Sabtu, 11 Oktober 2008
Oleh : Alwi Karmena, Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan

Menganjungkan orang awak, agar bisa naik tinggi dilihat orang, tidaklah
sesederhana menganjungkan layang-layang singit. Walau di beberapa faktor,
ada juga kesamaannya. Kalau sekadar layang-layang, awak  hanya harus tahan
berlari jauh-jauh, dan kemudian, bila sudah dapat angin, layang-layang tentu
akan naik, sampai tinggi di awan. Awak, harus sedikit  tahan menengadah
untuk melihatnya.

Risiko tinggal di bawah,  tetap ada. Asal sadar dan sabar memegang benang,
hubungan dengan layangan bisa terjaga. Lebih dari itu, hati jadi senang
melihat lenggang lenggok layang-layang di atas. Mengobrol dengan Gubernur
Gamawan Fauzi sampai larut, di penghujung malam Ramadhan lalu, terasa ada
yang menyangkut di ambang pikir.

Bicara mengenai-bagaimana agar awak lebih ikhlas menggadangkan (membesarkan)
orang awak, sementara orang lain telah mengakuinya. Kadangkala, alur dan
patut telah dipenuhi. Namun, pengakuan atau keikhlasan "menggadangkan" itu,
sarik benar terlahirkan.

Di kampung awak, soal seperti itu, sekali lagi ditekankan, rasanya tak
sesederhana menaikkan layang-layang, walau singit sekalipun. Persamaannya,
hanya ketika payah berlari menganjungkan. Kemudian, sama-sama jauh berjarak
antara yang di atas dengan yang di bawah. Yang satu dapat angin, yang satu
lainnya -makan angin..

Layang layang singit, adalah layang layang yang ketika proses membuatnya,
dalam menimbang kurang akurat. Sehingga cenderung berat sebelah. Menaikkan
layang-layang singit, tidak semudah menaikkan layang-layang biasa. Perlu
lebih gigih, karena dianya lebih mudah menukik daripada menanjak.

Hanya, kalau mau sedikit payah berlari menganjungkan. Kemudian, ada pula
angin yang bertiup. layang-layang baru bisa naik. Meski mulanya
berputar-putar pula sedikit. Tapi, naik juga.

Ada ungkapan "hangat" yang saya tangkap dari Gubernur Gamawan - Pinyangek
siso api. Itulah katanya, perumpamaan orang-orang awak yang berhasil. Tahu,
Pinyangek siso api? Biasanya, pinyangek (lebah tabuan) yang akan diusir,
harus diparun (dibakar) beserta sarang sarangnya. Ketika diparun, terlihat,
ribuan pinyangek berpijaran terbakar, bagai bola-bola api kecil berjatuhan
ke tanah.

Hampir tak ada yang selamat. Hanya satu atau dua ekor yang tersisa dari
"neraka" yang membakar. Satu dua ekor itu, jarang pula yang utuh. Ada yang
sayapnya tinggal separo. Ada yang sebelah kakinya telah jadi arang. Akan
tetapi, dia terbang terus. Menjauh menghindari malapetaka pembakaran
bangsanya.

Itulah "Pinyangek siso api". Dia bukanlah sembarang pinyangek lagi. Dia
pinyengek perkasa, yang tersisa dari mati sia-sia di sarang lamanya. Ketika
dia hadir di koloni yang baru, melihat posturnya, apalagi mendengar
dengungnya yang garang, dia langsung disegani oleh pinyangek pinyangek
biasa. Kalau dia betina, dia akan didaulat jadi ratu. Kalau jantan, dia akan
betahta jadi raja. Raja pinyangek, yang tak tertantang oleh penyangek lain.
Apalagi, oleh sekadar rama-rama.

Orang awak, sebutlah kini dia semacam "Saudagar" yang berhasil di rantau
orang, barangkali memang pernah sepantun dengan "pinyangek siso api". Orang
yang berhasil karena perjuangan mati-matian. Tak dibesarkan oleh bekal dari
kampung. Tapi dari keringat, darah dan air matanya sendiri. Di kampung, dia
telah dibakar oleh tata nilai yang berbungkus materialis. Tak salah petuah
"Mamak" di alek rlain.
"karatau madang di hulu - babuah, babungo balun"
"marantaulah dagang daulu - di rumah paguno balun"

"Pinyengekkah "dagang" yang dibakar tata nilai "panas" di kampungnya itu?
Atau, kalau dia tak pulang, sama dengan si Malin Kundang? Entahlah. Yang
pasti, dia memang terbang, membumbung jauh meninggalkan ranah Minang. Entah
membawa iba hati. Entah membawa sisa derita.

Sekarang, siapakah gerangan, orang awak yang besar karena dibesar- besarkan.
Yang tinggi karena dianjungkan..? Dia, mungkin sesosok rama-rama lembek
bersayap indah, tapi rapuh. Tak akan tahan kena badai. Atau, mungkin saja
sepantun dengan layang-layang singit. Yang naik karena gigih dianjungkan,
dan ditolong pula oleh angin yang kencang.

Membesarkan atau mengakui kehebatan "pinyangek siso api", mungkin sudah
dalam di batin orang awak tertanam. Walau kadangkala tidak jelas-jelas
dilahirkan. Tapi, membesarkan rama-rama, atau layang-layang singit, memang
penat pundak orang awak menahan.

Tak jarang malah, kalau "si awak" itu dibesarkan atau dinaikkan. Malah, yang
membesarkannya itu yang pertama-tama langsung dia rendahkan. Awak mengangkat
dirinya. Di kepala awak pula kakinya bersitelekan? (***) 

http://www.padangekspres.co.id/content/view/19997/114/


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke