Assalamualaikum, War Wab Babeda jo zaman apak dulu manggaleh kaki limo, kini kami marasai jadi pedagang kaki limo, ambo jo kakak (waktu ambo manganggur) manggaleh jam di dakek stasiun Bogor dimuko matohari, pitih kami ditarimo aparat pemko Bogor, tapi kami dikaja-kaja sarupo pancilok, alun kanai panguah dek pareman situ lai. Tapi kami bertekad untuak berjuang, karano di kaki limo ambo dapek pengetahuan manggaleh. Walaupun ambo kini lah jadi pegawai, kini ambo tetap punyo kios Jatiasih Bekasi karano jiwa manggaleh ambo yang dimulai dari kaki limo indak bisa hilang. Tarimo kasih pak, alah mangangkek tulisan tentang pedagang kaki limo. Jarang-jarang yang ado perhatian ka kaki limo.
Hendri Jhon Jatiasih Bekasi --- In [EMAIL PROTECTED], suheimi ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > K A K I L I M A > > Oleh ; K Suheimi > > > Saya ndak kuat menyaksikan pembongkaran kios-kois kaki Lima , diobrak abrik, pedagangnya di pukuli dengan pentolan, rumah tempat dia bernaung dan mencari nafkah di obrak abrik. > > Biasanya TV saya matikan, karena bulu kuduk saya berdiri dan saya ikut merintih, mata saya berkaca-kaca. Karena hampir semua mereka adalah dunsanak saya, orang kampung saya. Dan dulu saya juga pedagang kaki lima, saya bentangkan terpal untuk melindungi diri dari senggatan cahaya Matahai. Dibawah terpal itulah saya jejal dagangan sabun dan blau. Baik di jenjang gantung B Tinggi atau di Baso dan P Panjang ketika saya jadi pedagang Kaki Lima dari pecan ke Pekan. > > Namun pada akhir ini orang minang merasa malu dan terkesampingkan, Banyak diantaranya jadi PKL Dagangannya di jejal diatas trotoar jalan yang sebetulnya trotoar itu diperuntukkan bagi pejalan kaki habis diduduki pedagang kaki lima. > Bahkan banyak badan jalan yang diduki seperti dikampung saya Padang. PKL ini merajai jalan-jalan yang seyogianya jalan umum dan jalan mobil Tempat-tempat dan jalan raya ini telah di penuhui ratusan PKL Menghambat jalan dan mengotori tempat yang sudah di tata apik. Sehingga PKL ini dianggap sebagai penganggu. > > Sedih hati saya kerna petugas terpaksa membongkar dan mengusirnya. Kerna dia tak memberi kenyamanan dan menganggu ketertiban. Agaknya perlu di carikan jalan agar dunsanak kita PKL itu juga dihormati dan terhormat sebagai pedagang. Duduak sama randah, tagak samo tinggi. > Selalu saya berfikir bagaimana membangkitkan saudara-saudara yang di kaki lima dan bagaimana mengangkat derjat dan harkatnya sebagai manusia > ---------------dipotong --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
