Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu
Carito nan lain lo ciek lai.......
MUDIK LEBARAN
Aku menerima pesan singkat sms dari kakak ipar di Bukit Tinggi. Isinya, ’apkh
add sprti biasa ttp tdk plng berhr ry thn ini?’ Yang aku jawab, ’Insya Allah
tdk, mhn maaf lhr btn.’ Setiap tahun dia bertanyakan hal yang sama. Bahkan
kalau ada kesempatan bertemu di luar hari raya, dia bertanya lebih tegas.
Kenapa aku tidak pernah mau berhari raya di kampung. Dan setiap kali pula aku
katakan bahwa aku tidak sempat untuk pulang kampung di penghujung Ramadhan.
Baginya, jawabanku itu terdengar musykil. Dimana-mana orang semakin bersemangat
pulang kampung alias mudik untuk berhariraya, kok aku tidak tertarik.
’Begini,’ aku mencoba menjelaskan, pada suatu ketika. ’Bulan Ramadhan, bulan
yang penuh rahmat, bulan yang di dalamnya terdapat ampunan Allah, bulan yang
Allah menjanjikan kepada mereka yang beribadah atas dasar keimanan dan penuh
keberhati-hatian, janji pemeliharaan dari api neraka. Sangat sayang waktu
khusus itu dikorbankan untuk sebuah acara pulang kampung. Bukankah kalau perlu
sekali aku tetap menyempatkan diri untuk hadir di kampung?’
’Ya, tapi bukankah dengan pulang kampung ibadah Ramadhan itu tetap bisa
diteruskan. Bahkan dilanjutkan dengan bersilaturrahim dengan sanak keluarga di
kampung?’ dia masih belum kehabisan alasan.
’Jujur saja. Acara berkendaraan waktu pulang kampung itu pasti akan merusak
kekhusyukan beribadah Ramadhan. Itu sebabnya aku tidak melakukannya,’ jawabku.
Mudik lebaran adalah sebuah kebiasaan baru masyarakat negeri ini. Berhari raya
sesudah menjalankan puasa di bulan Ramadhan selama sebulan penuh di kampung. Di
tempat bernostalgia ke masa kanak-kanak dulu. Berduyun-duyun mudik. Mudik
memang sebuah ritual baru. Sebuah tradisi yang baru diciptakan. Nyaris-nyaris
sebuah bid’ah.
Mudik lebaran sudah sedemikian rupa mewabah. Sekitar sepuluh tahun yang lalu,
orang Minang belum ikut dalam ritual mudik. Paling tidak belum seriuh seperti
sekarang. Tapi coba lihat sekarang. Bukit Tinggi, Batu Sangkar, Paya Kumbuh
dibanjiri para pemudik, yang pulang dengan kendaraan pribadi. Mobil-mobil
berpelat nomor Jakarta, Medan, Pakan Baru, Palembang dan entah kota mana lagi
memenuhi kota-kota Sumatera Barat. Itu artinya mereka datang dari tempat yang
ratusan bahkan ribuan kilometer dari kampung. Menempuh jalan berpuluh jam untuk
sampai di kampung. Bukit Tinggipun jadi macet di mana-mana.
Padahal mudik itu mengandung banyak sekali resiko. Resiko kecelakaan di jalan
raya bagi yang naik kendaraan pribadi atau naik bus umum. Resiko kecopetan di
stasiun bagi yang naik kereta api. Resiko kena tipu ketika memaksakan membeli
tiket atau karcis kendaraan melalui calo. Resiko tertahan karena antri di
penyeberangan.
Yang paling mengerikan tentu saja resiko celaka, apalagi yang berakhir dengan
maut. Berita tv atau surat kabar di sekitar hari-hari mudik lebaran tidak
pernah sepi dari berita kecelakaan. Keretapi menerjang bus yang sarat
penumpang. Kijang diseruduk keretapi dan semua penumpangnya tewas. Bus masuk
jurang karena sopir yang mengejar target ternyata ngantuk. Bus sama bus berlaga
dan penumpangnya babak belur. Sudah beratus-ratus korban. Banyak diantaranya
terkorban secara konyol. Karena kendaraan mereka pecah ban lalu
berguling-guling di jalan tol. Karena kendaraan mereka dihantam keretapi ketika
pengendaranya nekad menerobos pintu kereta. Karena dua bus berlaga, sebab
pengemudinya yang sedang mengejar setoran ternyata ngantuk. Atau kapal kayu
yang terbalik karena kelebihan muatan lalu penumpangnya yang tidak pandai
berenang mati tenggelam. Sulit membayangkan bahwa resiko yang diambil itu
setara dengan kepuasan menikmati aroma kampung halaman di hari-hari
mudik.
Kalau sudah celaka, niat pulang kampung kandas di tengah jalan dan berakhir
dalam duka nestapa tak terkira. Keluarga korban pasti berurai air mata.
Namun semangat mudik semakin gencar saja. Tidak surut sedikitpun. Sekarang,
ketika memiliki sepeda motor cukup mudah, cukup dengan fotokopi KTP dan uang
muka 700 ribu rupiah, motor baru sudah boleh dibawa pulang, semangat mudik
semakin menggebu. Mudik bersepeda motor sedang ’ngetrend’. Naik motor berdua,
bertiga, berempat dengan anak, anak didudukkan di atas tangki bensin dengan
alas duduk sekedarnya, menuju kampung yang tiga, empat ratus kilometer
jaraknya. Masya Allah. Dan menurut berita, ada anak kecil balita yang
didudukkan di atas tangki bensin sepeda motor itu, ketika sudah menempuh
separuh jalan lalu berhenti beristirahat, ternyata balita itu sudah almarhum.
Sudah kaku dan tidak bernyawa. Tidak tahan badan kecilnya melawan terpaan angin
di sepanjang jalan.
Apa yang dilakukan para pemudik di kampung? Aku pernah menanyakan hal ini
kepada beberapa orang. Sejak dari pembantu rumah tangga, buruh bangunan,
pedagang asongan, karyawan pabrik atau bahkan teman sekantor. Yang terakhir ini
boleh dibilang rata-rata dari kalangan mapan dan berpendidikan. Jawabannya
hampir seragam. Berkumpul dengan para kerabat, teman waktu kecil, lalu
bernostalgia di kampung. Hanya itu? Sepertinya hanya itu. Apakah mereka wajib
sungkeman kepada orang tua, atau para sesepuh di kampung? Ternyata tidak. Jadi
yang paling utama memang acara reunian itu saja. Dan itu dilakukan secara
rutin, dengan biaya besar, dengan resiko besar, menempuh jalan panjang menuju
kampung. Mudik. Rugi rasanya kalau tidak mudik.
Andil pemerintah serta media massa sangat besar dalam mendorong acara mudik
ini. Mereka menyemangati pemudik untuk semakin bersemangat meniti arus mudik.
Berita perbaikan jalan untuk kelancaran para pemudik, berita persiapan angkutan
lebaran untuk mudik, berita penjualan tiket kendaraan umum untuk mudik. Semua
dihembuskan dengan tiupan sihir. Hasilnya luar biasa. Semua terhipnotis untuk
mudik.
Seorang penceramah di penghujung Ramadhan membandingkan kekhusyukan beribadah
umat Islam perkotaan Indonesia dengan umat Islam di negeri-negeri Arab. Disini,
katanya, jemaah tarawih meluap sampai keluar mesjid di awal Ramadhan. Namun
secara berangsur namun pasti berkurang sampai nyaris habis di hari-hari
terakhir Ramadhan. Di Masjidil Haram yang terjadi sebaliknya. Manusia semakin
ramai mendatangi mesjid. Jamaah mesjid melimpah kemana-mana karena tidak
tertampung. Disana umat Islam tergiur dengan keutamaan sepuluh malam terakhir
bulan puasa. Tergiur dengan janji Allah untuk terbebaskan dari siksa neraka.
Tergiur untuk mendapatkan malam Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.
Disini begitu mendekati akhir Ramadhan, orang sibuk menghadang Lebaran. Orang
sibuk menyiapkan mudik. Yang berduit sudah memesan tiket pesawat atau karcis
keretapi sejak jauh-jauh hari. Yang berpenghasilan pas-pasan sudah menyisihkan
uang untuk membeli karcis bis. Pokok-e, yang penting mudik.
’Memang ada yang salah dengan ’mudik’?’ tanya seorang teman yang seperti
tersindir.
Tidak seberapa salah dari segi keduniaan. Paling tidak para pemudik toh sudah
tahu resiko yang mereka hadang di jalan. Bahkan teman lain, seorang ekonom yang
tidak ikut mudik merasa yakin bahwa mudik lebaran sangat baik untuk pemerataan
peredaran uang. Dan yang lebih penting, katanya, penduduk kota besar, terutama
seperti Jakarta bisa menikmati lancarnya arus lalu lintas di jalan raya untuk
beberapa hari di sekitar hari raya.
Dari segi pertimbangan bulan Ramadhan sebagai bulan ibadah total, bulan rahmat
Allah, bulan ampunan Allah, bulan pembebasan dari api neraka serta lailatul
qadr yang bernilai sangat tinggi, mudik lebaran terasa merugikan. Akhirnya
tentu terpulang kepada para pemudik juga. Mau memparipurnakan ibadah Ramadhan
atau mau bermudik ria.
*****
di http://lembangalam.multiply.com dan www.palantalembangalam.blogspot.com
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---