mudah2an...jalur kereta api yang melingkari sumbar ini dapat aktif kembali
semuanya, sehingga dapat dijadikan alternatif angkutan yg betul2 bebas
hambatan.

salam
ephi

On Mon, Oct 6, 2008 at 11:45 AM, Ibrahim Hadied <[EMAIL PROTECTED]>wrote:

> Sepatutnya pemasangan rambu-rambu harus betul-betul dimanfaatkan dan tindak
> tegas bagi pelanggar harus dilakukan.
> Kalo dapat ada jalur alternatif (jalan lintas)...dan ke padang atau ke
> bukit tinggi...
>
> *IBRAHIM AL HADID*
> *PT. DATA ENERGY INFOMEDIA*
> *GEDUNG PLN ENJINIRING LT. 3*
> *JL. K.S TUBUN I NO. 2 JAKARTA BARAT*
> *INDONESIA 11420*
> *T  : +6221-5638648 EXT. 453
> *
> *
> *
> **
>
>
> --- On *Sun, 10/5/08, Yulnofrins Napilus <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
>
> From: Yulnofrins Napilus <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [EMAIL PROTECTED] Sembilan Jam Terjebak Macet Padang-Bukittinggi...!!
> To: "MPKAS" <[EMAIL PROTECTED]>, "Komunitas Kereta Api" <
> [EMAIL PROTECTED]>, "MAPPAS" <[EMAIL PROTECTED]>, "RantauNet2
> Milis" <[email protected]>, "IPMPP" <[EMAIL PROTECTED]>,
> "Milis SMA1Bkt" <[EMAIL PROTECTED]>, "Gebu Minang" <
> [EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED]
> Date: Sunday, October 5, 2008, 7:06 PM
>
>
> *Jadi baa lai nan rancak...?* Diluar masa Lebaran, berakhir minggu ke
> Bukittinggi pun selalu berpeluang kena macet panjang. Belum lagi kalau ada
> *Truk* mogok di daerah Lembah Anai...!
>
> Salam,
> Nofrins
> www.nofrins.west-sumatra.com
>
>
> http://www.padangekspres.co.id/content/view/19697/1/
>   HEADLINE NEWS
>
>   Senin, 06 Oktober 2008  *Sembilan Jam Terjebak Macet Padang-Bukittinggi
> *
> *Jalan Lima Meter Berhentinya Sepuluh Menit*
> **
> [image: Active Image]*Macet Total :* Antrean kendaraan terjebak macet di
> Silaingbawah,  Padangpanjang, beberapa waktu lalu.(Foto : Padek)
>  Tidak Lebaran namanya kalau jalur Padang-Bukittinggi tak macet total.
> Bencana musiman setiap tahun yang tak kunjung terselesaikan tersebut di
> tahun 1429 Hijiriah kembali terjadi. Bayangkan dari Padangpanjang hingga
> Koto Baru, X Koto Kabupaten Tanahdatar harus dilewati lima jam perjalanan.
>  Anto (35) mengumpat dan mengerutu sambil membantingkan pintu mobil. "Apo
> ko, masak dari Silaing ka Bukik Surungan ko se habih lo wakatu dua jam,"
> ujarnya menggerutu sambil melihat arloji Rolex yang melingkar di lengan
> kirinya, Kamis (2/10).
>
> Seperti tahun-tahun sebelumnya, jalur Padang-Bukittinggi memang selalu
> macet. Namun Lebaran 1429 Hijiriah kali ini betul-betul macet luar biasa.
> Macet total dan nyaris tak bergerak. Seluruh kendaraan yang tumpah ruah di
> jalan terlihat berhenti lima menit dan lalu berjalan lima meter lalu
> berhenti lagi.
>
> Pantauan koran ini apa yang dirasakan selama terjebak dalam macet total
> dari Padang menuju Bukittinggi mulai terjadi ketika memasuki kawasan Simpang
> Lintas Padangpariaman. Karena di kawasan tersebut sudah mulai terjadi
> pertemuan dua jalur arus transportasi yang selama ini juga termasuk daerah
> rawan macet.
>
> Dari arah Simpang Lintas terlihat deretan kendaraan mulai merangkak dari
> arah Pasaman Barat, Lubukbasung dan Pariaman. Baik itu menuju Padang maupun
> menuju kawasan Lubukalung. Dari arah selatannya datang deretan kendaraan
> dari arah Kota Padang menuju Padangpanjang.
>
> Masih syukur kawasan yang dekat dengan rawan macet karena pasar tumpah di
> Lubukalung ini tidaklah macet total. Tapi macet di jalur ini hanya berdampak
> melambatnya laju kendaraan. Kondisi yang nyaris sama juga terjadi di kawasan
> Sicincin, Kabupaten Padangpariaman. Daerah yang juga memiliki pasar tumpah
> dan pertigaan jalan menuju Padangpariaman ini juga terlihat macet. Di
> kawasan ini  terjadi macet yang agak lebih dibandingkan kawasan Lubukalung.
>
> Usai melewati pasar tumpah Sicincin tumplekan kendaraan roda dua maupun
> roda empat berbagai nomor polisi sudah mulai terlihat menumpuk. Kendaraan
> yang semula terlihat melaju dengan lambat mulai terlihat merayap.
>
> "Bayangkan saja dari Padang kami berangkat pukul 18.00 WIB dan baru sampai
> di Kadangempat ini pukul 20.00 WIB. Biasanya Padang menuju Bukittinggi bisa
> ditempuh hanya dua jam perjalanan,karena Padang menuju Bukittinggi terpaut
> jarak 90-an kilometer," ujar Taslim salah seorang pengemudi kendaraan
> pribadi dari Padang mendekati Kelok Pinyaram, Kabupaten Padangpariaman.
>
> Sukses melewati dua pasar tumpah, Lubukalung dan Sicincin bukan berarti
> mobil yang ditumpangi Padang Ekspres terlepas dari perangkap macet. Justru
> yang terjadi sebaliknya. Menapaki kawasan Kayutanam kendaraan betul-betul
> sudah menumpuk. Di sini pengemudi mulai tak bisa lagi menginjak pedal gas.
> Pengemudi terlihat mulai sibuk menginjak pedak rem dan kompling. Bau pahit
> dan busuk akibat gesekan rem, serta kain kopling dengan mesin mulai
> menyegat.
>
> Sepanjang jalan juga terlihat sejumlah kendaraan dari berbagai jenis dan
> tahun rakitan mulai menepi. Sambil mengumpat dan wajah bosan bercampur letik
> terlihat satu persatu mereka mulai membuka kap (penutup mesin, red). Ini
> menandakan temperature mesin mobil sudah melewati ambang batas.
>
> Sebetulnya naiknya temperatur mesin kendaraan merupakan konsekuensi logis.
> Sebab, mulai dari Kayutanam hingga Padangpanjang kondisi jalan mulai
> menanjak. Layaknya jalur tanjakan tentu pengemudi selalu menekan pedal gas
> dan memaksa kendaraan agar mampu melaju ditanjakan. Tidak  itu saja mesin
> kendaraan juga dipaksa dan ini membawa dampak borosnya bahan bakar.
>
> Sepanjang jalur Malibo Anai hingga Bukit Surungan saja tercatat hampir
> belasan kendaraan yang kehabisan bahan bakar. Parahnya lagi, keringnya bahan
> bakar ini terjadi di kawasan sempit serta tanjakan tajam. Misalnya di
> kawasan lingkar Terminal Bukit Surungan yang merupakan jalur satu-satunya
> dari Padang menuju Bukittinggi sesuai skenario aparat lalu lintas terlihat
> sebuah mobil hartop dan Kijang kehabisan bahan bakar di jalur sempit.
> Akibatnya hampir satu jam jalur lingkar tersebut macet total tak bergerak.
>
> Tidak itu saja, jalur alternatif dua jalur yang terpaksa menjadi satu jalur
> ini berubah menjadi tempat parkir mendadak. Kendaraan terlihat berjejer
> sebanyak empat lapis. Di sini juga terlihat tak ada lagi prioritas bagi
> pengguna jalan. Para pengemudi tak lagi peduli dengan status sosial maupun
> kasta lain dalam kehidupan.
>
> Setidaknya ini terlihat dari sejumlah kendaraan yang terjebak ditentukan
> beberapa kendaraan berlogokan padi kapas dan lambang burung garuda sebagai
> logo wakil rakyat. Begitu juga dengan mobnas yang pakai logo daerah di
> dinding dengan nopol rahasia. Malahan kendaraan Patwal yang selama ini
> dipergunakan untuk menerobos kemacetan dengan raungan serta lampu pijar yang
> menyala dibuat tak berkutik. Buktinya, di kawasan lingkar Bukit Surungan
> ditemukan dua unit Patwal terjebak dan tak bisa berbuat apa-apa.
>
> "Dek emang jalan menuju Bukittinggi tak ada lagi yang lain ya, kapan mau
> nyampai kalau kendaraannya padat kayak gini. Tengoklah ke atas sana rentetan
> kendaraan seperti tak terputus," ujar Jasman salah seorang perantau yang
> mengaku ingin menuju RM Badarun untuk menikmati masakan khas sambalado-nya.
>
> Kalau dilihat dari kondisi ruas jalan dan banyaknya kendaraan yang terjebak
> macet maka jalur alternatif Padang menuju Bukittinggi sudah harus
> disediakan. "Saya sempat dengar ada jalur Padang-Bukittinggi via
> Sicincin-Malalak untuk, apakah jalur itu udah bisa dioperasionalkan.
>
> Masalahnya saya dapat informasi jalur itu mulai dikerjakan sejak tahun 2002
> yang lalu?" tanyanya. Terlepas dari perangkap macet di jalur Lingkar Bukik
> Surungan bukan berarti Padang Ekspres bisa melaju dengan kecepatan tinggi
> menuju Kota Sanjai Bukittinggi.
>
> Malahan memasuki jalur Padang-Bukittinggi selepas pertigaan jalur lingkar
> Bukit Surungan tumplekan kendaraan juga terlihat makin parah. Padang Ekspres
> yang mencoba melirik jam ternyata kaget luar biasa. Untuk jalan sepanjang
> 300 meter saja harus menghabiskan waktu lebih dari satu jam.
> Tepat pukul 00.00 WIB Padang Ekspres kembali melanjutkan perjalanan
> kendaraan mulai beringsut menanjakan pendakian Panyalaian, Kecamatan X Koto
> Kabupaten Tanahdatar. Sepanjang jalan terlihat sejumlah warga yang bermukim
> di pinggir jalan raya Padang-Bukittinggi menjadikan kemacetan sebagai
> tontonan musiman yang datang sekali setahun.
>
> Doni (27) salah seorang warga Panyalaian mengatakan, selama dua puluh
> inilah macet yang paling parah. Tahun kemarin memang macet juga tapi tak
> separah ini, kendaraan masih bisa bergerak. "Ini betul-betul parah,"
> ucapnya.
> **
> *Penerobos Pemicu Kacau*
> Padatnya jalur dan tumpleknya kendaraan dibanding luar ruas jalan
> sebetulnya tak perlu terjadi kalau dikelola dan ditata dengan baik. Dari
> beberapa kawasan macet yang dilewati Padang Ekspres pemicu utama kemacetan
> adalah banyak kendaraan yang menerobos melewati marka jalan (tanda pembatas
> jalan, red) dan memakan jalan dari arah berlawanan. Sementara dari arah
> berlawanan juga terlihat tumpukan kendaraan. Benturan jalur inilah yang
> paling banyak menimbulkan kemacetan.
>
> Dari pantauan Padang Ekspres kondisi ini mulai terjadi dari kawasan
> Kayutanam hingga ke Padang Luar Kabupaten Agam. Di sepanjang jalur ini juga
> terlihat ratusan, bahkan ribuan batu ukuran sedang berserakan di jalan.
> Batu-batu ini dipergunakan oleh para pengemudi untuk menganjal kendaraan
> agar tak melorot ditanjakan ketika terpaksa harus berhenti mendapat giliran
> untuk jalan.
>
> Begitu juga dengan sampah. Sepanjang jalan tersebut terlihat sampah
> berserakan akibat para penumpang banyak yang kelaparan sebelum sampai di
> tempat tujuan. Kondisi ini diperparah, karena sebagian besar rumah makan dan
> restoran sudah tutup karena kehabisan bahan makanan. Sementara sejumlah
> pengemudi kendaraan Angkutan Kota Dalam Provinsi yang sempat dihubungi
> Padang Ekspres mengaku kesal dengan kemacetan ini.
>
> "Biasonyo kami bisa jalan ampek (dua kali pulang pergi, red)
> Padang-Payakumbuh manjalang malam. Ko lah tangah malam baru jalan duo, kanai
> kami da," ujar Malin salah seorang pengemudi AKDP Jalur Payakumbuh Padang.
> **
> *Bergantung Sicincin-Malalak*
> Macet yang menjadi tontonan musiman ini tak akan pernah selesai sepanjang
> tahun jika jalur alternatif dan konsentrasi kendaraan tidak dipecah. Sebab,
> opini masyarakat baik itu di rantau maupun di kampung, untuk berlebaran yang
> paling mengasikan itu adalah Bukittinggi. Mungkin tidak berlebihan kalau tak
> ke Bukittinggi belum lengkap Lebarannya. Inilah yang membuat kawasan ini
> menjadi macet total.
>
> Kini fakta yang terjadi di jalur padat tersebut bukannya terpecah. Malahan
> sejumlah objek wisata baru muncul seperti Minang Fantasi di kawasan
> Minangkabau Village. Akibatnya, walau tak menjadi pelaku utama, kehadiran
> objek wisata air kedua setelah waterboom di Sawahlunto ini juga ikut
> memberikan konstribusi macetnya jalur Padangpanjang-Bukittinggi.
>
> Jika warga Sumbar tak ingin lagi terjebak macet bila berpergian ke
> Bukittinggi, maka jalur alternatif Sicincin-Malalak merupakan kata kunci.
> Sebab, masyarakat bisa menggunakan alternatif lain untuk berpergian menuju
> Kota Sanjai yang selama ini dikenal sebagai icon-nya wisata Sumbar. (Two
> Efly)
>
>
>
>
>
>
>
> >
>


-- 
[ Yuhefizar a.k.a Ephi Lintau }}
www.ephi.web.id | http://blog.ephi.web.id

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke