksud] menyarankan kepada
> orang dapua RN untuk menyesuaikan Peraturan Tata Tertib RN, dengan
> perkembangan masyarakat Minangkabau yang baru ini , tidak hanya terbatas
> pada batas wilayah Sumatera Barat saja, tetapi juga bisa dalam konteks
> keindonesiaan dan kemanusiaa pada umumnya. Apalagi kita kan suku bangsa
> perantau. Bagaimanapun, sebagai contoh, krisis finansial Amerika Serikat
> cepat atau lambat terasa di Jakarta, dan pada waktunya di Padang, Padang
> Panjang, Bukit Tinggi dan Payakumbuh. Minangkabau tidak mungkin mengisolir
> diri. Dahulu tidak, sekarang tidak, nanti apa lagi.
> Namun ada satu catatan kecil yang perlu saya sampaikan dalam peluang
> memanfaatkan teknologi masa kini untuk mempersatukan orang Minang ini. Ada
> aksi tentu ada reaksi. Itu adalah normal. Ternyata bersisian dengan gencarnya
> pemanfaatan itu juga muncul reaksi dari beberapa tukang tubo yang juga
> memanfaatkan sarana yang sama. Terhadap mereka ini, sikap saya adalah EGP
> saja. Yang jelas, teknologi masa kini seperti SMS, laptop, wireless
> connection, email berpotensi besar untuk menyatukan orang Minang, walau tidak
> lagi bertani dan tidak lagi tinggal di nagari. Hebaaat.
>
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---