Silakan Sanak Nofend, bia tabaco kasadonyo usalan Kanda awak ko.
 
Syof (38+/Padang)
 


--- On Tue, 21/10/08, Nofend Marola <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Nofend Marola <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Buku 'Greget Tuanku Rao' dan Kontroversi 
Kepahlawanan Tuanku Tambusai
To: [email protected]
Date: Tuesday, 21 October, 2008, 5:50 PM



Ulasan Kanda Suryadi di Padang kini ko, nampaknyo alun dikabakan ka Palanta.
Da Syof, ambo kopi sadoalahnyo dar padang kini da.
 
Salam
 

Buku 'Greget Tuanku Rao' dan Kontroversi Kepahlawanan Tuanku Tambusai
Oleh Suryadi

PadangKini.com; Minggu, 19/10/2008, 18:06 WIB

 
Kompas (Kamis, 16/10/2008) memberitakan hasil diskusi tentang versi Bahasa 
Indonesia terbitan kedua (yang pertama 1992 oleh INIS) buku Christine Dobbin 
yang sudah cukup klasik: Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam dan Perang Padri 
(Jakarta: Komunitas Bambu, 2008). Buku itu juga didiskusikan lagi di Padang 
tanggal 18 Oktober ini.  
Diskusi buku itu adalah semacam kelanjutan dari polemik tentang Perang Paderi 
(1803-1837) yang telah berlangsung sejak tahun lalu. Salah seorang penggagas 
polemik itu adalah Basyral Hamidi Harahap (BHH), penulis buku Greget Tuanku Rao 
(Jakarta: Komunitas Bambu, September 2007). Dalam buku itu penulisnya antara 
lain mengeritik Tuanku Tambusai (1784-1882), Pahlawan Nasional pertama asal 
Riau berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 071/TK/Tahun 1995. 
Polemik mengenai Perang Paderi yang mencuat lagi, dengan BHH sebagai salah 
seorang motor penggeraknya yang utama, pada awalnya dipicu oleh republikasi 
buku M.O. Parlindungan, Pongkinangolngolan Sinamabela gelar Tuanku Rao: Teror 
Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833 (Yogyakarta: LKiS, 2006) 
yang edisi pertamanya (1964) telah dikritisi Hamka (1974).
Bersamaan dengan itu muncul pula petisi yang menggugat gelar kepahlawanan 
Tuanku Imam Bonjol yang dituduh melanggar HAM karena pasukan Paderi menginvasi 
Tanah Batak (1816-1833) yang menewaskan "jutaan" orang di daerah itu (lihat: 
http://www.petitiononline.com/bonjol/petition.html). 
Kini tampaknya polemik itu maju selangkah lagi: judul laporan dalam Kompas 
tanggal 16 Oktober 2008 itu cukup kontroversial: "Korban Perang Paderi Minta 
Pelurusan Sejarah". Dengan demikian, tersurat klaim dari anak cucu korban 
perang yang terjadi hampir duaratus tahun yang lalu itu bahwa sejarah Perang 
Paderi yang sudah diketahui umum selama ini "belum lurus" untuk tidak 
mengatakan tidak benar. 
Tulisan singkat ini mengulas sedikit pandangan BHH dalam Greget Tuanku Rao 
(GTR) mengenai kepahlawanan Tuanku Tambusai, yang dapat ditarik benang merahnya 
dengan diskusi yang berlangsung di Medan seperti yang diberitakan Kompas itu.
Walaupun isi buku ini ‘menjalar' ke sana-sini, kurang terarah, dan lemah dari 
segi teori dan metodologi, tapi isinya yang memang penuh greget itu jelas 
berfokus kepada kritik terhadap kekejaman dan kebrutalan Kaum Paderi ketika 
mereka melakukan invasi ke Tanah Batak. Invasi itu telah ikut menyengsarakan 
nenek moyang BHH sendiri. Dalam GTR BHH mempertanyakan patriotisme dan 
kepahlawanan Tuanku Tambusai dan Tuanku Imam Bonjol (hlm.106-7). 
Tuanku Tambusai dan ironi Perang Paderi
Tak dapat dimungkiri bahwa Perang Paderi telah meninggalkan kenangan heroik 
