Ass. Wr.Wb. P'Ajo Duta!
Saya mencoba menjawab pertanyaan tersebut Pak.
Menurut saya, orang Minang itu sangat cepat berintegrasi bukan asimilasi, 
manusianya flexibel
iniativnya tinggi. Integrasi itu menyatu, tetapi tanpa menghilangkan identitas, 
asimilasi itu seperti integrasi tapi identitasnya melebur. (Maaf saya orang 
technik, bukan sastra kalau (tak) begitu tepat) 
Jadi supaya cepat maju, musti berintegrasi, tidak berkelompok seolah2 
berisolasi.
Hasil integrasi, bagus berbaur dengan tuanrumah2 (daerah yang dimukim) cepat 
dikenal, membuat
usaha/studi atau tujuan apapun yang bakal diterusi menjadi lebih mudah dan 
lancar.
Misalnya sebagaiu mahasiswa yang mau cepat amju musti aktiv berintegrasi.
Menegor tuanrumah (biarpun diledek Muncak Sapo), yah ke mesjid, ringan 
tangan(menolong bukan nyolong) dsb.
Nanti saya sambung lagi, karena, saya musti berangkat ada urusan ke kota lain.
Wassalam Muljadi
-------- Original-Nachricht --------
> Datum: Fri, 24 Oct 2008 01:18:51 -0400
> Von: "ajo duta" <[EMAIL PROTECTED]>
> An: [EMAIL PROTECTED]
> CC: "[email protected]" <[email protected]>
> Betreff: [EMAIL PROTECTED] Fwd: [EMAIL PROTECTED] Minangkabau Boulevart

> Sayang tidak disebutkan kenapa orang Minang tidak suka
> tinggal berkelompok sesamanya sehingga bisa timbul
> Kampung Minang atau Kampung Padang.
> 
> Ada yang bisa memberi jawaban?
> 
> Wassalam
> ajoduta
> 
> ---------- Forwarded message ----------
> From: Nofend Marola <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: 2008/10/24
> Subject: [EMAIL PROTECTED] Minangkabau Boulevart
> To: [email protected]
> Cc: [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> 
> 
> Jumat, 24 Oktober 2008
> Oleh : marthias pandoe, wartawan senior
> http://www.padangekspres.co.id/content/view/21230/55/
> 
> Saya kebetulan sudah mengunjungi beberapa kota di nusantara ini. Di
> sana-sini terdapat kawasan Kampung Melayu, Kampung Jawa, Kampung Cina,
> Kampung Kaliang (keling), Kampung Ambon, Kampung Makassar, Kampung Bugis
> atau Kampung Banjar. Sama sekali tidak ada Kampung Minang atau 
> Minangkabau.
> 
> 
> Bernama Kampung Melayu, karena di kawasan ini dominan berdiam  perantau
> suku
> Melayu. Kampung Jawa tempat mengelompok orang-orang asal Jawa, sehingga
> ada
> ungkapan: "mangan ora mangan, asal ngumpul."
> Kampung Cina ditandai bahwa di kawasan ini terdapat sederetan  toko Cina
> seperti toko perabot, toko sepatu, studio foto, tukang gigi, kedai kopi,
> percetakan, toko makanan, dan sebagainya.
> 
> Di Kota Bukittinggi, dewasa ini tidak seberapa lagi toko milik Cina,
> karena
> sudah pindah ke tangan pribumi. Di Pariaman, dulu ada Kampung Cina tapi
> kini
> tinggal nama saja lagi, tidak seorang pun etnis Cina jadi warga kota ini.
> Kampung Kaliang tempat mengelompok  keturunan India. Kampung ini ada di
> Kota
> Medan, dan Kota Padang
> 
> Di Jakarta Timur dekat Bandara Halim Perdanakusuma, terdapat Kampung
> Makassar. Dulu banyak warga asal Sulawesi Selatan  bermukim di sana, tapi
> kini sudah bercampur dengan perantau berbagai suku bangsa Indonesia.
> Demikian pula halnya  Kampung Bugis, tempat mengelompok orang Bugis, juga
> asal Sulawesi Selatan. Di Kampung Banjar terdapat banyak warga asal
> Kalimantan Selatan.
> 
> Kok tidak ada Kampung Minang atau Kampung Minangkabau, pada hal warga suku
> ini terkenal sudah merantau konon sejak abad ke-18 ke mana-mana di
> seantero
> nusantara. Bahkan ke luar negeri antaranya ke jiran Melaysia. Kelompoknya
> yang sudah ramai di sini  berhasil menjadikan pemukimannya jadi salah satu
> negara bagian, Negeri Sembilan namanya. Jadi bukan Kampung Minangkabau.
> 
> Di Jakarta waktu ibukota itu bernama Batavia (zaman penjajahan Belanda)
> terdapat empat jalan bergengsi, masing Oranye Boulevart, Nassau Boulevart,
> Van Huetz Boulevart, dan Minangkabau Boulevart. Jalan raya dua jalur dan
> di
> tengahnya terdapat taman hijau. Kini ke-empatnya  jadi jalan protokol,
> masing-masing bernama Jalan Imam Bonjol, Jalan Diponegoro, Jalan Cut
> Meuthia
> dan Jalan Minangkabau. Lokasi Jalan Minangkabau dekat kawasan Manggarai
> dan
> Pasar Rumput. Namun di jalan tersebut  terdapat hanya segelintir urang
> awak.
> 
> 
> Misalnya Mr. Sutan Mohammad Rasjid, mantan Gubernur Sumatera Barat. Rumah
> beliau Jalan Minangkabau No.10. Sebagai zijweg. (jalan sampingnya)
> terdapat
> Jalan Bukittinggi, Jalan Pariaman, Jalan Sawahlunto, Jalan Payakumbuh, dan
> lain-lain. Orang Minang tidak seberapa di sini. Penghuninya perantau dari
> berbagai daerah  Indonesia. Di samping orang Betawi asli, juga ada orang
> Jawa, Sunda, Batak, Maluku, dan Kalimantan.
> 
> Orang Minang merantau tidak mengelompok  di satu kawasan, tapi menyebar
> dengan jarak agak jauh satu sama lain. Ada satu dua kepala keluarga  yang
> kumpul. Mereka yang terpencar sadar dengan posisinya. Sertamerta
> beradaptasi
> dan beralkulturasi (membaur) dengan masyarakat setempat dalam suatu sistem
> hetoregenistik.
> 
> Hampir di tiap masjid dan mushalla mereka ikut dalam susunan pengurus
> rumah
> ibadah itu. Jika pandai mengaji, bisa jadi mubaligh atau guru ngaji.
> Setidaknya imam shalat. Pada suatu malam sekitar  tahun 1955 saya jadi
> makmum shalat maghrib di masjid  Ternate, Maluku Utara. Ternyata yang jadi
> imam urang awak. Besok siangnya saya lihat dia menjual martabak di kota
> tersebut. Banyak pula yang berteriak-teriak menjajakan barang di kaki
> lima.
> 
> Urang awak menggalas barang-barang kebutuhan primer, seperti sayur-mayur,
> keperluan dapur, barang kelontong dan lain-lain di kakilima. Mereka
> sehari-hari berhubungan dekat dengan akar rumput. Tidak banyak menjual
> kebutuhan sekunder untuk orang kelas menengah ke atas. Tidak dipungkiri,
> banyak juga yang jadi pengusaha kuat, mampu menyaingi keuletan pengusaha
> Cina.
> 
> Masakan urang awak  sudah jadi makanan nasional. Restoran Padang yang siap
> saji dan murah meriah, ditemukan di tiap pelosok kota besar atau kota
> kecil.
> Hampir seluruh perut orang Indonesia, sudah terbiasa  makan yang serba
> pedas.
> 
> Di belakang masjid Sultan North Brigde Road Singapura, banyak perantau
> asal
> Pariaman berdagang nasi. Dekatnya di Arab Street, orang Kapau jualan
> pakaian
> muslim/muslimah dan alat-alat shalat. Hal serupa saya lihat di Brunai
> Darussalam. Karena menyebar, timbul kesan bahwa orang Minang berkembang
> biak
> di mana- mana. Jika dikumpulkan, lebih banyak dibanding yang menghuni
> kampung leluhur, sekitar empat juta jiwa! ***
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> -- 
> Wassalaamu'alaikum
> ajoduta/61/usa
> 
> > 

-- 
Psssst! Schon vom neuen GMX MultiMessenger gehört? Der kann`s mit allen: 
http://www.gmx.net/de/go/multimessenger

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke