ALUN BARALUN
Cerpen oleh : Deyusmen Ekay
 
Bagi Amzar semua biaya untuk melanjutkan pendidikan kalau-kalau dia jadi
melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi di Jawa tidak menjadi soal.
Jauh-jauh hari ayahnya yang pedagang kelontong di kota kecil Bukittinggi
sudah menyiapkan. Tidak menjadi soal berapa saja biaya yang diperlukan.
Yang penting anak sulungnya bisa kuliah seperti anak Mak Anjang
tetangganya ,yang lebih dulu merantau ke Jawa meneruskan  sekolahnya di
salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. 
Mak Anjang salah seorang pedagang kain di kota kecil itu. Sejak anaknya
yang juga sulung  berkuliah di Bandung, dimata teman-teman seperbisnisan
dengannya, Mak Anjang menjadi anutan. Biasalah, sekarang bagi  urang
mangaleh (sebutan pedagang di ranah minang) menyekolahkan anak kejenjang
yang lebih tinggi adalah suatu cita-cita. Dulu kalau bapak pedagang,  ya
anak-anaknya juga banyak menjadi pedagang. Kalau tidak meneruskan usaha
bapaknya, ya membuka usaha sendiri. Ada juga yang melenceng menjadi
pegawai negeri atau swasta, tapi itu tidak banyak.
Mungkin itu juga yang menjadi pemicu bagi Mak Kudun ayahnya Amzar,
sehingga dia bersikeras supaya anaknya mau melanjutkan sekolahnya.
"Amzar, apa rencanamu setamat SMU ini", tanya Mak Kudun pada anaknya
suatu ketika. 
"Ya Bak, bagaimana nanti sajalah",  jawab Amzar (abak sebutan untuk
ayah).
"Bagaimana nanti, bagaimana kamu ini, sekarang kamu harus pikirkan
kemana kamu setamat SMU. Mau sekolah atau mau mangaleh, kalau Abak mau
kamu sekolah seperti anak Mak Anjang itu, lihat kalau dia pulang dari
rantau waktu liburan sekolah, bedakan penampilannya dari dulu sewaktu di
kampung. Dulu culun, pendiam, sekarang lihat ngomongnya pintar, Abak
ingin kamu seperti dia". 
Tapi bak , saya  maunya mangaleh Bak, seperti Abak. 
"Am untuk apa, mangaleh sekarang perlu modal besar. Kalau cuma
lima-sepuluh juta kamu cuma dapat kios kecil, separuhnya sudah habis
untuk sewa kios."
Tapi Abak kan bisa memodali saya. 
Berapa Abak bisa memodalimu, adik-adikmu juga butuh biaya. Lebih baik
kamu sekolah, melanjutkan  sekolah yang lebih tinggi, mana tahu nasib
kamu baik, bisa mengangkat martabat keluarga kita, tidak lagi dicap
urang pasa. Seperti Mak Sati, dulu cuma jualan sate sekarang senang
hidupnya, anaknya yang pertama dokter di Medan, anaknya yang kedua
perempuan  dipersunting seorang insinyur di Caltex Dumai, yang ketiga
jadi pegawai Pemda di Jambi. Cuma yang bungsu saja masih disini, jadi
pegawai honor di kantor Pemda, tapi tidak apa-apa dia perempuan,
sebentar lagi mau dipersunting oleh calon polisi.  Saya kan bisa
mangaleh kakilimo Bak. Kakilimo kapan kamu maju. Orang-orang sudah punya
mobil punya tanah, kamu punya sepedapun belum tahu.  Tapi Bak niat saya
kuat untuk mangaleh. Menjadi pedagang, pegawai semuanya sama saja Bak,
sama-sama mencari uang. Am kamu tahu ndak, selama kita tetap menjadi
urang pangaleh, maka kita tetap dicap urang pasa oleh orang kampung.
Martabat kita tidak akan pernah terangkat. Dalam setiap kegiatan kita
hanya dimintai sumbangan, tidak pernah dimintai pituah atau nasehat.
Kamu ingat si Asril, yang doktorandus itu, anak Mak Pono yang  bakadai
kopi di simpang ampek itu. Waktu acara pembukaan  panjat batang pinang
setelah lebaran kemaren dia dimintai sepatah kata oleh panitia. Tapi
waktu giliran kita oleh panitia hanya disodori keranjang uang, untuk
sumbangan.
Pokoknya Abak ingin kamu melanjutkan sekolah. Tapi saya tetap ingin
mangaleh Bak. Boleh kamu mangaleh, tapi modalnya cari sendiri. Kalau
kamu sekolah berapapun akan Abak sediakan biayanya. Tak ada modal kalau
mau mangaleh.
Percakapan itu hanya menghasilkan kedongkolan dihati Mak Kudun dan
Amzar.
__
 
Lama juga Amzar berpikir merenungi kata-kata Abaknya. Yang pasti
cita-citanya untuk memiliki toko sendiri dalam waktu dekat tidak mungkin
kesampaian. Harapan satu-satunya untuk mendapatkan modal  awal untuk
berdagang dari Bapaknya pupus sudah seiring dengan statemen bapaknya,
tak ada modal kalau mau mangaleh.
Di sekolah Amzar sempat berbincang dengan teman-temannya tentang
cita-cita temannya setelah tamat SMU. Di luar perkiraan Amzar ternyata
banyak yang berniat melanjutkan ke perguruan tinggi, dan perguruan
tinggi yang dipilih  lebih banyak di Jawa. Bagi mereka tidak masalah mau
negeri atau swasta yang penting di Jawa. Namun banyak diantara mereka
hanya bisa ngomong belaka karena tidak ditunjang oleh kemampuan orang
tua. Sedangkan Amzar malah disuruh dan dipaksa oleh orang tuanya ke Jawa
untuk melanjutkan sekolah. Tanpa pikir panjang lagi Amzar pulang, Amzar
menghadap orang tuanya.  Abak, setelah saya pikirkan saya ingin
melanjutkan sekolah ke Bandung. Iyo, kamu berubah pikiran, rancak itu,
kapan kamu berangkat. Setelah Ijazah dibagikan Bak . Kapan. Seminggu
lagi.
Hari yang dinanti datang juga, Ijazah sudah diterima, karcis untuk
berangkat ke Bandung sudah disiapkan bapaknya, bahkan tempat siapa yang
akan dituju di tanah Jawa untuk menginap sementara sudah ditentukan
juga, siapa lagi kalau bukan anaknya Mak Anjang. Ibunya  Amzar tidak
lupa membuatkan rendang untuk bekal  kalau sampai di Bandung, tentunya
tidak lupa disisihkan sedikit untuk Erham, anaknya Mak Anjang. Banyak
juga bekal yang dibawa Amzar waktu itu, selain barang-barang
keperluannya sendiri, juga titipan dari  orang tuanya Erham, satu tas
berisi pakaian dan dua kardus barang, berisi makanan sebagai oleh-oleh
dan bekal beberapa hari Amzar di Bandung dan buku-buku.
Kepergian Amzar ke Bandung dilepas dengan tangisan oleh keluarganya,
cuma Ayahnya saja yang kelihatan tegar, tapi tetap tidak dapat
menyembunyikan rasa sedihnya, jauh dilubuk hati Mak Kudun menyimpan
harapan yang tinggi kepada Amzar, meningkatkan status keluarga,
mambangkik batang tarandam.
Ujian saringan untuk  memasuki perguruan tinggi tidak tembus oleh Amzar,
persaingan yang ketat mengakibatkan Amzar mesti banting tulang lagi
untuk mempelajari pelajaran yang tak pernah ditekuni selama SMU.
Hasilnya ya tentu banting tulang juga. Tapi Amzar tidak berkecil hati,
kemanapun Amzar  kuliah  akan didukung oleh ayahnya. Amzar lebih memilih
Sekolah Tinggi Ekonomi sesuai dengan minatnya dibidang usaha.
Tahun-tahun awal dilewati oleh Amzar dengan santai saja, hingga hasil
kuliahnya juga tidak terlalu baik, tapi tidak mengecewakan. Sewaktu
mudik lebaran darah pangaleh Amzar mulai mendidih lagi. Satu kardus
pakaian diletakan dalam bagasi bus sewaktu mudik. Pakaian itu terdiri
dari jins, kemeja dan kaos merek terkenal dengan harga miring. Di
kampung dijual dengan harga yang lebih rendah dari toko-toko pakaian
tapi lebih tinggi dari harga di Bandung. Selisihnya, lumayan untuk
ongkos pulang pergi dan sedikit belanja lebaran. Kembali ke Bandung,
Amzar membawa souvenir khas minang dan dijual di Bandung. Pembelinya
orang-orang rantau yang sudah lama tak pulang kampung dan teman-teman
seperkuliahan Amzar. Kebiasaan seperti itu  sering tak terlewatkan oleh
Amzar selama pulang mudik ke Bukittinggi. 
Empat tahun, lima tahun berlalu sudah, satu-satu teman seangkatan Amzar
sudah mulai tamat dari kuliahnya. Amzar selesai juga pada semester ke
duabelas, enam tahun. Sebagai sarjana baru begitu besar harapan Amzar
supaya dapat diterima bekerja, di bank misalnya seperti teman-temannya
yang telah dulu tamat. Ayahnya tentu tidak kecil meletakkan  pengharapan
di pundak Amzar, mengangkat martabat keluarga. Tidak kurang dari dua
puluh delapan surat lamaran yang sudah dikirim Amzar ke berbagai
perusahaan maupun instansi pemerintah. Tak banyak yang diperhatikan. Ada
beberapa yang dipanggil tapi saat tes, ada yang gagal di wawancaralah,
bahasa inggrislah, psikoteslah. Keberuntungan saja yang belum berpihak
padanya. Tiga bulan, enam bulan , setahun Amzar menunggu belum juga ada
panggilan. Sudah berapa kertas, amplop perangko yang sudah dihabiskan
Amzar, namun yang diharap tak jua menjelang. Selama setahun itu makan
sehari-hari dipergilirkan antara rumah teman ke teman lainnya, tapi
karena terlalu sering terpaksalah kerja apa saja di renggutnya dari yang
kernet, sopir angkot, pelayan restoran, pedagang kaki lima bahkan
ngamenpun  diambil, asal bisa mengisi lambung. Mau melapor ke orang tua
di kampung, malu . Ke orangtuanya, Amzar memberitahu sudah bekerja di
sebuah perusahaan kontraktor.
Begitu kerasnya perjuangan hidup sementara perut tetap harus hidup,
Akhirnya dari sekian banyak pekerjaan yang telah digelutinya, maka
ditetapkanlah berdagang kaki lima sebagai sumber utama pencariannya.
Bergeraklah ia dari pasar ke pasar lain, dari tibum ke tibum lain. Sudah
dua tahun Amzar tidak pulang, berarti sudah dua lebaran tidak
dilewatinya bersama keluarga di kampung halaman. Pernah orangtuanya
bertanya, jawab Amzar, saya sedang banyak pekerjaan di kantor Bak. Pada
dua hari libur lebaran pun hanya satu hari saya dapat libur, hari kedua
masuk lagi, karena mengejar target. Ayah Amzar tentulah terobati juga
hatinya, ternyata jerih payahnya tidak sia-sia. Setelah lebaran kedua
Amzar tidak pulang, Ayahnya mendadak ingin menemui Amzar di Bandung,
sekalian melihat-lihat negeri orang begitu pikirnya. Ayah Amzar pergi
tanpa sepengetahuan Amzar, pergi tanpa memberi kabar. Tujuan ayah Amzar
supaya tidak mengganggu pekerjaan Amzar. Lebaran saja tetap bekerja
apalagi hari-hari biasa.
Pagi-pagi, sekitar jam 7.00 ada orang yang mengetuk pintu depan rumah
kostnya Amzar. Agak berat juga kantuk yang mesti ditahan, karena pulang
jam 12.00 tadi malam, dengan langkah gontai Amzar membuka pintu. Blekk,
jantung Amzar berdetak kencang. "Abak...., masuk Bak, kok ndak memberi
tahu Abak mau ke Bandung, baa kaba Bak, Amak...,.... ", tidak tahu Amzar
mau berkata apa, semua menjadi serba mencemaskan. "Oi Am, kamu kenapa,
Abakmu datang kau malah bingung", timpal Mak Kudun mencairkan suasana. 
Masuk Bak, Abak kan capek, istrirahat dululah. 
"Am, Abak ke sini bukan untuk istirahat, Abak mau melihat keadaanmu
disini, sudah dua tahun kamu ndak pulang, alasanmu selalu sibuk kerja,
memangnya kamu kerja dimana ndak ada libur. Sudah jam segini kamu malah
baru bangun tidur, memangnya masuk jam berapa. Lho, kok banyak kaus
kaki, kamu kerja di pabrik kaus kaki ya", Pertanyaan beruntun ayahnya
hanya dijawab dengan tatapan kosong oleh Amzar. 
Amzar menerawang, dalam pikirannya hanya satu,  semua harus dijelaskan,
supaya tidak ada dosa lagi yang memendam. "Owaih.., Am kamu kok diam",
sorak ayahnya. Akhirnya Amzar menceritakan semua kegiatannya selama di
Bandung, sampai pekerjaan yang digelutinya saat ini, mangaleh kaki limo.
Dengan tekun Mak Kudun mendengarkan, terlihat matanya berkaca, saat
Amzar menceritakan bagian sedih kisah hidupnya saat terluntang-lantung
tak punya kerjaan. Suasana hening, sesaat setelah Amzar menghabiskan
ceritanya. Dalam kesunyian itu Mak Anjang mulai  bercerita pelan, dan
sarat makna. 
Am, kamu telah membuktikan kepada Abak, kamu adalah anak yang berbakti,
memenuhi tuntutan Abak mengalahkan keinginan kamu sendiri, kau
selesaikan sekolahmu disaat banyak teman-teman sebayamu dikampung
menghabiskan waktu dengan  batandiang layang-layang. Kau berjuang
sendiri, apapun yang halal kau kerjakan asal bisa makan, disaat
kawan-kawanmu masih menetek dengan orangtuanya di kampung. Usaha sudah
kau lakukan, nasib saja yang belum berpihak padamu. Kau simpan semua
kesusahanmu, untuk menutupi rasa malumu pada Abak dan Amak mu. Bagi Abak
itu sudah cukup. Hal itu menunjukan kamu sudah pantas menjadi anak
zaman, yang akan melancong kemanapun saat hatimu merasa kuat untuk
melangkah. Sebenarnya Abak sudah mendengar kabar, perihal keadaan mu
disini. Tahulah kamu, awak urang pasa punya telinga dimana-mana. Bapak
kesini datang untuk menguatkan pendirianmu, melangkah selagi kamu
sanggup melangkah. Abak akan selalu disampingmu. Satu hal lagi Am,
orang-orang yang membangun mesjid, jalan setapak, membantu anak yatim di
kampung kita bukanlah orang yang diminta petuah saat membuka acara-acara
di Kampung, tapi orang yang dimintai sumbangan, selamat berjuang Am.
Tarimo kasih,  Bak. 
 
Bandung, November 2006
 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke