Sanak di palanta RN Ambo katangahan sebuah ulasan tentang krisis yang terjadi saat ini, sebagai penambah pengetahuan dan wawasan
Wass CD Rajosampono (59+/Tangerang) From: Dian Su [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, October 21, 2008 12:12 PM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: Fw: Re: [HKSIS] KRISIS MONETER KAPITALIS ( 1-2 ) --- On Tue, 10/21/08, ChanCT <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: ChanCT <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [HKSIS] KRISIS MONETER KAPITALIS ( 1-2 ) To: [EMAIL PROTECTED] Date: Tuesday, October 21, 2008, 11:25 AM Sungguh menarik ulasan bung Suar dibawah, "Krisis Moneter Dunia Kapitalis dan Harapan Pada Sosialisme", patut dipelajari lebih lanjut. Adalah satu kenyataan yang tidak dapat disangkal, krisis moneter kali ini adalah akibat "keserakahan watak kapitalisme", yang mengejar keuntungan sebesar-besarnya, merangsang perkembangan ekonomi dengan hutang-berhutang untuk menikmati hidup mewah dan yang lebih mewah lagi, ... gelembung balon nan-indah itulah yang pecah meledak dan membuat ekonomi tersungkur. Dan celakanya tidak hanya menimpa ekonomi AS sendiri, tapi juga menyeret ekonomi dunia yang memang sudah saling kait-mengait, termasuk Tiongkok yang telah membeli obligasi perusahaan di AS yang bodong itu, amblas dan ikut dirugikan besar. Kenyataan lain kita juga melihat, bahwa di Tiongkok yang masih mengaku dirinya Sosialisme berkepribadian Tiongkok, deengan berani telah menerima keunggulan kapitalisme, ekonomi-pasar yang digunakan untuk mengembangkan ekonomi nasionalnya. Disatu pihak kita semua melihat begitu dahsyat kemajuan dan perkembangan ekonomi dan teknik di TIongkok, dipihak lain kita juga harus berani melihat bersamaan deengan itu effek samping negatif yang juga tidak kalah dahsyatnya. Dari maraknya korupsi dari daerah sampai pusat, tidak terjamin kesejahteraan sosial buruh, pegawai dan kader yang di PHK-kan dan yang dipensiunkan nyaris tak ada yang pedulikan, kemudian masalah kesehatan yang mengejar "keuntungan" berubah jadi melupakan moral komunis "Mengutamakan Keselamatan dan jiwa manusia", juga masalah sekolah anak-anak yang dianut ekonomi-pasar, sekolah harus "untung" membuat orang-tua murid berteriak, dan, ... peristiwa susu-bubuk beracun melamine terakhir ini, juga tak dapat disangkal akibat dari keserakahan jiwa kapitalisme yang dianutnya. Orang bisa saja mengejar keuntungan lebih besar, tanpa pedulikan kesehatan konsumen, dan mungkin juga telah terjadi persekongkolan pengusaha dan pengusa setempat sehingga masalah susu beracun bisa berlangsung 3--5 tahunan, dan berakibat belasan ribu anak kena ginjal-batu dan 4 meninggal dunia. Inilah tantangan berat dipundak Partai Komunis Tiongkok, berkemampuan dan bisa tidak mengatasi effek-samping negatif yang muncul bersamaan dengan keberhasilan dahsyat yang menyilaukan mata dunia itu. Kalau PKT tidak berhasil mengatasi effek samping itu, maka Sosialisme yang masih dipertahankan deengan berkepribadian TIongkok itu, tidak ayal cepat atau lambat juga akan sama-sama ambruk. Dan selama 30 tahun terakhir ini, kita pun melihat bagaimana PKT mengatasi masalah-masalah yang terjadi, memang bukan hal yang mudah untuk mengatasi korupsi yang muncul, tapi untuk tunjukkan kemampuan pimpinan utama PKT harus tegas membersihkan diri, meningkatkan kesadaran mengabdi pada rakyat banyak. Sekalipun belum bisa dikatakan bersih, tapi dengarnya ada kemajuan dan lebih baik. Masalah kesejahateraan sosial, masalah kesehatan dan pendidikan bagi rakyat banyak berangsur-angsur juga teratasi dan lebih baik. Usaha PKT menangani bencana alam dan terakhir Gempa Bumi di Shi Chuan, cukup menunjukkan kesungguhan dan kemampuan PKT menangani kesulitan, mengatasi penderitaan rakyat. Dan kemudian hasil Sidang Pleno-II, Kongres-17 PKT telah menitik beratkan tugas untuk memngangkat kaum Tani dipedesaan, akanmenggencarkan reformasi perbaikan dilakukan di pedesaan. Dari menghapuskan sistem perpajakan didesa terhadap kaum tani, sampai kebijaksanaan sewa tanah dan kridit bagi kaum tani akan dipermudah, kemudian juga akan dilangsungkan pemilihan langsung untuk lurah, kepala desa. Ya, jalan Sosialisme yang dikatakan baru langkah pertama itu masih jauh dan panjang, apakah yang ditempuh Tiongkok sekarang ini sudah betul? Tentu tetap merupakan tanda tanya besar. Yang penting PKT tetap berpegang pada prinsip ideologi Komunis, untuk membebaskan segenap umat manusia dari penindasan dan penderitaan, tetap pegang teguh kendali kepemimpinan dan membawa rakyat Tiongkok untuk terus maju kearah pembangunan Sosialisme yang dikatakan berkepribadian Tiongkok itu, sambil jalan sambil mengoreksi kesalahan-kesalahan yang terjadi, sambil jalan menyesuaikan kebijaksanaan deengan perubahan perkembangan yang terjadi. Maju terus setapak demi setapak kearah jalan sosialisme yang benar, sebagaimana yang dikatakan Marx, sosialisme adalah kelanjutan dari masyarakat kapitalisme. Salam, ChanCT ----- Original Message ----- From: Dian Su <mailto:[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, October 21, 2008 9:40 AM Subject: [HKSIS] KRISIS MONETER KAPITALIS (2) Suar Suroso: KRISIS MONETER DUNIA KAPITALIS DAN HARAPAN PADA SOSIALISME (1) Dunia kapitalis dilanda krisis. Bermula dari krisis moneter Wallstreet. Pemerintah George W. Bush terpaksa mengucurkan 700 miliar dollar untuk menalangi lembaga-lembaga moneter yang bangkrut itu. Saham-saham di bursa saham New York , London , Frankfurt, Tokio, Seoul , Singapura, Jakarta , Sydney pada anjlok. Demikian pula di Hongkong, dan Shanghai . Para pemegang saham terperanjat, terpana. Dalam sekejap, kekayaan lenyap. Hantu pengangguran mengancam kaum pekerja. Kehidupan rumah tangga yang sudah terbiasa dengan budaya kredit "besar pasak dari tiang" jadi porak poranda. Malapetaka melanda dunia kapitalis. Para pengamat ekonomi dunia menyuarakan kengerian akan krisis dunia moneter ini. Banyak yang teringat akan kebenaran tulisan Marx, bahwa krisis ekonomi tak terelakkan dalam sistim kapitalisme. Tidak sedikit yang menyatakan "neo liberalisme telah gagal". Harian Pravda Russia menulis: "the way of life Amerika sudah mati". Di Indonesia kian garang hujatan pada "maffia Berkeley " yang mendalangi gagasan perekonomian rezim orba. Bahkan mengutuk para pengagum teori "pasar bebas". Dan setelah hampir sepertiga abad di bawah rezim orba mulut dirajut, yaitu mempropagandakan sosialisme dilarang, kembali muncul suara mendambakan sosialisme. Yang terjadi adalah krisis moneter yang lebih dahsyat dari "depresi besar" tahun 1929, yang menimbulkan Perang Dunia kedua. Lebih hebat dari krisis moneter melanda Asia 1997. Inilah krisis moneter terhebat dalam sejarah kapitalisme. Direktur IMF Dominique Strauss-Kahn mengungkapkan, ketakutan dunia internasional terhadap kebangkrutan sejumlah lembaga keuangan besar yang berpusat di AS dan Eropa telah mendorong ekonomi ke arah kehancuran. Michel Camdessus, mantan Direktur Pelaksana IMF, menyatakan bahwa akar krisis adalah minimnya peraturan yang mengontrol sektor keuangan AS. Pemimpin negara Kelompok 20 (G-20), dan Presiden Bank Dunia Robert Zoellick, menyayangkan sikap AS yang sangat tidak tanggap terhadap masalah kredit macet yang melilit beberapa lembaga keuangan berskala internasional. Komite Pembangunan Bank Dunia dan IMF, dalam komunikenya menyatakan: "Negara berkembang dan dalam peralihan dapat mengalami konsekuensi serius dari setiap pengetatan kredit berkepanjangan atau kemunduran global yang berkelanjutan." Perdana Menteri Inggeris Gordon Brown mendesak Eropa agar meniru rencana yang dia siapkan, yaitu menerapkan paket penyelamatan ekonomi. Dan mengatakan: "Bagi Eropa, taruhannya sangat tinggi. Sekarang ini adalah ujian bagi semua orang. Tidak ada satu negara pun yang bisa lepas dari keadaan seperti ini". Ketidakpercayaan atas liberalisasi ekonomi sudah dikumandangkan para ahli dan politisi di Amerika sendiri. Majalah Newsweek edisi 7 Januari 2008 memuat tulisan kolumnis Robert J Samuelson yang berjudul "Selamat Tinggal pada Perdagangan Bebas". Robert Skidelsky, anggota Majelis Tinggi Inggris, guru besar emeritus ekonomi politik pada Warwick University menyatakan: "Ambruknya Lehman Brothers dan terpaksa dijualnya Merrill Lynch, dua di antara nama-nama paling besar di dunia keuangan, menandai berakhirnya suatu era". Selandjutnya dia menulis dalam The Washington Post 19-10-2008 : "We all hope that the new Nobel laureate Paul Krugman is right that the rescue operations taken in the past couple of weeks may be enough to stem the financial crisis. But the wreckage may be with us for a long time to come." "Semua kita mengharap bahwa pemenang hadiah Nobel yang baru Paul Krugman adalah benar bahwa operasi-operasi penyelamatan yang dijalankan beberapa minggu ini adalah cukup untuk membendung krisis moneter ini. Tapi kerusakan akibatnya akan tinggal bersama kita untuk waktu yang panjang". Kolumnis Philip Stephens menulis dalam The Financial Times 9-10-2008 , bahwa "Pelajaran besar yang diperoleh adalah bahwa Barat tidak bisa lagi memandang tatatertib dunia menurut kemauannya. Selama lebih dari dua abad AS dan Eropa sudah memaksakan hegemoninya di bidang ekonomi, politik dan kultural. Zaman itu sedang berakhir". Dengan judul The End of Laissez-faire, Sri-Edi Swasono menulis dalam Jawa Pos: "Krisis keuangan AS timbul karena kerakusan kapitalisme. Kredit awut-awutan untuk melampiaskan kekayaan, suatu affluency selera mewah masyarakat AS, saat ini melaju dan mengakibatkan kredit berkembang tanpa kehati-hatian". Menurut Christianto Wibisono: "Dengan krisis keuangan yang dipicu oleh 'tsunami Wall Street', AS juga kehilangan status dan citra sebagai model kisah sukses kejayaan ekonomi. Malah menjadi biang keladi dan sumber keterpurukan ekonomi dunia. Selanjutnya dia menulis: "Dana-dana surplus RRT, Jepang, Singapura, dan Timur Tengah yang dikelola dan dimiliki oleh negara dalam wadah yang sekarang disebut Sovereign Wealth Fund (SWF) membuktikan bahwa otoriterisme bersih, bisa lebih efektif mengakumulasi modal ketimbang liberalisme Wall Street yang tidak terkontrol hingga bursa terjun bebas ke jurang keambrukan." Rudi Hartono menulis: "krisis yang terjadi sekarang ini berikut tindakan-tindakan politik yang diambil pemerintah AS telah melahirkan sejumlah kesimpulan; pertama, krisis ini telah berdampak luas dan susah dipulihkan dalam waktu singkat, melahirkan ketidakpercayaan terhadap 'kemanjuran model ekonomi Anglo-Amerika' atau telah menggugurkan keyakinan orang terhadap 'neoliberalisme' dan ' Washington consensus'. Boleh jadi, system ini sudah tamat riwayatnya; dan krisis ini telah memerosotkan wibawa dan hegemoni AS dalam geopolitik global". Antara News menyiarkan tulisan Akhmad Kusaeni berjudul Neo-Libealisme Telah Mati. Antara lain dikemukakannya: "Krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat menjadi bukti sakaratul maut sistim pasar bebas. Neoliberalisme telah mati! Neoliberalisme yang selama ini diagung-agungkan telah runtuh. Salah satu pilar penyangga liberalisme ekonomi adalah pasar bebas. Biarkan si "invicible hand" mengatur segalanya berdasar hukum "supply and demand". Dengan judul "Tiongkok menjadi kiblat", Ryan Kiryanto menulis dalam Suara Pembaruan: "Keangkuhan ekonom dan ahli keuangan AS menjadi bahan olok-olok analis Eropa. Pasar bebas yang menjadi 'agama ekonomi' kapitalis AS, berakhir sudah. Dana talangan sama saja dengan subsidi. Padahal, selama ini para ekonom AS sangat 'tabu' dengan yang namanya subsidi". Selanjutnya Ryan Kiryanto menulis: "tanpa harus berpikir terlalu lama, inilah saatnya untuk melakukan reformasi terhadap cara pandang terhadap kedigdayaan AS. Indonesia yang begitu besar, memiliki potensi sumber daya alam (SDA) tak terbatas serta letak geografis yang cukup strategis sehingga sebetulnya tak harus bergantung kepada AS lagi". "Lalu, adakah negara yang bisa dijadikan sandaran? Ada ! Kini harapan ada pada Tiongkok". Disamping kembali mencuatnya nama Marx karena teori ekonominya yang ternyata benar dalam hal terjadinya krisis ekonomi dalam sistim kapitalisme, tidak sedikit penulis mendambakan sosialisme sebagai jalan keluar dari kebangkrutan kapitalisme. Kini kian mengalir berita duka sebagai akibat dari krisis moneter ini. Dipaparkan nestapa menimpa rakyat banyak: perusahaan-perusahaan tutup usaha, kaum buruh kehilangan lapangan kerja jadi penganggur, kekayaan lenyap karena anjloknya saham, keluarga yang rukun damai jadi porak poranda dililit hutang yang kian membengkak. Dan kian banyak pemerintah harus turun tangan mengucurkan dana untuk menalangi perusahaan atau lembaga keuangan yang bangkrut. Kapitalisme belumlah mati. Neo-liberalisme masih berjaya. Penderitaan rakyat yang dibuahkannya masih berlanjut. Sampai kapan gerangan ??? (2) Burjuasi sempat bergendang paha dengan robohnya Tembok Berlin . Disusul panji merah berpalu-arit terkulai, dikerek turun dari puncak istana Kremlin. Negara Uni Republik-Republik Sovyet Sosialis brantakan. Demikian pula negara-negara sosialis di Eropa Timur. URSS lenyap dari peta politik dunia. Dalam pedato kenegaraannya awal 1992, Presiden George Bush memproklamirkan "Perang Dingin sudah usai, komunisme sudah mampus dan kita menang !" Soeharto dan para punggawanya menepuk dada. Merasa rezim orba dibenarkan sejarah telah membasmi komunis dan Sukarnois. Telah melarang penyebaran ajaran sosialisme di seluruh Indonesia . Melarang buku-buku karya Pramudya dan semua karya pengarang Lekra tak pandang judul dan waktu terbit. Dan di bidang ekonomi, rezim orba dipandu oleh para pembela ekonomi pasar bebas dengan para ahlinya dari "mafia Berkeley". Ekonomi terpimpin yang digagaskan Bung Karno dicampakkan. Indonesia pun menjadi negeri tergantung, terutama pada Amerika Serikat. Maka semuanya bermuara pada terpuruknya ekonomi Indonesia , dengan Suharto dinilai PBB sebagai koruptor nomor wahid di dunia. Menyusul pedato Presiden Bush yang mengumumkan usainya Perang Dingin, para pembela tangguh kapitalisme, Francis Fukuyama tampil dengan karyanya "The End of History. Dinyatakannya liberalisme sudah mengungguli Marxisme. Dan menurut Samuel Huntington usainya Perang Dingin akan disusul oleh The Clash of Civilisations. Gagasan inilah yang membimbing politik luarnegeri Amerika Serikat yang main gunakan kekerasan senjata dimana-mana untuk merajai dunia. Dan neo-liberalisme pun marak merebak melanda dunia. Hasilnya adalah krisis moneter dunia sekarang ini. Adalah wajar, dalam saat dunia dilanda krisis moneter kapitalis ini, orang menoleh ke sukses-sukses pembangunan ekonomi Tiongkok dan mendambakan sosialisme. Ada sementara kalangan yang merasa tidak sudi menyatakan Tiongkok itu melaksanakan sistim sosialis. Ada yang menyebut Tiongkok sebagai negeri dalam tahap permulaan kapitalisme. Bahkan tak sedikit yang menyatakan sudah menjadi negeri kapitalis. Prof. Cui Zhiyuan menyatakan Tiongkok adalah menjalankan sistim "kapitalisme Sungai Kuning". Sebaliknya, Dr Han Hwie-Sung menulis, bahwa Tiongkok menjalankan sistim "sosialisme Sungai Kuning". Nama apa pun yang diberikan pada Tiongkok, tidaklah akan merobah kenyataan Tiongkok sesungguhnya. Tiongkok dewasa ini adalah negara besar yang tak bisa ditinggalkan dalam urusan-urusan dunia. Dalam usaha keras mengatasi krisis moneter dunia kapitalis sekarang, para tokoh negara-negara besar dunia menyuarakan keinginan mengikutkan-sertakan Tiongkok. Bahkan di Indonesia ada yang menulis, menjadikan Tiongkok sebagai kiblat untuk mengatasi krisis moneter sekarang ini. Ada __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
