Ajo Duta dan sanak2 yth. Memang menarik pola merantau dan bermukim orang Minang ini. Walaupun ada pengelompokan besar permukiman orang Minang di rantau, namun jarang sekali ada pemunculan identitas nama khas komunitas Minang. Seperti di Medan pada era 1970an semua orang tahu kawasan Suka Ramai didominasi oleh orang Minang, sehingga ada istilah Ajo Sukarame (AS). Atau era sebelumnya pada jalur-jalur Amaliun, Puri, Halat, dsk. Termasuk juga sampai ke Riau, Jambi, Sumsel, hingga Lampung. Di Manggarai Flores dan Bima walaupun sebagian penduduknya mengaku keturunan Minang, juga tidak ditemukan 'Kampung Minang'. Malah juga di Sulawesi (Selatan). Termasuk juga di Semenanjung Malaysia. Sementara waktu saya perkirakan sbb: 1. Perantau Minang menghargai adat istiadat setempat, sesuai falsafah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. 2. Mungkin dapat dicurigai asal-usul 'Kampung Melayu' di berbagai tempat, karena orang Minang ini kuat sekali jiwa merantaunya di Sumatera. Laporan pengelana Portugis (Lord Minto) pada abad 16, 25% orang Sumatera adalah orang Minang. Rasio ini dapat dibandingkan sekarang ini. 3. Hampir semua pendapat orang-orang di Indonesia Tengah sampai Timur mengatakan orang Minang itu adalah orang Melayu. 4. Pada umumnya perantau itu datang secara individual atau dalam kelompok kecil saja, dan cenderung tidak mau dominan. 5. Lokasi sasaran yang dituju adalah pusat-pusat ekonomi setempat (downtown/cbd), dan langsung menempatkan diri sebagai kompetitor khususnya bagi etnis Cina yang terlebih dahulu menguasai kawasan ekonomi tersebut. Orientasinya adalah 'ekonomi', jadi bukan 'bermukim'. Demikian kurang-lebih untuk dapat ditambah-kurangi. Wassalam, -datuk endang
--- On Thu, 10/23/08, ajo duta <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Sayang tidak disebutkan kenapa orang Minang tidak suka tinggal berkelompok sesamanya sehingga bisa timbul Kampung Minang atau Kampung Padang. Ada yang bisa memberi jawaban? Wassalam ajoduta ---------- Forwarded message ---------- From: Nofend Marola <[EMAIL PROTECTED]> Jumat, 24 Oktober 2008 Oleh : marthias pandoe, wartawan senior http://www.padangekspres.co.id/content/view/21230/55/ Saya kebetulan sudah mengunjungi beberapa kota di nusantara ini. Di sana-sini terdapat kawasan Kampung Melayu, Kampung Jawa, Kampung Cina, Kampung Kaliang (keling), Kampung Ambon, Kampung Makassar, Kampung Bugis atau Kampung Banjar. Sama sekali tidak ada Kampung Minang atau Minangkabau. Bernama Kampung Melayu, karena di kawasan ini dominan berdiam perantau suku Melayu. Kampung Jawa tempat mengelompok orang-orang asal Jawa, sehingga ada ungkapan: "mangan ora mangan, asal ngumpul." Kampung Cina ditandai bahwa di kawasan ini terdapat sederetan toko Cina seperti toko perabot, toko sepatu, studio foto, tukang gigi, kedai kopi, percetakan, toko makanan, dan sebagainya. Di Kota Bukittinggi, dewasa ini tidak seberapa lagi toko milik Cina, karena sudah pindah ke tangan pribumi. Di Pariaman, dulu ada Kampung Cina tapi kini tinggal nama saja lagi, tidak seorang pun etnis Cina jadi warga kota ini. Kampung Kaliang tempat mengelompok keturunan India. Kampung ini ada di Kota Medan, dan Kota Padang Di Jakarta Timur dekat Bandara Halim Perdanakusuma, terdapat Kampung Makassar. Dulu banyak warga asal Sulawesi Selatan bermukim di sana, tapi kini sudah bercampur dengan perantau berbagai suku bangsa Indonesia. Demikian pula halnya Kampung Bugis, tempat mengelompok orang Bugis, juga asal Sulawesi Selatan. Di Kampung Banjar terdapat banyak warga asal Kalimantan Selatan. Kok tidak ada Kampung Minang atau Kampung Minangkabau, pada hal warga suku ini terkenal sudah merantau konon sejak abad ke-18 ke mana-mana di seantero nusantara. Bahkan ke luar negeri antaranya ke jiran Melaysia. Kelompoknya yang sudah ramai di sini berhasil menjadikan pemukimannya jadi salah satu negara bagian, Negeri Sembilan namanya. Jadi bukan Kampung Minangkabau. Di Jakarta waktu ibukota itu bernama Batavia (zaman penjajahan Belanda) terdapat empat jalan bergengsi, masing Oranye Boulevart, Nassau Boulevart, Van Huetz Boulevart, dan Minangkabau Boulevart. Jalan raya dua jalur dan di tengahnya terdapat taman hijau. Kini ke-empatnya jadi jalan protokol, masing-masing bernama Jalan Imam Bonjol, Jalan Diponegoro, Jalan Cut Meuthia dan Jalan Minangkabau. Lokasi Jalan Minangkabau dekat kawasan Manggarai dan Pasar Rumput. Namun di jalan tersebut terdapat hanya segelintir urang awak. Misalnya Mr. Sutan Mohammad Rasjid, mantan Gubernur Sumatera Barat. Rumah beliau Jalan Minangkabau No.10. Sebagai zijweg. (jalan sampingnya) terdapat Jalan Bukittinggi, Jalan Pariaman, Jalan Sawahlunto, Jalan Payakumbuh, dan lain-lain. Orang Minang tidak seberapa di sini. Penghuninya perantau dari berbagai daerah Indonesia. Di samping orang Betawi asli, juga ada orang Jawa, Sunda, Batak, Maluku, dan Kalimantan. Orang Minang merantau tidak mengelompok di satu kawasan, tapi menyebar dengan jarak agak jauh satu sama lain. Ada satu dua kepala keluarga yang kumpul. Mereka yang terpencar sadar dengan posisinya. Sertamerta beradaptasi dan beralkulturasi (membaur) dengan masyarakat setempat dalam suatu sistem hetoregenistik. Hampir di tiap masjid dan mushalla mereka ikut dalam susunan pengurus rumah ibadah itu. Jika pandai mengaji, bisa jadi mubaligh atau guru ngaji. Setidaknya imam shalat. Pada suatu malam sekitar tahun 1955 saya jadi makmum shalat maghrib di masjid Ternate, Maluku Utara. Ternyata yang jadi imam urang awak. Besok siangnya saya lihat dia menjual martabak di kota tersebut. Banyak pula yang berteriak-teriak menjajakan barang di kaki lima. Urang awak menggalas barang-barang kebutuhan primer, seperti sayur-mayur, keperluan dapur, barang kelontong dan lain-lain di kakilima. Mereka sehari-hari berhubungan dekat dengan akar rumput. Tidak banyak menjual kebutuhan sekunder untuk orang kelas menengah ke atas. Tidak dipungkiri, banyak juga yang jadi pengusaha kuat, mampu menyaingi keuletan pengusaha Cina. Masakan urang awak sudah jadi makanan nasional. Restoran Padang yang siap saji dan murah meriah, ditemukan di tiap pelosok kota besar atau kota kecil. Hampir seluruh perut orang Indonesia, sudah terbiasa makan yang serba pedas. Di belakang masjid Sultan North Brigde Road Singapura, banyak perantau asal Pariaman berdagang nasi. Dekatnya di Arab Street, orang Kapau jualan pakaian muslim/muslimah dan alat-alat shalat. Hal serupa saya lihat di Brunai Darussalam. Karena menyebar, timbul kesan bahwa orang Minang berkembang biak di mana- mana. Jika dikumpulkan, lebih banyak dibanding yang menghuni kampung leluhur, sekitar empat juta jiwa! *** -- Wassalaamu'alaikum ajoduta/61/usa --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
