Assalamualaikum, wr.wb Sebagaimana motto Bapak K. Suhaemi yang dianut beliau: T" ulis apa yang engkau kerjakan, Kerjakan apa yang engkau tulis. Wah ... ternyata Bapak adalah seorang ISOis.... Oleh karenanya saya turut mengkisahkan tentang "Roudhah", dimana para jemaah wanita pada umumnya berjuang untuk memasuki Roudhah ini - seperti yang saya alami. Kisahnya sangat sangat manusia. Akhirnya perjuangan itu ternyata menghasilkan kisah tersendiri bagi saya dan tak akan saya lupakan seumur hidup saya. Selamat membaca... Sanak...
ROUDHAH : Apa yang dimaksud dan bagaimana itu Roudhah ?. Roudhah adalah suatu tempat didalam Mesjid Nabawi luasnya kira-kira 144 m2. Letaknya ditandai Qubah Hijau, bila dilihat dari luar M esjid serta tiang-tiang putih yang berada diantara Makam Nabi (d/h rumah nabi) sampai dengan mimbar Nabi. Tempat ini adalah tempat yang makbul untuk berdoa. Dari Abu Hurairah (termasuk 5 orang ahli hadis), Rasulullah SAW, bersabda : “ antara rumahku dan mimbarku adalah Raudhah (taman) diantara taman-taman surga”. Allah SWT akan menurunkan rahmatnya untuk mencapai suatu maksud dan doanya akan dijabah. Ditempat itu dilakukan sholat mutlak disertai dzikir dan doa kepada Allah. Dari para jemaah wanita yang sudah lebih dahulu memasuki roudhah, saya dapat mengetahui bahwa terdapat suatu perjuangan untuk mencapai Roudhah. Sedangkan bagi jemaah pria tidak terlalu sulit untuk masuk ke Roudhah. Hal ini disebabkan lokasi Rhoudah, masih dalam lingkungan shaf pria. Bagi kami para jemaah wanita, ditentukan jam berkunjungnya, yaitu ba`da shubuh dan zuhur. Pada hari kedua di Madinah, semula rombongan kami diantar seorang pemandu bangsa Arab, yang membawa kami hinggga dekat kubah Hijau diluar mesjid. Kami mengira, kami akan mendapatkan prioritas masuk ke Roudhah. ternyata dugaan tersebut keliru, karena kami tetap melakukan antrian panjang di pintu Ali bin Abi thalib. Banyak nian, jemaah wanita yang berhasrat ke Rhoudah disiang hari seusai ba.da zhuhur itu. Saya mencoba antri ditengah – tengah desakan wanita-wanita yang menanti dengan penuh harap. Hati para jemaah wanita dibuat berdebar-debar. Pintu masuk manakah yang akan dibuka lebih dahulu oleh para Asykar putri itu....?? Ditengah desakan antrian yang padat itu, saya sempat terusik ketika seorang wanita “Malaysia” membaca surat Yasin persis ditelingaku. Bacaannya cukup memekakkan telingaku. Aku mencoba beristigfar…………Asytagfirullah al adziim…. Mungkin saya yang salah. Sesungguhnya iapun tentu juga berharap agar memperoleh kemudahan dalam memasuki areal Roudhah itu, sehingga ia berikhtiar dengan membaca surah itu. Punggung dan dada saya terjepit diantara desakan ratusan wanita yang antri. Ketika itu, jarak saya dengan calon pintu masuk tinggal hanya 2 m. Saya benar-benar berharap ingin masuk ke Roudhah disiang hari itu. Saya bertahan. Keringat mengucur karena desakan kumpulan wanita yang ingin masuk ke areal Rhoudah. Saya mencoba berdoa sebagaimana Nabi Yunus As, berdoa dalam perut ikan. “Bimillahiladzi laa ilaha illa anta subhanaka ini quntu minazzolimin……. Didalam regu kami, semula kami mengantri secara berombongan. Akhirnya, satu persatu diantara kami meninggalkan antrian. Mungkin mereka sadar, bahwa tidak akan mungkin bisa masuk dalam antrian yang sedemikian padat itu. Ditengah hiruk pikuknya ratusan wanita yang saling berdesakan, itulah saya masih bertahan. Saya kaget karena terdorong dorong, ketika ada seorang wanita gemuk dan bertubuh gempal datang membawa rombongan teman-temannya dari KBIH di Jawa Timur. Ia berupaya menembus barikade barisan hingga terdepan dari antrian itu. Akibat ulahnya itu, rombongan ini sangat menjepit dan memojokan diriku. Dadaku sesak karena ditekan. Akhirnya dengan kesabaran, aku bertanya kepadanya. “Ibu, sabar …… ya Bu… dan apakah baru pertama kali ini Ibu ke Roudhah ini ? dengan tertawa ia berkata: “ saya sudah dua kali ke Roudhah dan saya belum merasa puas” katanya. “Astagfirullah…………… ucapku dalam hati. “Ibu beri kami kesempatan untuk antri,karena kami belum pernah kesana…, kata saya kepadanya. Dia hanya tertawa dan sama sekali tidak mendengar saran saya itu. Jumlah rombongan kami yang semula banyak, sekarang tinggal saya dan seorang teman . “Kita bertahan saja ya Bu……”, kata temanku kepadaku. Mana tahu Allah berhati kasih kepada kita dan memberi kesempatan kita bisa masuk…… itulah tekad kami ketika itu. Tiba-tiba pintu arah sebelah kiri kami terbuka. Bagaikan suara lebah saya mendengar suara wanita berhamburan lari masuk menuju arah makam Rasul itu. Saya berdiri terbengong-bengong tidak berdaya dalam posisi terjepit. Padahal setahu saya pintu itu hanya di peruntukan untuk wanita India, Pakistan dan Negara sekitarnya. Entah siapa yang memulai, barisan ditempat kami, (wanita wanita Indonesia ) semua berteriak dengan serempak; Allahu Akbar………. Allahu……… Akbar…….. Para Askar menjadi berang kepada kami dan berteriak: “Hajjah……… Haram…… Haram.. ! Rupanya mereka melarang perbuatan yang mengatas namakan Allah demi suatu ketidak sabaran. Ketika itu saya masih berfikir lugu “……… Ah …… masa iya sih, pintu kami ini tidak dibuka. Bila tidak dibuka tentunya Askar itu akan memberitahu kami. Tiba-tiba antrian sebelah kananku terbuka lagi dan sekali lagi kudengar gemuruh suara wanita yang berlari masuk menuju Roudhah. Barisan kami kembali berteiak ...Allahu Akbar – Allahu Akbar. Betapa kecewanya hati ini, ternyata jam menunjukan pukul 13.00, berarti berakhirnya kunjungan jemaah wanita ke Roudhah itu. Alhasil dari rombongan kami yang berjumlah k.l 30 orang yang berhasil memasuki Roudhah saat itu hanyalah dua orang ibu yang satu berusia 48 tahun dan satu usia sudah 68 tahun. Dua perempuan ini ditakdirkan dapat masuk ke Roudhah karena beliau berada pada posisi antrian paling belakang yang sebenarnya kecil kemungkinan dapat masuk. Namun ternyata berpeluang untuk lari masuk tanpa berdesakan diantara dua calon pintu yang akan dibuka. Alhamdulillah…… Keduanya memberikan kiat untukmasuk ke Roudhah kepada saya, dengan strategi yang harus diperhatikan, yaitu : - Berdoalah kepada pemilik masjid ini, yaitu Allah SWT tentang keinginan kita mengunjungi makam Rasul. - Perhatikan pintu yang ada cameranya. Berdirilah diantara 2 pintu tersebut pada posisi belakang saja, sehingga lebih aman dan lancar untuk masuk. - Perhatikan kepadatan pintu yang akan dibuka. Biasanya, Asykar demi keselamatan para jemaah wanita dari akibat desakan dan untuk mengurangi tingkat kepadatan manusia, akan memilih pintu yang sedikit antrian dan jumlah kepadatannya. Keesokan harinya,pada ba`da dzuhur, saya mencoba lagi untuk masuk ke Roudhah. dan saya mengalami kegagalan lagi masuk, karena hanya satu pintu yang dibuka dan akupun terlambat untuk masuk. Demikian juga pada pagi hari keesokan harinya, lagi-lagi, aku sangat kecewa sekali saat itu. Apakah saya ini termasuk orang yang tidak di ridhoi oleh Allah SWT untuk berkunjung ke makam Rasul ini. ” Ada apa dengan diriku ya Allah ? Ketika hari keempat di Madinah, saya belum juga bisa masuk ke Roudhah ini. Hari itu adalah hari Jum'at dan kami jemaah wanita ikut pula sholat Jum'at. Pada waktu sholat jum`at saya mengalami suatu hal yang menakjubkan hati. Kebetulan kami hanya memperoleh tempat dipelataran mesjid Nabawi, mengingat begitu padatnya jemaah yang melakukan sholat jum`at. Cuaca disekeliling kota Madinah kelihatan terang dan terik, namun masih ada hembusan angin dingin. Akan tetapi saya mengamati bahwa diatas Mesjid Nabawi terdapat awan yang memayungi masjid ini. Saya merasa merinding, seakan didekat kami berdiri Rasulullah SAW. Saya jadi teringat bahwa Rasulullah pernah di payungi awan ketika dalam perjalan beliau pad masa kanak-kanaknya ke negri Syam(Syiria-sekarang). Ternyata ada kenalan kami yang sudah bermukim di Madinah selama 7 tahun, ia menjelaskan perihal masjid Nabawi yang berpayung awan itu. Menurut nya - hal seperti ini sering terjadi ketika musim Haji. Penduduk Madinah menamakan para penziarah pada musim haji ini disebut haji Nabi. Sebetulnya apa arti Haji/Hajjah ? yang sering diucapkan ketika menyapa kita di tanah haram itu. Ternyata sebutan haji/hajjah ternyata panggilan kepada muslim yang artinya saudara/saudari. Demikianlah pada hari kelima di Kota Madinah, Pada dini hari saya maelaksanakan sholat Toubah, sholat Hajad, sholat Witir dan berdoa untuk bermunajat kepada Allah aku ingin memasuki Roudhah itu “Dengan izinMu ya Allah, aku mohon Engkau merido`I dan memberiku kesempatan agar dapat mengunjungi makan Rasulmu. Namun bila Engkau tak merido`I tak mengapa bagiku, demikian isak kesedihan pada Nya. Sesungguhnya Masjid Nabawi ini - area Roudhah merupakan tempat yang baik untuk berdoa. Disinilah ujian kesabaran benar-benar saya alami. Selepas shubuh dengan dada gemuruh berharap cemas, saya mencoba sabar duduk menunggu. Kadang saya duduk dan kadang saya berdiri, beristigfar dan segala doa dan harapan trerucap dalam hati. Strategi yang dibuat askar,menyebabkan tidak ada satupun bisa menduga pintu manakah yang akan dibuka saya perhatikan sesuai dengan saran teman teman sebelumnya. Saya memperhatikan, kadang kala askar membuat pagar/pemisah diantara 3 antrian. Ada kecenderungan untuk menghimpun kami para wanita dalam suatu jebakan bahwa pintu itu akan dibuka. Padahal tidak. Disini saya membuat ketetapan hati dan pernyataaan sikap, seperti yang saya utarakan pada ibu Armida - temanku. Bahwa bila mana sampai jam 10.00 aku masih gagal masuk ke Roudhah ini, maka aku sudah berketetapan tidak akan mengikuti antrian lagi. Sambil saya bertekad dalam hati, bahwa saya mengunjungi Roudhah pada kesempatan umroh/haji berikutnya , inipun bila di izinkan Allah SWT…… (…… seketika sadar bahwa semuanya atas izin Allah). Ketika para jemaah wanita mulai diarahkan para askar menuju pintu tertentu. Saya hampir terpengaruh. saya mengajak teman saya ke pintu tertentu itu. Tiba-tiba didekat saya berdiri seorang wanita yang berasal dari Rombongan jemaaah haji kota Medan. Ia berkata pada saya : “Ibu,…… tidak perlu berpindah-pindah tempat. " Saya sudah tiga kali ke Roudhah dalam suasana yang longgar dan tidak berdesak – desakan, persis suasana seperti ini”, katanya. Padahal suasana tempat saya berdiri memang mulai sepi, karena ditinggal oleh para wanita-wanita yang berpindah tempat untuk antri ketempat yang diarahkan askar. “Ah masa iya…………, bisikku. Wanita Medan itu bercerita bahwa ia berserah diripada Allah SWt, agar ia diberi kesempatan sholat di Roudhah. “Saya merasa biaya kesini sangat mahal dan tidak tidak akan mungkin saya dapat mengunjunginya lagi.”, katanya. Sayasenyum dan berkata padanya : “ Bu saya juga telah bermunajat pada Allah, agar saya dapat mengunjungi makam Rasul”. Padahal perjuangan seperti ini, tidak pernah saya anggap penting ketika mendapat pengajaran manasik haji. Begitulah penyesalan saya waktu itu.Antara keraguan mengikuti nasehat tersebut dan keinginanku untuk berpindah tempat ketempat yang diduga akan dibuka pintunya oleh Askar, ketika itulah pintu dibelakang kanan kami berdiri terbuka. Aku berteriak histeris dan berlari seperti memiliki kaki sempurna masuk ke pintu itu. Teman saya - Ibu Armida - mengingatkan saya agar tidak usah berlari. Saya menangis dan terus menangis menuju makam Rasul itu. Wanita Turki, Iran, Pakistan, India, Afrika dan Negara – Negara lainya juga berteriak histeris. Ternyata untuk masuk makam Rasul dibatasi lagi oleh sebuah pintu, dengan tujuan untuk mengurangi kepadatan areal makam. Disini berbagai cara dan ragam, para jemaah menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW. Namun dalam tuntunannya, kami mengucapkan : “Selamat sejahtera atasmu wahai Rasulullah, rahmat Allah dan berkah Nya untuk mu, selamat sejahtera atas mu wahai nabiullah …… Dst. Ketika didepan pintu masuk Roudhah, kembali para wanita berdesakan. Disini saya menyaksikan betapa tertibnya wanita Indonesia . Mereka duduk dengan tertib dan menyampaikan salam ke Rasulullah dan melaksanakan sholat sunnah 2 rakaat. Saya mengikuti perbuatan yang baik ini. Didepan pintu masuk Roudhah, kami harus antri lagi untuk memberi kesempatan wanita yang masih didalam makam untuk melakukan sholat mutlak dan berdoa. Dipintu masuk Roudhah ini, aku bertegur sapa dengan seorang wanita Iran. dan wanita Sudan. Dia menanyakan buku doa apa yang ku baca. Saya menunjukkan buku paduan doa kepadanya serta mengajaknya membaca bersama. Kami bertiga, seorang wanita Iran yang berfaham Syiah dan seorang wanita Sudan, membaca doa dipintu Roudhah tersebut. Subhanallah … , bertapa bersatunya Islam dalam suasana seperti ini. Ternyata melalui pertemuan ini dapat menghilangkan perbedaan mahzab diantara kita umat islam. Ketika didalam Roudhah, saya hanya mampu sholat berdiri, terayun – ayun oleh desakan manusia. Saya hanya bisa berkonsentrasi dan membayangkan wajah anak- anakku, kakak2/ saudara/kerabat dan handai tolan untuk menyampaikan hajat atas permintaan mereka kepada Yang Maha Kuasa, yang semuanya tidak mampu aku sebutkan satu persatu namanya. Pada intinya, saya memohon ampunan atas diriku, dosa kedua orang tuaku, anak-anakku, nenek dan semua kaum kerabatku, kakak2 termasuk guruku serta sekalian orang mukmin dan muslim. Saya menyampaikan harapan, agar mereka diberikan rezeki. Agar pada suatu saat nanti, mereka juga memperoleh kesempatan memenuhi panggilan Allah SWT serta mengunjungi tanah haram ini. Saya menyampaikan hajat dari kerabat/handai tolan yang secara khusus menitipkan pesan kepadaku. Termasuk menyampaikan salam untuk Rasul, dari orang yang pernah berhaji dan pernah mengunjungi makam Rasul ini. Saya memetik 2 hikmah dari kunjungan ke Masjid Nabawi ini serta ziarah ke Makam Nabi. Bahwa pernyataan keislaman kita diucapkan dalam ikrar yang tersebut dalam 2 kalimah Syahadat, - Syahadat pertama, yaitu “Ashadu alla ila ha illallah. adalah kita mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah. Pernyataan ini menjadi sempurna ketika kita menunaikan ibadah haji serta beribadat di Baitullah – Tanah Haram Makah. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. - Sedangkan syahadat yang kedua, yaitu “ Wa Ashadu Anna Muhamma Rasulullah”, adalah ikrar kita atas kerasulan Nabi Muhammad Saw. Dengan mengunjungi Masjid Nabawi serta menziarahi makam nabi Muhammad SAW, merupakan kesempurnaan iman islam kita terhadap pelaksanaan ikrar kita yang kedua. Bagiku, ini adalah pengalaman batin dan tentunya diantara kita tidak sama pemahaman dan pemaknaannya. Mudah – mudahan tidak hanya orang yang melakukan perjalanan ini saja, yang menemukan hikmah-hikmah seperti ini. Dalam menunaikan ibadah haji ini, kita beribadah dan berwukuf di Arafah. Tidak sah haji seseorang, bila mana ia tidak melakukan wukuf di Arafah ini. Bila dimaknai lebih mendalam, maka ibadah haji mengandung kemaslahatan bagi seluruh umat islam pada sisi agama dan dunianya. Mengapa? Karena aku merasakan bahwa ibadah haji ini, menjadi ibadah perjalanan rohani dan persaudaraan muslim sedunia. Demikianlah kepadatan kunjungan jemaah ke Mesjid Nabawi di waktu pelaksanaan ibadah haji tentu akan berbeda pada umroh sebagaimana yang dikisah oleh Bapak K. Suhaemi. Wassalam, 3vy Nizhamul http://hyvny.wordpress.com http://bundokanduang.wordpress.com --- On Thu, 10/23/08, suheimi ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: suheimi ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] R A U D H A H R A U D H A H Oleh: K. Suheimi Raudhah adalah satu taman surga yang diturunkan Allah ke Bumi, kata Guru saya ketika memberikan manasik haji, saya terangguk-angguk menyimaknya, dan dalam hati saya , saya ingin shalat dan berdo’a di raudhah itu. Raudhah terletak antara kuburuan rasul dan Mihrabnya. Tonggak-tonggaknya berbeda dari tonggak yang ada di Masjid Nabawi. Lebih putih, lebih bagus bertata emas dengan ukurin yang bagus di tonggak-tonggaknya. Ke sanalah saya 29 tahun yang lalu. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
