Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Saya forward jawaban saya untuk Nanda Hanifah, yang telah berbaik hati 
meluangkan waktu pada Hari Raya Idul Fitriw ini untuk memberikan tanggapan 
terhadap posting saya dengan judul tersebut di atas, sebagai info.

Wassalam,
Saafroedin Bahar  (L, masuk 72 th, Jakarta)  Alternate e-mail address: [EMAIL 
PROTECTED];  [EMAIL PROTECTED]


--- On Wed, 10/1/08, Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: [EMAIL PROTECTED] Memanfaatkan Teknologi Masa Kini untuk 
Mempersatukan Orang Minang
To: "hanifah daman" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wednesday, October 1, 2008, 12:46 PM

Nanda Hanifah,
Heran juga saya membaca kesan Nanda yang mengatakan bahwa saya tidak pernah 
merakyat. Saya ini kan berasal dari keluarga rakyat badarai, bukan dari 
kalangan 'berdarah biru'. Waktu kecil saya malah jualan kue basah. Setelah 
menamatkan studi di UGM, dengan biaya ikatan dinas, saya bertugas di Pekanbaru 
dimana banyak sanak saudara saya dari Pariaman jadi pedagang kecil, kemudian 
saya mutasi ke Sumatera Barat pada tahun 1966, dengan tugas mengadakan hubungan 
dengan rakyat  antara tahun 1966-1972, masuk kampung keluar kampung dalam 
membangun LKAAM Sumbar dan Golkar Sumbar, sampai-sampai saya terjangkit 
bronchitis selama tiga bulan. 
Setelah pindah ke Jawa pada tahun 1975, di Jakarta saya ikut membangun Koperasi 
Industri dan Kerajinan Rakyat (Kopinkra) di Cipulir, dan membangun sebuah bank 
perkreditan
 rakyat untuk mendukung kopinkra tersebut [dan mengalami kerugian besar karena 
krismon 1997 dan korupsi manajemen]. Pokoknya saya merasa cukup bergelimang 
dengan rakyat, dan tidak elit-elit amat.
Tentang gelar, ternyata banyak daerah di Sumatera Barat yang tidak mewajibkan 
gelar ini, seperti di Lima Puluh Kota, Tanah Datar, dan Pariaman. Demikian 
laporan dari para netters RN akhir-akhir ini. [Mungkin di Agam gala tersebut 
merupakan keharusan].
Tentang hubungan antara adat Minang dan pertanian, Nanda pelajarilah baik-baik 
masalah persengketaan di Sumatera Barat, antara lain seperti tercantum dalam 
disertasi Prof Dr Keebet von Benda-Beckmann yang berjudul 'Goyahnya Tangga 
Menuju Mufakat', yang sebagian besar berkisar pada soal sengketa tanah, suatu 
indikasi jelas keterkaitannya dengan bidang pertanian! Saya sudah mengetahui 
hal ini sebelumnya, sewaktu saya bertugas sebagai salah seorang anggota Panitia 
Seminar
 Hukum Adat dan Hukum Tanah di Padang pada tahun 1968, 40 tahun yang lalu.
Tentang sejarah orang Minang menjadi pedagang, Nanda bacalah buku Christine 
Dobbin 'Gerakan Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri', yang insya 
Allah akan kita adakan bedah bukunya di Padang pada tanggal 18 Oktober yang 
akan datang, dan di Jakarta pada tanggal 6 November berikutnya. 
Mudah-mudahan keterangan ini bermanfaat bagi Nanda.
PS: kok tak ada komentar Nanda sama sekali tentang topik pokok posting saya:" 
Memanfaatkan Teknologi Masa Kini untuk Mempersatukan Orang Minang"?

Wassalam,
Saafroedin Bahar  (L, masuk 72 th, Jakarta)  Alternate e-mail address: [EMAIL 
PROTECTED];  [EMAIL PROTECTED]


--- On Wed, 10/1/08, hanifah daman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: hanifah daman <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: [EMAIL PROTECTED] Memanfaatkan Teknologi Masa Kini untuk 
Mempersatukan Orang Minang
To: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: "[email protected]" <[email protected]>, "[EMAIL 
PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>, "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>, 
"[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>, "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>, "[EMAIL PROTECTED]" 
<[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wednesday, October
 1, 2008, 12:15 PM

Assalammualaikum WR WB bapak Saaf yth. Agak aneh juga membaca analisis bapak
tentang adat minang yang di rancang untuk petani. Sementara orang mengenal
minang sebagai pedagang. Sebenarnya permasalahannya menurut hanifah adalah
selama ini bapak tidak pernah merakyat. Kalaupun ikut berminang minang tetap
saja pada kelompok elit minang. Buktinya gelar bapak tidak pernah di pakaikan.
Kelihatan kadang bapak gengsi dengam gelar tersebut yang secara ekonomi tidak
punya nilai jual. RN adalah pengalaman bapak bertemu dg warga minang dari
berbagai tingkat pendidikan dan tingkat penghasilan dimanapun berada.
Alhamdulillah banyak ilmx dan pengalaman yang dapat bapak petik di RN. yang
jelas BUDAYA MINANG sangat indah. Maaf kalau tidak berkenan. Lagi hujan di
Bengkulu. Wass. Hanifah

Dr.Saafroedin BAHAR wrote: 
> Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta, 
>  Sekedar mengisi kekosongan
 karena langang -nya RN dalam hari-hari Lebaran
ini, izinkan saya berbagi pengalaman dengan para sanak sekalian. 
>  Kali ini yang ingin saya angkat adalah topik memanfaatkan teknologi masa
kini untuk mempersatukan orang Minang. Untuk lengkapnya lihatlah coretan saya di
bawah ini.  
>    
>  Wassalam, Saafroedin Bahar 
>  (L, masuk 72 th, Jakarta) 
>  Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED] ; 
>  [EMAIL PROTECTED] 
>  Jika kita mempelajari sejarah Minangkabau, kita akan sadar bahwa sistem
kekerabatan Minangkabau yang asli – yang berangkat dari buah paruik- kaum –
suku- nagari -- pada dasarnya dirancang untuk suatu masyarakat petani ukuran
kecil. Selama masih bergerak dalam bidang pertanian, dan masih dalam ukuran
kecil, sistem tersebut berjalan dengan baik. 
>  Masalah baru timbul jika masyarakat Minangkabau tersebut tumbuh dan
berkembang, bukan hanya
 hidup dari pertanian tapi juga dalam bidang-bidang
lainnya; dan bukan lagi berukuran kecil, tetapi sudah berukuran lebih besar dan
lebih luas. Pada dasarnya Minangkabau tidak mengenal struktur sosial di atas
nagari. Struktur Kerajaan Pagaruyung jelas merupakan replika dari Kerajaan
Mojopahit, yang bersumber pada kontak dengan budaya Jawa setelah Ekspedisi
Pamalayu, 1275. 
>  Demikianlah, masalah sosial Minangkabau mulai timbul akut sekitar abad ke
16, sewaktu bumi Minangkabau bukan saja memproduksi berbagai hasil bumi untuk
keperluan perdagangan luar negeri, tetapi juga merupakan bahan tambang besi dan
emas, yang dijual ke mancanegara. Buku Christine Dobbin berjudul ‘Gejolak
Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Paderi’ – yang Insya Allah akan kita
bedah pada tanggal 18 Oktober 2008 di Padang dan tanggal 6 November 2008 di
Jakarta – menjelaskan hal itu dengan jernih sekali. Prof Bernard
 Schrieke
mencatat terjadinya perubahan sosial yang hebat di Sumatera Barat setelah
dibangunnya jaringan jalan kereta api dari Padang ke Payakumbuh, Padang –
Naras, dan Padang-Sawahlunto. Kereta api memungkinkan terjadinya apa yang
disebut sebagai mobilitas sosial horisontal, karena orang bisa
>  bergerak dengan mudah ke luar nagari- nya. 
>  Susahnya, menurut pengamatan saya, sangat jarang sekali masalah perubahan
sosial ini dikaji, direncanakan, atau dikendalikan dengan baik. Kecenderungan
yang nampak jelas hanyalah kebingungan, kekhawatiran, timbulnya reaksi. Ingat
beberapa judul buku Minang yang terbit sejak tahun 2003 sampai baru-baru ini  
? Minangkabau yang Gelisah, Minangkabau di Tepi Jurang, Adat Minangkabau di Tepi
Jurang Kehancuran.. Duabelas Jurus Pertahanan untuk Melawan Serangan. 
>  Sekedar catatan, buku yang   saya tulis bersama Ir Mohammad Zulfan
Tadjoeddin (2004) Masih Ada
 Harapan: Posisi Sebuah Etnik Minoritas dalam Hidup
Berbangsa dan Bernegara,  sesuai dengan judulnya, tidaklah membahas
Minangkabau yang terbatas pada nagari yang berukuran kecil dan hidup dari
pertanian saja, tetapi justru bertitik tolak pada posisi Minangkabau dalam
konteks yang lebih besar ini. 
>  Mungkin oleh karena masih membatasi dalam visi dan missi yang berukuran
kecil itulah maka demikian sulit mempersatukan orang Minang. Saya mengalami dan
menyadarinya sejak tahun 1966 - 1972, sewaktu pertama kalinya saya ‘
berminang-minang’ [istilah Pak Fasli Jalal] sebagai tugas dinas Kodam III/17
Agustus. Karena terbiasa berfikir dalam skala kecil nagari, kelihatan sekali
betapa orang Minang yang satu cenderung melihat orang Minang lain yang tidak
senagari dengan mereka sebagai orang luar, orang ‘asing’, sebagai  
outgroup. Saya mengalaminya kembali antara tahun 1989 – 1995 sewaktu
 secara
sukarela saya diajak Bung
>  Azwan Hamir untuk bergerak dalam Gebu Minang. 
>  Mungkin sebagai reaksi terhadap cara berfikir dan struktur sosial
Minangkabau yang terkotak-kotak tersebut – dan mungkin karena latar belakang
pendidikan saya dalam bidang pemerintahan dan karir saya dalam tugas-tugas
teritoaial di TNI-Angkatan Darat --   secara pribadi saya merasa tertantang
untuk menjawab pertanyaan: bagaimana caranya menyatukan orang Minang ini? 
>  Namun ada beberapa hal yang tidak saya duga mendukung terwujudnya obsesi
saya tersebut. Pada tahun 1983 saya mulai mengenal komputer , yang ternyata
sangat banyak menolong dalam tugas saya sebagai perwira staf. Sekitar tahun 1990
saya mengenal hand phone, dihadiahkan oleh sahabat saya Drs Soemitro Maskun..
Pada tahun 1999 sebagai komisaris utama PT Semen Padaang saya mulai
mempergunakan laptop. Saya kemudian mengenal short message service (SMS)
 sekitar
tahun 2002, justru karena ditertawakan oleh putri saya Dyah Nursawitri, SE. Saya
mengenal e-mail dan mailing list (milis) sekitar tahun 2005, atas kebaikan hati
Nanda Ir . 
>  H.Mulyadi Dt Marah Bangso dari Pusri. 
>  Setelah itu saya amat asyik mempergunakan   SMS dan email   ini bukan
hanya untuk tugas dinas, tetapi juga untuk ‘berminang-minang’. Dalam dua
tiga tahun terakhir ini saya sangat asyik dengan milis Rantau Net. 
>  Hasilnya luar biasa.   Saya percaya sebagian rekan-rekan sudah tahu
bahwa ternyata tidak demikian sulit untuk mempersatukan orang Minang dengan
memanfaatkan SMS dan e-mail, asal kita punya visi dan missi, mampu menyusun
kerangka acuan, rencana kebijakan dan strategi,   banyak teman, dan mau
mengambil prakarsa .  
>  Beberapa kegiatan besar ‘berminang-minang’ akhir-akhir ini, yang
dalam persiapannya amat intensif mempergunakan SMS dan e-mail
 ini antara lain
adalah: Mubes Gebu Minang tahun 2005 di Sawah Lunto; Lokakarya Hak Masyarakat
Hukum Adat Minangkabau dari Perspektif Hak Asasi Manusia tahun 2007 di
Unversitas Andalas, Padang; Semiloka Perang Paderi, Januari 2008; dan kunjungan
ke Benteng Bukik Tajadi, Bonjol, Agustus 2008. 
>  Lebih dari itu, melalui milis Rantau Net telah dibahas berbagai masalah
mendasar Minang yang selama ini tergenang tak hanyut terendam tak basah, seperti
ABS SBK, sako dan pusako, atau masalah silsilah dan ranji. Keikutsertaan warga
Minang ini sedemikian rupa – tidak hanya di Indonesia tetapi juga dari
mancanegara – sehingga wacana keminangan bisa dibahas dan semacam kesepakatan
bisa dicapai – dengan berpegang pada aturan main yang telah disusun oleh orang
dapua Rantau Net. Tidaklah berkelebihan jika Ir Yulnofrins Napilus menyebut
Rantau Net ini sebagai ‘parlemen orang Minang sedunia’. 
>  Berdasar pengalaman
 dan manfaat ini, saya [bermaksud] menyarankan kepada
orang dapua RN untuk menyesuaikan Peraturan Tata Tertib RN, dengan perkembangan
  masyarakat Minangkabau yang baru ini , tidak hanya terbatas pada batas
wilayah Sumatera Barat saja, tetapi juga bisa dalam konteks keindonesiaan dan
kemanusiaa pada umumnya. Apalagi kita kan suku bangsa perantau. Bagaimanapun,
sebagai contoh, krisis finansial Amerika Serikat cepat atau lambat terasa di
Jakarta, dan pada waktunya di Padang, Padang Panjang, Bukit Tinggi dan
Payakumbuh. Minangkabau tidak mungkin mengisolir diri. Dahulu tidak, sekarang
tidak, nanti apa lagi. 
>  Namun ada satu catatan kecil yang perlu saya sampaikan dalam peluang
memanfaatkan teknologi masa kini untuk mempersatukan orang Minang ini. Ada aksi
tentu ada reaksi. Itu adalah normal. Ternyata bersisian dengan gencarnya
pemanfaatan itu juga muncul reaksi dari beberapa tukang tubo yang juga
memanfaatkan
 sarana yang sama. Terhadap mereka ini, sikap saya adalah EGP saja.
Yang jelas, teknologi masa kini seperti SMS, laptop, wireless connection, email
berpotensi besar untuk menyatukan orang Minang, walau tidak lagi bertani dan
tidak lagi tinggal di nagari. Hebaaat. 




      


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke