Alhamdulillah, perjalanan mudik yang saya lakukan berjalan dengan lancar,
selamat pulang pergi. Secara total, perjalanan mudik yang saya lakukan hampir
mencapai angka 5.000 kilometer. Semua mencakup perjalanan pulang pergi dan
mondar-mandir selama di kampung. Semua dilakukan atas nama sebuah kegiatan
pulang kampung alias mudik di hari yang suci ini. Silakan pro dan kontra
dengan hajatan ini. Sampai hari ini, bagi saya mudik lebaran masih merupakan
sebuah "exciting moment". Sebuah pengalaman indah, berkumpul dengan kedua
orang tua, adik-kakak dan seluruh sanak keluarga lainnya. Terlebih lagi,
keluarga besar masih banyak yang tinggal di kampung. Perantau masih berhitung
jari.
Walaupun saya berbakat untuk komplain atau bahkan mungkin bernama tengah
"protes", untuk urusan mudik sulit bagi saya untuk melakukan protes kepada
pemerintah, terutama berkaitan dengan infrastruktur. Asumsi dasar pembangunan
infrastruktur bukanlah pada kondisi hondoh poroh saat mudik. Asumsi yang
dipakai adalah sebuah kondisi mobilitas normal. Untuk kondisi normal saja
mereka sudah acak-acakan, konon kok pula ketika mudik. Untuk alasan ini, saya
bisa menerima berantri naik ferri selama 4 jam mobil terparkir di Merak. Justru
saya menyesalkan keberadaan negara ini untuk melayani masyarakat hanya terlihat
ketika mudik tiba. Seolah mereka bekerja sepenuh hati hanya ketika mudik.
Polisi-polisi terlihat semangat berpatroli dengan pos-pos yang tersebar
dimana-mana. Mereka gesit mengatur lalu lintas. Petugas SAR dan paramedik
bersiaga penuh. Kendaraan laut, darat dan udara bersedia siaga penuh selama
kurun mudik. Pak Camat, lurah dan seterusnya juga
tidak boleh meninggalkan wilayah kerja dan harus tetap terus berkoordinasi.
Jalan-jalan segera diaspal licin, lampu jalan di tambah, alat-alat berat stand
by di lokasi rawan longsor. Padahal semestinya, tanpa kurun mudik pun mereka
memang sudah bekerja dengan semangat yang sama. Memang sudah kewajiban mereka
seperti itu. "Minimum requirement" orang-orang yang saya sebutkan di atas
memang seperti itu. Kurun lebaran atau tidak.
Setiba di kampung halaman, setiap moment silaturahim memang saya nikmati. Jauh
di lubuk hati, saya sudah bertekad untuk menghindari kesan pamer untuk setiap
kepulangan mudik. Appearance berbentuk penyumbangan atau ota-ota untuk
memajukan kampung tidak akan saya lakukan lagi. Saya pulang murni untuk
bersilaturahmi. Kalaupun ada halal bi halal kaum dan nagari, saya hadiri
memang untuk bersilaturahmi. Saya tidak mau menyumbang di acara itu, walaupun
pembawa acara dan peminta sumbangan terus berteriak. Saya hanya jawab nanti
lah. Berpendapat sok tau dan menggurui pun tidak dilakukan. Banyak diam dan
mendengar saja. Kalaupun nanti saya dianggap sampilik dan sombong, saya sudah
tidak peduli. Saya pulang hanya untuk bersilaturahmi. Soal sumbangan kepada
kampung, ada cara dan jalan yang lain.
Maunya saya, masyarakat di kampung menanggapi sekadar saja terhadap para
pemudik atau para perantau pulang basamo. Tak perlu lah tebaran spanduk
mengucapkan selamat datang. Tak ada decak kagum berlebihan lagi. Kalaupun
mereka pulang, salami saja lah dengan sebuah salaman dek alah lamo indak basuo.
Tak perlu lagi drum-drum bekas di tengah labuah lengkap dengan orang membawa
tangguak meminta kerilaan perantau untuk membangun masjid atau turnamen
bolakaki.
Maunya saya lagi, perantau pemudik tak lagi berebut membeli singgang ayam
ketika pulang. Tak perlu juga bertingkah-meningkah dalam menyebutkan jumlah
sumbangan untuk surau dan masjid. Cerita sok tau berupa seolah brief untuk
kemajuan kampung perlu kita kurangi. Kita pulang untuk bersilaturahim dan
berkumpul dengan
orang-orang yang kita cintai di kampung halaman. Memaksakan diri untuk
terlihat bergaya di kampung halaman mudah-mudahan tidak lagi kita lakukan.
Kita pulang apa adanya saja.
Di kampung, saya lihat kehidupan berjalan seperti nan taralah. Menjadi Pegawai
Negeri Sipil masih terlihat sebagai jalan keluar utama penyambung hidup. Bagi
sebagian orang berharap dengan menjadi anggota legislatif. Spanduk dan baliho
berisi lambang partai, foto diri dan ucapan selamat idul fitri bertebaran di
seluruh pelosok kampung. Sebagian masih berharap dari rasaki harimau, berharap
menemukan emas di sepanjang sungai. Sebagian apak dan mamak kita, masih gadang
ota dan sok tau. Sebagian lagi masih setia bertani di sawah, menggembalakan
ternak dan berladang. Sebagian anak muda masih rajin ke sekolah, surau dan
masjid. Sebagian muda lagi, rambutnya sudah diwarnai. Kampung kita masih
mengalir dan bergerak. Kampung juga sebuah kedimanisan. Tapian tampek mandi
sudah di setiap sudut kamar tidur.
Bagi saya, mudik tetaplah sebuah keindahan dan momen berharga. Selamat menjadi
pemudik. Insya Allah, lebaran tahun depan saya akan mudik lagi.
MS/29
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---