Ulasan Kanda Suryadi di Padang kini ko, nampaknyo alun dikabakan ka Palanta.
Da Syof, ambo kopi sadoalahnyo dar padang kini da.
 
Salam
 
Buku 'Greget Tuanku Rao' dan Kontroversi Kepahlawanan Tuanku Tambusai

Oleh Suryadi

PadangKini.com; Minggu, 19/10/2008, 18:06 WIB

  <http://www.padangkini.com/foto/kolom/Kolom-Suryadi-a.jpg> 

Kompas (Kamis, 16/10/2008) memberitakan hasil diskusi tentang versi Bahasa
Indonesia terbitan kedua (yang pertama 1992 oleh INIS) buku Christine Dobbin
yang sudah cukup klasik: Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam dan Perang Padri
(Jakarta: Komunitas Bambu, 2008). Buku itu juga didiskusikan lagi di Padang
tanggal 18 Oktober ini.  

Diskusi buku itu adalah semacam kelanjutan dari polemik tentang Perang
Paderi (1803-1837) yang telah berlangsung sejak tahun lalu. Salah seorang
penggagas polemik itu adalah Basyral Hamidi Harahap (BHH), penulis buku
Greget Tuanku Rao (Jakarta: Komunitas Bambu, September 2007). Dalam buku itu
penulisnya antara lain mengeritik Tuanku Tambusai (1784-1882), Pahlawan
Nasional pertama asal Riau berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor
071/TK/Tahun 1995. 

Polemik mengenai Perang Paderi yang mencuat lagi, dengan BHH sebagai salah
seorang motor penggeraknya yang utama, pada awalnya dipicu oleh republikasi
buku M.O. Parlindungan, Pongkinangolngolan Sinamabela gelar Tuanku Rao:
Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833 (Yogyakarta:
LKiS, 2006) yang edisi pertamanya (1964) telah dikritisi Hamka (1974).

Bersamaan dengan itu muncul pula petisi yang menggugat gelar kepahlawanan
Tuanku Imam Bonjol yang dituduh melanggar HAM karena pasukan Paderi
menginvasi Tanah Batak (1816-1833) yang menewaskan "jutaan" orang di daerah
itu (lihat: http://www.petitiononline.com/bonjol/petition.html). 

Kini tampaknya polemik itu maju selangkah lagi: judul laporan dalam Kompas
tanggal 16 Oktober 2008 itu cukup kontroversial: "Korban Perang Paderi Minta
Pelurusan Sejarah". Dengan demikian, tersurat klaim dari anak cucu korban
perang yang terjadi hampir duaratus tahun yang lalu itu bahwa sejarah Perang
Paderi yang sudah diketahui umum selama ini "belum lurus" untuk tidak
mengatakan tidak benar. 

Tulisan singkat ini mengulas sedikit pandangan BHH dalam Greget Tuanku Rao
(GTR) mengenai kepahlawanan Tuanku Tambusai, yang dapat ditarik benang
merahnya dengan diskusi yang berlangsung di Medan seperti yang diberitakan
Kompas itu.

Walaupun isi buku ini ‘menjalar' ke sana-sini, kurang terarah, dan lemah
dari segi teori dan metodologi, tapi isinya yang memang penuh greget itu
jelas berfokus kepada kritik terhadap kekejaman dan kebrutalan Kaum Paderi
ketika mereka melakukan invasi ke Tanah Batak. Invasi itu telah ikut
menyengsarakan nenek moyang BHH sendiri. Dalam GTR BHH mempertanyakan
patriotisme dan kepahlawanan Tuanku Tambusai dan Tuanku Imam Bonjol
(hlm.106-7). 

Tuanku Tambusai dan ironi Perang Paderi

Tak dapat dimungkiri bahwa Perang Paderi telah meninggalkan kenangan heroik
sekaligus traumatis kepada masyarakat di tiga daerah: Sumatera Barat,
Sumatera Utara (Tapanuli dan sekitarnya), dan Riau (Rokan dan sekitarnya).
Selama sekitar 20 tahun pertama perang itu (1803-1821) praktis yang saling
berbunuhan adalah sesama orang Minangkabau dan saudara-saudaranya dari Tanah
Batak. Mulai bulan April 1821 Kompeni melibatkan diri dalam perang itu
karena "diundang" kaum Adat. Selanjutnya perang itu adalah perlawanan
mengusir penjajah Belanda. 

Kepahlawanan Tuanku Tambusai lebih dihubungkan dengan episode akhir Perang
Paderi. Setelah Benteng Bonjol jatuh pada 17 Agustus 1837 (lihat Teitler
2004), medan perang beralih ke daerah Rokan Hulu dan sekitarnya dengan
pusatnya di Benteng Dalu-dalu. Tuanku Tambusai, rekan seperjuangan Tuanku
Imam Bonjol, ternyata tidak mau menyerah kepada Belanda. Ini menandakan
bahwa sistem organisasi Gerakan Paderi bukan mengenal hirarki kepemimpinan
dan rantai komando. 

Belakangan muncul kontroversi mengenai kepahlawanan Tuanku Tambusai setelah
BHH menulis dalam GTR bahwa dalam mengembangkan ajaran Wahabi di daerah
Rokan dan Mandailing dan sekitarnya, panglima Paderi itu bersama para
pengikutnya telah membunuhi banyak orang, tak terkecuali para pengikut Datu
Bange dari Simanabun. Datu Bange adalah salah seorang kepala suku di
Mandailing yang gigih melawan Tuanku Tambusai (GTR, hlm. 54-76). 

BHH menilai Tuanku Tambusai dan Tuanku Imam Bonjol tidak patriotis. Orang
yang tidak patriotis tentu tidak pantas menjadi pahlawan nasional.
Menurutnya, Tuanku Imam Bonjol mengatur sendiri penyerahan dirinya kepada
Belanda (ini berdasarkan tafsirannya terhadap Naskah Tuanku Imam Bonjol
[lihat Sjafnir Aboe Nain, 2004]). Tuanku Tambusai yang melarikan diri ke
Malaysia, meninggalkan para pengikutnya, karena takut ditawan atau dibunuh
Belanda, juga dianggap pengecut. 

"Kita bertanya di manakah jiwa kepahlawanan seorang yang telah banyak
membunuh, menculik kaum perempuan untuk dijual sebagai budak atau dijadikan
gundik di kalangan bangsa sendiri? [...] Apakah seorang yang [...] tidak
[mampu] mempertahankan tanah tumpah darah sampai titik darah penghabisan
[...] dan menginjak-injak harkat dan martabat bangsa sendiri pantas menjadi
pahlawan? [...] Seorang patriot sejati, sekalipun terpojok pastilah tetap
berjuang mempertahankan bumi persada sampai titik darah penghabisan", tulis
BHH dalam GTR (hlm.106). 

BHH adalah salah seorang keturunan Datu Bange. Faktor genealogi inilah yang
melatari kritiknya yang penuh emosi (yang mewakili kaumnya) terhadap Tuanku
Tambusai dalam GTR. "Pertanyaan ini diajukan oleh orang yang leluhurnya
adalah korban kekajaman Tuanku Tambusai, ialah Datu Bange, Raja Hurlang,
Bandaro dan seluruh kerabat dan rakyat Simanabun", tulisnya dalam GTR (hlm.
107). Kalimat-kalimat subjektif dan emotif seperti itu segera menghilangkan
kesan ilmiah GTR. 

Pelajaran yang dapat dipetik

Setidaknya ada dua hal penting yang dapat disimak dari polemik ini: pertama,
soal pengaruh etnisitas dalam penulisan sejarah (di) Indonesia; kedua,
munculnya kritik terhadap prosedur dan mekanisme pencalonan dan pengangkatan
seseorang menjadi pahlawan nasional. 

Narasi "buku sejarah" GTR merefleksikan perasaan kedaerahan (regionalisme)
yang kuat, karena itu menimbulkan bias yang kentara. Ini sulitnya --tapi
bukan tidak bisa dihindari-- menjadi seorang yang menulis sejarah satu
daerah sekaligus menjadi warga etnis daerah itu sendiri. Inilah dilema BHH
yang orang Mandailing dan juga menulis sejarah tentang Mandailing.

Tentu saja sejarawan yang mendalami ilmu dan metode penelitian sejarah tidak
akan terpeleset ke dalam subjektifisme seperti dalam penulisan GTR. Memang
tak mungkin menggunakan otak semata-mata dalam penulisan sejarah. Akan
tetapi kesadaran penuh atas konvensi ilmiah ilmu sejarah akan mencegah
seseorang jatuh ke dalam subjektifisme tanpa ambang batas dalam menulis buku
sejarah. 

Penulis GTR agak cuai terhadap konteks sosio-historis daerah Mandailing pada
paruh pertama abad ke-19. Peran Belanda, rivalitas dan sentimen antar suku,
pengaruh Aceh, penghijrahan orang Minangkabau yang sudah begitu lama terjadi
di sepanjang pantai barat Sumatera (lihat misalnya kisah Nakhoda Muda
[Drewes, 1961] dan biografi Muhammad Saleh Dt. Rangkayo Basa, 1965) dan suku
pendatang lainnya di kawasan itu agak luput dari perhatian BHH. Sangat
mungkin bahwa penerimaan dan penolakan ajaran yang dibawa Tuanku Tambusai di
daerah Mandailing dan sekitarnya ikut dipengaruhi faktor-faktor tersebut di
atas. 

Gerth van Wijk dalam pengantarnya terhadap Kaba Puti Balukih (Hikayat Putri
Balkis) (1881) mengatakan bahwa Kaum Paderi juga berusaha mengganti sastra
pagan seperti cerita mambang, peri, dan dewa-dewa dengan sastra yang
bernuansa Islami. Bukan tidak mungkin faktor ini ikut menentukan pertikaian
keras antara Tuanku Tambusai yang menganut Islam puritan dengan marga Babiat
yang dipimpin Datu Bange yang menyembah totem harimau (hlm.13-48). 

Sebaliknya, pengusulan Tuanku Tambusai menjadi pahlawan nasional juga sarat
dengan kebanggan regionalisme. Pemrakarsa utamanya adalah anak keturunan
Tuanku Tambusai sendiri. Salah satu di antara pemrakarsa utama adalah H
Saleh Djasit, SH seorang anak keturunan Tambusai yang pernah menjadi Bupati
Kabupaten Kampar. (http://www.riaumandiri.co.id/berita/380). 

Mereka menekankan nilai perjuangan Tuanku Tambusai yang bertahun-tahun
memerangi kolonialis Belanda (1830-1839) dan tidak pernah menyerah dan tidak
mau berdamai dengan Belanda (lihat: Ekmal Rusdy, Riau Pos, 30-11-2007). 

Sama halnya dengan cara penulisan buku "sejarah" GTR yang sangat subjektif
itu, kontroversi kepahlawanan Tuanku Tambusai memberi pelajaran kepada kita
bahwa di masa datang perlu studi sejarah yang lebih komprehensif terhadap
seseorang yang akan diajukan sebagai pahlawan nasional, yang melibatkan
tokoh akademis yang kredibel dan lintasetnis. 

Satu hal yang perlu dicatat dari polemik ini adalah bahwa rupanya wacana
"pelurusan sejarah" sekarang meluber kemana-mana. Pada mulanya wacana itu
hanya menyangkut "pelurusan sejarah" Revolusi 1965. Sekarang wacana itu
melebar ke sejarah lokal seperti Perang Paderi. Pada level ini sebenarnya
hubungan etnisitas ikut dipertaruhkan. Bangsa ini masih kuat tradisi
lisannya. Isu apapun potensial ditelan mentah-mentah atau dijadikan komoditi
politik oleh pihak-pihak tertentu. 

Mudah-mudahan polemik "pelurusan sejarah Perang Paderi" tidak membuat keruh
hubungan antaretnis di negara multietnis ini. 

Suryadi, Dosen dan Peneliti pada Opleding Talen en Culturen van Indonesië,
Faculteit der Letteren Universiteit Leiden, Belanda


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<inline: Kolom-Suryadi-a.jpg>>

Kirim email ke