Jadi baa lai nan rancak...? Diluar masa Lebaran, berakhir minggu ke Bukittinggi
pun selalu berpeluang kena macet panjang. Belum lagi kalau ada Truk mogok di
daerah Lembah Anai...!
Salam,
Nofrins
www.nofrins.west-sumatra.com
http://www.padangekspres.co.id/content/view/19697/1/
HEADLINE NEWS
Senin, 06 Oktober 2008 Sembilan Jam Terjebak Macet
Padang-Bukittinggi
Jalan Lima Meter Berhentinya Sepuluh Menit
Macet Total : Antrean kendaraan terjebak macet di Silaingbawah, Padangpanjang,
beberapa waktu lalu.(Foto : Padek)
Tidak Lebaran namanya kalau jalur Padang-Bukittinggi tak macet total. Bencana
musiman setiap tahun yang tak kunjung terselesaikan tersebut di tahun 1429
Hijiriah kembali terjadi. Bayangkan dari Padangpanjang hingga Koto Baru, X Koto
Kabupaten Tanahdatar harus dilewati lima jam perjalanan.
Anto (35) mengumpat dan mengerutu sambil membantingkan pintu mobil. ”Apo ko,
masak dari Silaing ka Bukik Surungan ko se habih lo wakatu dua jam,” ujarnya
menggerutu sambil melihat arloji Rolex yang melingkar di lengan kirinya, Kamis
(2/10).
Seperti tahun-tahun sebelumnya, jalur Padang-Bukittinggi memang selalu macet.
Namun Lebaran 1429 Hijiriah kali ini betul-betul macet luar biasa. Macet total
dan nyaris tak bergerak. Seluruh kendaraan yang tumpah ruah di jalan terlihat
berhenti lima menit dan lalu berjalan lima meter lalu berhenti lagi.
Pantauan koran ini apa yang dirasakan selama terjebak dalam macet total dari
Padang menuju Bukittinggi mulai terjadi ketika memasuki kawasan Simpang Lintas
Padangpariaman. Karena di kawasan tersebut sudah mulai terjadi pertemuan dua
jalur arus transportasi yang selama ini juga termasuk daerah rawan macet.
Dari arah Simpang Lintas terlihat deretan kendaraan mulai merangkak dari arah
Pasaman Barat, Lubukbasung dan Pariaman. Baik itu menuju Padang maupun menuju
kawasan Lubukalung. Dari arah selatannya datang deretan kendaraan dari arah
Kota Padang menuju Padangpanjang.
Masih syukur kawasan yang dekat dengan rawan macet karena pasar tumpah di
Lubukalung ini tidaklah macet total. Tapi macet di jalur ini hanya berdampak
melambatnya laju kendaraan. Kondisi yang nyaris sama juga terjadi di kawasan
Sicincin, Kabupaten Padangpariaman. Daerah yang juga memiliki pasar tumpah dan
pertigaan jalan menuju Padangpariaman ini juga terlihat macet. Di kawasan ini
terjadi macet yang agak lebih dibandingkan kawasan Lubukalung.
Usai melewati pasar tumpah Sicincin tumplekan kendaraan roda dua maupun roda
empat berbagai nomor polisi sudah mulai terlihat menumpuk. Kendaraan yang
semula terlihat melaju dengan lambat mulai terlihat merayap.
”Bayangkan saja dari Padang kami berangkat pukul 18.00 WIB dan baru sampai di
Kadangempat ini pukul 20.00 WIB. Biasanya Padang menuju Bukittinggi bisa
ditempuh hanya dua jam perjalanan,karena Padang menuju Bukittinggi terpaut
jarak 90-an kilometer,” ujar Taslim salah seorang pengemudi kendaraan pribadi
dari Padang mendekati Kelok Pinyaram, Kabupaten Padangpariaman.
Sukses melewati dua pasar tumpah, Lubukalung dan Sicincin bukan berarti mobil
yang ditumpangi Padang Ekspres terlepas dari perangkap macet. Justru yang
terjadi sebaliknya. Menapaki kawasan Kayutanam kendaraan betul-betul sudah
menumpuk. Di sini pengemudi mulai tak bisa lagi menginjak pedal gas. Pengemudi
terlihat mulai sibuk menginjak pedak rem dan kompling. Bau pahit dan busuk
akibat gesekan rem, serta kain kopling dengan mesin mulai menyegat.
Sepanjang jalan juga terlihat sejumlah kendaraan dari berbagai jenis dan
tahun rakitan mulai menepi. Sambil mengumpat dan wajah bosan bercampur letik
terlihat satu persatu mereka mulai membuka kap (penutup mesin, red). Ini
menandakan temperature mesin mobil sudah melewati ambang batas.
Sebetulnya naiknya temperatur mesin kendaraan merupakan konsekuensi logis.
Sebab, mulai dari Kayutanam hingga Padangpanjang kondisi jalan mulai menanjak.
Layaknya jalur tanjakan tentu pengemudi selalu menekan pedal gas dan memaksa
kendaraan agar mampu melaju ditanjakan. Tidak itu saja mesin kendaraan juga
dipaksa dan ini membawa dampak borosnya bahan bakar.
Sepanjang jalur Malibo Anai hingga Bukit Surungan saja tercatat hampir
belasan kendaraan yang kehabisan bahan bakar. Parahnya lagi, keringnya bahan
bakar ini terjadi di kawasan sempit serta tanjakan tajam. Misalnya di kawasan
lingkar Terminal Bukit Surungan yang merupakan jalur satu-satunya dari Padang
menuju Bukittinggi sesuai skenario aparat lalu lintas terlihat sebuah mobil
hartop dan Kijang kehabisan bahan bakar di jalur sempit. Akibatnya hampir satu
jam jalur lingkar tersebut macet total tak bergerak.
Tidak itu saja, jalur alternatif dua jalur yang terpaksa menjadi satu jalur
ini berubah menjadi tempat parkir mendadak. Kendaraan terlihat berjejer
sebanyak empat lapis. Di sini juga terlihat tak ada lagi prioritas bagi
pengguna jalan. Para pengemudi tak lagi peduli dengan status sosial maupun
kasta lain dalam kehidupan.
Setidaknya ini terlihat dari sejumlah kendaraan yang terjebak ditentukan
beberapa kendaraan berlogokan padi kapas dan lambang burung garuda sebagai logo
wakil rakyat. Begitu juga dengan mobnas yang pakai logo daerah di dinding
dengan nopol rahasia. Malahan kendaraan Patwal yang selama ini dipergunakan
untuk menerobos kemacetan dengan raungan serta lampu pijar yang menyala dibuat
tak berkutik. Buktinya, di kawasan lingkar Bukit Surungan ditemukan dua unit
Patwal terjebak dan tak bisa berbuat apa-apa.
”Dek emang jalan menuju Bukittinggi tak ada lagi yang lain ya, kapan mau
nyampai kalau kendaraannya padat kayak gini. Tengoklah ke atas sana rentetan
kendaraan seperti tak terputus,” ujar Jasman salah seorang perantau yang
mengaku ingin menuju RM Badarun untuk menikmati masakan khas sambalado-nya.
Kalau dilihat dari kondisi ruas jalan dan banyaknya kendaraan yang terjebak
macet maka jalur alternatif Padang menuju Bukittinggi sudah harus disediakan.
”Saya sempat dengar ada jalur Padang-Bukittinggi via Sicincin-Malalak untuk,
apakah jalur itu udah bisa dioperasionalkan.
Masalahnya saya dapat informasi jalur itu mulai dikerjakan sejak tahun 2002
yang lalu?” tanyanya. Terlepas dari perangkap macet di jalur Lingkar Bukik
Surungan bukan berarti Padang Ekspres bisa melaju dengan kecepatan tinggi
menuju Kota Sanjai Bukittinggi.
Malahan memasuki jalur Padang-Bukittinggi selepas pertigaan jalur lingkar
Bukit Surungan tumplekan kendaraan juga terlihat makin parah. Padang Ekspres
yang mencoba melirik jam ternyata kaget luar biasa. Untuk jalan sepanjang 300
meter saja harus menghabiskan waktu lebih dari satu jam.
Tepat pukul 00.00 WIB Padang Ekspres kembali melanjutkan perjalanan kendaraan
mulai beringsut menanjakan pendakian Panyalaian, Kecamatan X Koto Kabupaten
Tanahdatar. Sepanjang jalan terlihat sejumlah warga yang bermukim di pinggir
jalan raya Padang-Bukittinggi menjadikan kemacetan sebagai tontonan musiman
yang datang sekali setahun.
Doni (27) salah seorang warga Panyalaian mengatakan, selama dua puluh inilah
macet yang paling parah. Tahun kemarin memang macet juga tapi tak separah ini,
kendaraan masih bisa bergerak. ”Ini betul-betul parah,” ucapnya.
Penerobos Pemicu Kacau
Padatnya jalur dan tumpleknya kendaraan dibanding luar ruas jalan sebetulnya
tak perlu terjadi kalau dikelola dan ditata dengan baik. Dari beberapa kawasan
macet yang dilewati Padang Ekspres pemicu utama kemacetan adalah banyak
kendaraan yang menerobos melewati marka jalan (tanda pembatas jalan, red) dan
memakan jalan dari arah berlawanan. Sementara dari arah berlawanan juga
terlihat tumpukan kendaraan. Benturan jalur inilah yang paling banyak
menimbulkan kemacetan.
Dari pantauan Padang Ekspres kondisi ini mulai terjadi dari kawasan Kayutanam
hingga ke Padang Luar Kabupaten Agam. Di sepanjang jalur ini juga terlihat
ratusan, bahkan ribuan batu ukuran sedang berserakan di jalan. Batu-batu ini
dipergunakan oleh para pengemudi untuk menganjal kendaraan agar tak melorot
ditanjakan ketika terpaksa harus berhenti mendapat giliran untuk jalan.
Begitu juga dengan sampah. Sepanjang jalan tersebut terlihat sampah
berserakan akibat para penumpang banyak yang kelaparan sebelum sampai di tempat
tujuan. Kondisi ini diperparah, karena sebagian besar rumah makan dan restoran
sudah tutup karena kehabisan bahan makanan. Sementara sejumlah pengemudi
kendaraan Angkutan Kota Dalam Provinsi yang sempat dihubungi Padang Ekspres
mengaku kesal dengan kemacetan ini.
”Biasonyo kami bisa jalan ampek (dua kali pulang pergi, red)
Padang-Payakumbuh manjalang malam. Ko lah tangah malam baru jalan duo, kanai
kami da,” ujar Malin salah seorang pengemudi AKDP Jalur Payakumbuh Padang.
Bergantung Sicincin-Malalak
Macet yang menjadi tontonan musiman ini tak akan pernah selesai sepanjang
tahun jika jalur alternatif dan konsentrasi kendaraan tidak dipecah. Sebab,
opini masyarakat baik itu di rantau maupun di kampung, untuk berlebaran yang
paling mengasikan itu adalah Bukittinggi. Mungkin tidak berlebihan kalau tak ke
Bukittinggi belum lengkap Lebarannya. Inilah yang membuat kawasan ini menjadi
macet total.
Kini fakta yang terjadi di jalur padat tersebut bukannya terpecah. Malahan
sejumlah objek wisata baru muncul seperti Minang Fantasi di kawasan Minangkabau
Village. Akibatnya, walau tak menjadi pelaku utama, kehadiran objek wisata air
kedua setelah waterboom di Sawahlunto ini juga ikut memberikan konstribusi
macetnya jalur Padangpanjang-Bukittinggi.
Jika warga Sumbar tak ingin lagi terjebak macet bila berpergian ke
Bukittinggi, maka jalur alternatif Sicincin-Malalak merupakan kata kunci.
Sebab, masyarakat bisa menggunakan alternatif lain untuk berpergian menuju Kota
Sanjai yang selama ini dikenal sebagai icon-nya wisata Sumbar. (Two Efly)
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---