Ambo kutipkan dari padangekspres berkaitan dengan masalah mudik .

http://www.padangekspres.co.id/content/view/19611/1/

Mudik Produktif .
 
Minggu, 28 September 2008 
 
Selain berdampak positif bagi peningkatan aktivitas ekonomi di 
kampung halaman, mudik yang dilakukan perantau setiap Lebaranjuga 
menimbulkan efek negatif dalam relasi sosial antara rantau dengan 
kampung yang berjalan seakan tidak "tulus".  Ada persepsi yang 
muncul selama ini seolah-olah perantau berada pada posisi lebih 
superior dibanding warga di kampung. 
Yang satu dicitrakan "tangan" di atas, sedangkan yang 
lainnya "tangan" di bawah. Realitas seperti itu mengundang diskursus 
dan pertanyaan, bisakah mudik Lebaranmelahirkan relasi sosial yang 
sejajar, elegan dan produktif antara kampung dengan rantau? 

Dalam setiap ritual mudik Lebaranyang bertajuk "pulang basamo" 
stigma yang masih muncul selama ini adalah bahwa kampung halaman itu 
perlu mendapat charity (derma). Warga di kampung adalah warga yang 
miskin, harus dibantu dalam bentuk instan. Stigma ini semakin 
menguat dalam realitas tatkala perantau pulang dengan berbagai 
kemewahan baik dalam bentuk fasilitas yang dimiliki maupun 
penampilan, di tengah kehidupan warga kampung yang sebagian besar 
hidup dalam kemiskinan. 

Alhasil, mudik Lebaran kemudian membawa side effect berupa 
konsumerisme atau materialisme yang ikut ditransformasikan para 
perantau kepada warga di kampung halaman. Meski belum tentu 
penampilan perantau yang pulang kampung selaras dengan kehidupannya 
di rantau, namun di kampung justru terpersepsi bahwa semua perantau 
itu sukses. Ini kemudian memicu keinginan untuk melakukan urbanisasi 
ke kota-kota meski di sana mereka harus bekerja secara serabutan dan 
hidup terlunta-lunta. Kondisi ini tercipta sejak era sentralistik 
dimana kue ekonomi nasional cenderung terpusat di Jakarta dan di 
kota-kota besar. 

Azyumardi Azra pernah mengungkapkan, dalam kehidupan sosial budaya 
menimbulkan urbanisasi yang berlangsung dan meningkat secara cepat 
di Sumatera Barat. Semakin banyak anak-anak muda Minang yang masih 
bujangan dan yang berumahtangga  yang merantau ke wilayah-wilayah 
urban, baik di lingkungan Sumatera Barat sendiri maupun ke wilayah-
wilayah lain. Nagari, surau dan lubuk tapian pun ditinggalkan, 
banyak persawahan dan lahan-lahan perkebunan dibiarkan begitu saja 
menyemak membelukar. Sementara di rantau sendiri keadaannya tidak 
kunjung membaik. 

Persaingan di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, 
Surabaya dan sebagainya semakin sulit. Karena itu, dalam dua 
dasawarsa terakhir setidak-tidaknya, perantau-perantau Minang bisa 
ditemukan di berbagai pelosok terpencil di Indonesia, membuka kedai 
nasi padang. Tahun 2000 etnik Minangkabau yang berdiam di Provinsi 
Sumatera Barat seperti ditulis Syafroedin Bahar, sebanyak 68,44 
persen saja dari keseluruhan warga etnik Minangkabau, yang berarti 
sebanyak 31,56 persen berdiam di luar daerah. 

Dari jumlah perantau Minangkabau sebesar 31,56 persen ini, sebanyak 
11,26 persen berdiam di Riau, 5,47 persen di Jambi, 4,28 persen di 
Bengkulu, 3,18 persen di DKI Jakarta, 2,66 persen di Sumut, 1,09 
persen di Aceh dan di provinsi lainnya di bawah 1 persen. Kini, 
jumlah perantau Minang menurut data yang pernah dieskpose di media 
mencapai 7 juta jiwa. Sementara rata-rata mereka yang pulang kampung 
di saat Lebaranmencapai 900.000 orang. Jumlah ini meningkat setiap 
tahunnya. 

Masalahnya sekarang adalah bagaimana membuat warga ranah menjadi 
lebih berdaya, di tengah berbagai masalah sosial yang muncul di 
Sumatera Barat saat ini. Bayangkan, dari  hasil survei terakhir BPS 
terungkap, dari 4,8 juta jiwa warga Sumbar sebanyak 312.442 jiwa di 
antaranya masuk kategori miskin. Dari jumlah itu, terdapat  97.637 
orang menyandang prediket sangat miskin. Kabupaten Pesisir Selatan 
menempati urutan teratas jumlah penduduk miskinnya yakni 41.216 
orang, Kota Padang (38.099), Pasaman Barat (32.102), Pasaman 
(25.975) dan Kabupaten Solok (25.089). 

Selain terbelit kemiskinan, masyarakat Sumbar juga menghadapi 
masalah pengangguran. Sebenarnya, berbagai program pembangunan sudah 
dilakukan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan 
masyarakat. Termasuk juga mendorong masuk investasi  dengan 
memberikan berbagai kemudahan. Berbagai iven dalam bentuk forum dan 
silaturrahmi perantau juga digelar untuk  mendongkrak investasi di 
daerah. Sayang, perkembangan investasi baru di Sumatera Barat 
belumlah menggembirakan. 

Pemprov Sumbar berharap bukan hanya investor asing dalam bentuk 
Foreign Direct Investmen (FDI) yang bisa masuk ke daerah ini. Namun 
para perantau Minang yang sukses juga diharapkan bisa berinvestasi 
di kampung halaman. Karena itu, harapan kita nomen Lebaran bisa 
menjadi mediasi bagi dialog antara kampung dengan rantau untuk 
menemukan formula yang lebih tepat dalam membangun kampung halaman, 
sehingga mudik bisa menjadi lebih produktif dan positif. 

Dialog tersebut menjadi efektif kalau pemerintah daerah mau 
menyiapkan blue print yang jelas tentang konsep pembangunan daerah. 
Akan tidak berarti apa-apa manakala ada dialog antara perantau 
dengan kampung, namun tidak memiliki konsep yang jelas dan kesamaan 
pandang antara warga di ranah dengan yang di rantau. 

Agaknya, pola perantauan yang dilakukan etnik Cina (chinese 
overseas) dan India, bisa menjadi model bagi relasi kampung dengan 
rantau. Etnik Cina dan India yang sukses di perantauan membuat 
network yang luas hingga ke tanah kelahiran. Etnik Cina dan India 
dimana pun mereka berada, bisa merekat hubungan yang erat di tanah 
perantauan dan di negeri asal. 

Hal ini dibuktikan dengan keberadaan kampung Cina dan India, di 
berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Mereka juga mampu 
mengalokasikan sumber daya produktifnya yang ada di perantauan bagi 
kemajuan kampung halaman. Etnik Minang juga bisa seperti itu kalau 
ada komitmen bersama untuk membangun kampung halaman,Ranah Bundo. 
(***) 



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke