Assalamualaikum WrWb.

Iko artikel tambahan nan kito otakan daro Padek Tempo Hari.

Wassalam.
========

Selasa, 28 Oktober 2008, http://www.padangekspres.co.id/content/view/21617/55/
Oleh : Suryadi, Dosen dan Peneliti Pada Universiteit Leiden, Belanda

Menarik membaca artikel Mathias Pandoe, “Minangkabau Boulevart” (sic)
yang dimuat Padang Ekspres (Jumat, 24 Oktober 2008). Artikel itu
mendiskusikan mengapa perantau Minangkabau di banyak daerah di luar
Sumatera Barat, termasuk luar negeri, tidak hidup dalam sebuah enclave
seperti beberapa etnis lainnya?

Kalau di banyak kota ditemukan Kampung Cina, Kampung Keling, Kampung
Nias, Kampung Bali, Kampung Bugis, dan Kampung Ambon, misalnya,
mengapa tidak ada Kampung Minang? Mathias menjelaskan bahwa hal itu
disebabkan “orang Minang merantau tidak mengelompok di satu kawasan,
tapi menyebar dengan jarak agak jauh satu sama lain”. Tetapi mengapa
sifat seperti itu muncul pada orang Minang?

Yang menarik sebenarnya penjelasan historis penulis mengenai hal ini
yang, sayangnya, hanya menyinggung sedikit dalam artikel itu. Tulisan
ini ingin menokok-tambah sedikit penjelasan historis Mathias yang
sepintas lalu itu. Analisis dan interpretasi saya didasarkan atas
refleksi terhadap sumber-sumber pertama sejarah yang telah saya
baca.

Seperti dikatakan dalam artikel Mathias Pandoe, Kampung Ambon, Kampung
Cina, dan banyak kampung yang lain itu sudah terbentuk di kota-kota
pantai di Nusantara jauh pada zaman lampau. Ada indikasi bahwa
beberapa kampung seperti itu sudah muncul sebelum orang Eropa datang
ke Nusantara. Tapi kebanyakan kampung seperti itu terbentuk setelah
Orang Eropa, khususnya Belanda, mulai bercokol di Nusantara.

Konsolidasi penjajahan Belanda di Kepuluan Nusantara melalui serikat
dagang VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) sejak awal abad ke-17
telah ikut mempengaruhi struktur demografi kependudukan wilayah
kepulauan ini.

Banyak kelompok etnis melakukan penghijarahan dari daerah asalnya ke
daerah lain, khususnya ke kota-kota pelabuhan. Migrasi itu ada yang
dilakukan karena terpaksa (biasanya hal ini terkait dengan tugas
militer dan perbudakan) dan ada yang dilakukan secara sukarela
(biasanya karena motif ekonomi).

Orang-orang yang melakukan penghijrahan itulah yang membuat kampung-
kampung sendiri di tempat mereka yang baru. Dapat dibayangkan bahwa
pada waktu itu (abad ke 16-awal abad ke-20) masing-masing etnis yang
berpindah tempat itu, atau dengan paksa dipindahkan, sangat merasa
asing di daerah mereka yang baru tempat mereka tinggal.

Mereka umumnya tidak bisa berbahasa Melayu, oleh karenanya tidaka bisa
berkomunikasi dengan kelompok dari suku lain yang juga berimigrasi ke
tempat yang sama. Hal ini berlaku juga bagi ras-ras asing yang datang
ke Nusantara, seperti orang India (Keling), Arab, dan Cina. Salah satu
cara, dan ini semacam naluri makhluk hidup pada umumnya, adalah
tinggal berkelompok di wilayah yang sama di tempat yang baru itu.

Cukup dapat dipastikan bahwa awal terbentuknya kampung-kampung
beberapa kelompok etnis dari Indonesia timur di kota-kota Jawa
(seperti Batavia dan Surabaya)—seperti Kampung Bali, Kampung Ambon,
dan Kampung Bugis—disebabkan oleh pendatangan dan pengiriman budak-
budak dari daerah itu ke Jawa. Paling tidak ada tiga tipe budak dari
wilayah itu: 1) yang diperdagangkan; 2) yang dibawa paksa oleh Belanda
ke Batavia sebagai tenaga kerja; 3) yang dihadiahkan sebagai ‘kado’
oleh raja-raja lokal setempat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda
di Batavia.

Masyarakat etnis yang hidup di Indonesia Timur umumnya mengenal kasta
sosial paling rendah, yaitu budak. Mereka boleh diperdagangkan dan
dihadiahkan. Bila raja-raja mereka mengirim surat kepada Gubernur
Jenderal Hindia Belanda dan Raad van India-nya di Batavia, maka setiap
surat yang dikirim diiringi dengan ‘buah tangan’ berupa ternak, hasil
bumi setempat, dan budak (biasanya disebut abdi, lasykar, bingkisan,
dan kiriman).

Simak kutipan kalimat penutup Surat Sultan Bima ke-9, Abdul Hamid
Muhamad Syah (1773-1817), kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda
berikut ini (garis bawah oleh Suryadi):


“Satupun tiada alamat al-hayat hanyalah pada siang dan malam serta
keadaan enam orang abdi laki2 yang tiada sepertinya. Maka yang seperti
kuda itu telah sediakan oleh Paduka Raja Bima, mau dikirimkan kepada
Tuan Gurnadur Jenderal dengan segala Rat van [I]ndia yang sebagaimana
yang telah sudah dibiasakan kepada tahun2 dahulu2.” (Naskah Leiden Or.
2240-Ia.2).

Dan di bawah ini kutipan dari kalimat penutup surat Raja Buton ke-26,
Muhyiuddin Abdul Gafur (1791-1799):
“Apalah kiranya tanda alamat al-hayat pada akhir al-satarnya hanya dua
lapan orang bingkisan kepada Kompeni dan dua orang kiriman kepada Tuan
Heer Gurnadur Jenderal, demikianlah adanya.” (Naskah Leiden Or.2240-Ia.
44).

Banyak sekali budak ‘buah tangan’ itu yang diterima (petinggi) Kompeni
Belanda. Bayangkan saja: setiap surat dibarengi dengan hadiah beberapa
orang budak (ada yang sampai 28 orang). Sepanjang abad ke-17, 18, dan
19 ada ribuan surat seperti itu yang dikirim oleh raja-raja lokal di
Nusantara kepada Gubernur Jenderal Hindua Belanda di Batavia.
Bayangkan jumlah budak yang menyertainya.

Minggu lalu saya membaca surat-surat Raja Bali (Buleleng dan
Karangasem) yang tersimpan di Universiteitsbibliotheek Leiden. Rupanya
raja-raja Bali juga royal mengirim hadiah budak kepada Gubernur
Jenderal Hindia Belanda di Batavia. Raja-raja atau penghulu Minang
dulu kalau mengirim surat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di
Batavia menyertai emas sebagai buah tangan, bukan budak. Simak kutipan
kalimat penutup surat Panglima Raja di Hilir, Penghulu Kepala kota
Padang di bawah ini (garis bawah oleh Suryadi):

“Syahdan maka adalah dipesertakan dengan burhan al-wujud sezarah ini
tuhfah haluan daripada yang diperhamba Panglima serta penghulu2 yang
dua belas serta istiadat yang dibiasakan keadaannya lima belas tahil
mas kepala, serta kami minta selamat sekalian jenis kebajikan dan
kesentosaan Tuan Gurnadur Jenderal  dan sekalian Tuan Raden van
India” (Naskah Leiden Or.2241-IIb 1; 13 Maret 1792).

Dan—he he, tanda si Padang pelit (cimpilik kariang?)—Panglima Raja di
Hilir seringkali hanya bilang “dengan hati putih” saja, tanpa
dibarengi ‘kado’ lagi, seperti dapat dikesan dalam kutipan suratnya di
bawah ini (garis bawah oleh Suryadi):

“Sekarang suatupun belum apa2 persembahan daripada kami melainkan
hanya hati putih selamat dengan segala jenis kebajikan Tuan Gurnadur
Jenderal  dan segala Tuan orang besar [Raad] van India serta sekalaian
umur panjang jua adanya.”(Naskah Leiden Or.2241-IIb 4; 28 Maret 1794).

Umumnya penghijrahan orang Minang dilakukan secara spontan—satu ciri
merantau orang Minang yang khas (Naim 1979). Satu keuntungan lagi:
orang Minang rata-rata bisa berbahasa Melayu, yang di zaman lampau
disebut sebagai “bicaro gaduang”. Oleh sebab itu para perantau Minang
tidak sulit berkomunikasi dengan kelompok-kelompok etnis yang sudah
lebih dulu bermastautin di bandar-bandar Nusantara yang memang sudah
menjadikan bahasa Melayu sebagai lingua franca dalam komunikasi
antaraetnis. Sifat independen nagari-nagari di Minangkabau juga ikut
mempengaruhi kohesi sosial antara sesama orang Minang di rantau.

Faktor-faktor di atas—sifat-sifat internal kebudayaan Minangkabau
sendiri dan juga faktor kebahasaan—tidak saja mempengaruhi jenis
pekerjaan yang disukai orang Minang di rantau, tetapi juga
mempengaruhi cara mereka hidup dengan sesamanya dan dengan orang-orang
dari kelompok etnis lain. ***
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke