Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Sekedar mengisi kekosongan karena langang-nya RN dalam hari-hari Lebaran ini, 
izinkan saya berbagi pengalaman dengan para sanak sekalian. 
Kali ini yang ingin saya angkat adalah topik memanfaatkan teknologi masa kini 
untuk mempersatukan orang Minang. Untuk lengkapnya lihatlah coretan saya di 
bawah ini. 
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]


Jika kita mempelajari sejarah Minangkabau, kita akan sadar bahwa sistem 
kekerabatan Minangkabau yang asli – yang berangkat dari buah paruik- kaum – 
suku- nagari -- pada dasarnya dirancang untuk suatu masyarakat petani ukuran 
kecil. Selama masih bergerak dalam bidang pertanian, dan masih dalam ukuran 
kecil, sistem tersebut berjalan dengan baik.
Masalah baru timbul jika masyarakat Minangkabau tersebut tumbuh dan berkembang, 
bukan hanya hidup dari pertanian tapi juga dalam bidang-bidang lainnya; dan 
bukan lagi berukuran kecil, tetapi sudah berukuran lebih besar dan lebih luas. 
Pada dasarnya Minangkabau tidak mengenal struktur sosial di atas nagari. 
Struktur Kerajaan Pagaruyung jelas merupakan replika dari Kerajaan Mojopahit, 
yang bersumber pada kontak dengan budaya Jawa setelah Ekspedisi Pamalayu, 1275.
Demikianlah, masalah sosial Minangkabau mulai timbul akut sekitar abad ke 16, 
sewaktu bumi Minangkabau bukan saja memproduksi berbagai hasil bumi untuk 
keperluan perdagangan luar negeri, tetapi juga merupakan bahan tambang besi dan 
emas, yang dijual ke mancanegara. Buku Christine Dobbin berjudul ‘Gejolak 
Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Paderi’ – yang Insya Allah akan kita 
bedah pada tanggal 18 Oktober 2008 di Padang dan tanggal 6 November 2008 di 
Jakarta – menjelaskan hal itu dengan jernih sekali. Prof Bernard Schrieke 
mencatat terjadinya perubahan sosial yang hebat di Sumatera Barat setelah 
dibangunnya jaringan jalan kereta api dari Padang ke Payakumbuh, Padang – 
Naras, dan Padang-Sawahlunto. Kereta api memungkinkan terjadinya apa yang 
disebut sebagai mobilitas sosial horisontal, karena orang bisa bergerak dengan 
mudah ke luar nagari-nya.
Susahnya, menurut pengamatan saya, sangat jarang sekali masalah perubahan 
sosial ini dikaji, direncanakan, atau dikendalikan dengan baik. Kecenderungan 
yang nampak jelas hanyalah kebingungan, kekhawatiran, timbulnya reaksi. Ingat 
beberapa judul buku Minang yang terbit sejak tahun 2003 sampai baru-baru ini  ? 
Minangkabau yang Gelisah, Minangkabau di Tepi Jurang, Adat Minangkabau di Tepi 
Jurang Kehancuran. Duabelas Jurus Pertahanan untuk Melawan Serangan. 
Sekedar catatan, buku yang  saya tulis bersama Ir Mohammad Zulfan Tadjoeddin 
(2004) Masih Ada Harapan: Posisi Sebuah Etnik Minoritas dalam Hidup Berbangsa 
dan Bernegara, sesuai dengan judulnya, tidaklah membahas Minangkabau yang 
terbatas pada nagari yang berukuran kecil dan hidup dari pertanian saja, tetapi 
justru bertitik tolak pada posisi Minangkabau dalam konteks yang lebih besar 
ini. 
Mungkin oleh karena masih membatasi dalam visi dan missi yang berukuran kecil 
itulah maka demikian sulit mempersatukan orang Minang. Saya mengalami dan 
menyadarinya sejak tahun 1966 - 1972, sewaktu pertama kalinya saya 
‘berminang-minang’ [istilah Pak Fasli Jalal] sebagai tugas dinas Kodam III/17 
Agustus. Karena terbiasa berfikir dalam skala kecil nagari, kelihatan sekali 
betapa orang Minang yang satu cenderung melihat orang Minang lain yang tidak 
senagari dengan mereka sebagai orang luar, orang ‘asing’, sebagai  outgroup. 
Saya mengalaminya kembali antara tahun 1989 – 1995 sewaktu secara sukarela saya 
diajak Bung Azwan Hamir untuk bergerak dalam Gebu Minang.
Mungkin sebagai reaksi terhadap cara berfikir dan struktur sosial Minangkabau 
yang terkotak-kotak tersebut – dan mungkin karena latar belakang pendidikan 
saya dalam bidang pemerintahan dan karir saya dalam tugas-tugas teritoaial di 
TNI-Angkatan Darat --  secara pribadi saya merasa tertantang untuk menjawab 
pertanyaan: bagaimana caranya menyatukan orang Minang ini?
Namun ada beberapa hal yang tidak saya duga mendukung terwujudnya obsesi saya 
tersebut. Pada tahun 1983 saya mulai mengenal komputer, yang ternyata sangat 
banyak menolong dalam tugas saya sebagai perwira staf. Sekitar tahun 1990 saya 
mengenal hand phone, dihadiahkan oleh sahabat saya Drs Soemitro Maskun. Pada 
tahun 1999 sebagai komisaris utama PT Semen Padaang saya mulai mempergunakan 
laptop. Saya kemudian mengenal short message service (SMS) sekitar tahun 2002, 
justru karena ditertawakan oleh putri saya Dyah Nursawitri, SE. Saya mengenal 
e-mail dan mailing list (milis) sekitar tahun 2005, atas kebaikan hati Nanda Ir 
.
H.Mulyadi Dt Marah Bangso dari Pusri. 
Setelah itu saya amat asyik mempergunakan  SMS dan email  ini bukan hanya untuk 
tugas dinas, tetapi juga untuk ‘berminang-minang’. Dalam dua tiga tahun 
terakhir ini saya sangat asyik dengan milis Rantau Net.
Hasilnya luar biasa.  Saya percaya sebagian rekan-rekan sudah tahu bahwa 
ternyata tidak demikian sulit untuk mempersatukan orang Minang dengan 
memanfaatkan SMS dan e-mail, asal kita punya visi dan missi, mampu menyusun 
kerangka acuan, rencana kebijakan dan strategi,  banyak teman, dan mau 
mengambil prakarsa. 
Beberapa kegiatan besar ‘berminang-minang’ akhir-akhir ini, yang dalam 
persiapannya amat intensif mempergunakan SMS dan e-mail ini antara lain adalah: 
Mubes Gebu Minang tahun 2005 di Sawah Lunto; Lokakarya Hak Masyarakat Hukum 
Adat Minangkabau dari Perspektif Hak Asasi Manusia tahun 2007 di Unversitas 
Andalas, Padang; Semiloka Perang Paderi, Januari 2008; dan kunjungan ke Benteng 
Bukik Tajadi, Bonjol, Agustus 2008. 
Lebih dari itu, melalui milis Rantau Net telah dibahas berbagai masalah 
mendasar Minang yang selama ini tergenang tak hanyut terendam tak basah, 
seperti ABS SBK, sako dan pusako, atau masalah silsilah dan ranji. 
Keikutsertaan warga Minang ini sedemikian rupa – tidak hanya di Indonesia 
tetapi juga dari mancanegara – sehingga wacana keminangan bisa dibahas dan 
semacam kesepakatan bisa dicapai – dengan berpegang pada aturan main yang telah 
disusun oleh orang dapua Rantau Net. Tidaklah berkelebihan jika Ir Yulnofrins 
Napilus menyebut Rantau Net ini sebagai ‘parlemen orang Minang sedunia’..
Berdasar pengalaman dan manfaat ini, saya [bermaksud] menyarankan kepada orang 
dapua RN untuk menyesuaikan Peraturan Tata Tertib RN, dengan perkembangan  
masyarakat Minangkabau yang baru ini , tidak hanya terbatas pada batas wilayah 
Sumatera Barat saja, tetapi juga bisa dalam konteks keindonesiaan dan 
kemanusiaa pada umumnya. Apalagi kita kan suku bangsa perantau. Bagaimanapun, 
sebagai contoh, krisis finansial Amerika Serikat cepat atau lambat terasa di 
Jakarta, dan pada waktunya di Padang, Padang Panjang, Bukit Tinggi dan 
Payakumbuh. Minangkabau tidak mungkin mengisolir diri. Dahulu tidak, sekarang 
tidak, nanti apa lagi.
Namun ada satu catatan kecil yang perlu saya sampaikan dalam peluang 
memanfaatkan teknologi masa kini untuk mempersatukan orang Minang ini. Ada aksi 
tentu ada reaksi. Itu adalah normal. Ternyata bersisian dengan gencarnya 
pemanfaatan itu juga muncul reaksi dari beberapa tukang tubo yang juga 
memanfaatkan sarana yang sama. Terhadap mereka ini, sikap saya adalah EGP saja. 
Yang jelas, teknologi masa kini seperti SMS, laptop, wireless connection, email 
berpotensi besar untuk menyatukan orang Minang, walau tidak lagi bertani dan 
tidak lagi tinggal di nagari. Hebaaat.


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke