Salam sanak sapalanta,
 
As a like - kisah Rabab " the long and winding road "
 
 
Pengalaman Naik Bis di Lintas Tengah Pulau Sumatera (2)
oleh : 3vyniz
.........................cut ..............
“ hoi….. sanak, jagolah…. Liek tu ha…inyiak awak mancogok…..  Ondeh iyo matonyo 
tajam….!!
Deru mesin bus itu semakin berat nafasnya. Lonjakan bus dan bantingan stir yang 
dikemudikan pengemudi menambah suasana bathinku dan nafas semakin seru. Ketika 
itu aku bisa menafsirkan ciloteh stoker dan pengemudi,  agar ia tidak 
mengganggu para penumpang yang tidur lelap. Akan tetapi ia – stoker - tetap 
bersuara sambil menyatakan bahwa apabila semua penumpang tidur – bisa bisa 
penumpang tidak dibawang ke ranah Minang tetapi ke Ranah Liang. Iko… Lahat ko 
mah… yuang….!!
“Asytagfirullah…. , jantungku berdegu kencang. Jika kupalingkan kepala 
kejendela, yang terlihat adalah keadaan gelap gulita. Memang ada satu persatu 
kerlipan cahaya dari rumah penduduk. Namun itu jarang sekali. Menembus gelap 
malam – lampus bus serasa cahaya matahari yang bersinar terang. Pepohonan yang 
kami lalui itu saling berpelukan diantara badan jalan yang kami lalui. Tahukah 
itu…? Pertanda betapa lebatnya hutan Pulau Sumatera ketika itu……….. (Bersambung 
)….
 
Pada jam 04.30, bus berhenti disebuah desa. Tak jelas posisi kami ada dimana. 
Namun masih di wilayah Sumsel. Ditempat pemberhentian itu terdapat beberapa 
kedai nasi. Disana  sudah berderet beberapa truk-truk besar. Pengemudi dan 
kneknya juga bermaksud untuk makan. Ada beberapa kedai nasi yang melayani 
penumpang untuk makan dan sholat di shubuh hari itu. Setelah melaksanakan 
sholat shubuh, para penumpang ada yang beristirahat pada balai balai yang 
disediakan oleh pemilik kedai. Ada yang melepaskan pegal-pegal 
(rangkik-rangkik) tubuh dengan berselonjor dan ada yang sambil tiduran. Ada 
yang memesan makanan. Demikian pula kami ikut makan bersama penumpang dan para 
sopir truk itu. 
Semula kami tidak mengerti, mengapa begitu banyak panci kosong ikut dhidangkan 
dan disertai sebuah botol kaca yang penuh berisi air, disetiap meja makan di 
Kedai nasi itu. Semula aku kira, ini adalah botol minuman.  Oooh… ternyata 
tidak. Ia adalah bagian dari peralatan untuk makan, yang digunakan sebagai 
wadah pencuci tangan.  Suasana terasa akrab – ketika bapak – bapak, mande-mande 
serta Uni uni yang sepantaran ibu dan ayah serta kakak saya menyapa kami dengan 
ramah.  Mereka begitu perhatian dan menganggap kami seperti anak anak mereka.  
Tak kurang pula perhatian sopir bus : “ makan banyak piek..…. Jan di imaik bana 
pitih tuh.  Ketika menjalani masa remaja kota Jakarta – waktu itu - suasana 
Adventurir ini sungguh mengasyikkan.
 
Masih diwilayah Sumatera Selatan, perjalanan kami dilanjutkan. Sebelum mencapai 
kota Lubuk Linggau, pada saat mentari mulai menampakkan wajahnya, aku 
dikagetkan bahwa kami tidak melintasi jembatan sebagaimana layaknya apabila 
kita menyeberangi sungai. Kami naik “pelayangan”. Pelayangan adalah rakit yang 
terbuat dari susunan bambu-bambu,  kemudian diikat menjadi sebuah sampan yang 
datar dan memiliki kemampuan untuk menyeberangkan bus kami.  Para penumpang 
disuruh turun dari bus, kemudian penumpangpun menyeberang dengan menggunakan 
rakit itu. 
Sebenarnya suasanan ini sungguh mengasyikkan. Akan tetapi aku sudah mulai 
merasakan gangguan kesehatan mata yang tidak disangka-sangka sebelum 
keberangkatan kami dari kota Palembang. Konco palangkin kami dikampus, yang 
sering kami panggil dikalangan teman dan sahabat Mr. Ramli – sudah tidak 
diragukan lagi kondisi matanya. Istilah kami dirantau Betawi – matanya sudah 
bele’ an. Mengapa kami mengalami gangguan sakit mata ini…??  Ceritanya begini : 
 
Di kota Palembang kala itu, kami diinapkan di Asrama Haji yang terletak di 
Jalan Kapten Rifai. Asrama ini banyak diinapi oleh rombongan mahasiswa – 
mahasiswa dari pulau Jawa untuk berbagai keperluan, semisal study excursi, KKN 
dll.  Diantara rombongan mahasiswa itu – tersebutlah issue bahwa rombongan 
mahasiswa IPB – jurusan Fakultas Kehutanan, membawa virus mata. Hal ini dapat 
dibuktikan – diantara teman-temanku yang ketularan,  justru berasal dari gedung 
yang sama dengan  rombongan mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB itu. Cara 
penularannya adalah melalui  air dikamar mandi yang mereka gunakan 
beramai-ramai.   Aku dan kakakku semula agak sedikit mengkawatirkan Mr. Ramli, 
jika ia ikut serta bersama kami. Namun iapun justru mengkawatirkan kami, jika 
ia melepas kami berdua. Iapun sebenarnya juga sudah dipercaya untuk menjadi 
teman kami seperjalanan pulang kampung ini. Iapun ingin pula melihat kampung 
halaman ayah dan ibunya.  Ayahnya orang
 keling dari Pariaman yang telah lama hijrah ke Jakarta. 
Demikianlah, sejak stokar bus berteriak-teriak adanya seekor raja hutan – alias 
inyiak – pada malam gelap itu, aku sudah merasakan betapa beratnya kelopak mata 
ini untuk dibuka.  Mata terasa gatal. 
 
Ketika aku menyebarang sungai dengan pelayangan itu –selain mata terasa semakin 
gatal – juga badan mulai terasa demam. Mr. Ramli – teman kami itu, matanya 
semakin parah. Tidak ada kaca mata hitam yang dapat menangkal – wujud matanya – 
yang semakin bele’ itu. Tidak ada penahan rasa perih dari angin dan debu. 
Untunglah penumpang bus – masih berbaik sangka dengan kami, dengan tetap 
memberi bantuan kepada kami bertiga atas kondisi kesehatan kami ini. Suasana 
kekompakan diantara para penumpang dan pengemudi serta knek bus itu terjalin 
baik. Walaupun hati belum menyatu dengan lagu-lagu yang dibawakan Elly Kasim 
dan Tiar Ramon, kala itu serasa perjalanan ini begitu mempesona bagi anak 
remaja yang pulang kampung. Yang kuingat-ingat lagu yang menyentuh diriku 
adalah lagu “ Rantau Batuah “. 
 
Memasuki wilayah Jambi pada siang hari itu, ketika menyeberangi sungai, bus 
kami kembali naik pelayangan. Kali ini, sungainya sangat lebar dan terkesan 
dalam. Aku tak ingat – sungai apakah itu dan didaerah mana saja, namun kami 
para penumpang sempat berdebar-debar. Kata orang di kampung itu, aliran airnya 
cukup deras. Dengan cekatan sang sopir mengemudikan busnya naik pelayangan. 
Pelayangan itu agak terendam – karena rakitnya kurang bagus. Apa kata para 
penumpang ? 
…. Ondeh…. Karam oto iko baa. .yo… Masih jauh rantau awak mah….celetuk mereka. 
Aku menyikut kakakku : If… Gimana kalau busnya karam. Duuh… ngeri… kataku. 
Kakakku diam. Ramli juga diam. Terus terang untuk melihat apakah bus itu akan 
karam atau tidak, yang jelas mata kami pada buram – karena tidak mampu 
memandang secara utuh – suasana yang mendebarkan itu. Akhirnya…. Dengan 
perasaan yang mencekam diantara para penumpang, pelayangan itu mampu 
menyeberangkan bus itu. Kami bertepuk tangan. .. Iyo hebat angku mah.. kata 
penumpang kepada sopir yang ramah itu. 
Bagaimana suasana keakraban kami pada bus yang kecil ini..? Marilah kita simak 
cerita  ini, karena ada yang lucu yang aku harus ceritakan. 
 
Di Bus kami ada seorang nenek – kira-kira berusia 75 tahun. Ia ditemani seorang 
familinya – yang terkesan tidak mengacuhkannya. Si Nenek ini kami panggil “ 
Ande” – dan agak nyinyir kepada familinya itu. Aku menyebutnya famili – karena 
orang itu bukan anak/kemenakan, tetapi adalah kerabat jauh dari “ Ande” ini. Si 
Uni ini, ditugaskan mengantarkan Ande untuk pulang kampung. Para penumpang 
termasuk kami bertiga iba dengan Ande. Ia selalu kami bujuk dan kami ajak 
bercakap-cakap. Karena diperhatikan ia juga semakin dekat pada kami. 
Lebih-lebih dengan Mr. Ramli. Ia sangat dekat – bahkan melebihi kewajaran 
seorang nenek memandang seorang cucu. 
Para penumpang tersenyum malu melihat tingkah sang nenek. Untung saja banyak 
yang berfikir positif :…. Haa… iyo tu mah… indak sabagai juo doh… Anak mudo 
iko.. kan cucu dek inyo. Bagiku bukan hanya masalah sayang ka cucu… tapi 
tingkahnya yang memeluk-meluk Ramli ini yang terasa janggal...bukan?. Apak-apak 
pada berkata : " jadikan minantu sen lah… anak tuh .. Mak…..,katanya pada sang 
Nenek. Si Nenek tersenyum senang. Tapi si Uni yang menemani Nenek itu 
benar-benar malu. Akhirnya kakakku – untuk mencegah keributan – ia mengambil 
posisi Mr. Ramli dan duduk disamping Nenek. 
Menjelang memasuki kabupaten Sarolangun, bus kami menyeberangi sungai dengan 
menaiki pelayangan untuk yang ketiga kalinya. Hari mulai gelap karena magribpun 
datang menjelang.  Ketika menyeberangi sungai yang ketiga kalinya ini. Ande – 
tidak mau menyeberang bersama rombongan. Dia berbalik kebelakang bahkan 
terkesan ia pergi masuk hutan. Suasana jangkrik dan binatang malam mulai 
terdengar, menyebabkan kami   segera menarik “ Ande” untuk menyeberang bersama 
kami. Lagi-lagi ia tidak mau dan bahkan meronta-ronta. 
Katanya : “ Waang bao kama den ko… indak… indak.. teriaknya. Mungkin ia terasa 
terasing diantara para penumpang, ketika posisinya digantikan kakakku itu. 
Mungkin juga karena – ia merasa tidak ada anggota keluarga, semisal anak atau 
cucu yang mendampinginya. Mungkin ia lelah. Jangankan ia merasa lelah – kami 
para penumpang juga mulai terasa lelah. Selama perjalanan kami tidak 
mandi-mandi. Mencuci muka – hanya ketika saat berwudhu saja. 
Melihat gelagat yang aneh – dan si Nenek terkesan tidak sadar diri. Bahkan ia 
berciloteh pada diri sendiri, mengakibatkan semua penumpang dan awak bus 
cepat-cepat membujuk nenek agar ikut menyeberang. Kata pak sopir :.. Ondeh… 
barek.. komah… daerah iko indak aman.. Kalau awak ndak capek sampai di 
Sarolangun.. Ambo indak bisa menjamin ke amanan doh. Demikian penjelasannya 
pada kami. Akhirnya secara paksa si Nenek, dinaikkan ke atas bus. Ia 
meronta-ronta dan menangis. Sopir bus sudah mulai hilang kesabaran dan ia 
menyuruh stokar mengunci pintu. 
Dalam perjalanan yang gelap malam itu, sementara bus yang kami naiki disinari 
cahaya lampu, yang sedikit redup,  menimbulkan bayang-bayang manusia pada 
dinding kaca mobil. Si Nenek merasa menemukan seorang temannya – seorang nenek 
yang juga seusia dengan dirinya. Sesungguhnya gambar itu adalah pantulan 
bayangan diri si Nenek bukan..?? . Ia bercakap-cakap dengan bayangannya 
sendiri. Istilah orang sekarang, ia curhat kepada dirinya sendiri…Isi 
percakapan si Nenek kepada bayangannya dapat kutafsirkan, bahwa ia sedang dalam 
keadaan bahaya. Dirinya terkurung,.. begitulah kata-kata yang kuingat. Mungkin 
kira-kira beliau berkata : "Inyo panjarokan wakden ko mah….
Antara tertawa dan sedih, terasa meliputi hati ini. Para penumpang ada yang 
tetawa geli (gelak takisiek-kisiek, istilah minangnya).  Para penumpang 
sebenarnya tidak tega melihat kejadian itu. 
Akhirnya, perhatian beralih kepada Mr. Ramli _ sahabat kami ini, agar si Nenek 
dialihkan dari percakapan antara diri dan bayangannya. Tanpa waktu 
berlama-lama, Sahabat kami ini pun berhasil membujuk “ Ande “.  Ande kemudian 
dipasangkan kembali dengan Ramli. 
Kami semua penumpang menyalahkan Uni – famili Ande – yang cuek mengurusi si 
Ande. Ternyata dari cerita si Uni itu, akhirnya kami mengetahui bahwa 
sebenarnya Ande ini – sudah sejak dua bulan yang lalu ingin pulang ke 
Silungkang – sebagai kampung kampung halamannya. Akan tetapi,  airline yang 
melayani – Palembang – Padang, pada  saat itu sedang tidak ada pelayanan. 
Akhirnya sang anak mengutus orang lain yang mengantarkan sang Nenek. 
Hari semakin malam, bus masih melaju memasuki Sarolangun – Bangko – Muarobungo. 
Ketika  memasuki wilayah Sumbar –daerah Sitiung - barulah kami merasakan 
perjalanan mulus. Perjalanan malam itu diterangi oleh cahaya bulan purnama, 
terasa sayang bagiku untuk tidak menikmatinya.  Pada penghujung malam itu, 
akhirnya aku terlelap seperti penumpang lainnya. 
 
Sesampai di  Silungkang, kami para penumpang terjaga lagi,  Terdengar lagi 
kegaduhan, karena “ Ande” tidak mau turun dari Bus. 
“ Ande… alah sampai di Rumah Gadang awak kini…Sopir bus membujuk. Si Uni – 
familinya juga membujuk. Bahkan anak cucunya yang bersorak kegirangan menyambut 
datangnya sang Nenek tidak digubrisnya. Beliau tetap bersidekap di tempat 
duduknya. 
“ Mak .. capek Mak.. turunlah .. oto ka bajalan baliek…
Akhirnya, lagi-agi konco kami - Mr Ramli - membujuk Nenek – agar beliau 
bersedia turun. Dengan sangat mudah Ande .. turun dari mobil. Kami melihatnya, 
keluarga Nenek itu menangis terharu menyambut Ande. Drama perjalanan ini 
selesai dengan suasana keharuan. Mr. Ramli kehilangan teman perjalanan yang 
menakjubkan diri dan tidak disangka-sangka dengan kondisi mata yang sakit 
parah. Penumpang kembali melanjutkan tidurnya.
Beberapa jam kemudian, ketika waktu shubuh datang menjelang, kembali sopir bus 
menghentikan busnya. Ia mempersilahkan penumpang turun. 
Ia berkata ; Silahkan turun.. awak bisa sholat subuh disiko..Nan ka raie …. Ado 
dibelakang surau….!! 
 
Kami perempuan pergi mengelompok untuk mengeluarkan hajad. Tidak jauh dari 
posisi kami, aku melihat orang-orang turun ke air sambil mencuci muka sambil 
bermain-main air. Aku berpikir bahwa air itu adalah sebuah sungai belaka. Kami 
meniru apa yang dilakukan kaum perempuan – teman seperjalanan kami. Semakin aku 
memandang di kegelapan malam – semakin mataku dibuka lebar-lebar, aku rasakan 
bahwa tempat kami berdiri adalah sebuah perairan yang luas. Mataku sangat perih 
untuk mengfokuskan apa yang sedang kita pandang. Penyebabnya adalah karena 
sakit mata ini . 
Fajar mulai menyinsing. Cahaya dari kejauhan itu mulai dapat mempengeruhi 
mataku agar menyatu,  ketika melihat perairan itu semakin luas. Aku benar-benar 
takjub melihat suasana itu. 
Dimanakah kita ini..??? Seketika aku bertanya kepada mande-mande yang ikut 
membasuh mukanya bersama kami. 
Ia berkata : “ Awak alah sampai di danau Singkarak mah piek….!! 
“Danau Singkarak….????? Subhanallah….Benar-benar menakjubkan….keindahan  alam 
ciptaan Tuhan ini. 
Tidak terbersit sedikitpun bagi kami, ketika disaat sedang berpenyakit mata – 
dibalik bukit yang cukup jauh dari tempat kami berdiri, sang surya seakan 
malu-malu menyambut kehadiran kami ditepian “Danau Singkarak” itu. Aku 
melonjak-lonjak kegirangan. Kami bertiga membasuh muka terus menerus. Berharap 
– kotoran mata – ikut sirna dengan air danau yang bening itu. 
Para penumpang lainnya – yang seakan keluarga bagiku – menyeru kepada kami :
“ Iyolah tuh Piek… Banyak-banyak lah basuah muko disinan “ . Baeko aie danau 
tuh nan kama imbau imbau baliek pulang.  Benarkah………???? Sementara kakakku dan 
konco kami – Ramli - telah kembali ketempat sesama penumpang.  Lagi – lagi aku 
basuh mukaku – tanganku – dan kaki celana panjang yang setengahnya basah, tidak 
aku perdulikan. 
“ Alah tumah piek…. Tambah sakik pulo.. jadinyo. Entah siapa yang berkata,  
akhirnya baru aku sadar, bahwa memang perjalanan panjang ini belum sampai ke 
kota kelahiranku di kota Padang. 
 
Perjalanan selanjutnya, tinggallah pengemudi bus melaksanakan tugasnya 
melanjutkan perjalanan ini ke kota tujuan, diiringi selingan dan ciloteh stokar 
alias kenek dengan  bahasa “ Minang “ banget bagiku – kala itu.
Pun - ketika kami sampai dirumah keluargaku, kami datang tidak membawa 
oleh-oleh apapun dari rantau untuk keluarga yang akan kami inapi.  Namun kami 
menghadiahi mereka dengan penularan penyakit mata kepada mereka.  Ada enam 
orang yang tertular oleh virus itu. Sementara - Tuan rumah bisa  berkata apa 
kepada kami …melainkan ia terpaksa mengobatinya sesegera mungkin agar tidak 
meluas penularannya pada yang lain.
 
edited from : My Diary… on august 1977
 
Kisah selanjutnya : Mengalami - Kecelakaan bus ...di jalan lintas Sumatera…. 
 
Wassalam,


  3vy Nizhamul 

http://hyvny.wordpress.com
http://bundokanduang.wordpress.com



 






      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke