Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

Nomor 38

Wassalamu'alaikum

Lembang Alam 

(38)
 
..........................
 ‘Apa yang bisa saya bantu pak Darmaji?’ pak Umar memulai membuka pembicaraan.
 
‘Betul pak, maaf. Maksud saya ada yang ingin saya sampaikan. Tapi sifatnya 
sangat pribadi sebenarnya. Saya ingin minta nasihat bapak,’ pak Darmaji mulai 
menemukan kembali kata-katanya.
 
Pak Umar bangkit dari kursinya dan pergi menutup pintu.
 
‘Silahkan kalau begitu. Apa yang ingin saudara sampaikan?’ tanya pak Umar 
sambil kembali ke kursinya.
 
‘Begini, pak. Sebelumnya sekali lagi saya minta maaf sehubungan dengan….dengan 
peristiwa kemarin.  Saya malu sekali sebenarnya,’ Darmaji masih agak ragu-ragu.
 
‘Kalau masalah itu sudah saya maafkan. Tapi apakah ada hal lain yang mungkin 
bisa saya bantu?’ tanya pak Umar pula.
 
‘Bapak tidak keberatan kalau saya bercerita mengenai masalah pribadi saya?’
 
‘Saya tidak keberatan,’ jawab pak Umar pendek.
 
‘Baiklah pak. Ini menyangkut hubungan saya dengan Rita. Kami terlibat dalam 
hubungan asmara tapi menghadapi masalah yang cukup berat, terutama buat saya. 
Pertama, kami berbeda keyakinan. Rita beragama Kristen. Hubungan kami tidak 
direstui oleh orang tuanya. Dan orang tuanya sangat keras bahkan pernah 
mengancam saya. Tapi kami berdua merasa ada kecocokan meskipun kami juga 
menyadari kendala yang ada. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Sebenarnya saya 
sudah pernah mencoba berterus terang kepada orang tuanya, menyampaikan 
keinginan saya untuk menikah dengan Rita. Orang tuanya tidak mengizinkan karena 
perbedaan agama itu. Sesudah itu mereka melarang hubungan kami dan melarang 
saya datang ke rumah mereka. Tapi kami selalu bisa bertemu di sekolah. Dan kami 
semakin yakin bahwa kami seharusnya menjadi pasangan suami istri. Itulah 
masalah yang saya tidak tahu bagaimana mencari jalan keluarnya, pak,’ ungkap 
pak Darmaji.
 
‘Ya, repot juga kalau begitu. Memang sebenarnya pernikahan berbeda agama itu 
mengandung banyak resiko. Di samping resiko tidak berbaikan dengan mertua 
seperti yang saudara ceritakan, ditambah lagi resiko sesudah mempunyai 
anak-anak nantinya. Anak-anak mau ikut agama siapa? Ikut agama ayahnya atau 
ikut agama ibunya? Pasti tidak mudah. Apakah anda berdua tidak menyadari hal 
itu?’
 
‘Saya menyadarinya, pak. Tapi mungkin karena terdorong oleh perasaan yang 
menggelora, hal-hal seperti itu tidak pernah saya pikirkan benar. Kecuali 
menghadapi kendala yang disebabkan oleh orang tuanya saat ini.’
 
 
 

di http://lembangalam.multiply.com dan www.palantalembangalam.blogspot.com 


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke