Alhamdulillah Bundo ada sehat-sehat sajo, Ananda Gun, serta adik dan kemanakan di palanta awang-awang,
1. Kita memang harus merespon permasalahan adat dan budaya kita secara positif. Bundo tahu - karena ananda berlatar belakang filsafat - tentu mengkajinya dalam persepsi yang ideal. Seorang filosof selalu meng-angankan masyarakat yang ideal. Bagi Bundo yang berlatar belakang ilmu hukum, tentu bisa masuk dalam kaedah filsafat hukum dan sosiologi hukum dalam membahas kondisi masyarakat minangkabau. Mendurut Bundo - pengembangan azas ABS - SBK, merupakan kajian dalam filsafat hukum. Kita meng-angankan suatu kepastian hukum dalam adat dan budaya kita dengan tetap menjunjung Agama sebagai pegangan hidup. Sehingga dalam penentuan nasab, pembagian harta pusaka mengacu kepada ketentuan Agama Islam. Dalam konteks ABS - SBK, banyak adi dusanak, Mamak-mamak, adik-adik dan kemenakan Bundo yang mulai menyusun ranjinya dalam dua garis y.i Ibu dan ayahnya. Manfaatnya semata untuk meng-urut asal usul dan silsilah keturunannya. Entah bagaimana manfaat ke masa depan.. wallahu alam. Kemudian menyangkut harta pusaka, telah ada ketentuannya bahwa harta pusaka tinggi - bersifat wakaf - yang tidak bisa dibagi-bagi. Tetap dipelihara bagi kemaslahatan suatu keluarga. Para kaum prialah sebagai pengawas sementara kaum padusi sebagai pengelolanya. Ideal sekali bukan...? 2. Dalam kajian sosiologi hukum, sistem matrilinial adalah realita yang tidak bisa hilang karena ia telah berurat berakar dalam hati dan sanubari " urang Minangkabau". Seorang anak disebut - anak Minangkabau bila sang Bunda - adalah padusi Minang. Sekalipun ayahnya bangsa asing - selamanya ia menjadi anak Minangkabau. Sekalipun seorang " Tifatul Sembiring ", ia tetaplah anak minangkabau. Sebaliknya Ananda Gun, yang asli Minangkabau - jika beristirikan wanita etnis non Minang/ asing, maka putera puterimu adalah anak " urang Minangkabau ". Jika ananda bertanya tentang asal usul sistem Matrilinial - bundo telah mengupasnya dalam 2 artikel " HISTORI MATRIALKAL dan MATRIARKAL DALAM ADAT DAN BUDAYA MINANGKABAU" di blog bundokanduang.worpress.com.. 3. Bundo kira ada beberapa Nagari yang mulai mengkodifikasi adat dan budaya setempat dalam bentuk peraturan , sehingga masyarakat dapat menggunakan ketentuan ini apabila terjadi silang dan sengketa adat. Pertanyaan Bundo saat kini, sejauh mana sebenarnya kodifikasi ABS-SBK yang sering kita perbicangkan dalam forum ini dalam skala Ranah Minang ?. Siapa yang menjadi nara sumbernya dan bagaimana kelanjutannya. Sungguh bagi Bundo masalah ini masih bersifat maya..... 4. Sebagai padusi Minang tulen, walaupun sudah meninggalkan kampung halaman sejak usia 10 tahun, akan tetapi Bundo tetap menganggap kelemahan masyarakat kita bukanlah karena kesalahan adat dan budayanya akan tetapi tantangan dan rintangan hidup yang sedemikian mendera membuat kita sering tidak dapat bekerja sama. Trauma sebagai pemberontak pada masa PRRI - juga menghantui kami - generasi yang persis lahir disaat peristiwa itu terjadi. Wallahualam ... Wassalam Bundo, 3vy nizhamul Kawasan Puspiptek, Serpong, Tangerang http://hyvny.blogspot.com http://bundokanduang.wordpress.com --- On Tue, 10/14/08, anggun gunawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: anggun gunawan <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] Bls: [EMAIL PROTECTED] Re: orang minang butuh holocaust - respon bundokanduang To: [email protected] Date: Tuesday, October 14, 2008, 1:50 AM Assalamualaikum, wr.wb wa'alaikumusslam warah matullahi wabarakatuhu.. mudah2an bundo lai sehat2 sjo? Nanda Anggun Gunawan serta generasi muda Minangkabau yang lain., semoga ananda senantiasa tidak putus menuntut ilmu dan kelak menjadi Urang Minang yang intelek dan memiliki ke arifan budaya Minang. Amien... Membaca begitu banyak posting yang masuk, bundo tertarik untuk mengupas email nanda secara khusus, dengan harapan akan ada dusanak kita yang lain ikut mendiskusikannya. 1. Untuk membahas "urang minangkabau" kita dapat melihat melalui kajian sosiologi. Banyak masalah yang harus disepakati lebih dulu sebelum menetapkan keadaan masyarakat Minangkabau. Kajian sosiologi yang pada hakekatnya mengkaji masalah masalah sosial, gejala, perkembangan dan kenyataan yang ada (walau dengan sampel-sampel terbatas), termasuk juga di dalamnya mengenai kondisi masyarakat dimasa kini. Hal-hal yang perlu disepakati itu adalah; batasan-batasan yang jelas tentang bagaimana mengkaji masyarakat Minangkabau itu. Misalnya, yang dikaji itu ; * masyarakat yang di Ranah Minang atau yang dirantau ? * Yang dulu atau yang sekarang? * Yang dulu dan yang sekarang itu batasannya bagaimana * Yang di kampung-kampung, atau orang Minangkabau yang berada di kota-kota besar ? * Juga harus dijelaskan, siapa subyeknya ? Datuk-datuk, pengulu, perempuan, atau anak kemenakan? Memang kajian sosiologis sangat membantu kita dalam menelisik karakteristik suatu masyarakat dari gejala-gejala yang ada di masyarakat. Untuk melakukan penelisikan ini membutuhkan waktu yang cukup lama ya Bundo..tidak cukup satu atau dua tahun saja. Karena gejala sekarang, masyarakat bergerak begitu cepat. sementara pisau analisis sosial yang dipakai cendrung merujuk pada konsep-konsep lama yang perlu juga dimodfikasi. berbicara realitas sosial sangat erat kajian dengan sudut pandang mana kita melihat. tentu kajian sejarah dan antropologi juga tidak bisa kita tinggalkan bundo, apalagi perspektif filsafat yang mencoba membuka tabir di balik apa yang tampak. Dari kajian-kajian sosial yang begitu banyak telah dilakukan, kesimpulan umumnya adalah; bahwa masyarakat Minangkabau sampai sekarang, tetap menjunjung agama dan adat dengan landasan Adat bersendikan syara' dan syara' bersendi kitabullah. Oleh karenanya masyarakatnya masih menganut sistem matrilineal, dan akan terus mereka pertahankan hingga akhir zaman. Jika kesimpulan itu benar, berarti bahwa masyarakatnya masih memiliki sifat yang ekslusif dan unik dalam kalangan masyarakat Indonesia pada umumnya. inilah yang pelik bundo. ananda sampai hari ini belum menemukan referensi yang menjelaskan tentang asal mula matrilineal di minangkabau.memang dalam buku2 sosiologi dan antropologi dikatakan bahwa matrileneal adalah bentuk kekerabatan yang paling awal dalam sejarah umat manusia. kalau kita bisa mengklasifikasikan, minangkabau termasuk rumpun bangsa melayu. ketika suku bangsa melayu lainnya memakai patrilineal, orang minang tetap memakai matrilineal..apa sebab yang menjadikan hal itu bisa berlangsung??faktor politik-kah atau faktor ekonomi?? dari sinilah latar belakang ananda membuat postingan kemarin, meskipun dianggap sensitif dan tidak ilmiah oleh beberapa uda-uda nan lain. sebenarnya tulisan kemarin itu lahir dari kekaguman ananda akan intelektualitas dan hegemoni orang yahudi di dunia saat ini. bahkan negara sekelas AS di bawah gengaman mereka. bangsa yang menyejarah, dikenal sebagai pembangkang para Nabi dan sekarang menjadi superior lewat ilmu pengetahuan. setelah Gun telusuri mengenai orang yahudi ini, ternyata mereka juga menganut matrilineal yang diperkuat oleh ayat-ayat dalam kita suci mereka. memang setelah gun baca lebih lanjut ada perbedaan matrilineal antara minang dan yahudi terkait pewarisan harta. kalau di minang yang mendapat porsi adalah wanita. sedangkan yahudi terletak pada pria.tentu menarik mencari hubungan matrilineal yahudi dengan matrilineal minang. sampai saat ini ananda belum menemukan alasan logis kenapa matrilineal bisa bertahan??bahkan tak tergoyahkan oleh ajaran islam sekeras wahabi...benar-benar keren kan Bundo. padahal di arab, islam berhasil mengubah sifat jahiliyah orang-orang arab yang amat terkenal itu. 2. Mengapa Urang Minangkabau menjadi " unik", karena ia memiliki falsafah alam. Sifat ego terkadang mesti dipelihara - karena mereka tidak berada di alam feodalisme namun alam yang demokrasi. Perhatikan pepatah yang berkata " duduk sama rendah tegak sama tinggi. Tidak ada istilah Monggo Mas...Hanya sangat disayangkan attitude Urang Minang sering tidak sesuai dengan budaya Indonesia yang didominasi oleh budaya Jawa. Bandingkan ! jika berpapasan ala " orang Jawa " anggukkan kepalanya adalah merunduk kebawah - ketanah.. akan tetapi berpapasan ala " urang Minang", anggukkannya adalah keatas..! Lho... kok begitu ..?? ya begitulah secara tidak sadar pasti ia lakukan karena bukankah ada pepatah .. iko bumi nan dipijak haa.... langik nan den junjuang...Tantu iyo angguak jadi ka ateh.... ( iya.... kan......nanda ???? ) No comment deh..he2... 3. Secara psikologis, orang Minang tidak bisa didudukkan dalam struktur . Ia memiliki karakter yang dinamis. Tidak statis. Ia adalah seorang konseptor. Agak pahit memang - orang Minangkabau tidak memiliki jiwa kepempimpinan - akan tetapi ia memiliki jiwa sebagai "Pembina". Pembinaan bersifat koordinatif. Ia tidak memiliki loyalitas pada Pemimpin akan tetapi lebih berpihak kepada bawahan dan masyarakat banyak. Jika ia ditunjuk sebagai Pemimpin, akibatnya kualitas kepempimpinan rapuh, karena sering tidak sejalan dialam birokrasi - dimana lebih menuntut loyalitas kepada pimpinan puncak. Jika menjalankan kepemimpinan sesuai dengan " alur nan patuik - taat kepada aturan - maka ia menjadi tidak populis - dimana faktor kebijakan lebih dominan dari pada aturan yang berlaku. Akibatnya Bundo sering melihat " Urang Minangkabau " tidak pernah sampai pada posisi puncak di kalangan Birokrat - karena ia tidak lebih diperankan sebagai sekedar " Si Daun Salam". " Orang Minang " dilibatkan dalam suatu konsep besar pada pengolahan kegiatan dan pekerjaan , setelah itu ia di buang tak berguna - persis seperti sehelai daun salam ketika masakan akan dihidangkan. Amatilah para pemimpin nasional kita yang berasal dari Minangkabau yang pasti kita sudah ketahui bagaimana kiprahnya dan setelah itu....????? 3. Bagaimana upaya kita meningkatkan jati diri " urang Minangkabau " ??? bundo, istilah ini mengandaikan bundo telah menemukan apa itu jati diri orang minang?? jika iya, apa itu bundo??jika memang telah ada beberapa kriteria, berarti orang yang tidak memenuhi kriteria itu tidak bisa dikatakan minang?? kalau ananda lebih cendrung memakai istilah "mencari" jati diri sebagai urang minang... Urang Minangkabau tidak perlu holocaust seperti bangsa Yahudi sebagaimana yang dimaksud oleh teman Ananda itu. Menurut hemat Bundo, orang Minangkabau harus diasah kemampuan dan potensinya, yaitu menjadi seorang fungsional dan menjadi seorang profesional. Insya Allah - orang Minangkabau pasti tidak akan menjadi seorang pemulung - seandainya ia mengalami kesulitan hidup, namun ia akan tetap menjadi seorang fungsional dan menjadi seorang profesional . - Jika ia menjadi pedagang kaki lima pastilah suatu saat ia akan memiliki sebuah toko, - jika ia menjadi seorang tukang gunting rambut, suatu saat ia akan memiliki barbershop. - jika ia punya warung nasi Padang, suatu saat akan menjadi Restoran Padang, - jika ia menjadi penjahit suatu saat ia akan memiliki Tailor bahkan akan memiliki perusahaan garment. - Jika ia memiliki ke ilmuan lebih - mampu mengamati sisi politik, ekonomi dan budaya - maka pasti ia akan menjadi seorang Pengamat. - Profesi yang cocok dibidang keahliannya, ialah : menjadi Guru, pengacara, notaris dan begitu banyak bidang keahlian yang menuntut profesionalisme. - Orang Minang berbakat menjadi seorang Pembina dan karena banyak Sekolah unggulan yang dibina oleh " orang Minangkabau". terkait dengan holocoust, ini terkait dengan hipotesis ananda bahwa "orang akan sama berkomitmen dan berjalan seiring sejalan ketika pernah mengalami pahit hidup bersama-sama". holocoust adalah bentuk penindasan yang membuat orang yahudi bangkit semangat keyahudiannya...bukankah begitu bundo?? ego orang minang sangat kuat karena keberhasilan yang diperolehnya lewat usaha pribadi. kontribusi orang minang biasanya adalah cimeeh. sehingga ketika seseorang telah berhasil yang terjadi adalah sebuah keegoan dan menunjukkan bahwa sekarang saya sudah menjadi orang besar. kalau sudah jadi orang besar barulah nama kita disebut-sebut orang. kalau kita lagi di bawah, terpuruk kecendrungan orang minang biasanya menjauh. bukankah ini cukup menyakitkan bundo?? terkait dengan profesi, saya pikir semua bidang bisa kita masuki.. sama seperti orang2 lain, kita kayaknya g perlu membatasi diri bahwa orang minang cocoknya di sni dan di situ saja. 4. Untuk pertanyaan, apakah wilayah barat Sumatera itu memiliki gen yang unik untuk hidup dalam kemandirian dan susah untuk bekerja sama? Mungkin ada benarnya, ada pepatah yang menuntut ego seseorang, yaitu : Jika hendak mulia – harus suka memberi, jika ingin ternama (terkenal) , dirikan kemenangan, jika mau pandai rajin berguru, jika ingin kaya harus kuat berusaha”. Akibatnya nilai yang dicapai pada persaingan itu adalah melawan dunia orang. Ini menyangkut harga diri bukan ..?? Bagaimana cara menyikapinya ? 1. Dengan cara mengembangkan pola " awak samo awak ". Pola ini dalam lingkaran komunitas minangkabau, menuntut kebersamaan dan menyelesaikan setiap kesulitan. Setiap kesulitan, kepentingan, kejayaan individu, kerabat, kaum, suku kampung, nagari bahkan sealam Minang kabau merupakan - kesulitan, kepentingan, kejayaan individu , kerabat, kaum, suku kampung, nagari - « awak ». 2. Raso jo pareso : Setelah mengukur ego dengan melawan dunia orang (harga diri) maka, kita diharuskan menjaga keseimbangan yang harmonis dengan memakai ukuran, yang disebut rasa dan periksa. Artinya rasa berdasarkan ukuran perasaan yang sama, sedangkan periksa adalah ukuran pemeriksaan yang senilai. Rasa dapat diukur ketika rasa sakit dan rasa senang. Rasa sakit dapat kita ukur apabila kita kita sakit dicubit – maka orang lain pun akan sakit. Oleh karena itu janganlah menyakiti orang lain. Pepatah menyebutkan soal ini: sakik dek awak sakik pulo dek urang . Senang dapat diukur dengan pepatah : lamak dek awak, lamak pulo dek urang. Semoga ananda puas dengan tanggapan bundo. Sekali lagi Bundo doakan semoga ananda sukses di negeri orang. Amiin ya Rabbal alamiin. agaknya lebih baik ananda tidak puas Bundo..karena kalau ananda puas berarti ini menjadi titik berhenti bagi ananda. untuk terus belajar. apalagi terkait dengan manusia, yang super2 dinamis namun, apa yang bundo sampaikan semakin menambah perspektif cara pandang ananda... terkait dengan siapakah yang pantas disebut minang?? agaknya definisi yang umum adalah orang yang lahir dari bapak/ibu yang berdarah minang dan menggunakan bahasa minang sebagai bahasa ibunya...gimana dengan definisi ini bundo?? Wassalam, --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