sekaligus traumatis kepada masyarakat di tiga daerah: Sumatera Barat, Sumatera 
Utara (Tapanuli dan sekitarnya), dan Riau (Rokan dan sekitarnya). Selama 
sekitar 20 tahun pertama perang itu (1803-1821) praktis yang saling berbunuhan 
adalah sesama orang Minangkabau dan saudara-saudaranya dari Tanah Batak. Mulai 
bulan April 1821 Kompeni melibatkan diri dalam perang itu karena "diundang" 
kaum Adat. Selanjutnya perang itu adalah perlawanan mengusir penjajah Belanda. 
Kepahlawanan Tuanku Tambusai lebih dihubungkan dengan episode akhir Perang 
Paderi. Setelah Benteng Bonjol jatuh pada 17 Agustus 1837 (lihat Teitler 2004), 
medan perang beralih ke daerah Rokan Hulu dan sekitarnya dengan pusatnya di 
Benteng Dalu-dalu. Tuanku Tambusai, rekan seperjuangan Tuanku Imam Bonjol, 
ternyata tidak mau menyerah kepada Belanda. Ini menandakan bahwa sistem 
organisasi Gerakan Paderi bukan mengenal hirarki kepemimpinan dan rantai 
komando. 
Belakangan muncul kontroversi mengenai kepahlawanan Tuanku Tambusai setelah BHH 
menulis dalam GTR bahwa dalam mengembangkan ajaran Wahabi di daerah Rokan dan 
Mandailing dan sekitarnya, panglima Paderi itu bersama para pengikutnya telah 
membunuhi banyak orang, tak terkecuali para pengikut Datu Bange dari Simanabun. 
Datu Bange adalah salah seorang kepala suku di Mandailing yang gigih melawan 
Tuanku Tambusai (GTR, hlm. 54-76). 
BHH menilai Tuanku Tambusai dan Tuanku Imam Bonjol tidak patriotis. Orang yang 
tidak patriotis tentu tidak pantas menjadi pahlawan nasional. Menurutnya, 
Tuanku Imam Bonjol mengatur sendiri penyerahan dirinya kepada Belanda (ini 
berdasarkan tafsirannya terhadap Naskah Tuanku Imam Bonjol [lihat Sjafnir Aboe 
Nain, 2004]). Tuanku Tambusai yang melarikan diri ke Malaysia, meninggalkan 
para pengikutnya, karena takut ditawan atau dibunuh Belanda, juga dianggap 
pengecut. 
"Kita bertanya di manakah jiwa kepahlawanan seorang yang telah banyak membunuh, 
menculik kaum perempuan untuk dijual sebagai budak atau dijadikan gundik di 
kalangan bangsa sendiri? [...] Apakah seorang yang [...] tidak [mampu] 
mempertahankan tanah tumpah darah sampai titik darah penghabisan [...] dan 
menginjak-injak harkat dan martabat bangsa sendiri pantas menjadi pahlawan? 
[...] Seorang patriot sejati, sekalipun terpojok pastilah tetap berjuang 
mempertahankan bumi persada sampai titik darah penghabisan", tulis BHH dalam 
GTR (hlm.106). 
BHH adalah salah seorang keturunan Datu Bange. Faktor genealogi inilah yang 
melatari kritiknya yang penuh emosi (yang mewakili kaumnya) terhadap Tuanku 
Tambusai dalam GTR. "Pertanyaan ini diajukan oleh orang yang leluhurnya adalah 
korban kekajaman Tuanku Tambusai, ialah Datu Bange, Raja Hurlang, Bandaro dan 
seluruh kerabat dan rakyat Simanabun", tulisnya dalam GTR (hlm. 107). 
Kalimat-kalimat subjektif dan emotif seperti itu segera menghilangkan kesan 
ilmiah GTR. 
Pelajaran yang dapat dipetik
Setidaknya ada dua hal penting yang dapat disimak dari polemik ini: pertama, 
soal pengaruh etnisitas dalam penulisan sejarah (di) Indonesia; kedua, 
munculnya kritik terhadap prosedur dan mekanisme pencalonan dan pengangkatan 
seseorang menjadi pahlawan nasional. 
Narasi "buku sejarah" GTR merefleksikan perasaan kedaerahan (regionalisme) yang 
kuat, karena itu menimbulkan bias yang kentara. Ini sulitnya --tapi bukan tidak 
bisa dihindari-- menjadi seorang yang menulis sejarah satu daerah sekaligus 
menjadi warga etnis daerah itu sendiri. Inilah dilema BHH yang orang Mandailing 
dan juga menulis sejarah tentang Mandailing.
Tentu saja sejarawan yang mendalami ilmu dan metode penelitian sejarah tidak 
akan terpeleset ke dalam subjektifisme seperti dalam penulisan GTR. Memang tak 
mungkin menggunakan otak semata-mata dalam penulisan sejarah. Akan tetapi 
kesadaran penuh atas konvensi ilmiah ilmu sejarah akan mencegah seseorang jatuh 
ke dalam subjektifisme tanpa ambang batas dalam menulis buku sejarah. 
Penulis GTR agak cuai terhadap konteks sosio-historis daerah Mandailing pada 
paruh pertama abad ke-19. Peran Belanda, rivalitas dan sentimen antar suku, 
pengaruh Aceh, penghijrahan orang Minangkabau yang sudah begitu lama terjadi di 
sepanjang pantai barat Sumatera (lihat misalnya kisah Nakhoda Muda [Drewes, 
1961] dan biografi Muhammad Saleh Dt. Rangkayo Basa, 1965) dan suku pendatang 
lainnya di kawasan itu agak luput dari perhatian BHH. Sangat mungkin bahwa 
penerimaan dan penolakan ajaran yang dibawa Tuanku Tambusai di daerah 
Mandailing dan sekitarnya ikut dipengaruhi faktor-faktor tersebut di atas. 
Gerth van Wijk dalam pengantarnya terhadap Kaba Puti Balukih (Hikayat Putri 
Balkis) (1881) mengatakan bahwa Kaum Paderi juga berusaha mengganti sastra 
pagan seperti cerita mambang, peri, dan dewa-dewa dengan sastra yang bernuansa 
Islami. Bukan tidak mungkin faktor ini ikut menentukan pertikaian keras antara 
Tuanku Tambusai yang menganut Islam puritan dengan marga Babiat yang dipimpin 
Datu Bange yang menyembah totem harimau (hlm.13-48). 
Sebaliknya, pengusulan Tuanku Tambusai menjadi pahlawan nasional juga sarat 
dengan kebanggan regionalisme. Pemrakarsa utamanya adalah anak keturunan Tuanku 
Tambusai sendiri. Salah satu di antara pemrakarsa utama adalah H Saleh Djasit, 
SH seorang anak keturunan Tambusai yang pernah menjadi Bupati Kabupaten Kampar. 
(http://www.riaumandiri.co.id/berita/380). 
Mereka menekankan nilai perjuangan Tuanku Tambusai yang bertahun-tahun 
memerangi kolonialis Belanda (1830-1839) dan tidak pernah menyerah dan tidak 
mau berdamai dengan Belanda (lihat: Ekmal Rusdy, Riau Pos, 30-11-2007). 
Sama halnya dengan cara penulisan buku "sejarah" GTR yang sangat subjektif itu, 
kontroversi kepahlawanan Tuanku Tambusai memberi pelajaran kepada kita bahwa di 
masa datang perlu studi sejarah yang lebih komprehensif terhadap seseorang yang 
akan diajukan sebagai pahlawan nasional, yang melibatkan tokoh akademis yang 
kredibel dan lintasetnis. 
Satu hal yang perlu dicatat dari polemik ini adalah bahwa rupanya wacana 
"pelurusan sejarah" sekarang meluber kemana-mana. Pada mulanya wacana itu hanya 
menyangkut "pelurusan sejarah" Revolusi 1965. Sekarang wacana itu melebar ke 
sejarah lokal seperti Perang Paderi. Pada level ini sebenarnya hubungan 
etnisitas ikut dipertaruhkan. Bangsa ini masih kuat tradisi lisannya. Isu 
apapun potensial ditelan mentah-mentah atau dijadikan komoditi politik oleh 
pihak-pihak tertentu. 
Mudah-mudahan polemik "pelurusan sejarah Perang Paderi" tidak membuat 
keruh hubungan antaretnis di negara multietnis ini. 
Suryadi, Dosen dan Peneliti pada Opleding Talen en Culturen van Indonesië, 
Faculteit der Letteren Universiteit Leiden, Belanda



Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke