Ambo lai pulo punyo saketek kenangan di Raudhah iko.
Mudah-mudahan indak mengganggu
 
Wass
TR 
 
 
 


I.                  Kapling Indonesia di Rawdah


 

Sehari setelah berada di Madinah, dengan mengikuti teman yang sudah
pernah menunaikan ibadah haji kami mencoba memasuki Rawdah.  Mengingat
ramainya jamaah, jalur jalan kami  dari pintu Babussalam terpaksa
digeser laskar penjaga kearah kanan.  Sehingga kami terdesak kepintu
disisi kiri dan keluar lagi dari Masjid tanpa bisa masuk ke Rawdah
maupun berhenti sejenak untuk berdoa didekat kuburan  Nabi serta
sahabatnya Abubakar dan Umar . Percobaan selanjutnya besok haripun
memberikan hasil yang sama.

Ini membuat saya terpaksa  meneliti lebih lanjut kondisi disekitar
Rawdah itu.

Hari keempat setelah shalat Subuh saya tidak meninggalkan Masjid,
menunggu suasana agak sepi. dan para laskar meninggalkan jalur tempat
dia berjaga. Kalau di Masjidil Haram umumnya penjaganya adalah polisi
yang berjubah putih dengan serban ala Arafat. Di pintu masuk mereka
ditemani Polwan yang mukanya ditutupi cadar untuk memeriksa jamaah
wanita beserta bawaannya. Polisi dijalan raya berpakaian warna
khaki-cream.  Di Mesjid Nabawi selain polisi, sekitar Rawdah dan kuburan
Nabi dijaga tentara/laskar yang berseragam hijau.   

Sekitar jam 09.00 penjaga meninggalkan tempatnya, para jamaah langsung
menyerbu dari pintu no 3 langsung kearah tempat  Bilal mengumandangkan
azan, saya mengikuti mereka. Setelah berdesakan beberapa waktu, kakiku
mulai menyentuh carpet yang berbeda warnanya dengan carpet Masjid secara
keseluruhan. Carpet warna dasar merah berbunga-bunga mendominasi
sebagian besar lantai Masjid Nabawi ini, tapi khusus untuk areal Rawdah
punya warna dasar agak putih yang berbunga-bunga coklat kekuningan.
Untuk sebagai tanda lain pilar di Rawdah ini juga berbeda dengan pilar
lain yang ada di Masjid Nabawi.  Kalau dari luar dapat dilihat dari
warna hijau menaranya

Selanjutnya saya terus bergerak  mencari tempat yang agak  luas untuk
bisa menunaikan shalat sunat dan berdoa di Rawdah ini.  Kapling yang
saya peroleh ini cukup strategis karena salah satu sisinya adalah
dinding pembatas sementara dengan Rawdah untuk kaum wanita,jadi cukup
aman. Gangguan hanya banyak datang dari sisi kanan. Jadi kalau ada yang
shalat cukup mudah bagi kita mencovernya dari sisi kanan ini. Selesai
shalat saya beri kesempatan pada orang lain untuk memakai tempat saya
ini. Disini tampak banyak warga kita yang lewat sambil
terbengong-bengong saja, akhirnya mereka terdesak terus dan sampai lagi
diluar mesjid. Seperti yang saya alami kemaren.

Saya  mencoba menawari setiap wajah Melayu  yang lewat untuk shalat
dikapling saya, umumnya mereka  tertarik dengan tawaran saya ini, hanya
sekali tawaran saya ini ditampik orang. Selama sekitar 2 jam saya berada
di Rawdah ini lebih dari 20 orang yang sempat shalat disini. Diantaranya
salah seorang ustadz  pengajar manasik haji saya di Masjid Dakwah
beserta beberapa anggota KBIHnya  Berhubung saya lagi puasa saya takut
terlalu lama disini nanti kehabisan tenaga. Tapi hari-hari selanjutnya
saya piket juga disini. Bahkan untuk pertama kali seumur hidup saya ada
Bapak tua yang mencium tangan saya,  kemudian memeluk saya dengan
takzim. Ini karena dia telah selesai berdoa dan shalat dengan
perlindungan dari saya 

Karena suasana di Madinah cukup menyenangkan saya sempat puasa beberapa
hari disini. Jadinya saya sejak  Subuh sampai selesai Isya hampir selalu
berada di Masjid. Enaknya lagi kalau kita shalat di saf depan, menjelang
Magrib selalu ditawarkan  makanan kecil untuk berbuka puasa. Jadi tidak
perlu repot-repot mencari makanan untuk buka puasa.  Kalau nggak puasa
ya nggak dapat makanan kecil ini

Orang Turki dan Pakistan/India cukup luas memakai lahan di Rawdah ini.
Jadi kalau ada pojok untuk warga Indonesia mereka maklum saja.  Orang
berkulit hitam tidak begitu banyak saya jumpai disini. 

 Hanya mereka ini sering  nekad, tapi ada juga yang malu-malu mencium
dan menjilati tiang masjid di Rawdah,pagar,dinding kuburan Nabi. Kalau
ketahuan penjaga langsung diusir. Di sekitar Ka'bahpun kaum hitam ini
sering berlaku seperti itu.

Pernah suatu pagi selesai shalat Subuh, sambil menunggu penjaga berlalu
saya tertidur didekat salah satu tiang dekat Rawdah ini. Sekitar jam
08.00 saya mendengar orang ngomong-ngomong pelan disamping saya
berbaring . Karena kedengaran ada beberapa orang yang asyik  berbicara,
sambil malas-malasan saya membuka mata. 

 Saya terkaget juga karena disamping kanan saya berbaring terdapat dua
orang yang sedang shalat. Seorang pria setengah baya berdiri pas
disamping saya, berkulit putih bersih,tubuh tinggi besar dengan janggut
tebal terawat rapi, berjubah hitam diluar, sementara  bagian dalam
memakai pakaian putih.

Bagian  bahu jubah hitam itu dan sebagian dadanya dihiasi ornamen
keemasan. Melihat penampilannya saya merasa orang ini termasuk kelompok
petinggi juga, apalagi  disisinya dia diapit yang berjubah warna cream
biasa. Begitu juga yang shalat disamping kiri saya memakai jubah yang
sama berwarna cream. Sekelompok orang berdiri dibelakang mereka.
Dengan takzim mereka membentuk setengah lingkaran seperti mengawal boss
ini. 

Karena merasa risih saya berdiri, pengawal-pengawal itu acuh saja
melihat saya. Saya jadi  serba salah, dari pada mengganggu para pengawal
maupun orang yang lagi shalat pelan-pelan saya berbaring kembali. 

Selesai sholat dan berdoa rombongan ini meninggalkan Masjid.  Saya tetap
terpana, hanya setelah  beberapa menit mereka hilang baru saya ingat .
Tadi para penjaga dipintu acuh saja  sewaktu mereka keluar. Biasanya
asal ada orang lewat mereka selalu bereaksi. Mau bertanya pada penjaga
itu percuma saja karena mereka kurang mau melayani kalau kita ngomong
English, sementara saya tidak bisa bahasa Arab. 

Sampai sekarang saya sering berpikir, kenapa kelompok ini sholat
disamping saya. Padahal bagian masjid sekitar ini dalam keadaan hampir
kosong total. Hanya beberapa orang yang tiduran didekat beberapa tiang
sedang bagian tengahnya kosong melompong.

 Kalau bagian depan, jalur menuju Rawdah dari pintu No 1- Babussalam
memang ramai orang lewat, tapi dibatasi tabir dengan tempat saya tiduran
. 

Hari terakhir di Madinah saya didampingi Cak Zarnubi petani Sawit dari
Sungai Pagar. Hampir seharian kami ngaji di Rawdah kemudian shalat
dishaf depan yang menurut dia disana dulu kuburan Usman dan lain-lain,
tapi sekarang sudah dipindahkan ke Baqi.  Ini disebabkan hari ini
penjaganya begitu ramah, kami selalu dibagikan Al-Quran setiap memasuki
Rawdah. Jadinya rombongan kami nongkrong terus disana untuk mengaji
sampai datang waktu shalat lagi. 

Tapi untuk warga lain areal Rawdah yang tersisa masih cukup banyak
Nahdiyin yang satu ini sering berbeda pendapat dengan teman-teman
se-kloter karena dia terlalu kaku dalam  menerapkan Islam. Dia suka
dengan  saya karena saya sering jadi penengah kalau dia lagi bertikai.

Jalur menuju Rawdah bagi kaum wanita tampaknya selalu kurang nyaman.
Suasananya selalu berisik dan ribut seperti di Pasar Inpres. Bahkan
sewaktu kami disana ada berita, ada jatuh korban jiwa  karena
terinjak-injak waktu berdesakan. 

Disini saya juga sempat melihat tata cara shalat yang berbeda dengan
yang biasa kita laksanakan. Orang Iran yang kaum Syiah kalau shalat
tangannya tidak dilipat kedada, tapi dibiarkan lurus kebawah  seperti
sikap kita kalau lagi bersiap waktu baris-berbaris.  Cuma tinjunya tidak
mengepal.

Bacaannya  yang kelihatan berbeda adalah mereka membaca salawat dengan
mengangkat tangan seperti kita berdoa setelah selesai membaca ayat tapi
sebelum melakukan rukuk . Sebelum mengakhiri shalatnya mereka sering
sujud lagi. Mungkin itu semacam sujud syukur. Tapi waktu shalat lima
waktu berjamaah di Mesjid Nabawi saya lihat dia tetap mengikuti Imam,
hanya tangannya yang tidak dilipat kedada

Pria Iran ini umumnya selalu berada dalam kelompoknya seperti orang
Turki, mereka berpakaian rapi setelan jas hitam dan kemeja putih.
Sewaktu ditanya kenapa pakaiannya beda dengan yang selalu dipakai Imam
Khomeini mereka hanya senyum saja.

Sedangkan kaum wanita tetap berpakaian tradisionil  berupa gaun panjang
hitam yang kedodoran.dan berkerudung yang juga bewarna hitam.

Lelaki  Turki  yang kadang agak angkuh dan sering berseteru dengan orang
Afrika, model  pakaian dan bahannya seperti pakaian kerja kita.
Sementara yang wanita masih memakai gaun panjang yang sewarna dengan
pakaian kaum prianya dan dilengkapi dengan selendang. Sewaktu ditanya
kenapa jamaah hajinya kaum tua dan STW saja. Mereka menjawab,  kaum muda
akan ada secepatnya. Ini merupakan akibat berkuasanya Kemal atta Turk
dan kelompoknya  yang sekuler  dahulu. Sekarang Islam sudah mulai
bersyiar lagi di Turki. Tapi orang Turki yang menunaikan haji ini juga
banyak yang memakai paspor  Jerman karena mereka telah jadi warga negara
disana..

Saya juga sempat ngomong-ngomong dengan pensiunan kepala sekolah
menengah yang berasal dari Palestina. Dia mengenalkan teman-temannya
diantaranya penjaga sekolahnya dulu. Selain menceritakan kesengsaraan
masyarakatnya karena perlakuan Israel, dia juga cerita hal-hal ringan
seperti perjalanannya selama 18 jam naik bis dari kotanya ke Makah..

Di Mesjid tempat berbaurnya berbagai jenis bangsa ini saya juga sempat
beramah tamah dengan orang Aljazair. Rata-rata kaum ini profilnya
seperti orang Italia jadi yang lelaki cukup ganteng dan wanitnya
cantik-cantik.    Orang Mesir juga cukup intelek dan akomodatif . Ada
yang kerja di Industri Pesawat Terbang, mereka hanya senyum waktu saya
mengatakan Indonesia juga punya Industri Besar semacam itu, tapi
sekarang sedang melakukan PHK besar-besaran. 

Walau tertarik untuk berkenalan. tapi saya tidak sempat ngomong dengan
orang Myanmar, Kamboja dan Thailand karena  mereka hanya terlihat
sekilas  sewaktu  Sa'i   .

Biarpun  sama-sama muslim orang Pakistan tidak mau disamakan dengan
India. Bahkan sewaktu ada kawan yang tanya soal konflik Kashmir keduanya
hampir meledak. Susah juga menetralisirnya lagi. Ada lagi pengemis
parlente dengan English yang lumayan bagus. Dia juga mengaku  berasal
dari anak Benua  ini, yang lagi kesulitan keuangan. Karena takut
berbohong, kalau menjawab tidak punya uang terpaksa lembaran Riyal saya
berpindah ketangannya. Beberapa hari kemudian kejadian ini terulang lagi
pada saya walau tempat dan orangnya berbeda

Ada juga yang berasal dari Lahore,  sewaktu saya tanya kondisi Ahmadiyah
disana. Langsung dijawab  : "Ahmadiyah not Moslem".    Tapi bagi kita di
Indonesia mereka kadang-kadang  masih dianggap suatu aliran/sekte  dari
Islam.  Walau mereka tetap melaksanakan shalat Jumat di Rumah Ibadahnya
yang seperti Masjid kita . Terakhir kaum ini mengembangkan ideologimya
pada kelompok Transmigrasi Industri di Simpang Tiga. Sehingga
meresahkan kaum ulama di daerah itu.

Untuk kaum serantau saya cemburu pada fasilitas yang diterima jiran kita
orang Malaysia, Singapura, dan Brunei. Karena pondokan mereka tidak ada
yang lebih dari 500 meter dari Masjid.    Turki, India dan Pakistanpun
pondokannya lebih dekat dari Indonesia  . 

Tapi orang Malaysia ini tidak memperoleh living-cost seperti yang kita
terima, karena untuk mereka telah disediakan catering dengan citarasa
Melayu

 Ahmad Azzuar, pengusaha property dari KL, Malaysia, menceritakan setiap
habis Isya selalu dilanjutkan lagi dengan berbagai pengajian maupun
taklimat dihotelnya. Bahkan pihak Saudi Air yang membawa mereka pulang
pergi datang beramah tamah kehotelnya sehari sebelum mereka meninggalkan
Madinah. Kalau yang kami peroleh, pramugari Saudi Air yang orang
Indonesia sering kurang bersahabat bahkan agak melecehkan warga kita
yang kurang memahami tata cara di pesawat udara.  Informasi lain yang
bikin iri juga saya terima dari kakek tua orang Pulau Pinang

Orang-orang Malaysia ini agak sungkan untuk melecehkan saya, walau dari
kita ada TKI maupun orang Boyan (Bawean) dan Flores cukup kondang
sebagai puak Indonesia yang sering ricuh disana. Ini karena saya cukup
mengerti kondisi disana dan cukup banyak orang daerah saya yang bikin
sepi Mall-Mall Cina dengan Pasar Malamnya. Bahkan para pemilik Mall
tersebut sampai komplain pada Dewan Undangan Negeri (semacam DPRDnya)
dengan keberadaan Pasar Malam yang makin berkibar

 

 

 

 


________________________________


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke