http://www.padangekspres.co.id/content/view/19871/55/
.  Jumat, 10 Oktober 2008   *Oleh : Gamawan Fauzi, Gubernur Sumbar*
Ada sebuah anekdot, bahwa ketika Neil Amstrong mendarat di Bulan bersama
Apallo 11 38 tahun silam, ia sangat terkejut mendapati orang Minang sudah
lebih duluan sampai di sana untuk membuka rumah makan Padang. Orang Minang
memang ada di mana-mana di berbagai pelosok Indonesia, bahkan di seluruh
dunia.

Mereka terkenal karena memiliki budaya merantau. Suatu budaya yang hanya
dimiliki oleh suku bangsa tertentu saja di Indonesia. Selain suku bangsa
Minangkabau, etnis yang juga mempunyai budaya merantau adalah Bugis, Banjar,
Batak, sebagian orang Pantai Utara Jawa dan Madura.

Budaya merantau orang Minangkabau sudah tumbuh dan berkembang sejak
berabad-abad silam. Para pengelana awal bangsa Eropa yang mengunjungi Asia
Tenggara mencatat bahwa orang Minangkabau sudah merantau ke Semenanjung
Melayu jauh sebelum orang-orang kulit putih datang ke sana.

Bahkan, sebuah laporan pertengahan abad ke-19 yang tersimpan dalam arsip di
Perpustakaan Leiden, Negeri Belanda, menyebutkan tentang "The Minangkabau
State in Malay Peninsula" (Negara Minangkabau di Semenanjung Malaya). Negeri
itulah yang kemudian kita kenal sebagai Negeri Sembilan, salah satu kerajaan
yang mendirikan Negara Federasi Malaysia.

Jadi, mereka sudah mendirikan sebuah negara di Semenanjung Malaya sebelum
berdiri di barisan terdepan dalam mendirikan Negara Republik Indonesia.
Tradisi merantau orang Minang terbangun dari budaya yang dinamis, egaliter,
mandiri dan berjiwa merdeka. Ditambah kemampuan bersilat lidah
(berkomunikasi) sebagai salah satu ciri khas mereka yang membuatnya mudah
beradaptasi dengan suku bangsa mana saja.

Banyak hasil studi para sarjana asing maupun ilmuwan nasional menunjukkan
bahwa budaya merantau orang Minang sudah muncul dan berkembang sejak
berabad-abad silam. Budaya yang unik ini sering dikaitkan dengan pantun yang
berbunyi: Karatau madang di hulu Babuah babungo balun Marantau Bujang dahulu
Di kampuang baguno balun (Keratau madang di hulu, berbuah berbunga belum.
Merantau Bujang dahulu, di kampung berguna belum) Dalam konsep budaya Alam
Minangkabau dikenal wilayah inti (darek) dan rantau (daerah luar).

Rantau secara tradisional adalah wilayah ekspansi, daerah perluasan atau
daerah taklukan. Namun perkembangannya belakangan, konsep rantau dilihat
sebagai sesuatu yang menjanjikan harapan untuk masa depan dan kehidupan yang
lebih baik dikaitkan dengan konteks sosial ekonomi dan bukan dalam konteks
politik. Berdasarkan konsep tersebut, merantau adalah untuk pengembangan
diri dan mencapai kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik.

Dengan demikian, tujuan merantau sering dikaitkan dengan tiga hal: mencari
harta (berdagang/menjadi saudagar), mencari ilmu (belajar), atau mencari
pangkat (pekerjaan/jabatan) (Navis, 1999). Sebagai sebuah pola migrasi
(perpindahan penduduk) secara sukarela, atas kemauan sendiri, maka merantau
orang Minang berbeda dengan, katakanlah, merantau orang Jawa yang melalui
proses transmigrasi —diprogramkan dan dibiayai pemerintah. Orang Minang
merantau dengan kemauan dan kemampuannya sendiri.

Mereka melihat proses ini semacam penjelajahan, proses hijrah, untuk
membangun kehidupan yang lebih baik (lihat Mochtar Naim, 1984). Dalam alam
pikiran orang Minangkabau —analog dengan dunia agraris-kampung halaman atau
tanah kelahiran ibaratnya persemaian yang berfungsi untuk menumbuhkan bibit.
Setelah bibit tumbuh, mereka harus keluar dari persemaian ke lahan yang
lebih luas agar menjadi pohon yang besar kemudian berbuah.

Proses seperti inilah yang dialami dan kemudian terlihat pada tokoh-tokoh
asal Minang yang berkiprah di "dunia" yang jauh lebih luas seperti Muhammad
Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Muhammad Yamin, Hamka, Muhammad Natsir,
Haji Agus Salim, atau generasi yang lebih belakangan lahir, tumbuh,
mengalami masa kecil dan remaja di kampung, lalu pergi merantau dan "menjadi
orang".

*Selalu Membaur, Tak Pernah Konflik*

Ke mana pun mereka merantau, di mana pun mereka berada, orang Minang
memiliki daya adaptasi yang tinggi dengan di lingkungannya. ini sesuai
dengan ungkapan yang merupakan pedoman hidup mereka: di mana bumi di pijak,
di situ langik dijunjung. Atau, di kandang kambing mengembek, di kandang
kabau mengo'ek.

Sepanjang sejarahnya, orang Minang di perantauan tidak pernah terlibat
konflik dengan masyarakat di mana pun mereka berada. Ini karena budaya dan
perilaku hidup mereka yang yang terbuka, tidak eksklusif, dan hidup membaur
dengan masyarakat setempat. Di mana pun rantaunya, orang Minang tidak pernah
membuat "kampong".

Tidak ditemukan ada Kampung Minang di kota-kota di mana perantau Minang
jumlahnya cukup banyak. Sebaliknya, di kampung halamannya sendiri mereka
memberikan "kampuang" kepada para pendatang, termasuk kepada orang Cina. Di
Padang, Bukittinggi dan Payakumbuh ada Kampung Cino (Cina), di Padang dan
Solok ada Kampuang Jao ( Jawa), atau Kampung Keling di Padang dan Pariaman.

Karena daya adaptasi, kemampuan menyesuaikan diri, yang tinggi itu, mereka
pun diterima oleh masyarakat di mana mereka berada. Mereka diterima menjadi
pemimpin formal maupun informal di rantaunya masing-masing. Sebutlah,
misalnya, Mr Datuk Djamin yang menjadi Gubernur Jawa Barat yang kedua
(1946); Gubernur Maluku yang kedua dan ketiga, yakni Muhammad Djosan
(1955-1960), dan Muhammad Padang (1960-1965); Gubernur Sulawesi Tengah yang
pertama, Datuk Madjo Basa Nan Kuniang (1964-1968); Residen/Gubernur Sumatera
Selatan yang pertama dr.Adnan Kapau Gani; atau Djamin Dt Bagindo yang
menjadi gubernur pertama Provinsi Jambi (1956-1957).

Budaya merataulah yang menyebabkan orang Minang tersebar dan mempunyai
peranan di mana-mana, di berbagai kota dan pelosok di Indonesia dan di
mancanegara. Kota mana pun di Indonesia yang pernah saya kunjungi, semasa
menjadi Bupati Solok dan setelah menjadi Gubernur Sumatera Barat, saya
selalu bertemu dengan orang Minang.

Tak kecuali mereka juga ada dalam jumlah cukup banyak di daerah remote
seperti Irian Jaya (kini Papua), Nusa Tenggara, dan Timor Timur. Bahkan,
dari berbagai cerita kita tahu, jauh sebelum Timor Timur berintegrasi dengan
Republik Indonesia, yakni ketika Timor Timur masih merupakan bagian Negara
Portugal, orang Minang sudah membuka dan mengusahakan rumah makan di sana.

Meskipun belum ada angka statistik yang pasti, ditaksir jumlah orang
(keturunan) Minang di perantauan lebih banyak ketimbang yang tinggal di
Sumatera Barat, atau kira-kira 8-10 juta jiwa. Konon, di wilayah Jabotabek
saja, dari setiap 10 orang yang kita temui, seorang di antaranya adalah
orang Minang. Saya pernah diberi tahu tentang hasil survei sebuah lembaga
pendidikan agama di Jakarta yang menyebutkan bahwa sekitar 50 persen masjid
di Jabotabek pengurusnya adalah orang Minang.

Diperkirakan 40 persen penduduk Provinsi Riau adalah perantau atau keturunan
Minang atau orang yang berasal dari Sumatera Barat. Sebanyak 60 persen dari
total penduduk Negeri Sembilan (Malaysia) mengaku berasal dari Minangkabau
dan hingga kini tanpa ragu tetap menyatakan diri menganut "Adat Perpatih"
atau adat Minangkabau (lihat Samad Idris, Payung Terkembang).

Hampir di semua provinsi di Sumatera dapat ditemukan orang Minang dalam
jumlah yang banyak. Mereka juga hidup dan membaur dengan masyarakat di
kota-kota bahkan  pelosok di semua pulau besar di Indonesia- Jawa,
Kalimantan, Sulawesi, Papua, Bali, Nusa Tenggara dan sebagainya. Dalam
jumlah yang cukup banyak pula merantau sangat jauh hingga ke luar negeri,
menyebar ke lima benua. Bahkan, kalaupun di bulan ada kehidupan manusia,
orang Minang mungkin saja sudah ada pula di sana.

Selaras dengan tujuan merantau-mencari harta, ilmu atau pangkat—dalam rangka
mengembangkan diri dan mencari kehidupan yang lebih baik, maka orang Minang
di perantauan berbagai profesi dan lapangan kehidupan. Kebanyakan memang
menjadi pedagang, saudagar atau pengusaha. Namun banyak pula yang menjadi
ilmuwan, mubaligh serta orang berpangkat sebagai pejabat pemerintah atau
kaum professional (dokter, dosen, eksekutif BUMN atau perusahaan swasta,
wartawan, sastrawan, dan lain-lain). ***

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke