Kuagungkan ranahku

 

Indahnya Ranah Minang.. 

Gunung Merapi dan Gunung Singgalang. 

seperti mata yang indah dan memancarkan
cinta dan sapaan 

Duduk bersanding berdua, 

Bintang-bintang dilangit sungguh indah
dipandang. 

Keindahan yang menawan hati. 

Keindahan pagi hari berbeda dengan
keindahan sore hari. 

Keindahan waktu terbit berbeda dengan
keindahan waktu terbenam. 

Keindahan malam purnama 

berbeda dengan keindahan malam tanpa
cahaya rembulan. 

Keindahan langit yang cerah 

berbeda dengan keindahan langit yang
diliputi awan. 

Bahkan keindahan itu berbeda pada jam
tertentu dengan jam yang lain

Pandangan tertentu dengan pandangan yang
lain. 

Seluruhnya adalah keindahan yang menawan
setiap hari.

Kulihat ada bintang-bintang yang berkumpul


saling berpelukan dan menyebar
disana-sini. 

Ada rembulan yang pemurah 

dan tenang pada satu malam. 

Ada rembulan yang berkilauan pada satu
malam. 

Ada rembulan yang kecil dan redup pada
satu malam. 

Ada rembulan yang mengecil dan akan hilang
pada satu malam. 

Ranah Minang, 

tidak akan pernah bosan aku mengenangnya. 

Walaupun pandanganku tidak sampai
keujungnya. 

Sungguh keindahan yang dimiliki urang
rantau untuk dinikmati.

Aku tak memiliki kalimat yang cukup 

untuk menuturkan keindahannya itu. 

 

Indahnya Ranah Minang.. 
Bintang-bintang
dilangit sungguh indah dipandang. 
Keindahan yang menawan hati. 
Keindahan pagi
hari berbeda dengan keindahan sore hari. 
Keindahan waktu terbit berbeda dengan
keindahan waktu terbenam. 
Keindahan malam purnama berbeda dengan keindahan
malam tanpa cahaya rembulan. Keindahan langit yang cerah berbeda dengan
keindahan langit yang diliputi awan. Bahkan keindahan itu berbeda pada jam
tertentu dengan jam yang lain., pandangan tertentu dengan pandangan yang lain. 
Seluruhnya adalah keindahan yang menawan setiap hari.

Gunung Merapi dan Gunung Singgalang. 
Duduk
bersanding berdua, seperti mata yang indah dan memancarkan cinta dan sapaan.
Keduanya menyendiri tidak tersentuh kebisingan dan kegalauan hati. 
Ada
bintang-bintang yang berkumpul saling berpelukan dan menyebar disana-sini. 
Ada
rembulan yang pemurah dan tenang pada satu malam. Ada rembulan yang berkilauan
pada satu malam. 
Ada rembulan yang kecil dan redup pada satu malam. Ada
rembulan yang mengecil dan akan hilang pada satu malam. 

Ranah Minang, tidak akan pernah bosan aku
mengenangnya. 
Walaupun pandanganku tidak sampai keujungnya. 
Sungguh keindahan
yang dimiliki urang rantau untuk dinikmati.Aku tak memiliki kalimat yang cukup
untuk menuturkan keindahannya itu.
SEALAMAT BERJUMPA LAGI DENGAN SANAK SAPARANTAUAN DI RANTAUNET....
Wassalam





  3vy nizhamul 
http://hyvny.blogspot.com
http://bundokanduang.wordpress.com
  

   
  


--- On Thu, 10/9/08, Mantari Sutan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Mantari Sutan <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Refleksi Seorang Pemudik Lebaran
To: [email protected]
Date: Thursday, October 9, 2008, 4:06 AM


Alhamdulillah, perjalanan mudik yang saya lakukan berjalan dengan lancar, 
selamat pulang pergi.  Secara total, perjalanan mudik yang saya lakukan hampir 
mencapai angka 5.000 kilometer.  Semua mencakup perjalanan pulang pergi dan 
mondar-mandir selama di kampung.  Semua dilakukan atas nama sebuah kegiatan 
pulang kampung alias mudik di hari yang suci ini.  Silakan pro dan kontra 
dengan hajatan ini.  Sampai hari ini, bagi saya mudik lebaran masih merupakan 
sebuah "exciting moment".  Sebuah pengalaman indah, berkumpul dengan kedua 
orang tua, adik-kakak dan seluruh sanak keluarga lainnya.  Terlebih lagi, 
keluarga besar masih banyak yang tinggal di kampung.  Perantau masih berhitung 
jari.


Walaupun saya berbakat untuk komplain atau bahkan mungkin bernama tengah
 "protes", untuk urusan mudik sulit bagi saya untuk melakukan protes kepada 
pemerintah, terutama berkaitan dengan infrastruktur.  Asumsi dasar pembangunan 
infrastruktur bukanlah pada kondisi hondoh poroh saat mudik.  Asumsi yang 
dipakai adalah sebuah kondisi mobilitas normal.  Untuk kondisi normal saja 
mereka sudah acak-acakan, konon kok pula ketika mudik.  Untuk alasan ini, saya 
bisa menerima berantri naik ferri selama 4 jam mobil terparkir di Merak. Justru 
saya menyesalkan keberadaan negara ini untuk melayani masyarakat hanya terlihat 
ketika mudik tiba.  Seolah mereka bekerja sepenuh hati hanya ketika mudik.  
Polisi-polisi terlihat semangat berpatroli dengan pos-pos yang tersebar 
dimana-mana.  Mereka gesit mengatur lalu lintas.  Petugas SAR dan paramedik 
bersiaga penuh.  Kendaraan laut, darat dan udara bersedia siaga penuh selama 
kurun mudik.  Pak Camat, lurah dan seterusnya juga tidak boleh
 meninggalkan wilayah kerja dan harus tetap terus berkoordinasi.  Jalan-jalan 
segera diaspal licin, lampu jalan di tambah, alat-alat berat stand by di lokasi 
rawan longsor.  Padahal semestinya, tanpa kurun mudik pun mereka memang sudah 
bekerja dengan semangat yang sama.  Memang sudah kewajiban mereka seperti itu.  
"Minimum requirement" orang-orang yang saya sebutkan di atas memang seperti 
itu.  Kurun lebaran atau tidak.


Setiba di kampung halaman, setiap moment silaturahim memang saya nikmati.  Jauh 
di lubuk hati, saya sudah bertekad untuk menghindari kesan pamer untuk setiap 
kepulangan mudik.  Appearance berbentuk penyumbangan atau ota-ota untuk 
memajukan kampung tidak akan saya lakukan lagi.  Saya pulang murni untuk 
bersilaturahmi.  Kalaupun ada halal bi halal kaum dan nagari, saya hadiri 
memang untuk bersilaturahmi.  Saya tidak mau menyumbang di acara itu, walaupun 
pembawa acara dan peminta
 sumbangan terus berteriak.  Saya hanya jawab nanti lah.  Berpendapat sok tau 
dan menggurui pun tidak dilakukan.  Banyak diam dan mendengar saja.  Kalaupun 
nanti saya dianggap sampilik dan sombong, saya sudah tidak peduli.  Saya pulang 
hanya untuk bersilaturahmi.  Soal sumbangan kepada kampung, ada cara dan jalan 
yang lain.

Maunya saya, masyarakat di kampung menanggapi sekadar saja terhadap para 
pemudik atau para perantau pulang basamo.  Tak perlu lah tebaran spanduk 
mengucapkan selamat datang.  Tak ada decak kagum berlebihan lagi.  Kalaupun 
mereka pulang, salami saja lah dengan sebuah salaman dek alah lamo indak 
basuo.  Tak perlu lagi drum-drum bekas di tengah labuah lengkap dengan orang 
membawa tangguak meminta kerilaan perantau untuk membangun masjid atau turnamen 
bolakaki.

Maunya saya lagi, perantau pemudik tak lagi berebut membeli singgang ayam 
ketika pulang.  Tak perlu juga
 bertingkah-meningkah dalam menyebutkan jumlah sumbangan untuk surau dan 
masjid.  Cerita sok tau berupa seolah brief untuk kemajuan kampung perlu kita 
kurangi.  Kita pulang untuk bersilaturahim dan berkumpul dengan
 orang-orang yang kita cintai di kampung halaman.  Memaksakan diri untuk 
terlihat bergaya di kampung halaman mudah-mudahan tidak lagi kita lakukan.  
Kita pulang apa adanya saja.

Di kampung, saya lihat kehidupan berjalan seperti nan taralah.  Menjadi Pegawai 
Negeri Sipil masih terlihat sebagai jalan keluar utama penyambung hidup.  Bagi 
sebagian orang berharap dengan menjadi anggota legislatif.  Spanduk dan baliho 
berisi lambang partai, foto diri dan ucapan selamat idul fitri bertebaran di 
seluruh pelosok kampung.  Sebagian masih berharap dari rasaki harimau, berharap 
menemukan emas di sepanjang sungai.  Sebagian apak dan mamak kita, masih gadang 
ota dan sok tau.  Sebagian lagi
 masih setia bertani di sawah, menggembalakan ternak dan berladang.  Sebagian 
anak muda masih rajin ke sekolah, surau dan masjid.  Sebagian muda lagi, 
rambutnya sudah diwarnai.  Kampung kita masih mengalir dan bergerak.  Kampung 
juga sebuah kedimanisan.  Tapian tampek mandi sudah di setiap sudut kamar tidur.

Bagi saya, mudik tetaplah sebuah keindahan dan momen berharga.  Selamat menjadi 
pemudik.  Insya Allah, lebaran tahun depan saya akan mudik lagi.

MS/29



      







      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke